Sunday, December 28, 2025
![]() |
| Hermana HMT membacakan beberapa puisinya didampingi Risma dalam “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”, di DC Corner Dago, Bandung. (Foto: Asep GP) |
Bandung — Akhir tahun selalu menjadi momen penting untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, sekaligus menata harapan ke depan. Dalam semangat itulah Jala Bhumi Kultura (JBK) bersama DC Corner menghadirkan sebuah perhelatan seni bertajuk “Refleksi Akhir Tahun 2025 + Harapan Tahun 2026”. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu sore, (27/12/2025), di DC Corner, Jl. Ranggamalela No. 11, Dago, Kota Bandung.
Kata panitia, acara ini dirancang sebagai ruang temu antara seni, pengalaman hidup, dan kesadaran sosial. Bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan sebuah upaya menghadirkan seni sebagai medium refleksi kolektif atas berbagai peristiwa yang mewarnai perjalanan tahun 2025—baik pada level personal, sosial, maupun kultural—serta sebagai penanda harapan dan sikap kritis menyongsong tahun 2026.
Melalui tema refleksi akhir tahun, para penggagas acara ingin mengajak publik untuk kembali memberi makna pada waktu, ingatan, dan pengalaman. Seni dipilih sebagai bahasa utama karena ia memiliki daya ungkap yang jujur, lentur, dan mampu menembus batas-batas rasionalitas. Dalam konteks ini, panggung menjadi ruang dialog, sementara tubuh, suara, dan gerak menjadi medium penyampai pesan.
Beragam bentuk seni pertunjukan dihadirkan dalam acara ini. Herman HMT usai memimpin doa, membuka ruang perenungan melalui sajian puisi-puisinya, menghadirkan refleksi personal yang berkelindan dengan realitas sosial. Suara individu yang sekaligus merepresentasikan kegelisahan dan harapan banyak orang di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat. Hermana dalam kesempatan tersebut membacakan puisi karyanya, Senandung Sunyi 1, Senandung Sunyi 2, dan Petaka. Pimpinan Longser Bandoengmooi ini pun berkolaborasi sepanggung dengan Risma yang melantunkan lagu Aneuk Yatim (karya: Rafly Kande) tentang musibah Tsunami Aceh.
Beragam bentuk seni pertunjukan dihadirkan dalam acara ini. Herman HMT usai memimpin doa, membuka ruang perenungan melalui sajian puisi-puisinya, menghadirkan refleksi personal yang berkelindan dengan realitas sosial. Suara individu yang sekaligus merepresentasikan kegelisahan dan harapan banyak orang di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat. Hermana dalam kesempatan tersebut membacakan puisi karyanya, Senandung Sunyi 1, Senandung Sunyi 2, dan Petaka. Pimpinan Longser Bandoengmooi ini pun berkolaborasi sepanggung dengan Risma yang melantunkan lagu Aneuk Yatim (karya: Rafly Kande) tentang musibah Tsunami Aceh.
![]() |
| Rektor ISBI, Retno Dwimarwati: Sebagai manusia kita harus taat pada Tuhan, menghormati sesama manusia dan alam, agar terhindar dari segala bencana. (Foto: Asep GP) |
Ada lagi, seni pantomim dibawakan oleh ISMIME & Jos Dumber-Dumbers, yang mengekspresikan realitas kehidupan melalui bahasa tubuh tanpa kata. Dengan gestur, mimik, dan simbol-simbol visual, serta diringi musik jaipong Sunda, pantomim ini ingin menyampaikan kritik sosial secara lugas namun tetap puitis, mengajak penonton membaca ulang berbagai fenomena yang sering luput dari perhatian.
Sementara itu, Aendra Medita menyampaikan orasi media, yang merefleksikan peran media dan media sosial di Indonesia sepanjang tahun 2025. Orasi ini menjadi penting di tengah derasnya arus informasi, perubahan pola konsumsi media, serta tantangan etika dan literasi digital. Melalui sudut pandang kritis, orasi ini mengajak audiens untuk lebih sadar, bijak, dan bertanggung jawab dalam memaknai informasi di era digital.
Selain itu, dipertunjukkan juga sajian Tari 50+ yang dibawakan oleh Enung, Lina, Indri, dan Risma. Pertunjukan ini menjadi pernyataan bahwa seni tidak mengenal batas usia. Pengalaman hidup, ketekunan, dan kedewasaan justru menjadi kekuatan utama dalam menafsirkan gerak. Tari 50+ tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga pesan tentang keberlanjutan, ketahanan, dan keberanian untuk tetap berkarya di setiap fase kehidupan.
Di sela-sela sajian seni, tampil juga ke depan beberapa orang tokoh aktivis dan akademisi, di antaranya Paskah Irianto dan Rektor ISBI Retno Dwimarwati.
Paskah Irianto mengajak berpikir keras mencari solusi agar bangsa ini jadi maju tidak dimiskinkan. Bagaimana supaya bangsa Indonesia sejahtera ekonominya dan rakyatnya maju. Aktivis hukum dan kasus tanah ini pun menyoroti program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang harus ditata ulang, agar anak bangsa mendapat gizi yang benar serta MBG tidak jadi arena korupsi dan pemborosan anggaran. Selain itu, alumni Sastra Rusia Unpad ini juga menyoroti bencana alam Sumatera yang menurutnya dibuat oleh ulah manusia. Dan Paskah mengingatkan, “Di dunia ini tidak ada yang gratis, kalau berbuat baik kita dibayar Tuhan dengan kebaikan begitu juga sebaliknya, kalau berbuat jahat dan lalim dibayar dengan keburukan,” tegasnya.
Retno pun sama menyoroti bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini di Pulau Sumatera. Jadi menurutnya, Refleksi 2025 ini merupakan cara berpikir ulang bagi kita bahwa dengan adanya bencana ini, kita harus lebih mencintai alam. Bagaimana kita sebagai manusia taat kepada Tuhan dan menghormati sesama manusia, juga menghormati alam itu jadi penting, karena bagaimanapun apa yang diberikan Tuhan melalui alam ini adalah sebuah berkah.
Tapi ketika kita tidak memelihara alam dengan baik akhirnya menjadikan bencana. Jadi sebenarnya menurut Retno, bencana ini bukan dari Tuhan tapi kesalahan manusia. Hal inilah yang harus dijadikan resolusi di 2026 untuk kita berpikir kembali mencintai alam, “Karena leluhur kita selalu menganggap bahwa alam adalah manifestasi dari Tuhan, jadi perwujudan Tuhan itu ada di alam. Jadi kita harus benar-benar menghormati alam, dan kebudayaan Sunda mengajarkan bahwa kita harus mencintai alam, karena manusia, alam, dan Tuhan itu tidak terpisahkan,” tandasnya.
![]() |
| Paskah Irianto, Bagaimana caranya agar negara maju dan rakyat tidak dimiskinkan (Foto: Asep GP) |
“Jadi ketika kita melihat alam itu adalah bagian dari kita, semua makhluk itu adalah bagian dari kita, kita harus berusaha saling menghormati dan menghargai antara manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, semuanya harus satu kesatuan,” pungkasnya.
Untuk itulah Bu Rektor dalam program Pengabdian kepada Masyarakatnya, getol menggali potensi yang ada di masyarakat kemudian memberikan solusi, termasuk dalam menjaga lingkungan alam. Di antaranya mencoba menanam 10 ribu mangrove di Cibalong - Garut Selatan, juga 15 ribu cemara laut dan ketapang serta pohon damar yang dikerjakan Pramuka di satu kecamatan itu pada tahun 2021.
Untuk itulah Bu Rektor dalam program Pengabdian kepada Masyarakatnya, getol menggali potensi yang ada di masyarakat kemudian memberikan solusi, termasuk dalam menjaga lingkungan alam. Di antaranya mencoba menanam 10 ribu mangrove di Cibalong - Garut Selatan, juga 15 ribu cemara laut dan ketapang serta pohon damar yang dikerjakan Pramuka di satu kecamatan itu pada tahun 2021.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Secara keseluruhan, rangkaian sajian ini dihadirkan sebagai mozaik refleksi: tentang manusia, masyarakat, media, tubuh, dan waktu. Setiap penampil membawa perspektifnya masing-masing, namun bertemu dalam satu semangat yang sama—menjadikan seni sebagai ruang berpikir, merasakan, dan berbagi makna.
