Home » Posts filed under Seni Budaya
Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts
Wednesday, July 22, 2026
![]() |
| Dr. Supriatna dengan latar belakang karya mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung pada Pameran "Setalah Ini Pameran Hanya..." di Galeri ASTAKA FSRD ISBI Bandung (20–22 Juli 2026). |
Kegiatan ini digelar di Galeri ASTAKA Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISBI Bandung, Jalan Buah Batu No. 212, Kota Bandung, dari tanggal 20–22 Juli 2026.
Pameran bertajuk "Setalah Ini Pameran Hanya…", yang dibuka oleh Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., menampilkan beragam karya empat orang mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung.
![]() |
| Jihan Azhari, motif ukir Rumah Gadang Kaluak Paku Kacang Balingbiang diaplikasikan pada busana pengantin modern. (Foto: Asep GP) |
Fuad Saefuz Zaman (Pupu) mengeksplorasi limbah kain denim (bahan jeans) menjadi berbagai kostum karakter tokoh folklor (cerita rakyat).
Gilang Mustofa mengolah tanah liat yang diambil dari kampung halamannya menjadi lukisan bertema AMD (ABRI Masuk Desa, program kreatif pengabdian masyarakat ABRI/TNI yang diinisiasi Jenderal M. Jusuf pada tahun 1980), yang merupakan peristiwa yang diingat secara kolektif oleh masyarakat yang mengalaminya.
![]() |
| Pupu (Fuad Saefuz Zaman) mengeksplorasi limbah kain denim menjadi kostum karakter tokoh folklor. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Jihan Azhari Nurani mengolah sulaman emas untuk diaplikasikan pada pakaian pernikahan khas Minang. Jihan mengeksplorasi motif ukir hias Rumah Gadang Minangkabau, Kaluak Paku Kacang Balingbiang, untuk karyanya. Motif hias ukir yang kini sudah jarang ditemui di Sumatera Barat ini ia aplikasikan ke dalam busana pengantin modern dengan teknik bordir agar tidak punah ditelan masa dan dilupakan generasi muda.
![]() |
| Gilang Mustofa mengolah tanah liat dari kampungnya menjadi lukisan bertema ABRI Masuk Desa. (Foto: Istimewa) |
Kaluak Paku Kacang Balingbiang ini, menurut Jihan, adalah salah satu motif ukiran dalam adat Minangkabau yang melambangkan pertumbuhan, kebersamaan, keseimbangan, tanggung jawab, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam kehidupan sosial. Proses eksplorasi dilakukan terhadap nilai filosofis motif, referensi visual busana pengantin tradisional dan modern, serta pengembangan teknik bordir sebagai medium ekspresi artistik. "Hasil karya ini diharapkan menghasilkan karya busana pengantin yang mempertahankan identitas budaya Minangkabau sekaligus menghadirkan kebaruan visual dan konseptual yang relevan dengan perkembangan seni dan desain busana modern," tutur Jihan, yang berdarah Sunda-Minang ini.
![]() |
| Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan.
Menurut Kurator Pameran, Supriatna, "Setalah Ini Pameran Hanya…" merupakan sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Judul ini tidak dimaksudkan sebagai penutup, melainkan sebagai pembuka bagi berbagai kemungkinan makna setelah karya dipertemukan dengan publik.
![]() |
| Kepala Biro Akademik dan Umum, Dede Priana, turut mengapresiasi. (Foto: Asep GP) |
Kata Setalah, yang tidak mengikuti ejaan baku, menjadi simbol bahwa proses berkesenian tidak selalu berjalan dalam kesempurnaan. Kesalahan, keraguan, dan proses pencarian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik artistik.
Melalui pameran ini, setiap karya dihadirkan bukan untuk memberikan jawaban yang pasti, melainkan mengundang pertanyaan, refleksi, dan kemungkinan interpretasi baru. "Dengan demikian, 'Setalah Ini Pameran Hanya…' menjadi pengingat bahwa setelah ruang pamer ditinggalkan, karya tidak benar-benar selesai. Ia terus hidup melalui ingatan, percakapan, dan makna yang dibangun oleh setiap orang yang mengalaminya," demikian kata Supriatna. (Asep GP)***
Pameran Seni Rupa 4 Mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung
Dr. Supriatna dengan latar belakang karya mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung pada Pameran "Setalah Ini Pameran Hanya..."...
