Home » Posts filed under Koropak Serat
Showing posts with label Koropak Serat. Show all posts
Friday, September 19, 2025
Oleh: Anto Ramadhan (Ikatan Alumni Sastra dan Budaya) Unpad
Bandung adalah kota yang ramai secara fisik dan aktivitas. Kota penuh keramaian: jalan macet, pusat belanja, kafe, wisata kuliner, konser, hiburan, event lifestyle, bahkan kampus-kampus besar ada di kota ini. Kota yang sangat hidup, sibuk, dan padat kegiatan.
Meskipun ramai, nuansa kehidupan budaya yang lebih mendalam (seperti kesenian tradisi, filosofi hidup masyarakat Sunda, atau identitas kultural), kota Bandung kurang menjiwai keramaian itu. Budaya sering hadir hanya sebagai dekorasi, hiburan, atau komoditas pariwisata, bukan lagi sebagai ruh yang membimbing kehidupan kota.
Dengan kata lain, ungkapan itu mengandung kritik bahwa Bandung semakin modern, konsumtif, dan komersial, tetapi kehilangan akar budaya atau jati diri kulturalnya. Aktivitas ramai, tapi “jiwa” kebudayaan (yang memberi kedalaman makna, nilai, dan rasa kebersamaan) terasa semakin menipis.
Bandung Dulu dan Bandung Sekarang
Mempertandingkan Bandung tempo dulu dan sekarang dilihat dari tinjauan historis dan kritik budaya akan sangat menarik jika dimunculkan fakta otentik.
Jika mempertandingkan contoh konkret perbedaan antara Bandung tempo dulu dengan Bandung tempo sekarang, pastinya ada pergeseran yang cukup signifikan.
(Bandung Tempo Dulu) Tahun 1950-1980, dimana "roh kultural" masih kuat, Bandung merupakan pusat pergerakan seni dan intelektual, bahkan Bandung dikenal sebagai kota budaya dan intelektual. Dari kampus ITB, Unpad, dan IKIP Bandung lahir banyak seniman, budayawan, dan pemikir. Contohnya Mang Koko, Harry Rusli, Braga Stone, Teater STB & Payung Hitam. Teater Kampus; GSSTF UNPAD, STEMA ITB, Teater Lakon IKIP. Ada juga karya-karya Yus Rusyana, Saini KM, Ajip Rosidi, atau Yacob Sumardjo.
Kehidupan seni tradisi masih terasa, masyarakat Bandung masih akrab dengan kesenian Sunda: wayang golek, degung, jaipongan, dan sastra lisan Sunda. Itu bukan sekadar pertunjukan, tapi bagian dari kehidupan.
Bandung dikenal dengan ruh perlawanan dan idealisme, Bandung juga pernah dijuluki “kota pergerakan” (termasuk perlawanan mahasiswa 1970–1990-an). Kota ini hidup oleh gagasan, wacana, dan seni yang kritis.
(Bandung Tempo Kini) Ramai tapi sepi ruh kultural, ditandai dengan komersialisasi ruang kota yang semakin meningkat, banyak ruang publik beralih jadi pusat belanja, kafe, atau wahana wisata. Seni dan budaya sering hanya dipajang sebagai branding pariwisata.
Begitupun arena hiburan mampu menggeser budaya. Konser musik, festival kuliner, dan wisata Instagram lebih populer daripada pertunjukan seni tradisi atau diskusi budaya. Dengan kata lain, budaya jadi “atribut”, bukan ruh, misalnya tarian tradisional ditampilkan untuk acara formal atau turis, bukan lagi bagian dari keseharian masyarakat. Jadi, “ramai tapi sepi dari ruh kultural” mempunyai arti, Bandung sibuk dengan aktivitas modern, tapi kehilangan kedalaman jati diri sebagai kota budaya.
Kehidupan seni tradisi masih terasa, masyarakat Bandung masih akrab dengan kesenian Sunda: wayang golek, degung, jaipongan, dan sastra lisan Sunda. Itu bukan sekadar pertunjukan, tapi bagian dari kehidupan.
Bandung dikenal dengan ruh perlawanan dan idealisme, Bandung juga pernah dijuluki “kota pergerakan” (termasuk perlawanan mahasiswa 1970–1990-an). Kota ini hidup oleh gagasan, wacana, dan seni yang kritis.
(Bandung Tempo Kini) Ramai tapi sepi ruh kultural, ditandai dengan komersialisasi ruang kota yang semakin meningkat, banyak ruang publik beralih jadi pusat belanja, kafe, atau wahana wisata. Seni dan budaya sering hanya dipajang sebagai branding pariwisata.
Begitupun arena hiburan mampu menggeser budaya. Konser musik, festival kuliner, dan wisata Instagram lebih populer daripada pertunjukan seni tradisi atau diskusi budaya. Dengan kata lain, budaya jadi “atribut”, bukan ruh, misalnya tarian tradisional ditampilkan untuk acara formal atau turis, bukan lagi bagian dari keseharian masyarakat. Jadi, “ramai tapi sepi dari ruh kultural” mempunyai arti, Bandung sibuk dengan aktivitas modern, tapi kehilangan kedalaman jati diri sebagai kota budaya.
![]() |
| Anto Bersama Walikota Bandung, Muhammad Farhan (Foto Istimewa) |
Dilihat lebih dalam lagi, perbandingan Bandung dulu dan sekarang jika ditarik ke contoh sehari-hari, misalnya perbandingan antara nongkrong di kawasan Braga tempo dulu dengan Braga hari ini, akan tampak perbedaan yang cukup mencolok.
Diketahui, jalan Braga sudah sedari dulu jadi ikon Bandung. Pada tahun 1920–1950an, Braga disebut Parijs van Java. Di sana ada galeri seni, toko buku, gedung pertunjukan, dan kafe yang jadi tempat diskusi seniman, penulis, dan intelektual.
Menginjak tahun 1970–1980an, Braga juga masih jadi ruang pertemuan seniman Bandung, mahasiswa, dan komunitas budaya. Orang ke Braga bukan sekadar jalan-jalan menonton "Kecapi" Braga Stone, tapi untuk bertukar gagasan, menonton pameran, atau berdiskusi soal seni dan politik. Dengan demikian, tidak berlebihan Braga pada masa itu disebut masih punya ruh kultural. Sedangkan fakta sekarang, kawasan Braga ramai oleh wisatawan yang berfoto di depan bangunan tua atau nongkrong di kafe hits.
Banyak juga acara berbasis lifestyle: kuliner, kopi, dan hiburan malam. Nilai sejarah dan budaya kawasan Braga lebih banyak dijadikan latar Instagrammable ketimbang ruang hidup kultural. Seni tradisi atau pameran pemikiran jarang jadi magnet utama; lebih banyak ke aktivitas konsumsi.
Lagi lagi, inilah gambaran “ramai tapi sepi ruh kultural”: secara fisik Braga penuh orang, tapi esensi sebagai ruang budaya dan gagasan hampir hilang.
![]() |
| Foto Istimewa |
Begitupun contoh ruang lainnya di Bandung, seperti Dago, Alun-Alun, atau kampus ITB ,Unpad IKIP (UPI.red) dan kampus besar lainya.