Acara ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni dan budaya yang inklusif, lintas generasi, dan berakar pada kesadaran sosial. DC Corner dipilih sebagai lokasi karena komitmennya sebagai ruang alternatif bagi dialog kreatif dan ekspresi seni di Bandung.
“Dengan menghadirkan seni sebagai cermin dan penanda zaman, acara ini diharapkan menjadi penutup tahun yang bermakna sekaligus pembuka langkah menuju tahun 2026 dengan kesadaran, empati, dan optimisme baru,” demikian disampaikan panitia kepada wartawan. (Asep GP)***
Jala Bumi Kultura & DC Corner Gelar “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”: Seni sebagai Ruang Ingatan, Kritik, dan Optimisme
Hermana HMT membacakan beberapa puisinya didampingi Risma dalam “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”, di DC Corner Dago, Bandung. ...
Thursday, December 25, 2025
Penanganan masalah sampah di perkotaan, termasuk Bandung, sangat rumit dan memerlukan solusi sistemik dari hulu ke hilir, melibatkan pemerintah serta partisipasi aktif masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dan mengurangi timbunan sampah dari sumbernya.
Makanya, Pemkot Bandung terus berusaha mencari solusi agar sampah di Kota Bandung tidak menumpuk dan menimbulkan bau busuk, menjadi bibit penyakit, serta merusak keindahan kota, bahkan sebaliknya bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Dan usaha itu memang tidak mengkhianati hasil. Upaya penanganan sampah di Kota Bandung mulai menunjukkan hasil tatkala Pemkot Bandung menggandeng CV Prosignal Karya Lestari untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos ramah lingkungan. Hasilnya tidak main-main, per harinya paling sedikit 14 ton pupuk kompos bisa diproduksi serta berpeluang bernilai ekonomi.
Dan hal itu terbukti ketika CV Prosignal Karya Lestari mengantarkan 2 ton pupuk kompos hasil pengolahan sampah organik untuk Diskominfo Kota Bandung dan ke Rumah Dinas Wali Kota Bandung (Pendopo Kota Bandung), Selasa (23/12/2026).
"Alhamdulillah, dengan adanya kerja sama antara Pemkot Bandung (Dinas Lingkungan Hidup) dengan pengelola Pasar Gedebage dan Prosignal Karya Lestari, pengolahan sampah organik di Pasar Induk Gedebage sudah sangat baik dan akan optimal karena dalam sehari bisa mengolah 27 ton sampah," demikian kata Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
Kata Farhan, pupuk kompos ini akan segera dimanfaatkan untuk tanaman hias dan program urban farming Buruan SAE. Maka ia pun memerintahkan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Pertamanan Kota Bandung (DPKP) serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung (DKPP) untuk segera memanfaatkannya.
Selain itu, Farhan juga berencana memasukkan pupuk kompos ini menjadi salah satu mata rantai ekonomi sirkular dalam program pengolahan sampah skala Rukun Warga.
"Kita akan menggabungkan tiga program yang sudah berjalan, yaitu pengolahan sampah di RW, urban farming level RW, dan operasi dapur sehat di level RW. Kompos akan digunakan oleh urban farming, sayur, buah, ikan, hasil dari urban farming akan dikonsumsi dapur sehat, maka jadinya sirkular," katanya.
Sementara itu, Direktur Utama CV Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah, berharap dinas-dinas lain yang membutuhkan pupuk kompos hasil pengolahan sampah organik menggunakan biodigester ini dapat mengambilnya secara gratis di Pasar Induk Gedebage, Bandung.
Sebagaimana kita ketahui, biodigester merupakan solusi pengolahan limbah yang ramah lingkungan sekaligus dapat menghasilkan energi alternatif yang bersih, yaitu dengan cara mengolah sampah menggunakan tangki atau wadah kedap udara, tempat organisme menguraikan bahan organik atau sampah dapur, kotoran hewan, limbah pertanian, dan sejenisnya tanpa oksigen, yang nantinya menghasilkan biogas serta pupuk organik cair atau padat.
Saat ini, kata Aldi, CV Prosignal tengah memanen pupuk kompos hasil olahannya, hingga mencapai 2.000 ton yang menumpuk di gudangnya.
"Kami dalam sehari bisa memproduksi pupuk kompos minimal 14 ton dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, perkebunan, penghijauan, ataupun untuk memperbaiki unsur hara tanah. Sayangnya, sejauh ini baru sedikit dimanfaatkan oleh petani dari Ciwidey," pungkasnya. (Rls/ Asep GP.)*** Tatarjabar.com December 25, 2025 CB Blogger Indonesia
Pemkot Bandung Gandeng CV Prosignal Karya Lestari Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos
Ket. Foto: Wali Kota Bandung, M. Farhan (berbaju putih), bersama Direktur Utama Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah (berbaju hitam), d...
Saturday, December 20, 2025
![]() |
| Deklarasi dibacakan oleh Ketua PWNU Jabar, KH Juhadi Muhammad. Dihadiri 27 PCNU se-Jabar. (Foto istimewa) |
BANDUNG, 20 Desember 2025 — Pernyataan sikap tersebut dibacakan langsung oleh Ketua PWNU Jawa Barat, KH Juhadi Muhammad, dalam forum yang dihadiri oleh perwakilan 27 PCNU se-Jawa Barat, di Bandung, Jumat (20/12/2025).
Dalam pernyataan tersebut, PWNU dan PCNU se-Jawa Barat menegaskan jati diri NU sebagai jam’iyah yang lahir dari tradisi pesantren. Oleh karena itu, setiap dinamika organisasi harus tetap menjunjung tinggi adab jam’iyah dengan mendengarkan serta menghormati nasihat para masyayikh NU dan kiai sepuh.
Selain itu, PWNU Jabar dan PCNU se-Jawa Barat menyerukan pentingnya islah atau rekonsiliasi demi menjaga persatuan, ukhuwah an-nahdliyah, serta marwah organisasi. Mereka juga menegaskan tidak ingin PWNU maupun PCNU dilibatkan dalam konflik internal yang terjadi di tingkat PBNU.
Dalam sikapnya, PWNU dan PCNU se-Jawa Barat turut menegaskan legitimasi kepemimpinan PBNU hasil muktamar, dengan menempatkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais ‘Aam PBNU dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU.
![]() |
| (Foto istimewa) |
Sebagai jalan keluar yang konstitusional dan bermartabat, PWNU Jabar dan PCNU se-Jawa Barat mendorong penyelenggaraan Muktamar NU sebagai solusi terbaik untuk mengakhiri polemik serta menjaga soliditas jam’iyah. Muktamar tersebut diharapkan dipimpin langsung oleh mandatari muktamar, yakni Rais ‘Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
“Pernyataan sikap ini disampaikan demi menjaga keutuhan NU sebagai jam’iyah pembawa rahmat bagi seluruh alam,” demikian dalam deklarasi tersebut.
Acara ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh dinamika di tubuh NU dapat diselesaikan dengan penuh kebijaksanaan demi kemaslahatan umat dan bangsa. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
December 20, 2025
CB Blogger
Indonesia“Pernyataan sikap ini disampaikan demi menjaga keutuhan NU sebagai jam’iyah pembawa rahmat bagi seluruh alam,” demikian dalam deklarasi tersebut.
Acara ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh dinamika di tubuh NU dapat diselesaikan dengan penuh kebijaksanaan demi kemaslahatan umat dan bangsa. (Asep GP)***
Inilah Pernyataan Sikap Resmi PWNU Jabar dan 27 PCNU Terkait Dinamika di Tubuh Pengurus Besar PBNU
Deklarasi dibacakan oleh Ketua PWNU Jabar, KH Juhadi Muhammad. Dihadiri 27 PCNU se-Jabar. (Foto istimewa) BANDUNG, 20 Desember 2025 — Perny...