Sunday, July 19, 2026
Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang terbuka terhadap keberagaman dan persahabatan internasional melalui penyelenggaraan West Java International Fun Folk Festival yang berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Minggu (19/7/2026). Festival budaya yang mempertemukan delegasi dari Indonesia, Rusia, Malaysia, Filipina, dan India ini menghadirkan pertunjukan seni tradisional yang memukau sekaligus menjadi ruang diplomasi budaya yang mempererat hubungan antarmasyarakat lintas negara. Lions Club Bandung Sangkuriang dan Lions Club Bandung Raya bekerja sama menyelenggarakan kegiatan ini berkolaborasi dengan Color of Indonesia dan Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Kota Bandung.
![]() |
| Acara diresmikan oleh Walikota Bandung |
![]() |
| Defile lima negara |
![]() |
| MC memperkenalkan salah satu delegasi dari negara India tepatnya dari Gujarat dan akan menarikan tarian dari Gujarat. |
![]() |
| MC Siska dari Lions Club Bandung Sangkuriang memperkenalkan delegasi dari Philipina yang akan menampilkan tarian untuk perkawinan. |
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Panitia Pelaksana, Irma Suganda dari Lions Club Bandung Sangkuriang. Dalam sambutannya, Irma menyampaikan bahwa festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah gerakan untuk membangun persahabatan dunia melalui kebudayaan. "Kami merasa terhormat dapat mempertemukan sahabat-sahabat dari lima negara di Kota Bandung. Semoga festival ini menjadi jembatan yang memperkuat diplomasi budaya, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Jawa Barat kepada masyarakat internasional," ujar Irma. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Novi Khotimah dari Color of Indonesia, Ketua Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Jawa Barat Hj. Lina Marlina Ruzhan, S.E., serta Ketua Wilayah Lions Clubs, Lion Chen Sun Fen. Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, S.E. Dalam sambutannya, Farhan menyampaikan apresiasi atas kehadiran para delegasi mancanegara yang telah memilih Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan festival budaya internasional tersebut. "Kami merasa sangat terhormat menyambut para tamu dari Rusia, Malaysia, Filipina, dan India. Bandung memiliki sejarah panjang sebagai kota yang membangun dialog dunia melalui semangat Konferensi Asia Afrika. Hari ini semangat itu kembali hidup melalui diplomasi budaya yang menghadirkan persahabatan tanpa batas," kata Farhan.
![]() |
| MC memperkenalkan delegasi dari Rusia tepatnya dari Moscow. |
![]() |
| MC Siska memperkenalkan delegasi dari Malaysia tepatnya dari Sabah. |
![]() |
| Delegasi dari Indonesia salah satunya tari Merak yang akan tampil dalam West Java International Fun Folk Festival |
Kemeriahan festival diawali dengan penampilan Rampak Kendang dan tari gamelan yang dibawakan sekitar 30 siswa SDN M. Toha. Penampilan generasi muda tersebut menjadi simbol bahwa pelestarian budaya harus dimulai sejak usia dini, terlebih menjelang peringatan Hari Anak Nasional. Suasana semakin semarak ketika lima penari yang disuguhkan oleh Sanggar Pusbitari menampilkan Tari Merak, salah satu ikon budaya Jawa Barat yang telah diakui oleh Kemendikbudristek sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada Desember 2020. Penampilan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para tamu internasional. Delegasi Rusia, Malaysia, Filipina, dan India kemudian bergantian mempersembahkan tarian tradisional khas negaranya masing-masing. Beragam kostum, musik, dan gerak tari menciptakan harmoni budaya yang menunjukkan bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan untuk saling mengenal dan menghargai. Selain itu, juga dimeriahkan oleh berbagai tarian dari Sanggar Tari Tri dan Sanggar Rengganis.
![]() |
| Foto bersama dengan perwakilan delegasi dari lima negara |
![]() |
| Apresiasi penonton yang luar biasa |
Festival ditutup dengan Social Dance Tari Kalem Aya Urang/Balakutak Line Dance yang dipandu instruktur d’ULD (The Universal Line Dance) Jawa Barat. Seluruh tamu undangan, delegasi luar negeri, panitia, hingga masyarakat ikut menari bersama dalam suasana penuh kegembiraan.
Penyelenggaraan West Java International Fun Folk Festival dinilai berlangsung sukses, tertib, dan profesional. Para peserta mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Bandung serta kualitas penyelenggaraan acara. Festival ini menjadi bukti bahwa Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, mampu menjadi rumah bagi perjumpaan budaya dunia sekaligus menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya lokal sambil membangun persahabatan global. (Asep GP)***
Bandung Jadi Panggung Persahabatan Dunia, “West Java International Fun Folk Festival” Satukan Budaya Lima Negara
Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang terbuka terhadap keberagaman dan persahabatan internasional melalui penyelenggaraan W...