Sedikit tinjauan historis daerah Jalan Dago masa lalu (sekarang Ir. H. Juanda), daerah ini identik dengan rumah-rumah seni, butik kecil, dan ruang nongkrong kreatif mahasiswa. Banyak diskusi sastra, seni rupa, dan musik lahir di sana. Namun saat ini lebih didominasi oleh factory outlet, kafe, dan restoran. Ramai, tapi nuansa diskusi intelektual atau seni mulai memudar.
Sedangkan daerah Alun-Alun Bandung, dahulu jadi pusat pertemuan rakyat, tempat pertunjukan rakyat (wayang, pencak silat, gamelan). Orang berkumpul dengan tujuan kultural dan religius. Saat ini ramai oleh wisata keluarga dan turis, tapi lebih fokus pada spot foto, jajan, dan bermain. Unsur budaya rakyat makin jarang terlihat. Tapi kreatifitas masih terlihat dengan hadirnya "cosplay". Arti cosplay adalah kegiatan seni dan ekspresi diri dimana seseorang mengenakan kostum, riasan, dan aksesoris untuk memerankan karakter fiksi dari media seperti anime, manga, video game, komik, atau film. Istilah ini merupakan singkatan dari "costume play" atau "permainan kostum" dalam bahasa Inggris, dan pelaku cosplay disebut cosplayer. (Wikipedia)
Sementara Kampus ITB & Sekitarnya (Taman Ganesha, Cisitu, Cikapundung), dulu ITB adalah pusat lahirnya seniman besar (Affandi, Srihadi, Sunaryo), pemikir (Sjahrir, Soekarno sempat belajar disini), hingga gerakan mahasiswa kritis. Lingkungan sekitarnya jadi ruang seni dan intelektual. Tetapi kenyataan sekarang, walaupun ITB masih melahirkan seniman, dan masih menyelenggarakan "Pasar Seni" tapi gaungnya masih kalah oleh hiruk-pikuk industri kreatif yang lebih komersial. Diskusi budaya terbatas di lingkar akademik, kurang menyebar ke masyarakat luas.
Dari contoh perbandingan ruang-ruang yang ada di kota Bandung, rupanya "pergeseran ruh" tak bisa dihindari. Dulu Ruang-ruang kota Bandung adalah arena hidupnya budaya, seni, dan gagasan. Orang datang bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi juga untuk menyerap ruh kultural. Bisa juga disimpulkan, ruang-ruang itu masih ramai, tapi lebih ke arah konsumsi, hiburan, dan komodifikasi budaya. Identitas kultural ada, tapi jadi latar, bukan ruh!
Bahkan pernah ada seorang pegiat sosial pernah menulis di Facebook:
“Bandung hari ini ramai oleh cahaya neon dan kerumunan, tapi sepi dari ruh kultural yang dulu menyalakan obor gagasan, seni, dan perlawanan.”
“Bandung teh rame ku jalma, tapi hampang ku budaya.”
Saat ini kota Bandung dipimpin oleh Walikota M. Farhan. Pria kelahiran 25 Februari 1970 ini adalah seorang aktor, seniman, pembawa acara, penyiar radio, dan politikus Indonesia. Dia menjadi Wali Kota Bandung sejak tanggal 20 Februari 2025 . Fakta terbaru walikota melalui Perda sudah membuat sederet
program unggulan di bidang Seni Budaya.
Bertempat di ISBI, Farhan mengatakan seni dan kebudayaan harus berjalan beriringan dengan teknologi. ISBI sebagai mercusuar budaya & teknologinya. Perpaduan teknologi dan budaya punya peluang besar (misal virtual art, eksibisi digital, VR/AR), menarik audiens global.
Selain itu Farhan juga sudah membuat program Pencatatan Kekayaan Intelektual Musik Tradisi. Tujuanya mendorong pencatatan karya seni budaya tradisional, khususnya musik tradisi di Bandung sekaligus melindungi hak cipta budaya lokal supaya bisa turut diakui oleh institusi budaya internasional dan peningkatan awareness global tentang ragam musik tradisional Indonesia.
Program-program unggulan Walikota Farhan juga menggarap pelestarian kesusastraan dan Budaya Sunda lewat digitalisasi. Sebagai contoh dukungan terhadap aplikasi Gapura, sutra literasi budaya, pengembangan Ensiklopedia Sastra Indonesia/Sunda, pengiriman peneliti ke luar negeri untuk mengumpulkan arsip sastra. Digitalisasi & arsip internasional bisa diakses oleh diaspora & akademisi luar negeri; peluang kerja sama riset budaya global.
Dalam rangka menjaga identitas Bandung di era globalisasi, Walikota Bandung juga membuka program "Bandung Kota Cerita". Program yang mengajak warganya mendokumentasikan cerita lokal, arsip pribadi/kolektif, walking tour sejarah, narasi kota, serta menjadikan perpustakaan/kearsipan menjadi ruang publik hidup.
Mungkin program yang paling dinanti oleh musisi, seniman, budayawan, warga kota Bandung adalah "Tikpul Bandung" di Pendopo Walikota. Sebagai program kegiatan rutin setiap Rabu malam, Tikpul lebih ke program komunitas, budaya, dan hiburan warga.
Dari "seabrek" program unggulan di bidang Seni budaya yang sudah dibuat Walikota Farhan sudah selayaknya warga kota Bandung (terutama pegiat seni budaya) untuk mengacungkan jempolnya tanpa ragu, sehingga konon lambat laun satu atau dua suara sumbang pun akan berakhir melipir.
Jadi ingat ungkapan seorang sahabat dari Rumah Musik Hari Rusli (RMHR) pelantun lagu "Nyanyian Bisu" almarhum Uwi Prabu : "Banyak orang berbudaya, tapi tidak berbudi, banyak juga orang berbudi dan berbudaya tapi tidak berdaya!!" (Berbagai sumber/AI)
Bandung Kota Ramai Namun Sepi dari "Ruh Kultural”. Tinjauan Historis dan Kritik Budaya
Anto Ramadhan, Bandung Kehilangan Ruh Budaya (Foto Istimewa) Oleh: Anto Ramadhan (Ikatan Alumni Sastra dan Budaya) Unpad Bandung adalah kot...
Friday, March 7, 2025
![]() |
| Dr. H. Rusdan, S.Pd.,SH.,MM.Pd. |
Kabupaten Bandung Barat, dengan lanskapnya yang membentang dari perkotaan hingga pedesaan, menyimpan potensi besar untuk mentransformasi sistem pendidikannya. Bayangkan sebuah lingkungan di mana setiap anak, tanpa memandang lokasi geografisnya, memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Di daerah terpencil, di mana akses fisik terbatas, teknologi menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan dunia pengetahuan. "Sekolah Swasta" hadir sebagai solusi, memanfaatkan sumber daya yang ada dan pembelajaran semampunya untuk menjangkau mereka yang terisolasi. Asrama-asrama siswa didirikan, memberikan tempat tinggal yang aman bagi mereka yang harus menempuh jarak jauh untuk belajar. Infrastruktur jalan dan transportasi diperbaiki, memastikan bahwa setiap anak dapat mencapai sekolah dengan aman dan nyaman.