Sunday, December 7, 2025
Dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025, Komnas Perempuan menyelenggarakan konsolidasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah untuk memperkuat kolaborasi dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender di Jawa Barat. Kegiatan bertajuk “Kita Punya Andil, Kembalikan Ruang Aman” berlangsung di Hotel Golden Flower, Jl. Asia Afrika No. 15–17 Kota Bandung, Jumat (5/12/2025).
Peringatan 16 HAKTP di Jabar telah dimulai sejak 3 Desember dan akan ditutup melalui kegiatan publik pada Car Free Day Kota Bandung. Agenda ini diharapkan memperluas edukasi publik sekaligus memberikan dukungan moral bagi para penyintas dan keluarga mereka.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat lonjakan signifikan kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2024 meningkat 14,7 persen dibanding tahun sebelumnya dengan total 33.097 kasus, dan kekerasan berbasis gender online menjadi bentuk kekerasan tertinggi di ruang publik.
Anggota Komnas Perempuan Daden Sukendar yang hadir saat itu mengungkapkan bahwa kekerasan berbasis gender online yang kini dalam regulasi disebut sebagai Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE) masih mendominasi laporan masyarakat.
Di ranah publik, kata Deden, laporan paling banyak adalah Kekerasan Berbasis Gender Online atau KSBE. Di ranah privat, kekerasan seksual pun sama, masih menunjukkan angka yang tinggi.
![]() |
| Anggota Komnas Perempuan, Daden Sukendar (Foto Asep GP) |
Deden berpendapat dengan adanya lonjakan kasus ini menunjukkan penanganan kekerasan terhadap perempuan belum berjalan optimal, meski Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).
Menurut Daden, lahirnya UU TPKS menjadi tonggak penting perlindungan korban karena mengatur secara komprehensif, tidak hanya soal korban, tetapi juga hak pelaku, termasuk rehabilitasi. Namun, implementasinya di lapangan masih belum maksimal.
“Masih banyak aparat penegak hukum dan masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya penerapan UU TPKS. Di beberapa daerah, penanganan kasus masih merujuk pada KUHP lama,” ujarnya.
Komnas Perempuan pun terus mendorong agar UU TPKS dapat diterapkan secara penuh dan merata di seluruh wilayah Indonesia agar korban memperoleh perlindungan hukum yang jelas dan berpihak.
Deden juga mengatakan, “Kekerasan terhadap perempuan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Harus ada kerja bersama melalui kolaborasi pentahelix antara akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, pemerintah, media, dan aparat penegak hukum,” tegasnya.
Komnas Perempuan juga menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para korban, penyintas, serta keluarga agar tidak merasa sendirian dalam memperjuangkan keadilan.
Data lengkap kekerasan terhadap perempuan ini dapat diakses publik melalui Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan sebagai bahan evaluasi nasional terhadap implementasi kebijakan perlindungan korban.
Menurut Daden, lahirnya UU TPKS menjadi tonggak penting perlindungan korban karena mengatur secara komprehensif, tidak hanya soal korban, tetapi juga hak pelaku, termasuk rehabilitasi. Namun, implementasinya di lapangan masih belum maksimal.
“Masih banyak aparat penegak hukum dan masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya penerapan UU TPKS. Di beberapa daerah, penanganan kasus masih merujuk pada KUHP lama,” ujarnya.
Komnas Perempuan pun terus mendorong agar UU TPKS dapat diterapkan secara penuh dan merata di seluruh wilayah Indonesia agar korban memperoleh perlindungan hukum yang jelas dan berpihak.
Deden juga mengatakan, “Kekerasan terhadap perempuan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Harus ada kerja bersama melalui kolaborasi pentahelix antara akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, pemerintah, media, dan aparat penegak hukum,” tegasnya.
Komnas Perempuan juga menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para korban, penyintas, serta keluarga agar tidak merasa sendirian dalam memperjuangkan keadilan.
Data lengkap kekerasan terhadap perempuan ini dapat diakses publik melalui Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan sebagai bahan evaluasi nasional terhadap implementasi kebijakan perlindungan korban.
![]() |
| Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKB Pemprov Jabar, Anjar Yusdinar (Foto Asep GP) |
Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKB Pemprov Jabar, Anjar Yusdinar, S.STP., M.Si., menyampaikan bahwa Jabar menghadapi kompleksitas persoalan sosial yang berkaitan erat dengan beban populasi terbesar di Indonesia. Tantangan seperti stunting, tingginya angka perceraian, hingga perkawinan anak masih memerlukan kerja kolaboratif lintas sektor.
“Tantangannya tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Kita harus bergerak bersama dengan pendekatan pentahelix: akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media,” katanya.
Anjar juga menegaskan, media memiliki peran strategis dalam edukasi publik dan pencegahan kekerasan melalui pemberitaan yang sensitif gender.
DP3AKB Jabar turut meneguhkan komitmen memastikan pemenuhan hak-hak korban, mulai dari pemulihan fisik dan pendampingan psikologis hingga pendampingan hukum. Ia mengingatkan bahwa penanganan kasus tetap berlandaskan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).
“Tidak boleh ada penyelesaian kasus kekerasan seksual di luar proses pengadilan. Aturannya sudah jelas,” tegasnya.
Anjar juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas aparat penegak hukum di tingkat kabupaten/kota agar perspektif perlindungan korban dapat semakin seragam. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
December 07, 2025
CB Blogger
Indonesia“Tantangannya tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Kita harus bergerak bersama dengan pendekatan pentahelix: akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media,” katanya.
Anjar juga menegaskan, media memiliki peran strategis dalam edukasi publik dan pencegahan kekerasan melalui pemberitaan yang sensitif gender.
DP3AKB Jabar turut meneguhkan komitmen memastikan pemenuhan hak-hak korban, mulai dari pemulihan fisik dan pendampingan psikologis hingga pendampingan hukum. Ia mengingatkan bahwa penanganan kasus tetap berlandaskan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).
“Tidak boleh ada penyelesaian kasus kekerasan seksual di luar proses pengadilan. Aturannya sudah jelas,” tegasnya.
Anjar juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas aparat penegak hukum di tingkat kabupaten/kota agar perspektif perlindungan korban dapat semakin seragam. (Asep GP)***
Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2024 Melonjak 14,7 Persen, Kekerasan Berbasis Gender Online Tertinggi di Ruang Publik
Dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025, Komnas Perempuan menyelenggarakan konsolidasi masyarakat si...
Sunday, November 16, 2025
![]() |
| Teater Kontemporer Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik "Kapai-Kapai (Arifin C. Noor) dipentaskan NEO Theater Indonesia di IFI Bandung, 12-13/11/2025 (Foto: Asep GP) |
Hal itu terlihat dari membludaknya penonton yang memenuhi Auditorium IFI Bandung, Jalan Purnawarman No. 32 Kota Bandung, selama dua hari pagelaran (12–13 November 2025) mulai pukul 19.30 WIB.
Acara yang diinisiasi NEO Theatre Indonesia ini didukung Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana 2025, bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI) Bandung dan Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung.
Pertunjukan teater yang disutradarai Fathul A. Husein, berdurasi satu jam lebih lima menit ini, didukung para aktor: Retno Dwimarwati (Rektor ISBI Bandung), Yani Mae, Hendra Permana, Muhamad Nur Rozzaq, Fellycha Yuliwanda Aletika, Xena Nursyifa, dan Salma Najiyah. Penari oleh Aulia Rachma dan Ardelia Manarina Faihaa Azhaar, vokalis & dalang oleh Sumartana, penata artistik & pimpinan pentas oleh Ade II Syarifuddin, penata busana & perancang grafis oleh Dita Rosmaritasari, penata rias oleh Mardaleni Muchtar, penata musik & suara oleh Isep Sepiralisman, penata lampu oleh Zamzam Mubarok, penata pentas oleh Ali Nurdin, Oki Suhendra, dan Mang Iwey. Dokumentasi foto & video oleh Herfan Rusando, Ade Daryana, dan Nietzani Adama Mahatma.