Monday, July 13, 2026
![]() |
Dosen dan alumni STISI Bandung yang berpameran bersama Bu Cinta. (Foto: Asep GP) |
Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) di Hotel De Paviljoen Bandung, Jalan R.E. Martadinata No. 68 (Jalan Riau), Kota Bandung. Pameran yang berlangsung dari 10 Juli hingga 10 September ini dibuka langsung oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. Atalia Praratya, S.IP., M.Ikom., dan dimeriahkan oleh Disonansi Metafora (Musikalisasi Puisi).
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
Tatarjabar.com
July 13, 2026
CB Blogger
Indonesia![]() |
Gunting pita oleh Atalia Praratya sebagai tanda pameran resmi dibuka. (Foto: Asep GP) |
Pameran karya 45 seniman, dosen, dan alumni STISI (Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia) Bandung angkatan 90-an ini menampilkan beragam teknik, mulai dari lilitan kawat, arsiran, anyaman, teknik tempel, cat akrilik, cat minyak, pahatan, hingga eksplorasi mixed media. Keragaman itu menegaskan tidak ada jalur tunggal dalam berkesenian. Setiap seniman tumbuh lewat pengalaman berbeda, tetapi tetap membawa resonansi dari ruang pembelajaran yang dulu mempertemukan mereka.
![]() |
| Mengapresiasi Karya (Foto: Asep GP) |
Tajuk pameran "Pertemuan Ruang Waktu" ini, kata Kurator Pameran Rahmat Jabbaril, mengambil inspirasi dari gagasan ruang-waktu Albert Einstein. Pameran ini memandang karya seni sebagai jejak peristiwa. Setiap karya adalah rekaman proses panjang yang membentuk kesadaran artistik para penciptanya. Ruang pamer tidak hanya jadi lokasi, dan waktu tidak hanya hitungan tahun. Keduanya berfungsi sebagai medium yang mempertemukan kenangan, masa lalu, masa kini, proses, dan pencapaian.
![]() | ||
|
Rahmat juga membaca pameran ini lewat perspektif fenomenologi Edmund Husserl: kesadaran selalu bergerak menuju sesuatu. "Pertemuan Ruang Waktu" hadir ketika pengalaman artistik yang tersebar dalam rentang ruang dan waktu kembali menemukan medan perjumpaannya. Pameran ini bisa dibaca sebagai singularitas kecil, titik temu berbagai lintasan pengalaman, gagasan, dan ekspresi yang membentuk konstelasi baru.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Pameran seni rupa yang menampilkan beragam teknik ini mendapat apresiasi tinggi dari Atalia Praratya, yang saat itu membuka acara. Hampir semua seniman diajak ngawangkong, ditanya, dan diapresiasi karyanya. Kelihatannya Bu Cinta sangat menikmati sekali. Ya, maklum, doktor Ilmu Komunikasi lulusan Unpad ini penikmat seni, tahu dan mengerti tentang seni. Mantannya (Ridwan Kamil, mantan Gubernur Jabar) seorang arsitek kawakan dan banyak karya lukisnya. Ditambah putrinya sering memaksa diantar melihat pameran seni rupa dan pergi ke museum.
![]() |
| Foto: Asep GP |
"Seni itu perjuangan yang tidak mudah karena menghadirkan banyak hal, mulai dari pengalaman, perasaan, keindahan, dan berkaitan dengan waktu yang mematangkannya. Bu Cinta kenapa sok tahu tentang seni? Kan mantan saya orang seni, seniman dan arsitek yang senang melukis, dan anak saya hobinya ke museum melihat pameran. Jadi ema nya digigiwing diajak menemani," kata Atalia sambil tertawa, disambut tepuk tangan hadirin.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Karya 45 seniman STISI Bandung angkatan 90-an dari jurusan/prodi Fotografi, Kriya, Desain Interior, DKV, dan Seni Lukis yang menggunakan beragam teknik dan media ini, menurut Atalia, adalah sesuatu yang indah. Pertemuan ini tidak hanya mengumpulkan mereka yang satu tujuan terkait keindahan, tetapi juga bisa bernostalgia dan bersilaturahmi. Bersama, tetapi menunjukkan bahwa seni itu bisa beresonansi terkait semangat menghasilkan karya, semangat untuk terus belajar, dan bagaimana menciptakan karya seni yang bermakna.
![]() |
| Risma Nurhadiyani, Marcom Hotel De Paviljoen Bandung (Foto: Asep GP) |
"Saya reueus (bangga) karya-karya ini bisa terus dihadirkan. Jadi kalau ada sebuah ruang pameran, ya bukan hanya untuk menampilkan karya saja, tetapi menunjukkan bahwa memang seni itu akan selalu hadir dalam berbagai prosesnya, dan juga dalam berbagai ruang dan waktunya. Semoga pameran ini menjadi ruang apresiasi, inspirasi, juga kolaborasi bagi seluruh insan seni dan juga para pengunjung. Selamat atas dibukanya pameran ini. Semoga bisa memberikan semangat saling berbagi inspirasi. Termasuk ini juga kan mengayakan kebudayaan kita," pungkas Bu Cinta sambil menggunting pita.