Di jantung transformasi ini, kurikulum tidak lagi menjadi dokumen statis, tetapi sesuatu yang hidup dan relevan. Pendidikan vokasi tidak lagi terpisah dari realitas pasar kerja, tetapi terintegrasi dengan potensi ekonomi lokal. Di daerah yang kaya akan pertanian organik, siswa belajar tentang praktik pertanian berkelanjutan dan teknologi pertanian presisi. Di daerah yang memiliki potensi pariwisata, mereka belajar tentang pengelolaan lingkungan dan pariwisata berkelanjutan. Muatan lokal tentang sejarah, seni, dan budaya Sunda diintegrasikan ke dalam kurikulum, menanamkan rasa kebanggaan dan identitas pada setiap siswa.
Guru, sebagai agen perubahan, diberdayakan dan didukung. Pelatihan dan workshop berbasis komunitas diselenggarakan, disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh masing-masing sekolah. Program pertukaran guru diadakan, memungkinkan guru dari perkotaan dan pedesaan untuk saling belajar dan berbagi pengalaman. Kesejahteraan guru ditingkatkan, memberikan insentif dan fasilitas yang memadai untuk menarik dan mempertahankan mereka yang terbaik.
Teknologi menjadi alat yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Platform pembelajaran digital yang interaktif dan mudah diakses dikembangkan, menyediakan sumber daya pendidikan yang kaya bagi siswa dan guru. Akses internet di sekolah-sekolah dipastikan, membuka pintu gerbang menuju dunia informasi. Pelatihan tentang penggunaan teknologi diselenggarakan, membekali guru dan siswa dengan keterampilan digital yang dibutuhkan.
Pendidikan karakter tidak lagi menjadi konsep abstrak, tetapi diwujudkan dalam praktik sehari-hari. "Sekolah Ramah Anak" diciptakan, di mana setiap anak merasa aman, nyaman, dan dihargai. Program ekstrakurikuler yang beragam dikembangkan, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat mereka. Orang tua dan masyarakat dilibatkan secara aktif dalam proses pendidikan, membangun kemitraan yang kuat antara sekolah dan komunitas.
"Pusat Inovasi Pendidikan" didirikan di setiap kecamatan, menjadi wadah bagi guru, siswa, dan masyarakat untuk berkolaborasi dan mengembangkan proyek-proyek inovatif. Laboratorium STEM, ruang inkubasi ide, dan perpustakaan digital disediakan, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kreativitas dan inovasi. Program "Mentor Sebaya" dan "Guru Kunjung" diluncurkan, meningkatkan kolaborasi antar siswa dan guru, serta mempercepat pemerataan kualitas pendidikan.
"Desa Literasi Digital" dikembangkan, memastikan bahwa setiap anggota masyarakat memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital. Kemitraan yang kuat dibangun dengan industri lokal, memberikan kesempatan magang dan kunjungan industri bagi siswa dan guru. Sistem "Data Pendidikan Terintegrasi" dikembangkan, menyediakan informasi yang akurat dan terkini tentang kualitas pendidikan di setiap sekolah.
"Sekolah Hijau dan Berkelanjutan" didirikan, menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sekolah. Pendidikan lingkungan diintegrasikan ke dalam kurikulum, menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Program-program sekolah yang berfokus pada pertanian organik dikembangkan, memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal.
Pendidikan kreatif berbasis industri film dan animasi lokal dikembangkan, memanfaatkan potensi Bandung Barat sebagai pusat industri kreatif. Studio film dan animasi didirikan di sekolah-sekolah, dilengkapi dengan peralatan produksi yang memadai. Festival film dan animasi pelajar diadakan secara rutin, mempromosikan karya-karya siswa.
Pendidikan kewirausahaan sosial berbasis potensi desa dikembangkan, mendorong siswa untuk menjadi agen perubahan di komunitas mereka. Program pertukaran pelajar virtual dengan sekolah-sekolah di negara lain diadakan, memperluas wawasan global siswa. "Pusat Riset dan Pengembangan Pendidikan" didirikan, menghubungkan sekolah dengan universitas dan industri untuk melakukan penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan.
"Sekolah Inklusi Digital" dikembangkan, memastikan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas. "Kurikulum Pembelajaran Adaptif" berbasis kecerdasan buatan diimplementasikan, menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa.
Transformasi pendidikan di Kabupaten Bandung Barat bukan hanya tentang perubahan fisik, tetapi juga tentang perubahan mentalitas. Budaya inovasi dan adaptasi ditanamkan, mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan. Dengan kolaborasi dan komitmen bersama, Kabupaten Bandung Barat dapat mewujudkan sistem pendidikan yang gemilang, menghasilkan generasi emas yang inovatif, kreatif, dan berkarakter.
Di setiap langkah transformasi ini, kita tidak hanya membangun pendidikan, tetapi juga membangun harapan. Harapan akan masa depan yang lebih cerah, di mana setiap anak di Kabupaten Bandung Barat memiliki kesempatan untuk meraih mimpi mereka, dan menjadi bintang yang bersinar di cakrawala peradaban.
Penulis:
Dr. H. Rusdan, S.Pd., S.H., M.M.Pd.
(Praktisi pendidikan berpengalaman, akademisi, dan pemerhati sosial masyarakat)
Tatarjabar.com
March 07, 2025
CB Blogger
Indonesia
Bandung Barat Mengukir Masa Depan. Transformasi Pendidikan Inovatif dan Berkelanjutan
Dr. H. Rusdan, S.Pd.,SH.,MM.Pd. Kabupaten Bandung Barat, dengan lanskapnya yang membentang dari perkotaan hingga pedesaan, menyimpan potensi...
Thursday, August 24, 2023
![]() |
| Dr. Ferry Kurnia Rizkiyansyah (Foto Dok. Pribadi) |
Fakta sosial yang berkembang menjadi patologi sosial di masyarakat saat ini adalah munculnya hedonism, rendahnya budaya intelektual dan literasi, politik identitas yang cenderung destruktif, hoax, materialistik dan konflik horizontal di masyarakat.
Di sisi lain saat ini, dunia sedang menghadapi era revolusi industri 4.0. Era ini ditandai dengan munculnya pesawat autopilot, robot pintar, komputer super, neuroteknologi, dan teknologi nano.
Revolusi industri 4.0 merupakan perubahan cara kerja yang berfokus pada pola ekonomi digital, kecerdasan buatan, big data, robotik dan lain-lain. Perubahan ini dikenal sebagai fenomena inovasi disruptif.
Dampak dari industri 4.0 ini akan mempengaruhi banyak hal: Mempengaruhi model layanan dan bisnis, keamanan digital, siklus hidup produk, mengubah bagaimana bisnis bekerja, mengubah supply chain process, mengubah metode pendidikan dan tuntutan skill dari lulusan dunia pendidikan, mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi kita, dan yang tak kalah penting juga mempengaruhi karakter dan kehidupan manusianya.
Di era sekarang ini, kecepatan dan penggunaan teknologi internet dapat mengantarkan siapa saja menjadi pemenang. Namun di sisi lain, menyisakan sederet masalah yaitu tergantikannya peran manusia oleh mesin pintar dan internet.
Era ini juga memunculkan situasi VUCA, yaitu volatility (volatilitas)/cepat berubah, uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas). Karenanya siapapun dalam situasi ini ditantang untuk bisa adaptif, agile, responsif, sekaligus inovatif.
Karenanya yang tak kalah penting, untuk menghadapi masalah revolusi industri 4.0, perlu disiapkan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi yang mengutamakan kualitas bukan kuantitas. Lembaga yang sangat berperan dalam mempersiapkan sumber daya manusia salah satunya adalah pendidikan, termasuk organisasi perkaderan umat dan kecendekiawanan semacam ICMI dan Masika ICMI.