![]() |
| Unsur Sintren dimasukan (Foto: Asep GP) |
Usai pertunjukan pada malam kedua (terakhir, Kamis, 13/11/2025), dilanjutkan dengan diskusi di tempat yang sama. Menghadirkan pembicara: Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat Seni FF UNPAR dan ahli metafor), Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang (Guru Besar Seni Rupa FSRD ITB dan ahli semiotika), dan Fathul A. Husein (sutradara pertunjukan), dan dipandu oleh Dr. Ipit Saefidier Dimyati.
Fathul A. Husein, sebagai penulis teks pertunjukan dan sutradara juga pimpinan NEO Theatre Indonesia, mengatakan pertunjukan bertajuk “Dekonstruksi Minimalis KAPAI-KAPAI” ini merupakan sebuah pertunjukan teater kontemporer menggunakan tafsir dekonstruksi dan transformasi teks; dari teks dramatik (dramatic text), ke teks pertunjukan (performance text), dan ke mise en scène.
![]() |
| Wayang Kulit Pantura ( Foto: Asep GP) |
Tentu saja, kata Fathul, pertunjukan ini berdasarkan lakon asli “Kapai-kapai” sebagai teks dramatik karya dramawan Indonesia, Arifin C. Noer (1941–1995).
Inti lakon “Kapai-kapai” (ditulis pada tahun 1970) mengisahkan perjuangan hidup tokoh utamanya, Abu, seorang tokoh yang terpinggirkan dan hidup dalam kemiskinan material dan moral. Kisah ini berpusat pada pencarian Abu untuk menemukan “Cermin Tipu Daya”, sebuah cermin ajaib yang selalu diceritakan ibunya, Emak, dalam dongeng. Dalam dongeng Emak, seorang pangeran dan putri hidup bahagia dan terhindar dari bahaya dan malapetaka berkat “Cermin Tipu Daya”. Abu sangat terpengaruh oleh kisah tersebut dan percaya bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan jika ia menemukan “Cermin Tipu Daya”, yang menurut Emak berada di “Ujung Dunia”.
![]() |
| Tokoh Emak yang diperankan Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimawarti, sedang membelah semangka, simbol porak-porandanya kehidupan (Foto: Asep GP) |
Perjalanan dan penderitaan Abu dalam melakoni hidup yang penuh kesulitan dan kerja keras sebagai buruh, namun ia terus memendam mimpi-mimpi fantastis tentang “Cermin Tipu Daya”. Ia bahkan mengajak istrinya, Iyem, dalam perjalanan panjang dan sangat berat (sesungguhnya “perjalanan spiritual”) mencari “Ujung Dunia” (kematian). Pada akhirnya, setelah melewati berbagai lika-liku kehidupan dan penderitaan, Abu konon menemukan “Cermin Tipu Daya” justru manakala ajalnya tiba.
“Moral cerita yang hendak disampaikan melalui lakon ini: kisah surealis yang menggambarkan harapan, ilusi, dan perjuangan umat manusia dan kemanusiaan dalam mencari kebahagiaan sejati, jati diri, yang sering kali hanyalah fantasi yang tak mungkin tercapai dalam kenyataan,” jelas Fathul.
![]() |
| Berjuang melawan kemiskinan moral dan materil (Foto: Asep GP) |
Pertunjukan teater kontemporer ini, kata Fathul, menekankan pendekatan tafsir dekonstruksi dan transformasi teks berdasarkan lakon “Kapai-kapai” karya dramawan Indonesia, Arifin C. Noer (1941–1995). Lakon dengan beberapa bagian penting dan verbalitas tekstual (dialog dan arahan pengarang) di dalamnya, semata-mata dipinjam untuk menjadi lebih sebagai “peristiwa” pertunjukan daripada sekadar dominasi narasi verbal (kata-kata).
“Tema asli lakon tentang nasib kaum marginal yang miskin dan sengsara sebagai korban yang tak terelakkan (baca: harus diciptakan) dari kekuasaan era industrialisasi dan kemajuan, modernitas dalam cengkeraman gurita raksasa kapitalisme, melalui konsep pertunjukan ini ditransformasikan menjadi kekuatan dramatis, simbolisme gestur/gerak, surealisme imajinatif yang dijalin dengan musikalitas minimalis dan tembang-tembang tradisional (yang aslinya lebih berfungsi sebagai mantra) untuk menandai kelam dan getirnya kehidupan, tentang peniadaan jati diri manusia dan kemanusiaan, yang menjadi pesan inti lakon,” paparnya.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Selain itu, kata Sutradara Fathul, intertekstualitas dengan kearifan filsafat Timur, seperti Lao Tzu, juga merasuk ke dalam jiwa pertunjukan kontemporer ini. Idiom bentuk seni teater tradisional yang “dipinjam” melalui pertunjukan ini setidaknya adalah teater tradisional Tarling (mengandung unsur drama, musik, dan lagu), Sintren (mengandung unsur tari, musik, dan mitos bidadari), dan Wayang Kulit (teater boneka bayang-bayang yang lumrahnya berlandaskan pada kearifan kisah Ramayana atau Mahabharata), di mana ketiga jenis teater tradisional tersebut terutama diambil dari sumber wilayah pesisir utara Jawa Barat.
Bertolak dari lakon “Kapai-kapai”: bagaimana sebuah lakon (dramatic text) dipahami, ditafsirkan, dan ditransformasikan ke atas panggung menjadi performance text dengan menerapkan sebuah pendekatan strategi & siasat pemanggungan yang terkonsep secara kokoh dan mumpuni (mise en scène).
![]() |
| Disambut baik pihak IFI Bandung (Foto: Asep GP) |
“Keseluruhan teks lakon asli hanya diambil sekitar sepertiganya saja dari keseluruhan teks lakon, sebelum kemudian mendapat persentuhan intertekstualitas dari beberapa entitas teks dan konteks dari luar yang merasuk ke dalam teks asli tersebut,” pungkas Fathul.
Proses eksplorasi dan latihan pertunjukan teater kontemporer telah diundang pula dalam rangka workshop pertunjukan (performance workshop) oleh LASALLE College of the Arts, Singapura, 13–14 Oktober (bertempat di Kampus LASALLE), dan oleh Fakulti Seni Kreatif Universiti Malaya (UM), Kuala Lumpur, pada 16–18 Oktober (bertempat di Kampus UM). Hasilnya telah menciptakan suatu kolaborasi kecil dan ditampilkan di sana dengan melibatkan beberapa mahasiswa yang terpilih dari proses singkat workshop.
Tapi intinya, kata Fathul, “Ini bukan terlalu teaternya, bukan terlalu ngobrol-ngobrolnya (diskusi), tapi yang penting silaturahimnya, nilai silaturahimnya, pertemuan langsung kita sesama manusia. Kita bahkan banyak dipertemukan lagi dengan teman lama di pagelaran ini. Semoga teater tetap punya kehidupan yang lebih baik ke depannya,” harapnya.
Pertunjukan yang Penuh Simbol dan Sarat Makna Kehidupan
Sementara itu, Rektor ISBI Bandung, Retno Dwomarwati, yang dalam pertunjukan tersebut memerankan tokoh Emak, mengatakan pada wartawan: ISBI ikut mengisi auditorium IFI sebagai ruang pertunjukannya demi meraih publik yang baru. Di samping itu, di IFI juga sudah lama tidak ada pertunjukan teater, sudah jarang. Selain itu, gedung pertunjukan di kampus ISBI Bandung yang satu-satunya itu penuh tiap hari, dipakai ujian (resital) Prodi Teater hingga 25 November 2025.
Menanggapi dimasukkannya teater tradisional Tarling (gitar–suling dari Cirebon), Sintren (perempuan perawan dimasukkan ke kurungan ayam, lalu berubah dandanannya menjadi bidadari), dan Wayang Kulit semuanya dari Pantura (pantai utara) Jawa Barat, “Sebetulnya kalau ISBI tetap saja, bagaimana membaca tradisi dengan cara-cara baru. Sedangkan Arifin C. Noer orang Pantura kental dan semua naskah-naskahnya juga membaca Pantura dengan sangat baik. Nah mungkin Pak Fathul juga karena orang Pantura, jadi dia bisa menangkap semua esensi ke-Panturaan-nya lewat elemen artistik yang ada pada pertunjukan ini,” jelas Retno.