![]() |
| Rahmat Jabbaril, Sang Kurator Pameran De Paviljoen Hotel (Foto:Asep GP) |
Kenapa di Hotel De Paviljoen Bandung Sering Ada Pameran Seni?
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Pameran di Hotel De Paviljoen Bandung digelar rutin tiga kali dalam setahun dengan tema yang berbeda. Untuk pengelolaannya biasanya bekerja sama dengan kurator. Pihak De Paviljoen hanya menyediakan venue (tempat) dan opening saat pameran seni (art exhibition) dimulai.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Risma juga menjelaskan, untuk art exhibition kali ini, apabila ada masyarakat yang ingin mengapresiasi karya seni dipersilakan datang, dan kalau berminat bisa langsung membelinya.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Karena di Bandung banyak perguruan tinggi seni, banyak seniman yang sudah malang melintang di event-event besar dunia, juga bisa melahirkan gerakan-gerakan budaya dan politik seperti Bung Karno yang kuliah di ITB Bandung dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Gagasan-gagasan seperti itu, kata Rahmat, harus jadi energi.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Kata Rahmat, kalau semua dikumpulkan ada ribuan dan ketemu lintas generasinya. Ini baru dari seni rupanya saja, belum dari seni lainnya.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Rahmat juga mengajak kepada seniman Bandung agar membesarkan Bandung, sarakan-nya (tempat kelahiran), terlebih dahulu, baru daerah lainnya. Karena perhelatan seni kontemporer di Yogya, ARTJOG, dan ARTSUB (di Surabaya) itu penggagasnya anak-anak muda Bandung.
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
Pameran “Pertemuan Ruang Waktu” Karya 45 Alumni STISI Bandung
Dosen dan alumni STISI Bandung yang berpameran bersama Bu Cinta. (Foto: Asep GP) Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) di Hotel De Pa...
Saturday, June 13, 2026
Bandung – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran menggelar Festival Budaya Maritim: Jejak Budaya Maritim Warisan Dunia sebagai proyek Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda Tahun Akademik 2025/2026, dengan dosen pengampu: Dr. Undang Ahmad Darsa, M.Hum., Dr. Taufik Ampera, M.Hum., Dr. Teddi Muhtadin, M.Hum., Dr. Asep Yusup Hudayat, M.A., Rahmat Sopian, M.Hum., Ph.D., Dr. Asri Soraya Afsari, M.Hum., dan Dr. Taufik Rahayu, M.Hum. Kegiatan Festival Budaya Maritim dilaksanakan pada hari Jumat, 5 Juni 2026, di Lapang Parkir Gedung A FIB Unpad, diikuti oleh mahasiswa dari sembilan program studi S-1 yang secara kolaboratif menampilkan berbagai karya dan pertunjukan bertema budaya maritim.
Festival ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari karnaval budaya, pameran karya mahasiswa, pertunjukan seni, pemutaran video dokumenter, video kreatif, hingga peragaan busana yang mengangkat kekayaan budaya maritim Nusantara. Melalui berbagai media ekspresi tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Sunda dalam konteks kebudayaan maritim Indonesia yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, identitas, dan peradaban bangsa.
Karnaval budaya menjadi salah satu atraksi yang menampilkan kreativitas mahasiswa dalam mengemas simbol-simbol budaya maritim ke dalam berbagai bentuk visual dan pertunjukan. Sementara itu, pameran karya dan pemutaran video dokumenter memperlihatkan hasil kajian mahasiswa mengenai jejak budaya maritim, tradisi pesisir, teknologi pelayaran tradisional, serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih hidup di berbagai daerah di Indonesia.
Tidak kalah menarik, pertunjukan seni dan peragaan busana menghadirkan interpretasi kreatif mahasiswa terhadap warisan budaya maritim melalui seni pertunjukan, musik, tari, serta desain busana yang terinspirasi oleh kehidupan masyarakat pesisir dan pelaut Nusantara. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang mengintegrasikan aspek akademik, penelitian sederhana, kreativitas, dan kerja sama lintas program studi.
Koordinator Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Taufik Ampera, M.Hum., menjelaskan bahwa festival ini merupakan bentuk implementasi pembelajaran berbasis proyek yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh di kelas ke dalam karya nyata.