Pendidikan iptek memberikan kemajuan dalam perkembangan revolusi industri 4.0. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sains mempelajari alam dan aspek-aspeknya yang diterapkan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari melalui teknologi.
Teknologi dapat diakses di mana saja dan oleh siapa saja tanpa batas. Teknologi, khususnya dunia digital, saat ini juga memberikan peluang dan tantangan sekaligus. Memberikan dampak positif dan negatif sekaligus. Bagaimana misalnya, anak-anak kita saat ini sudah terbiasa dengan dunia yang serbainternet, di satu sisi membuat mereka lebih cepat dan lebih mudah belajar, sementara di sisi lain kita sebagai orangtua tidak bisa maksimal dalam mengawasinya.
Untuk meminimalisir dampak negatif dari teknologi, tentu diperlukan pengetahuan dan pemahaman agama yang luas. Islam mendorong pemeluknya untuk maju dan modern. Islam sangat mendukung umatnya untuk melakukan penelitian dan eksperimen dalam segala hal termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perspektif Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi dianggap sebagai bagian dari ayat-ayat Allah yang perlu dikaji.
Sebab saat ini masih menjadi pertanyaan, benarkah kita sudah siap menghadapinya? Bukankah petani kita, misalnya, masih menggunakan cangkul ketimbang automatisasi melalui teknologi digital? Lantas bagaimana kita bisa mengakselerasi masyarakat Indonesia, misalnya di dunia pertanian tadi, yang konon sebagian besar masih menggunakan pola era 2.0, untuk bisa mencapai 4.0. Bahkan Jepang saja sudah berbicara tentang Society 5.0, yang lebih fokus pada aspek manusianya.
Konsep 5.0 memungkinkan kita menggunakan ilmu pengetahuan yang berbasis modern (AI, Robot, IoT) untuk kebutuhan manusia dengan tujuan agar manusia dapat hidup dengan nyaman. Society 5.0 sendiri baru saja diresmikan 2 tahun yang lalu, pada 21 Januari 2019 dan dibuat sebagai resolusi atas revolusi industri 4.0.
Society 5.0 adaah era di mana komponen utamanya adalah manusia yang mampu menciptakan nilai baru melalui perkembangan teknologi, yang dapat meminimalisir kesenjangan pada manusia dan masalah ekonomi di kemudian hari. Dan inilah yang menjadi tantangan Masika. Pernas kali ini menggagas tema yang diurai secara lebih riil dan rekomendatif.
Pemuda ICMI atau terlahir sebagai Masika (Majelis Sinergi Kalam) ICMI memang belum semapan dan sebesar organisasi kepemudaan lainnya yang sudah berjalan puluhan tahun dan yang aktifitasnya banyak dilirik pihak lain, tapi setidaknya kita sudah berbuat dari hal yang kecil, berhimpun dan melakukan sesuatu. Di sinilah peran kita sebagai cendekiawan muslim, khususnya cendekiawan muda, untuk hadir dan turut mengakselerasi kemampuan bangsa Indonesia dan umat Islam khususnya, agar siap menghadapi kompleksitas tantangan industri 4.0.
Salam hormat & takzim,
Ferry Kurnia Rizkiyansyah ~ FKR
Ketua Umum Masika ICMI 2015 - 2020
Tantangan Society 5.0
Dr. Ferry Kurnia Rizkiyansyah (Foto Dok. Pribadi) Fakta sosial yang berkembang menjadi patologi sosial di masyarakat saat ini adalah munculn...
Tuesday, April 20, 2021
![]() |
| Foto Istinewa -WA |
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah adalah kader otentik Muhammadiyah yang tidak ada irisan ideologis dengan organisasi lain di luar Muhammadiyah. Sejak di usia yang masih belia, Prof. Haedar aktif sebagai Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) 1983-1986. Ketua I Bidang Pengkaderan, kemudian Departemen Kader PP. Pemuda Muhammadiyah 1985-1990, Sekretaris Badan Pendidikan Kader (BPK) PP Muhammadiyah 1985-1995, Ketua Badan Pendidikan Kader dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah (BPKPAMM) PP. Muhammadiyah 1995-2000, Sekretaris PP. Muhammadiyah, 2000-2005, Ketua PP. Muhammadiyah 2005-2015, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah 2015 - sekarang.
Dilihat dari riwayat organisasinya, sosok Haedar Nashir terlihat sangat konsisten dan benar-benar menekuni Muhammadiyah. Sejak muda, tidak ada organisasi lain, selain organisasi internal Muhammadiyah yang digeluti. Sosok Haedar tergolong sangat produktif menulis, terutama berkaitan dengan pemikiran ideologi Muhammadiyah, sehingga tak heran warga Muhammadiyah menyebutnya sebagai Bapak Ideologi Muhammadiyah.
Melalui karya-karya tulisnya, di rubik husus bernama "Bingkai", Haedar mampu membingkai pikiran warga Muhammadiyah dalam nuansa “Islam Washatiyah”.
Pikiran-pikirannya senantiasa menjadi rujukan wajib, bagi siapapun yang ingin membicarakan Muhammadiyah.
Haedar juga dikenal sebagai pimpinan Muhammadiyah yang low profile. Sebagai Guru Besar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, banyak aktivis Muhammadiyah memandang tokoh ini sebagai penjaga gawang ideologi Muhammadiyah.
Haedar sosok yang beraliran “khitois” karena ketaatannya pada garis-garis haluan organisasi. Haedar memiliki wawasan kebangsaan, keislaman, dan kemuhammadiyahan yang luas serta mendalam.
Dalam bukunya yang berjudul, Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010), Haedar mengungkapkan betapa Muhammadiyah sungguh “kenyang” dengan hiruk-pikuk dunia politik. Muhammadiyah merasakan betul betapa rumitnya bersentuhan dengan dunia politik.
Meskipun demikian, menurut Haedar, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang bercorak sosio-keagamaan tidak boleh alergi terhadap politik. Wawasan keagamaannya justru harus menyatu dengan wawasan kekuasaan.
Akan tetapi, yang perlu dijaga adalah bagaimana agar Muhammadiyah tidak terjebak oleh isu-isu politik praktis yang tidak menguntungkan.
Muhammadiyah adalah gerakan Islam Non-politik. Pelibatan politik di Muhammadiyah sangat dikhawatirkan, sehingga hal ini menjadikan Haedar sangat memegang teguh kepada khittah organisasi.
Keberpihakan Haedar kepada khittah Muhammadiyah merupakan kebanggan tersendiri segenap warga Muhammadiyah. Gaya politik ini dapat disebut sebagai politik kebangsaan, high politics atau politik nilai. Pengalaman panjang berorganisasi di Muhammadiyah sejak muda, keterlibatan pada perumusan keputusan-keputusaan organisasi Muhammadiyah, membuat Haedar sebagai seorang nahkoda memahami betul ideologi dan khittah Muhammadiyah, termasuk memahami hendak kemana membawa sikap dan pandangan Muhammadiyah di masa yang akan datang.
Puasa Sebagai Kanopi Diri
Sebagai publik figur, Haedar Nashir juga sering menggunakan media sosial sebagai ajang berbagi pengetahuan, sekaligus berdakwah. Baru-baru ini juga lewat akun Twiter nya mengatakan tentang "konsep kanopi " di bulan Ramadhan ini.