![]() |
| Bincang-bincang usai pagelaran ( Foto: Asep GP) |
Retno juga menerangkan perannya sebagai Emak; bisa saja Emak itu sebagai simbol Ibu Pertiwi, atau pelindung, dsb. “Jadi sebetulnya di sini Tuhan itu menampakkan dengan waktu. Sang Kelam itu mungkin ada takdir, ada waktu; sementara Emak itu adalah orang yang memelihara kehidupan ini,” kata Retno.
Ditanya edukasinya untuk mahasiswa, menurut Retno mereka bisa mempelajari pertunjukan teater yang sarat simbol-simbol yang berguna untuk mengenal budaya tradisi dan warna-warni kehidupan ini.
“Sebetulnya pertunjukan ini penuh dengan simbol. Jadi nanti bisa dipelajari bagaimana Sintren yang sudah jarang dipertunjukkan di Bandung itu, kita jadi tahu bahwa Sintren itu adalah proses ritual yang membangunkan penari untuk trance (kesurupan, kemasukan ruh). Itu menghubungkan antara dunia bawah dengan dunia atas. Jadi itu yang akan disampaikan di sini; bagaimana kurung ayam itu juga berarti dunia, dan semangka (yang dibelah-belah sama Emak) pun bisa berarti kehidupan di dunia ini yang memang sudah porak-poranda. Jadi pembacaan-pembacaan seperti itu memang dihadirkan oleh Pak Fathur,” terangnya.
![]() |
| Para pemeran pagelaran (Foto: Asep GP) |
Jadi intinya, pelajaran/tema moral yang mau disampaikan dari pertunjukan teater ini adalah bahwa sebenarnya manusia harus dekat dengan Tuhan, karena Dialah yang bisa membolak-balikkan manusia. Jadi ketika tadi Si Kelam berbicara bahwa Tuhanlah yang mulai menciptakan kemudian Dia juga yang memporak-porandakan, berarti semua manusia itu hidup atas dasar kehendak Tuhan.
“Jadi bagaimana kesalehan Arifin C. Noer dapat dibaca di sini. Kemudian Pak Fathur mengangkat gaya-gaya Arifin C. Noer yang sangat memperdulikan rakyat kecil, itu juga lahir di sini. Bagaimana orang yang sudah tidak ada harapan kemudian tetap bangkit (tetap tenang karena ada Cermin Tipu Daya — dalam hal ini mungkin Kotak Pandora). Jadi selalu ada harapan walaupun kita terpuruk sangat parah dalam kondisi kehidupan ini. Toh harapan itu selalu ada, dan kita terus berjuang untuk mendapatkan harapan itu, semoga,” demikian pungkas Bu Rektor. (Asep GP)***
NEO Theatre Indonesia Sukses Gelar Teater Kontemporer “Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik Kapai-Kapai” Karya Arifin C. Noer
Teater Kontemporer Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik "Kapai-Kapai (Arifin C. Noor) dipentaskan NEO Theater Indonesia di IFI Bandung,...
Friday, November 14, 2025
Sumedang, Jawa Barat — Di tengah geliat industri kreatif nasional, sebuah inisiatif inspiratif tumbuh dari Perum Puteraco, Desa Pasirnanjung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Adalah Dr. Warli Haryana, M.Pd., seorang pendidik seni dan praktisi seni dari Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI) yang ingin mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.
![]() |
| Warli Haryana (kaos merah) bersama Cikgu (guru) dan Pensyarah (dosen) dari Malaysia, serta masyarakat Pasirnanjung, Cimanggung (Foto: Istimewa). |
Awalnya kegiatan sederhana saja, dan sejak tahun 2020-an program Pengabdian Kepada Masyarakat yang digagas akademisi seni rupa ini telah membuka ruang pembelajaran kreatif bagi warga, baik pemuda maupun orang tua, untuk mengenal dan mengembangkan potensi seni rupa sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi.
![]() |
| Pengenalan pemahaman seni, budaya, serta desain kepada masyarakat di Perum Puteraco, Cimanggung (Foto: Istimewa). |
Pada akhir November 2025 ini, Warli akan mengadakan praktik dalam bidang teknik sublime transfer paper ke media kaos dan goody bag. Sebagai bentuk pelatihan tambahan yang sebelumnya sudah diajarkan dengan teknik cetak saring (teknik sablon) di atas kertas dan kain, kemudian teknik sublime di media mug.
Kegiatan ini sebagai pemberdayaan kepada masyarakat desa melalui pelatihan teknologi digital sublimasi dalam pembuatan desain merchandise berbasis kearifan budaya untuk menciptakan peluang usaha di bidang industri kreatif.
Kegiatan ini sebagai pemberdayaan kepada masyarakat desa melalui pelatihan teknologi digital sublimasi dalam pembuatan desain merchandise berbasis kearifan budaya untuk menciptakan peluang usaha di bidang industri kreatif.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan gerakan pemberdayaan berbasis seni yang mengintegrasikan pembelajaran teknik cetak digital, teknik cetak saring, serta desain ornamen dasar sebagai fondasi kreativitas. Peserta diajak untuk memahami proses sketsa, mengenal aplikasi desain grafis berbasis Android, hingga mempraktikkan teknik transfer gambar (teknik sublime) ke berbagai media seperti mug, kaos, paper bag, dan goody bag, dan seterusnya.
![]() |
| Saat mengajarkan teknik cetak saring (sablon) kepada masyarakat di Perum Puteraco, Desa Pasirnanjung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang (Foto: Istimewa). |
Warli berharap masyarakat merasakan langsung proses kreatif, dari menggambar hingga menghasilkan produk yang bernilai jual. “Ini bukan hanya soal seni, tapi tentang membuka peluang industri kreatif lokal,” ujar dosen dan peneliti seni rupa UPI kepada wartawan baru-baru ini di Bandung.
Bahkan, kata Warli, kegiatan ini sudah dua kali dihadiri praktisi seni, dosen, serta guru dari Malaysia. Mereka turut serta memberikan pengalaman berkarya seni dan pemahaman tentang dasar-dasar seni rupa dan desain sebagai bentuk kolaborasi pemberdayaan kepada masyarakat.
![]() |
| Saat mengajarkan teknik sublime dengan media mug kepada masyarakat di Perum Puteraco, Desa Pasirnanjung, Cimanggung, Kabupaten Sumedang (Foto: Istimewa). |
Dalam kegiatan itu hadir pula Dr. Dzul Afiq Bin Zakaria, seorang dosen dan praktisi seni dari Universitas Malaysia; Shaydenaim Bin Md. Salleh, seorang guru dari Sekolah Berprestasi Tinggi Malaysia; dan Khairudin Zainuddin, M.A., seniman sekaligus pensyarah (dosen) Malaysian Institute of Art, Hometown Kelantan, Malaysia, yang sudah tiga kali singgah dan memberikan pengalaman berkeseniannya kepada masyarakat di Perum Puteraco. Serta seorang lagi, Mohd Jasmin Bin Md. Jamel, Ketua Jabatan Sains Sosial Maktab Rendah Sains Mara Pendang Kedah, Malaysia, yang baru pertama ikut hadir dan merasa senang mendapat pengalaman baru serta berbagi ilmu dengan masyarakat di Desa Pasirnanjung ini.
![]() |
| Contoh desain merchandise karya Yusup Septi Ardian, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa FPSD UPI. |
Program ini, kata Warli, diharapkan dapat membuahkan hasil nyata dalam bidang produk industri kreatif. Dan alhamdulillah, katanya, beberapa warga yang mengikuti pelatihan ini merasa gembira dan tertarik untuk belajar. Sehingga jika pelatihan ini berlanjut terus, diharapkan dapat mengembangkan usaha rumahan berbasis desain dengan dukungan materi dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Harapan ke depannya, Desa Pasirnanjung tumbuh menjadi desa kreatif yang melahirkan individu-individu produktif dan inovatif, serta membawa nama daerah ke panggung industri kreatif nasional,” kata Warli pasti.