“Melalui Festival Budaya Maritim ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep kebudayaan secara teoritis, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Tema budaya maritim dipilih karena Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki kekayaan budaya luar biasa dan perlu terus dikenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Taufik Ampera menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya.
“Kami berharap mahasiswa mampu memahami bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Festival ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa pembelajaran kebudayaan dapat dikemas secara inovatif, menarik, dan relevan dengan tantangan zaman,” tambahnya.
Melalui penyelenggaraan Festival Budaya Maritim, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran berharap dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai keberagaman budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya bangsa. Festival ini juga menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat menghasilkan karya-karya kreatif yang memberikan kontribusi bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia, khususnya Pemajuan Kebudayaan Daerah. (Asep GP)***
Festival Budaya Maritim Meriahkan Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda
Bandung – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran menggelar Festival Budaya Maritim: Jejak Budaya Maritim Warisan Dunia sebag...
Saturday, June 6, 2026
Pameran Seni Rupa Nawasena yang berlangsung pada 1–7 Juni 2026 di Galeri Seni SOS Babakan Siliwangi, Bandung, turut menghadirkan karya seni hasil penelitian dari dua peneliti: Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn., dan Dr. Wanda Listiani, M.Ds.
Pameran ini menjadi ruang dialog antara hasil riset dan praktik artistik yang dilakukan sejak 2023 hingga 2026. Tajuk pameran Nawasena dimaknai sebagai harapan menuju masa depan yang lebih baik. Pameran ini merupakan upaya mengembangkan wacana seni rupa berbasis riset dan praktik artistik untuk menghasilkan karya seni yang berdampak bagi masyarakat. Eksplorasi medium dan praktik artistik dari riset kolaboratif merefleksikan hubungan antara kearifan lokal, folklor, dan ekspresi estetika.
Pembukaan pameran pada Senin (1/6/2026) dilakukan oleh Melly Goeslaw, Anggota DPR RI Komisi X. Menurut Melly Goeslaw, “Pameran ini memberikan kontribusi pada pendidikan budaya dan menghadirkan wacana yang berbeda bagi perkembangan perspektif seni budaya Indonesia. Karya seni tidak hanya memberikan ruang kreatif, tetapi juga merupakan pendekatan kritis untuk menyampaikan gagasan tentang persoalan masyarakat kepada pemerintah dengan sudut pandang yang berbeda.”
Kurator pameran, Rahmat Jabaril, menilai bahwa karya Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn., dan Dr. Wanda Listiani, M.Ds., memperlihatkan bagaimana penelitian dapat menjadi fondasi penting dalam penciptaan karya seni rupa kontemporer. Karya seni berbasis penelitian yang didanai oleh Kemendiktisaintek melalui Skema Penelitian Fundamental ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga menyampaikan temuan reflektif yang relevan dengan persoalan masyarakat saat ini.
Pameran Nawasena juga diapresiasi oleh Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., serta Nurul Arifin, Anggota DPR RI Komisi I, pada Selasa (2/6/2026). Kehadiran Nurul Arifin merupakan bentuk dukungan terhadap perkembangan ekosistem seni rupa berbasis penelitian. Menurutnya, praktik seni berbasis penelitian memiliki peran strategis dalam perkembangan pengetahuan dan diplomasi seni budaya.
Pameran Nawasena juga diapresiasi oleh Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., serta Nurul Arifin, Anggota DPR RI Komisi I, pada Selasa (2/6/2026). Kehadiran Nurul Arifin merupakan bentuk dukungan terhadap perkembangan ekosistem seni rupa berbasis penelitian. Menurutnya, praktik seni berbasis penelitian memiliki peran strategis dalam perkembangan pengetahuan dan diplomasi seni budaya.
“Kehadiran Ibu Melly Goeslaw dan Ibu Nurul Arifin menjadi momentum penting bagi kami, akademisi dan perupa, untuk terus memproduksi pengetahuan serta luaran penelitian yang berdampak bagi masyarakat, khususnya atlet pencak silat Indonesia,” kata Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn., di tengah kesibukannya mendampingi dosen yang akan dipromosikan menjadi Guru Besar tahun ini, yaitu Dr. Wanda Listiani, M.Ds., melalui Skema Penugasan Guru Besar dari dana penelitian DIPA Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.