Menurut Haedar, setiap tahun kita berpuasa tidak cukup hanya sebagai ritual individu semata, tetapi puasa harus memancarkan diri kita yang menjadi uswah khasanah (teladan yang baik) dalam kehidupan.
Masih menurut Haedar, puasa sebagai ibadah mahdloh merupakan satu kewajiban yang rutin kita tunaikan. Puasa dalam membentuk pribadi taqwa, tentu tidak sekali jadi,maka setiap tahun berpuasa menurut ulama sebagai "olah jiwa tahunan " yang akan membentuk kita semakin baik, semakin bertaqwa.
"Saya mencoba meletakan puasa sebagai "kanopi," kata Haedar. "Sekaligus sebagai teras rohani kita, agar dengan ketaqwaan yang terus kita bangun itu melahirkan diri kita yang bersih, suci lahir bathin, dalam makna puasa adalah proses revolusi rohani.”
Ketika puasa diproyeksikan sebagai "laalakum tattaquun" (agar kamu menjadi orang yang bertakwa) bagaimana sifat taqwa itu diperaktikan. "Contohnya, apakah setelah puasa kita akan menjadi orang yang semakin dermawan, apakah kita akan menjadi orang yang sabar, tidak pemarah,kemudian menjadi pemaaf," terang Haedar mencontohkan.
Di dalam cuitannya juga, Haedar menulis bahwa puasa yang bisa membentuk kanopi diri, menjadi insan yang bersih lahir bathin adalah puasa yang berintegrasi bukan hanya menahan puasa dari makan minum dan pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi juga menjadikan diri menjadi orang yang mempunyai kemampuan merawat dan menjaganya.
(Anto Ramadhan, dari berbagai sumber) *** Tatarjabar.com April 20, 2021 CB Blogger Indonesia
Bapak Ideologi Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. : Menjadikan Puasa Sebagai "Kanopi Diri"
Foto Istinewa -WA Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah adalah kader otentik Muhammadiyah yang tidak ada irisan ideologis dengan organ...
Thursday, March 4, 2021
Oleh : Anto Ramadhan (Pengamat Budaya Tinggal di Cicadas, Bandung)
Cicadas termasuk salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung.
Menurut data kependudukan kota Bandung, daerah Cicadas ini kepadatan penduduknya mencapai lebih dari 13.000 jiwa per kilometer persegi. Sehingga, konon, Cicadas masuk dalam 10 besar kampung terpadat di dunia dan 5 besar terpadat di Asia Tenggara. Pernah terjadi beberapa tahun lalu, salah seorang warganya meninggal, dan untuk mengeluarkan keranda beserta jenazah dari rumahnya harus melewati genting.
Di era tahun 90an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas terkenal dengan sebutan gang "sarebu punten". Sebuah ungkapan kiasan untuk menggambarkan daerah kumuh, sempit dan padat penduduknya, sehingga tiap langkah orang harus berkata "punten" jika kebetulan lewat kawasan ini.
Meskipun berhimpit di ruang sempit, warga Cicadas terutama di era pandemi Covid 19 tetap bergairah melakukan hal hal kreatif. Seperti yang dilakukan warga Gang Wargaluyu RT 01 RW 05 Kelurahan Cicadas, Kota Bandung, mereka menyulap jalan dengan karya-karya kreatif, berupa lukisan lukisan. Jika beberapa tahun lalu kampung-kampung kreatif yang ada di kota Bandung melukis mural tembok gang, kini warga Gang Wargaluyu melukis jalan dengan lukisan permainan Ular Tangga, Sonlah, Dam Daman, Jebakan Betmen, Jembatan Layang,, Kolam dan Perahu Layang, serta beberapa lukisan tiga dimensi lainya.
Seperti yang diungkapkan Ketua RW 05, Ridwan Muharam, ide awalnya muncul dari keprihatinan melihat anak anak yang terus menerus bermain gadget terutama memasuki masa pendemi Covid 19. "Ide awalnya memang untuk menyeimbangkan pola main anak-anak disini, yang hampir semua bermain gadget" kata Ridwan. Caranya, "Maka dibuatlah mural di atas jalan dengan tema permainan anak, ada ular tangga, dam daman, sonlah dan yang lainya" lanjut Ridwan .

Ridwan juga mengatakan, biarlah anak-anak disini hanya sekolah daring yang menggunakan gadget, tapi bermain tetap harus di alam nyata dan terbuka.
Sementara itu aktifis PKK yang juga sebagai Istri dari Ridwan Muharam, Laela Qodariah mengatakan ada 4 program dari RW 05 yang sedang dilaksanakan yaitu :
1. Program Mural
2. Pengajian
3. Budidamber (Budidaya Ikan Lele di Ember)
4. Buruan Sae (Buruan Sehat Alam Ekonimis)
"Dengan moto Kompak Sauyunan, kita berusaha menciptakan warga lebih kreatif dan inovatif, "kata Laela. "Keberhasilan ini bukan karena perorangan, tapi berkat keberhasilan bersama warga," lanjut Lela. "Dengan adanya program pengajian rutin, dan progran Buruan Sae, yang mengedepankan ketahanan pangan warga, mininal rohaninya dapet, jasmaninya dapet," pungkasnya.
Gang "Sarebu Punten" itu Kini Disulap Jadi Kampung Kreatif !!
Oleh : Anto Ramadhan (Pengamat Budaya Tinggal di Cicadas, Bandung) Cicadas termasuk salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Cibeunying ...
Tuesday, February 23, 2021
![]() |
| Koleksi barang seni tina bahan runtah rumah tangga |
Arang langka aya urang Sunda nu resep ngumbara ka jauhna. Paling ge di wewengkon priangan keneh atawa paling jauh ge ka Jabodetabek, boh nu kasab, sakola, atawana tugas gawe ti kantor. Komo anu ngumbara taunan di tanah sabrang mah, arang langka nu kuateun lila. Beda jeung seler bangsa lianna, saperti Minang (Padang), Batak, atawa Jawa, kuat ka taunan, puluhan taun bumetah di pangumbaraan.
Tapi sejen deui pikeun Nofidi mah, ieu Insinyur Pertanian wedalan Unpad (entragan 81) jeung manten aktipis Lises, terah Samarang Garut teh cita-citana justru lamun digawe hayang ditempatkeun di tanah sabrang.
Kabeneran nalika keur digawe di Departemen Transmigrasi ieu lalaki kalahiran Bandung 17 November 1961 teh dimutasi ka Riau, kamalum harita keur aya pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat ), anu merlukeun Sarjana Pertanian.
Tapi basa mimiti datang ka Riau, aya saurang pajabat nu nanya, “Ada yang dari Jawa Barat?“ cenah ge. Kabeneran harita aya 3-an anu ti Jawa Barat teh, “Dari Jawa Barat biasanya jarang ada yang betah,” pokna teh kitu. Beu, harita Nofidi kuat ka ngagebeg, na ieu teh bener kitu, mun cek barudak ayeuna mah pakta atawa hoax? Novidi harita kuat ka ngahuleng ngaragameneng ngadenge caritaan eta pajabat teh. Tapi sajalan jeung waktu cepeng gawe di Kantor Wilayah Depatemen Transmigrasi Riau, ku Nofidi kapanggih jawabanana. Bener we geuning transmigran asal Jawa Barat (Sunda) mah langka nu baretaheun. Lahan jeung imah eukeurna sok dijarualan deui ka batur, kalabur baralik deui ka lembur. Kitu deui dina unsur aparatur, taya saurang ge nu ti Jawa Barat. Kakanwilna ti Jawa kabidna ti Sumatera. “Ieu jadi catetan sihoreng aya benerna oge pajabat anu nanya mangsa kakara kuring datang teh, jadi kuring teu perlu dendem/ngunek-nguneuk, memang kitu sanyatana”, kitu cek pikirna harita.