“Harapan ke depannya, Desa Pasirnanjung tumbuh menjadi desa kreatif yang melahirkan individu-individu produktif dan inovatif, serta membawa nama daerah ke panggung industri kreatif nasional,” kata Warli pasti.
![]() |
| Contoh desain merchandise karya Talitha Fidelya Huwaida, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa FPSD UPI. |
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari tokoh masyarakat setempat, termasuk Ketua RW dan sejumlah pemuka warga, yang turut hadir dan memberikan apresiasi atas dampak positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan edukatif yang kontekstual, Pengabdian Kepada Masyarakat ini semoga menjadi contoh di masyarakat bagaimana seni rupa dapat menjadi alat transformasi sosial dan ekonomi. Sebuah langkah kecil dari Sumedang, dan semoga dapat membawa dampak bagi masa depan industri kreatif di Desa Pasirnanjung khususnya, dan dapat berkembang di masyarakat daerah yang ada di Indonesia,” demikian pungkas Warli Haryana. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
November 14, 2025
CB Blogger
Indonesia“Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan edukatif yang kontekstual, Pengabdian Kepada Masyarakat ini semoga menjadi contoh di masyarakat bagaimana seni rupa dapat menjadi alat transformasi sosial dan ekonomi. Sebuah langkah kecil dari Sumedang, dan semoga dapat membawa dampak bagi masa depan industri kreatif di Desa Pasirnanjung khususnya, dan dapat berkembang di masyarakat daerah yang ada di Indonesia,” demikian pungkas Warli Haryana. (Asep GP)***
Warli Haryana Dorong Desa Kreatif dengan Pengabdian Seni Rupa di Perum Puteraco Desa Pasirnanjung, Cimanggung, Sumedang
Dr. Dzul Afiq Bin Zakaria, Shaydenaim Bin Md. Salleh , dan Khairudin Zainuddin, MA, serta Mohd Jasmin bin Md. Jamel, Ketua Jabatan Sains Sos...
Tuesday, October 14, 2025
![]() |
| Para Santri dan Dosen Mahasiswa Program Sarjana Seni Rupa Murni Maranatha (Sumber: Tim Pengabdi) |
Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) secara mandiri, melalui Pemberdayaan Masyarakat secara berkelanjutan tersebut, berlangsung pada Sabtu, (11/10/2025) di Pondok Pesantren Putra-Putri Rancaherang, Jalan Cibogo RT 02/ RW 04, Sukawarna, Sukajadi, Bandung.
Kegiatan dilaksanakan oleh 5 orang Dosen dari Program Sarjana Seni Rupa Murni dan Desain Komunikasi Visual bersama dengan 8 Mahasiswa Program Sarjana Seni Rupa Murni, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Maranatha Bandung.
Implementasi dari salah satu Tri Drama Pergurung Tinggi tersebut berupa pelatihan pembuatan kain kanvas lukis dengan menggunakan tepung lithophon dan teknik laburan yang dilakukan di Pesantren Rancaherang.
“Dengan adanya pelatihan tersebut, para Santriawan dan Santriwati selain mendapatkan ilmu agama yang didapatkan selama mondok, mereka juga punya bekal keilmuan lain yang dapat mereka kembangkan di masa depan sebagai modal berwirausaha,” demikian dikatakan Ketua Pelaksana Kegiatan, Wawan Suryana M.Sn yang juga merupakan dosen aktif di Program Sarjana Seni Rupa Murni.
Tentu saja dengan hadirnya para dosen dan mahasiswa yang berbagi ilmu kepada para santrinya itu membahagiakan Pimpinan Pondok Pesantren Rancaherang, Ustad Ahmad Iqoni. “Pada hari ini saya merasakan kebahagiaan yang amat sangat dengan kehadiran para dosen dan mahasiswa di pondok untuk berbagi ilmu kepada para santri,” katanya haru.
![]() |
| Bapak Wawan Suryana memberikan materi pelatihan (Sumber: Tim Pengabdi) |
Ustad Ahmad pun berharap kedepannya kegiatan ini bisa dilanjutkan dengan materi lainnya seperti lukis atau kaligrafi, karena hal ini sangat diidam-idamkan oleh para santri sebagai bekal kedepannya.
Demikian juga Ketua RT setempat, Ibu Enung yang turut hadir dalam pelaksanaan ini menyampaikan rasa apresiasinya karena hal ini dapat meningkatkan keterampilan anak-anak. “Semoga ke depannya, pelatihan seperti ini bisa meluas ke rt/rw sekitar untuk dapat memberikan pengalaman serta peningkatan keterampilan,” harapnya.
Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Berbasis Pesantren
Pesantren Rancaherang saat ini menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan perhatian serius, khususnya dalam upaya meningkatkan keterampilan para santri agar mampu menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berkembang. Salah satu isu mendasar yang muncul adalah rendahnya keterampilan teknis yang dimiliki oleh santri dalam bidang seni rupa, khususnya keterampilan membuat kanvas dengan teknik laburan berbasis pemanfaatan bahan alami seperti tepung lithophon.
![]() |
| Proses pelatihan (Sumber: Tim Pengabdi) |
Permasalahan ini tidak hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi pendidikan keterampilan hidup (life skills) yang relevan dengan pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis pesantren. Kegiatan ini secara faktanya telah memberikan dampak yang bermanfaat dengan adanya salah satu alumni santriawan telah mengembangkan keterampilan yang didapatkan dari kegiatan serupa yang dilaksanakan oleh Program Sarjana Seni Rupa Murni, dan membuka ruang usahanya sendiri yaitu membuat kanvas dengan tekhnik laburan Lithophon ini di kota Cianjur.
Para Santri turut menyampaikan juga rasa ketertarikan serta harapan supaya kegiatan ini tidak berhenti pada pembuatan kain kanvas saja, tetapi bisa terus berkelanjutan karena hal ini dapat memberikan dampak dan manfaat lebih bagi mereka. Seluruh tim pengabdi memiliki harapan agar kegiatan pengabdian ini mampu memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi berilmu agama, tetapi juga generasi kreatif, mandiri, dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi lokal dan berdampak langsung terhadap Masyarakat sekitar lingkungan Universitas Kristen Maranatha. (Rls/ AGP)***
PKM Program Sarjana Seni Rupa Murni UK Maranatha di Pesantren Rancaherang
Para Santri dan Dosen Mahasiswa Program Sarjana Seni Rupa Murni Maranatha (Sumber: Tim Pengabdi) Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) secara ...
Sunday, October 12, 2025
![]() |
| Rektor ISBI Retno Dwimarwati Sedang Mewisuda para Lulusannya (Asep GP) |
Wisuda Periode Gasal ISBI Bandung Tahun 2025 ini berlangsung pada Sabtu, (11/10/ 2025), di Ballroom Malibu Dome Convention Hall, Hotel Grand Pasundan, Bandung.
Pelaksanaan Wisuda ini berdasarkan Keputusan Rektor ISBI Bandung Nomor 3696/IT8/HK. 02/2025 Tentang Penetapan Wisudawan dan Wisudawati Periode Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 Program Diploma, Sarjana Terapan, Sarjana, dan Magister.
Para wisudawan dan wisudawati tersebut dari berbagai Program Studi (prodi) yang ada di ISBI Bandung , dengan rincian lulusan sebagai berikut :
1. Fakultas Seni Pertunjukan • Angklung dan Musik Bambu: 8 lulusan • Seni Karawitan: 63 lulusan • Seni Tari: 52 lulusan • Seni Teater: 32 lulusan • Tari Sunda: 9 lulusan
2. Fakultas Seni Rupa dan Desain • Tata Rias dan Busana: 29 lulusan • Kriya Seni: 16 lulusan • Seni Rupa Murni: 24 lulusan • Seni Rupa Murni: 24 lulusan
3. Fakultas Budaya dan Media • Televisi dan Film: 47 lulusan • Antropologi Budaya: 52 lulusan
4. Pascasarjana • Penciptaan dan Pengkajian Seni: 9 lulusan
Dari total 341 wisudawan, sebanyak 236 lulusan meraih predikat “Dengan Pujian”, 103 lulusan “Sangat Memuaskan”, dan 2 lulusan “Memuaskan”.