Prof. Dr. Sri Rustiyanti juga menambahkan, “Pameran ini menunjukkan bahwa praktik seni dapat menjadi instrumen refleksi kepakaran akademik sekaligus sumber inspirasi bagi generasi muda. Peneliti muda yang kami dampingi adalah Ellysia Alenda dan Priyanka Azura Dilla Riezquita, siswa SMA Negeri 8 Jakarta yang sedang melakukan penelitian dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2026. Mereka berkolaborasi dengan Anrilia E.M. Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Psikolog dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya; Dr. Anita Restu Puji Raharjeng, M.Si., dari UIN Raden Fatah Palembang; serta Dwi Amelia Savitri, M.Pd., Guru Pendamping Kelas X dari SMA Negeri 8 Jakarta,” pungkasnya. (Asep GP)***
Hasil Riset Dosen ISBI Bandung dalam Pameran Nawasena
Pameran Seni Rupa Nawasena yang berlangsung pada 1–7 Juni 2026 di Galeri Seni SOS Babakan Siliwangi, Bandung, turut menghadirkan karya seni ...
Wednesday, June 3, 2026
![]() |
| Lima Perupa-Pendidik Pameran Nawasena di Galeri SOS Babakan Siliwangi Bandung (1-7/6/2026), dari kiri:Wanda Listiani, Sri Rustiyanti, Supriatna, Ika Ismurdiyahwati & Ariesa Pandanwangi. |
Pameran bertajuk “Nawasena” ini berlangsung di Galeri Ruang A SOS Babakan Siliwangi, Kota Bandung, dari tanggal 1–7 Juni 2026 (dibuka untuk umum: pukul 10.00–17.00). Sedangkan artis talk akan berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) di tempat yang sama.
Kontributor pameran: Prof. Dr. Marijke J. Klokke, Anrilia EM Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Dra. Sriati Dwiatmini, M.Hum., Dra. Suryanti, M.Hum., Dr. Anita Restu Puji Raharjeng, M.Si., M.Biomed.Sc., Dwi Amelia Savitri, M.Pd., Ellysia Alena, Priyanka Azura Dilla, Riezquita, Mita Handayani, Zakiy Fauzi, dan Zimam Fauzi.
![]() |
| Melly Goeslaw (baju putih) sedang mengapresiasi karya para perupa, didampingi Kurator pameran Rahmat Jabbaril (bertopi). |
Adapun kelima perupa dan pendidik yang berpameran tersebut, yaitu Dr. Wanda Listiani dan Prof. Sri Rustiyanti (ISBI Bandung), Dr. Supriatna (ISBI Bandung), Dr. Ika Ismurdiyahwati (Universitas Adibuna Surabaya), dan Prof. Ariesa Pandanwangi (Universitas Kristen Maranatha).
Pameran dibuka oleh Melly Goeslaw (Anggota DPR RI Komisi X) dan dimeriahkan oleh Musikalisasi Disonansi Metafora.
Menurut kurator pameran, Rahmat Jabbaril, pilihan judul pameran Nawasena tiada lain sebagai pintu masuk dari perspektif kajian artistik berdasarkan hasil risetnya. Objek-objek artistik yang diajukan oleh kelima perupa tersebut berhubungan erat dengan sejarah, antropologi, sekaligus perkembangan sosial budaya masyarakat urban.
Pameran dibuka oleh Melly Goeslaw (Anggota DPR RI Komisi X) dan dimeriahkan oleh Musikalisasi Disonansi Metafora.
Menurut kurator pameran, Rahmat Jabbaril, pilihan judul pameran Nawasena tiada lain sebagai pintu masuk dari perspektif kajian artistik berdasarkan hasil risetnya. Objek-objek artistik yang diajukan oleh kelima perupa tersebut berhubungan erat dengan sejarah, antropologi, sekaligus perkembangan sosial budaya masyarakat urban.
![]() |
| Ariesa Pandanwangi, menuangkan kisah perjalanan bangsawan, resi pertapa Pajajaran,Bujangga Manik, dalam karya seni batik |
Wanda Listiani dan Sri Rustiyanti mengeksplorasi hasil temuannya di wilayah kepulauan Sumatera dalam bentuk karya seni instalasi. “Banyak sekali temuan dari hasil risetnya, seperti batik, prasasti, dsb. Itu baru dari Pulau Sumatera saja, bagian terkecil dari Nusantara. Belum seluruh Nusantara, yang kaya dan beragam. Ya itu, jadi membuka kekayaan di Nusantara,” jelas Rahmat.
Sementara Supriatna mencoba mempertanyakan ulang makna simbol mitos Nyi Roro Kidul dalam bentuk karya seni instalasi. Ia mengeksplorasi temuannya dengan mempertanyakan perubahan simbol dari mitos Nyi Roro Kidul yang menggunakan mahkota menjadi kerudung/jilbab. “Itu yang menarik dari Pa Supri, apakah itu akan menggeser nilai-nilai mitos Nyi Roro Kidul, hilangnya konsepsi kosmologis dan filosofisnya sebagai penguasa Laut Selatan Sunda,” kata Rahmat.