Malah mah harita Nofidi jangji dina hatena, rek ngabuktikeun yen teu sakabeh urang Jawa Barat/Sunda kitu talajakna. Harita kabeneran Nofidi ditempatkeun di unit pamukiman transmigrasi anu bakal narima transmigran asal Jabar. Lakadalah kabeneran cenah ge. Urang akalan sangkan urang Jawa Barat baretaheun hirup di pangumbaraan. Nofidi apal kebiasaan urang Sunda di lemburna resep tatanen di sawah jeung sok ngurus balong. Jadi harita Nofidi menta ka atasanana urang Jawa Barat sangkan dipandeurikeun we dipernahkeunana, sabab inyana geus boga ijiran transmigran ti daerah lianna mah moal daekeun ditempatkeun deukeut cai nu mangrupa ranca.
Kabuktian urang Jawa Tengah, Jawa Timur, jeung Madura menta ditempatkeun di tonggoh nu jauh tina ranca. Tah urang Jawa Barat mah ku Nofidi justru ditempatkeun dilandeuh deukeut ranca tea. Eta mah urang Sunda harita kuat ka emprak surak, “Horse…!! Wah aya cai euy, geus we lah urang nyarieun balong jeung sawah, “ cenah ge bari arigel-igelan aratoheun. Ti dinya sanggeusna tatanya ka Nofidi sarjana pertanian Unpad tea, der babad alas, nepi ka jadi lahan tatanen anu subur jeung babari kaala hasilna tur muceki. Eta we tina rata-rata 1,6 ton/hektar maranehna meunang 0.8 lumayan da teu kaluar modal, bisa neundeun pare dina leuit lamun di lembur mah, dapur ge bisa ngebul dina jangka sataun. “Janten urang Jawa Barat mah harita pada maruji, kawentar ahli tatanen bisa hirup di pangumbaraan kalayan murah pangan,” cek Nofidi reueus.
![]() |
| Nofidi Ekaputera, buktikeun urang Sunda ge Unggul di lembur batur |
Tapi rasa agul Nofidi ka transmigran urang Sunda sirna saharita basa tugasna dipindahkeun ku atasanana, di wewengkon Riau keneh. Eh para transmigran ti Jawa Barat apinganana ge milu baralik ka lemburna ka Jawa Barat, da meureun asa cuang-cieung sorangan ditinggalkeun ku nu ngapingna. Cek istilah Nofidi mah, leadership kapamingpinan nu dipercaya ku maranehanana kudu endors wae, cenah ge hanjakaleun.
Tapi Nofidi teu leutik hate, malah jangji ka diri pribadi, rek ngabuktikeun teu sakabeh urang Sunda kitu sipatna. Buktina Nofidi betah ngumbara di lembur batur nepi ka 21 taun, ti taun 1989 nepi ka 2010 budakna ge tiluanana lahir di itu. Dibi Sareta Brelmaldi ST. MBA, Disa Tafira Raimalda SH, jeung Difi Adhwa Dhabith.
Nofidi ge di Riauna nempatan sababaraha posisi nu stratehis, ngabuktikeun yen urang Sunda ge eksis jeung jadi jalma penting di pangumbaraan.
Lalampahan salila 21 taun di Riau ngolah di Departemen Transmigrasi, jsb, pangalaman nu pangbeuratna mah nepi ka asup di Otda basa ditempatkeun di Bengkalis. Kapanan Kabupaten Bengkalis mah tempatna bangsa Malayu, ari Nofidi ti tanah Sunda. Kangaranan digawe di kantoran geus pasti lamun urang boga jabatan teh aya we anu mikasirik. Komo ieu mah di lembur batur, rek naon cenah meureun urang Sunda didieu rek ngaraja. Tapi Nofidi ge boga adab-adab, goreng-goreng ge wedalan Unpad, apal tatacara hirup di masarakat, ditambah ku gawe nu rancage bari jeung kapake ku pingpinan, anu tingharewos tukangeun mah teu ditolih ieuh nu penting suhud kana pagawean. Atuh teu helok lamun karirna beuki undak jeung loba kawawuhanana. Bangsa bupati mah geus jiga ka babaturan deui we dalit pisan, mikadulur ka manehna.
Conto karancagean gawena oge loba diconto. Hal eta kabuktian nalika keur digawe di hiji lembaga pengawas anu cek babasanna ngan ukur meunang panghasilanna bisa rengse ku saratus rebu, 300 rebu-500 rebu, nepi ka sajuta, dua juta. Tah ku Nofidi mah nepi ka bisa ngadatangkeun duit 800 juta nepi ka 2 Miliyar. Dongengna aya nu boga pausahaan ditagih pajak anu sanggeus diitung-itung aya kana 800 jutana, tapi si wajib pajak teh ngambek, lantaran meureun biasana cukup ku mayar ratusan rebu ge geus bisa lolos. Tapi ku Nofidi harita diterangkeun kalayan eces kaasup itung-itungan manehna sapangaji 800 juta dibandingkeun jeung itungan BPK anu nepi ka 2 Miliyar. Kalah ka ngambek tah jalma teh bari indit. Nya mangga kumaha bapa we eta mah, bapa tiasa lolos ti dieu tapi engkena pasti diparios ku BPK, cek Nofidi harita.
Na da eta mah isukna, cek paribasana pasusubuh gurunggsuh nepungan, bari hariweusweus mayar pajakna hayang direngsekeun ku Nofidi bari ngaigiwing duit ratusan juta, da sieun dipariksa BPK bari kudu mayar 2 Miliyar. “Beu boa geus korupsi yeuh jalma teh”, Cek Nofidi harita bari seuri sugema, bisa nagih wajib pajak kalayan bener mayarna bari teu ngambek teu sing malah mah ku eta jalma Nofidi dijadikeun konsultan.
Ku ayana kajadian harita urang Sunda beuki seungit, palinter cenah ge. Padahal mah lain pinter, ieu mah pedah ku kaayaan we jadi patugas pajak, atuh kapaksa kudu nambahan pangaweruh, kudu macaan buku ngeunaan hukum, bab hukum katut pasal-pasalna. “Abdi janten disangka ti BPK padahal ti Pertanian pan,“ cek Nofidi bari seuri, inget kana kajadian harita.