Prestasi akademik tertinggi Tahun ini diraih oleh Dani Maulana, mahasiswa Program Studi Tata Rias dan Busana, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96. Pencapaian tersebut menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika ISBI Bandung untuk terus menjaga mutu pendidikan serta menumbuhkan semangat berprestasi.
Pelaksanaan Wisuda ini bertujuan untuk memberikan penghargaan atas capaian akademik para mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya, sekaligus menandai peralihan status dari mahasiswa menjadi alumni yang siap berkiprah di masyarakat. Melalui momentum ini, ISBI Bandung berharap para lulusan dapat mengimplementasikan ilmu, keterampilan, dan nilai-nilai budaya yang diperoleh selama studi dalam berbagai bidang profesi, serta berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia. ISBI Bandung menegaskan komitmennya untuk terus mencetak lulusan yang kreatif, adaptif, dan berdaya saing global, sejalan dengan visi lembaga sebagai ISBI Bandung Ngajomantara.
Pelaksanaan Wisuda ini berdasarkan Keputusan Rektor ISBI Bandung Nomor 3696/IT8/HK. 02/2025 Tentang Penetapan Wisudawan dan Wisudawati Periode Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 Program Diploma, Sarjana Terapan, Sarjana, dan Magister.
Para wisudawan dan wisudawati tersebut dari berbagai Program Studi (prodi) yang ada di ISBI Bandung , dengan rincian lulusan sebagai berikut :
1. Fakultas Seni Pertunjukan • Angklung dan Musik Bambu: 8 lulusan • Seni Karawitan: 63 lulusan • Seni Tari: 52 lulusan • Seni Teater: 32 lulusan • Tari Sunda: 9 lulusan
2. Fakultas Seni Rupa dan Desain • Tata Rias dan Busana: 29 lulusan • Kriya Seni: 16 lulusan • Seni Rupa Murni: 24 lulusan • Seni Rupa Murni: 24 lulusan
3. Fakultas Budaya dan Media • Televisi dan Film: 47 lulusan • Antropologi Budaya: 52 lulusan
4. Pascasarjana • Penciptaan dan Pengkajian Seni: 9 lulusan
Dari total 341 wisudawan, sebanyak 236 lulusan meraih predikat “Dengan Pujian”, 103 lulusan “Sangat Memuaskan”, dan 2 lulusan “Memuaskan”.
Prestasi akademik tertinggi Tahun ini diraih oleh Dani Maulana, mahasiswa Program Studi Tata Rias dan Busana, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96. Pencapaian tersebut menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika ISBI Bandung untuk terus menjaga mutu pendidikan serta menumbuhkan semangat berprestasi.
Pelaksanaan Wisuda ini bertujuan untuk memberikan penghargaan atas capaian akademik para mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya, sekaligus menandai peralihan status dari mahasiswa menjadi alumni yang siap berkiprah di masyarakat. Melalui momentum ini, ISBI Bandung berharap para lulusan dapat mengimplementasikan ilmu, keterampilan, dan nilai-nilai budaya yang diperoleh selama studi dalam berbagai bidang profesi, serta berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia. ISBI Bandung menegaskan komitmennya untuk terus mencetak lulusan yang kreatif, adaptif, dan berdaya saing global, sejalan dengan visi lembaga sebagai ISBI Bandung Ngajomantara.
![]() |
| (Asep GP) |
Rektor ISBI Bandung Retno Dwimarwati dalam sambutannya berpesan kepada para wisudwan, metode pengajaran yang didapat di ISBI Bandung bisa jadi pisau bedah dalam melakukan aktivitas maslahat bagi masyarakat.
“Kami yakin teman teman, wisudawan wisudawati telah fasih dalam berkesenian dan berkebudayaan di kampus tercinta ini. Hari ini kuatkan niat untuk mengabdikan diri pada masyarakat. Bahwa apa yang saudara lakukan ke depan adalah untuk terwujudnya cita-cita luhur memajukan masyarakat, bangsa dan Negara kita tercinta,“ pesan Rektor.
Sebagai perguruan tinggi seni, kata Rektor, kita beruntung karena ada payung hukum, Undang-Undang No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dimana para lulusan dapat menjadi kontributor di dalamnya. Kita juga memiliki bidang Ekonomi kreatif sebagai penghasil devisa terbesar Negara dengan 17 sub sektor di dalamnya. “Peningkatan sektor Pariwisata pun menjadi canangan pemerintah. Saudara-saudara dapat menjadi agen/kontributor penting dalam bidang kebudayaan, ekonomi dan industri kreatif, serta pariwisata. Semua itu adalah lahan pekerjaan bagi teman teman,“ kata Rektor.
Retno juga mengingatkan, dunia sekarang jauh lebih terbuka dengan berbagai pekerjaan sesuai perkembangan zaman, tinggal kita berperan aktif di dalamnya. Kita memiliki banyak aktivitas dan konten yang dapat bersinergi dengan perubahan zaman di era digital. Generasi sekarang adalah generasi melek digital dan kita dapat memanfaatkannya secara maksimal. Tumbuhkan rasa percaya diri bahwa kita mampu dan dapat berdaya saing dalam menghadapi perubahan zaman. ISBI Bandung menyiapkan portal ensiklopedia Seni pertunjukan Jawa Barat, Si Budi, Si Wati dan teman-teman dapat menjadi pelaku utama di dalam kegiatan tersebut.
“Indonesia adalah Negara Adibudaya, hanya dengan seni budaya kita memiliki kekuatan berdaya saing di kancah internasional. ISBI Ngajomantara akan terwujud dengan kiprah para wisudawan wisudawati sekalian. Lakukan perubahan untuk pemajuan kebudayaan karena anda lah agent of change dalam pemajuan kebudayaan,“ tandasnya.
Lulusan ISBI Berbekal Pengetahun Seni–Budaya bisa Berdayasaing di Masyarakat
Sebagaimana dikatakan Rektor, Indonesia adalah Negara Adi Budaya, budaya bangsa kita sangat beragam dan adiluhung dibandingkan Negara lainnya. Ini tentu saja menjadi modal devisa Negara yang berlimpah ruah dari sektor seni budaya dan pariwisata. Demikian juga seni-budaya yang ada di Jawa Barat (Sunda) yang menjadi mata kuliah, diajarkan di ISBI Bandung, menjadi bekal bagi para lulusannya untuk berkiprah di masyarakat, baik yang berhubungan dengan pekerjaan atau ikut ngamumule dan numuwuhmekarkeun kesenian-kebudayaan bangsa.
Bahkan kata Warek Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Indra Ridwan yang mendampingi Rektor ketika diwawancara wartawan, belum lulus pun mahasiswa ISBI sudah banyak yang nyabut, sudah bekerja. Komptensi mereka diakui di masyarakat.
Hal itu diiyakan Rektor, sebetulnya anak-anak kita seperti dari prodi Teater baru semester dua saja rata-rata sudah punya penghasilan yang cukup kalau ada panggilan maen dalam sebulan. Demikian juga dengan para lulusannya ada yang jadi guru, ASN, wirausaha, butiq, mendirikan padepokan tari, seniman/artis, budayawan, dsb.
![]() |
| (Asep GP) |
Intinya kata Rektor, Lulusan ISBI jangan takut mengangggur, dengan berbekal keterampilan seni dan pengetahuan budaya dari kampus ditambah kreativitas dan melek teknologi, ibaratnya diam di rumah juga akan menghasilkan uang, kalau dia mau jadi influencer atau tiktoker, membuat konten-konten kesenian-kebudayaan Sunda yang sudah langka, dsb.