Sementara Supriatna mencoba mempertanyakan ulang makna simbol mitos Nyi Roro Kidul dalam bentuk karya seni instalasi. Ia mengeksplorasi temuannya dengan mempertanyakan perubahan simbol dari mitos Nyi Roro Kidul yang menggunakan mahkota menjadi kerudung/jilbab. “Itu yang menarik dari Pa Supri, apakah itu akan menggeser nilai-nilai mitos Nyi Roro Kidul, hilangnya konsepsi kosmologis dan filosofisnya sebagai penguasa Laut Selatan Sunda,” kata Rahmat.
![]() |
| Supriatna di depan karya instalasinya yang mempertanyakan perubahan mitos Nyi Roro Kidul |
Senada dengan hal itu, Supriatna mengatakan fenomena tersebut berasal dari masyarakat. Ada yang percaya bahwa Nyi Roro Kidul sudah masuk Islam, sehingga diyakini sebagai sosok nyata yang hidup di masyarakat. Bahkan, menurut Kang Supri, ada seorang kiai mengatakan bahwa ia melihat sosok Nyi Roro Kidul di Tanah Suci sedang menunaikan ibadah haji, dan hal itu dipercaya oleh santrinya. Fenomena ini bagi Supriatna menarik untuk diteliti.
“Kalau seandainya betul beredar bahwa Nyi Roro Kidul berhijab dan masuk Islam, apakah nanti para pengagumnya tetap melakukan semedi di hadapan lukisan-lukisannya, tetap dijadikan media ritual, atau sama sekali ditinggalkan? Apa maknanya berubah karena sudah masuk Islam? Karena saya pelukis, saya tertarik urusan Nyi Roro Kidul, yang sebetulnya gaya lukisannya itu kontemporer, tapi disembah, dijadikan media secara tradisi. Itu yang menjadi menarik,” jelas Supriatna, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung.
“Kalau seandainya betul beredar bahwa Nyi Roro Kidul berhijab dan masuk Islam, apakah nanti para pengagumnya tetap melakukan semedi di hadapan lukisan-lukisannya, tetap dijadikan media ritual, atau sama sekali ditinggalkan? Apa maknanya berubah karena sudah masuk Islam? Karena saya pelukis, saya tertarik urusan Nyi Roro Kidul, yang sebetulnya gaya lukisannya itu kontemporer, tapi disembah, dijadikan media secara tradisi. Itu yang menjadi menarik,” jelas Supriatna, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung.
![]() |
| Wanda Listiani dan Sri Rustiyanti dengan karya instalasi hasil temuannya di pulau Sumatera |
Ariesa Pandanwangi juga tak kalah menarik. Perupa yang baru saja dikukuhkan menjadi Guru Besar Bahasa Rupa Universitas Kristen Maranatha tersebut mengajak publik melihat perjalanan seorang resi Bujangga Manik dalam bentuk karya seni batik.
Sebagaimana diketahui, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) adalah tokoh epik dan seorang resi dari Kerajaan Sunda (Pajajaran). Ia lebih memilih hidup sebagai pertapa dan berkelana meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan ka sakuliah Nusa Jawa bahkan hingga ke Bali. Catatan perjalanannya yang tertulis dalam naskah kuna daun lontar berbahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat di zamannya, memuat 450 nama tempat di Nusantara, termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya ia kembali ke Tatar Sunda dan bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Sayang, naskah Sunda Kuna yang sangat berharga ini kini aslinya berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.
Sebagaimana diketahui, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) adalah tokoh epik dan seorang resi dari Kerajaan Sunda (Pajajaran). Ia lebih memilih hidup sebagai pertapa dan berkelana meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan ka sakuliah Nusa Jawa bahkan hingga ke Bali. Catatan perjalanannya yang tertulis dalam naskah kuna daun lontar berbahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat di zamannya, memuat 450 nama tempat di Nusantara, termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya ia kembali ke Tatar Sunda dan bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Sayang, naskah Sunda Kuna yang sangat berharga ini kini aslinya berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.
![]() |
| Ika Ismurdiyahwati, menjadikan sampah jadi karya seni edukatif |
Sementara Ika Ismurdiyahwati mengajak publik merenung ulang tentang makna produk yang menjadi limbah di ruang publik dengan eksekusi artistiknya. Ia mengeksplorasi temuan keseharian masyarakat urban dengan menjadikan sampah-sampah produk pabrik besar (karung bekas pupuk, kaleng minuman, dsb.) menjadi karya seni kreatif dan edukatif. Limbah-limbah yang sebetulnya hasil karya seni (desain produk) dan dibuang masyarakat serta menjadi masalah lingkungan itu, dengan rasa tanggung jawab sebagai seniman dan ilmuwan, ia jadikan sesuatu yang baru, menjadi pencerahan.