Tah nu kitu teh, cek Nofidi, anu disebut pasualan roh/jiwa, lamun jiwana geus hadir sakabeh jalma ge bakal apal kana sagala widang. Asal daek diajar, jujur jeung rajin digawe, kudu loba tatanya, lamun bodo kudu alewoh, tangtu bakal bisa kana sagala rupa. Istilahna bakal kajiwaan (istilah dina Karate mah cek Nofidi mah Do atawa Jiwa tea). Da Alloh mah bageur maparin akal ka manusa. Kapanan cek babasan manuk hirup ku jangjangna manusa hirup ku akalna. Contona Nofidi, sok sanajan wedalan Fakultas Pertanian tapi bisa nyepeng sagala widang, coba wae nalika keur di Riau wae salian cepeng tugas di Departemen Transmigrasi (1987-2000), jeung di Pemda Riau (2000-2010), balik ka Bandung ti 2010 – 2019 nepi ka marenna dines di Pemkot Bandung. Lamun ditaan mah aya 8 dines di Riau jeung di Bandung nu geus dicepeng ku Nofidi, ti mimiti Transmigrasi, Inspektorat, PU, Bappeda, Dispenda, BPPT, jeung jeneng Camat Andir Kota Bandung. Jadi Camat ge babaturanana loba nu teu percayaeun, pokna ge, ma enya Camat ti Fakultas Pertanian, cenah ge, heuy ah.
![]() |
| Resep Mengbal ti bubudak |
Nu penting hasil gawena nu rancage, kapanan jalan lowong ti mimiti Terusan Jalan Rajawali nepi Pasar Andir, tiap Senen ge hasil gawe rancage Nofidi, ngahaja Nofidi cumeluk sangkan poe Senen dikosongkeun meh bisa dipake ngabersihan drainase, got, atawa trotoar tina runtah pasar (ilik oge Pasar Baru ayeuna). Nu dagang ge teu baha, nurut we da karasa mangpaatna keur sarerea.
Nofidi ge ngaku bisa kituna teh lantaran ti keur mahasiswana keneh aktif di kampusna, boh di Fakultas Pertanian atawana di Lises Unpad, kapanan inyana kungsi nyieun Teater konsep Longser kawas Teater Mama nu aktorna Mat Solar, anu dialohna taya wates jeung nu lalajona, bisa ngobrol jeung nu nongton, malah nepi ka di pasanggirikeun sagala jeung pada muji ku pingpinan Unpad harita (Pa Imang Hasansulama, PR 3). Lian ti kitu Nofidi resep mengbal ti leuleutik, nepi ka kiwari ge teu bisa leupas tina mengbal. Harita ge kungsi panggih di imahna keur ngadeluk we ngobrolkeun mengbal jeung Aris Munandar Persib anu masih keneh alumni Unpad (PAAP). Jadi memang jiwana kaasah ku seni (lemes jiwana) jeung siasat mengbal nu merlukeun taktik jeung gotong royong, gawe rukun dina nyiptakeun hiji gul (pasualan).
Urang Sunda Goreng Mentalna
Tina pangalaman hirupna di pangumbaraan, ieu anggota Majelis Cendekiawan Keraton Nusantara (MCKN) ge boga pamamanggih ngeunaan sipat urang Sunda. Urang Sunda goreng mentalna jeung jiwa corsana ge kurang kuat, cenah ge.
“Abdi mah gaduh kacindekan urang Sunda kirang sae mentalna. Padahal urang gaduh budaya nu luhung. Tapi kunaon teu ngawasa dunya. Presiden ge kapanan teu acan aya nu ti urang Sunda. Padahal dina pemilu kantong soara pangseueurna aya di Jawa Barat. Tapi kalah ka ngokojokeun batur,“ Cek Nofidi manghanjakalkeun.
Bukti transmigran urang Sunda nu kalabur deui ka lemburna, nepi ka Nofidi ditingalkeun ku bababaturanana nalika di Otda. Geus nandakeun mental jeung jiwa corsana kurang hade. Coba we cenah basa Nofidi tugas keneh di Riau, babaturanana mah geus baralik deui, kapan pokna teh, “Waduh eta Persib tinggal hiji deui euy, can balik. Rek pindah meneh teh Nofidi atawa moal, da moal jadi bupati atuh di ditu ge,“ beu etah, kalah ka ngageuhgeuykeun lain ngarojong, kapan pantesna mah. “Maneh betah tugas di sabrang Fid euy. Heueuh jigana maneh mah cocok meureun nya mana kitu ge. Sok atuh ku urang dirojong Fid lah..perlu naon?” kitu kahayang Nofidi mah.
Ulah jauh-jauh cenah ge. Harita keur mangsa tugas di Pemkot Bandung, Nofidi jeung babaturanna ti Unpad pangangguran nyatet lulusan Unpad anu gawe di dinya. Ari gorehel teh aya 400 jalma, tapi helokna taya saurang ge anu jadi kapala dinas. Aya ge wedalan ITB, Unpar, jeung STPDN.
![]() |
| Buruan imahna ge nyeni |
Nofidi ge manglebarkeun ka Lises (Heubeul) Unpad anu boga WAG (grup WA) ngan ukur dipake wadah ngobrol atawa romantisme. Kuduna mah cenah aya lajuninglakuna upamana nyarieun usaha babarengan, komo dina mangsa pangsiun jeung usum sasalad kawas mangsa kiwari mah, perlu pisan gawe rukun silih tulung tinulungan teh.
Kituna teh lain ngan saukur catur tanpa bukur, di imahna, di Jalan Pak Gatot IV No. 46 G, Kompleks KPAD Gegerkalong Hilir, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung Nofidi jeung garwana Tuti Yulianti, ngadegkeun “Roemah Tafira”. Di dieu aya ratusan barang-barang seni anu dijieun tina barang anu geus teu kapake anu ku batur dianggap runtah piceuneun, tapi ku kaparigelan jeung kabinangkitan garwana, Tuti Yulianti jeung rojongan inyana, ngajanggelek jadi barang seni nu boga ajen ekonomi nu luhur.
Lian ti eta koleksina aya barang-barang heubeul (antik) anu lamun dijumlah-jamleh sakabehna aya leuwih ti 1000 barang (item). Kayaning Radio Tabung (Radio Listrik) taun 30-an anu aya tulisan “Batavia” hurung keneh bisa disetel anu pangajina 5 juta, nepi ka radio listrik kaluaran taun sabadana. Aya deui TV hideung-bodas merek sharp jeung merek lianna, gramophone, Mesin Jahit anu diputer ku leungeun jeung ku suku rupa-rupa merk, patromak, istrika/setrika areng, mesin ketik, tustel heubeul (Nikon, Pentax, Canon, Zenith, jsb), telepon heubeul, Jam bandul, jrrd, dibrengbrengkeun di rohangan semah, ari korsina tina jati anu jokna ku hoe tea geuning. Matak waraas.
Kitu deui koleksi Rantang (enamel: lapisan porcelain anu ditapelkeun kana logam/beusi sangkan barang eta kuat/barang logam anu dilapis porcelain sangkan kuat) aya buatan Cheko anu teu dijieun deui sapangaji 3,5 juta, oge rantang buatan Jepang, China jeung Timur Tengah anu rada murah. Kitu deui di rohangan tengah ngajajar dina erak teko-teko atawa poci jeung emuk ti mimiti kaluaran baheula nu make gambar hias/motif cendol (teko belang) nepi ka anu dijieun keneh nepi ka kiwari, aya deui balastrang (baki) anu dijieun taun 50-an jeung tampolong (paidon, urang China mun nikah wajib boga paidon) sakabehna dibebenah kalayan rapih, diklasipikasi. Kaasup koleksi Asesoris Adhwa Handmade jieunan Tuti nu sok dipake ku Athalia Kamil.