“Saya kira untuk wisudawan wisudawati tahun ini, peluang sangat terbuka untuk berkiprah di masyarakat. Berbekal imu yang sudah didapatkan di ISBI Bandung justru sekaranglah saatnya untuk diimplementasikan di masyarakat, dan saya kira pembelajaran apakah itu MBKM, Kampus Berdampak itu sudah dijarkan semua kepada mahasiswa dan sekarang saatnya mulailah membuka cakrawala bagaimana sebetulnya kesenian kebudayaan bisa menjangkau hal luar biasa melebihi apa yang dibayangkan sebelumnya. Kalau dulu ada rasa minderwardig, justru sekarang kita harus yakin bahwa dengan kesenian kebudayaan, kita akan lebih jauh berdaya saing dari siapapun,” tandas Rektor.
Kerjasama, Pengembangan Lahan Kampus dan Kepedulian Pemerintah
ISBI Bandung terus berjuang untuk jauh lebih baik. Diantaranya mensinergikan kegiatannya dengan berbagai kementerian, swasta dan pemerintah daerah.
Makanya ISBI yang kedepannya tengah menyiapkan program edu culture tourism – semua pendidikannya mengacu pada budaya dan kemudian dihubungkan dengan turisme/pariwisata, mendapat respon baik dari pemerintah daerah, baik Gubernur dan DPRD Jabar. Semua tempat gedung-gedung pertunjukan Pemprof pun boleh dipakai dan diisi oleh ISBI Bandung.
Tawaran lahan untuk kampus pun datang dari berbagai daerah, pertama dari Cikamuning (KBB) lahan kampus seluas 9,6 H, sekarang sedang dibuatkan masterplan nya, terus ditawari pemkab karawang lahan 2,7 H (hanya ada bangunannya yang harus dihibahkan), begitu juga dari Kabupaten Sumedang. Sekalian ISBI Bandung diminta bupati Sumedang untuk mengaktivasi geoteater Rancakalong.
Jadi konsep ke depannya, kata Rektor, akan dbuat Kampus Tri Tangtu, kampus di Jalan Buah Batu –Karatuan, Cikamuning Kabuaten Bandung Barat – Karesian, Rancakalong Sumedang- Karamaan.
Di Cikamuning (KBB) rencananya ke depan akan dibuat model Kampung Adat –sebagai pembelajaran bahwa ada prototype tentang kebudayaan Sunda yang bisa dikenalkan di Cikamuning, di Geoteater Rancakalong- Sumedang, ISBI akan berbaur bersama masyakarat menguatkan tradisi yang ada di sana, sedangkan Kampus Buah Batu akan menjadi rektorat dan pascasarjana juga museum dan gedung pertunjukan, show room–nya kebudayaan Sunda.
![]() |
| Mahasiswa Siap Mengarak para Wisudawan (Asep GP) |
Selain tiga daerah itu Kabupaten Pangandaran juga sudah menyiapkan 7 H untuk ISBI Bandung. Sedang dalam proses nego, ISBI inginnya 30 H, yang ke depannya akan dibuat studio bambu dari hulu hingga ke hilir, dari hutan bambu sampai ke produk bambu. Sebab kebetulan di ISBI ada Prodi Angklung dan Musik Bambu.
Masih di Pangandaran, ISBI juga Tahun depan akan melaksanakan KKN Reguler yang melibatkan 300 mahasiswanya, juga akan KKN Internasional di Pangandaran yang melibatkan sekitar 200 mahasiswa dari 38 perguruan tinggi wilayah Barat dan internasional yang sudah bekerjasama dengan ISBI Bandung. Pokoknya kata Rektor, Saampar Jabar sa-Nusantara, Ngajomantara, kita siapkan blue print nya Tahun ini.
![]() |
| Rektor ISBI Bandung Retno Dwimarwati dan Warek Indra Ridwan ketika Memberi Keterangan Pers (Asep GP) |
“Jadi kita bisa bersinergi dengan semua pihak termasuk dengan gubernur sekarang yang pro kebudayaan. Semoga ISBI Bandung menjadi juga bagian dari program Pemajuan Kebudayaan Provinsi Jabar. Dengan hastag ISBI Saampar Jabar- ISBI sa -Nusantara- ISBI ngajomantara. Dengan basic budaya itu saya kira jauh lebih berdaya saing. Kita bisa bertaruh hanya dengan kebudayaan, kita bisa berdaya saing,“ tandasnya.
“Jadi mangga mun bade, potensi itu ada di ISBI Bandung. Mari semua bersinergi hayu kita kuatkan, bahwa kebudayaan Jabar bisa menjadi jauh lebih tinggi lagi nilainya,“ kata Rektor pasti. (Asep GP)***
Institut Seni Budaya Indonesia Bandung Wisuda 341 Para Lulusannya
Rektor ISBI Retno Dwimarwati Sedang Mewisuda para Lulusannya (Asep GP) Berbekal Pengetahun Seni–Budaya bisa Berdayasaing di Masyarakat Wisud...
Monday, September 29, 2025
![]() |
| Foto Istimewa |
EIGER Adventure Land dalam siaran persnya, mengumumkan telah melakukan aksi penghijauan masif dengan menanam lebih dari 110 ribu pohon perdu dan 1,8 juta tanaman semak serta groundcover di lahan kritis PTPN yang sebelumnya gersang.
Aksi penanaman ini bukan sekadar mengejar tampilan hijau, melainkan fokus pada pemulihan ekologi lahan PTPN yang sempat teridentifikasi kritis dan kering pada tahun 2019.
Lahan tersebut, menurut Direktur Marketing Eiger Adventure Land, Salomo Cornelis Jacob, Senin, (22/9/2025), tidak mampu menyerap air dengan baik, bahkan terbebani oleh limbah peternakan.
Salomo menjelaskan bahwa konsep penanaman yang dilakukan adalah konservasi dan pelestarian alam yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan tanah di kawasan Megamendung.
"Yang kami lakukan adalah pemulihan ekologi agar fungsi tanah dan hidrologinya kembali maksimal. Kami memilih jenis tanaman endemik khas Jawa Barat, seperti pakis, yang memiliki daya resap kuat, bukan sekadar tanaman untuk membuat hijau,” ujar Salomo.
Selain di dalam area EIGER Adventure Land, penanaman pohon endemik juga diperluas hingga ke taman nasional yang berbatasan langsung dengan kawasan tersebut.
Langkah strategis ini bertujuan untuk menjaga keaslian ekosistem Puncak Bogor secara menyeluruh.
Program penghijauan ini juga memberikan angin segar bagi masyarakat sekitar. EIGER Adventure Land berkomitmen tidak hanya untuk alam, tetapi juga untuk budaya dan masyarakat Indonesia.
Saat ini, proyek penanaman pohon ini telah melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja, termasuk 300 orang dari masyarakat lokal.
Salomo memproyeksikan, ketika kawasan wisata edukatif ini resmi beroperasi, ia akan menyerap lebih dari 1.200 tenaga kerja di sektor hospitality.
"Ini adalah kontribusi nyata bagi alam, budaya, dan masyarakat Indonesia. Selain membuka lapangan pekerjaan, kami berharap ada perputaran ekonomi lokal yang signifikan, mulai dari peluang UMKM, hingga penerimaan negara non-pajak. Kami ingin menghadirkan pengalaman berkelanjutan yang merayakan harmoni antara manusia, alam, dan generasi mendatang," pungkas Salomo.
Program ini sekaligus menegaskan komitmen EIGER Adventure Land untuk menjadi destinasi wisata yang menginspirasi dan mengedukasi tentang pentingnya konservasi alam, membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan. (Rls/AGP)***
Tatarjabar.com
September 29, 2025
CB Blogger
Indonesia
EIGER Adventure Land Tanami Lahan Kritis Puncak Bogor dengan Jutaan Pohon Endemik
Foto Istimewa EIGER Adventure Land dalam siaran persnya, mengumumkan telah melakukan aksi penghijauan masif dengan menanam lebih dari 110 ri...
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)







.jpg)
.jpg)

















.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)