![]() |
| Koleksi Rantangna aya nu pangaji 3,5 juta |
Barang jadul lianna aya dompet, tas tangan anu sok dipake ka ondangan ku nini atawa ema-ema baheula – barang urut anu geus teu diproduksi deui nu ieu mah husus didatangkeun ti nagara Jerman, Kanada jeung Australia, aya supplierna.
Tah dina jero kaca meja mah ngabarak duit kertas jeung bengol baheula ti mimiti kaluaran taun 58 nepi ka duit kencring sarebu kaluaran ayeuna, aya duit urang (ORI) aya oge duit nagara lianna. Cek Tuti eta koleksi duit warisan bapana teh kungsi dipuji ku Ibu Boediono (Istri Wapres Boediono) nalika datang ka Roemah Tafira taun 2019.
Ti dinya pindah ka rohangan tukang. Tah nya didieu tempat neundeun karajinan Roemah Tafira anu diadegkeun taun 97 teh. Eusina kalolobaanna karajinan/barang seni tina barang urut, runtah rumah tangga kayaning tutup botol, kwas, gunting potong, konci, wadah odol urut, watang ali, lamak planel, sendok, garpuh, teplon, kaleng urut susu, kardus, botol palastik, dreum. Jsb, rek nu kumaha rupana wae kangaranan bubututan urut nu tai hiangan/karatan oge ngajanggelek deui jadi barang seni anu payu dijual.
Atuh teu helok keur mah disambunglayangkeun dina medsos (IG - tutiyulianti) ditambah ku koleksina anu lengkep, langka jeung nyareni badis eusi galeri seni badag, dina mangsa pandemi ge Roemah Tafira mah pada ngajugjugan ti suklakna ti siklukna, utamana ema-ema rombongan ti Makasar, Palembang, Semarang, Kalimantan, marake beus, imah kuat ka pinuh ka dapur-dapur jeung kamar cai dipotoan. Ngan riweuh keur nyuguhanana cenah ge, karunya tacan aya kantin.
Lian tie ema-ema para ibu-ibu pajabat jeung artis ge remen datang ka Roemah Tafira, diantarana lian ti Bu Boediono tea, Atalia Praratya Kamil, ti zaman Kang Emil jadi walikota nepi ka geus jadi Gubernur Jabar ge remen nganjang ka Roemah Tafira, kitu deui Ibu Oded (istri walikota Bandung Oded M Danial). Artis jeung model kayaning Ulli Sigar, Jeni Cindu, Risna Azhari. Jrrs, kaasup rombongan ti Dekranasda Sulawesi Selatan jeung ti Medan anu daratangna teh. Cag.(Asep GP.)***
Ir. Nofidi Hajatiawan Ekaputera, MP : Conto Urang Sunda nu Bumetah jeung Hade Gawe tur Kapake di Pangumbaraan
Koleksi barang seni tina bahan runtah rumah tangga Arang langka aya urang Sunda nu resep ngumbara ka jauhna. Paling ge di wewengkon prianga...
Friday, December 25, 2020
Seperti udara
Kasih yang engkau berikan Tak mampu 'ku membalas
Ibu
Ibu
Ibu.....
(penggalan lagu "Ibu" by Iwan Fals)
Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Desember. Tahun ini, Hari Ibu jatuh pada Selasa, 22 Desember 2020. Peringatan Hari Ibu ke-92 mengusung tema Perempuan Berdaya Indonesia Maju.
Peringatan Hari Ibu merupakan upaya bangsa Indonesia untuk mengenang dan menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam merebut dan mengisi kemerdekaan.
Sejarah Hari Ibu
Dikutip dari Buku Panduan Pelaksaan Peringatan Hari Ibu ke-92 Tahun 2020 yang dirilis Kemen PPPA, lahirnya Peringatan Hari Ibu tak lepas dari perjuangan para perempuan Indonesia.
Bibit kebangkitan perjuangan perempuan Indonesia telah dimulai sebelum masa kemerdekaan, yang ditandai perjuangan pendekar perempuan di berbagai tempat di Indonesia, seperti Tjut Njak Dien di Aceh, Nji Ageng Serang di Jawa Barat, RA Kartini di Jawa Tengah, serta masih banyak lagi yang lain.
Dalam kurun waktu setelah kelahiran Budi Utomo pada 1908, banyak lahir perkumpulan perempuan di berbagai tempat, seperti Aisiyah, Wanita Katolik, Putri Merdeka, dan lain-lain.
Gema Sumpah Pemuda dan lantunan lagu Indonesia Raya yang pada 28 Oktober 1928 digelorakan dalam Kongres Pemuda Indonesia, menggugah semangat para pimpinan perkumpulan kaum perempuan untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri.
Pada saat itu, sebagian besar perkumpulan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa.
Atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan pada 22-25 Desember 1928, diselenggarakanlah Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali di Yogyakarta.
Satu dari beberapa hasil kongres itu yakni terbentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).
Melalui PPPI tersebut terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.
Pada 1929 Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia (PPPI) berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII).
Pada 1935, diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta.
Kongres tersebut disamping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.
Lalu pada 1938, Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Hari Ibu dikukuhkan Pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari nasional dan bukan hari libur.
Tahun 1946, badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia disingkat KOWANI, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman.
Hari Ibu oleh bangsa Indonesia diperingati tidak hanya untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri maupun sebagai warga negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam merebut, menegakan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional.
(Berbagai Sumber)
Tatarjabar.com
December 25, 2020
CB Blogger
IndonesiaBibit kebangkitan perjuangan perempuan Indonesia telah dimulai sebelum masa kemerdekaan, yang ditandai perjuangan pendekar perempuan di berbagai tempat di Indonesia, seperti Tjut Njak Dien di Aceh, Nji Ageng Serang di Jawa Barat, RA Kartini di Jawa Tengah, serta masih banyak lagi yang lain.
Dalam kurun waktu setelah kelahiran Budi Utomo pada 1908, banyak lahir perkumpulan perempuan di berbagai tempat, seperti Aisiyah, Wanita Katolik, Putri Merdeka, dan lain-lain.
Gema Sumpah Pemuda dan lantunan lagu Indonesia Raya yang pada 28 Oktober 1928 digelorakan dalam Kongres Pemuda Indonesia, menggugah semangat para pimpinan perkumpulan kaum perempuan untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri.
Pada saat itu, sebagian besar perkumpulan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa.
Atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan pada 22-25 Desember 1928, diselenggarakanlah Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali di Yogyakarta.
Satu dari beberapa hasil kongres itu yakni terbentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).
Melalui PPPI tersebut terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.
Pada 1929 Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia (PPPI) berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII).
Pada 1935, diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta.
Kongres tersebut disamping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.
Lalu pada 1938, Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Hari Ibu dikukuhkan Pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari nasional dan bukan hari libur.
Tahun 1946, badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia disingkat KOWANI, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman.
Hari Ibu oleh bangsa Indonesia diperingati tidak hanya untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri maupun sebagai warga negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam merebut, menegakan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional.
Anto Ramadhan
Alumni Sejarah Unpad 86
(Berbagai Sumber)
Memperingati Hari Ibu, Kenali Dulu Sejarahnya !!
Seperti udara Kasih yang engkau berikan Tak mampu 'ku membalas Ibu Ibu Ibu..... (penggalan lagu "Ibu" by Iwan Fals) Di...
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
.jpg)
.jpg)