Pameran ‘Nawasena’ ini disambut baik oleh Ketua SOS (Sanggar Olah Seni) Babakan Siliwangi, Raden Kiyan Santang, yang berharap galeri SOS Babakan Siliwangi bisa diapresiasi oleh para seniman Bandung, Jawa Barat, bahkan Nusantara. Demikian juga Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Een Herdiani, yang hadir mewakili ISBI Bandung, sangat mengapresiasi pameran karya seni hasil riset para dosen ini.
Pameran ‘Nawasena’ ini disambut baik oleh Ketua SOS (Sanggar Olah Seni) Babakan Siliwangi, Raden Kiyan Santang, yang berharap galeri SOS Babakan Siliwangi bisa diapresiasi oleh para seniman Bandung, Jawa Barat, bahkan Nusantara. Demikian juga Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Een Herdiani, yang hadir mewakili ISBI Bandung, sangat mengapresiasi pameran karya seni hasil riset para dosen ini.
![]() |
| Prof.Een Herdiani, karya hasil riset harus digalakan, dipertunjukan dan bermanfaat bagi masyarakat |
Menurut Prof. Een, pameran ini memang berkaitan dengan para dosen. “Sekarang tuntutan kepada para dosen dahsyat. Kalau ingin mendapat dana sertifikasi harus pameran, harus menulis jurnal, bahkan sekarang harus ikut pelatihan satu tahun sekali. Selamat berpameran kepada kawan-kawan. Memang hasil riset itu harus dipertunjukkan kalau berupa karya seni, dan seni rupa juga sama harus dipamerkan agar diketahui. Mari kita galakkan karya-karya ini berdasarkan riset mendalam hingga bermanfaat bagi masyarakat luas,” ajaknya.
Melly Goeslaw (Komisi X DPR, Bidang Kebudayaan), sebagai seniman dan penyanyi, sangat senang berada di antara para seniman lainnya yang bersatu menggelar karya di studio alam SOS Babakan Siliwangi. Hanya saja pendiri dan vokalis Band Potret ini menyayangkan kurangnya kehadiran pemerintah. “Kok pemerintah kurang hadir ya di tempat-tempat seperti ini. Karena menurut saya, justru alat propaganda yang paling jitu itu adalah seni. Bagaimana kita dijajah Korea dengan drakornya (drama Korea) dan K-pop-nya, itu mereka melalui seni,” katanya.
Melly Goeslaw (Komisi X DPR, Bidang Kebudayaan), sebagai seniman dan penyanyi, sangat senang berada di antara para seniman lainnya yang bersatu menggelar karya di studio alam SOS Babakan Siliwangi. Hanya saja pendiri dan vokalis Band Potret ini menyayangkan kurangnya kehadiran pemerintah. “Kok pemerintah kurang hadir ya di tempat-tempat seperti ini. Karena menurut saya, justru alat propaganda yang paling jitu itu adalah seni. Bagaimana kita dijajah Korea dengan drakornya (drama Korea) dan K-pop-nya, itu mereka melalui seni,” katanya.
Menarik disimak dari sambutan putri penyanyi kenamaan Indonesia, Melly Goeslaw ini, yang bercerita tentang royalti yang belum dikelola secara baik dan belum bisa mensejahterakan seniman. Pemilik copyright 600 lagu ini merasa sangsi apakah karya-karyanya bisa menghidupi anak-cucunya nanti. Ia mencontohkan Michael Jackson, yang meski meninggal dengan utang ratusan miliar, kekayaannya berlipat ganda karena karya-karyanya dikelola lembaga royalti dengan baik.
Sebagai anggota Komisi X, ia kini giat melakukan revisi Undang-Undang Hak Cipta. Ia mengingatkan bahwa royalti bukan pemberian pemerintah, melainkan hak seniman yang berkarya, buah dari kerja lelah. Bahkan sebaliknya, senimanlah yang memberi bagian (pajak) kepada pemerintah.
Sebagai anggota Komisi X, ia kini giat melakukan revisi Undang-Undang Hak Cipta. Ia mengingatkan bahwa royalti bukan pemberian pemerintah, melainkan hak seniman yang berkarya, buah dari kerja lelah. Bahkan sebaliknya, senimanlah yang memberi bagian (pajak) kepada pemerintah.
Sebagai penutup, Teh Melly mengajak para perupa terus memberikan input cara mengajar anak-anak sekarang kepada guru-guru sekolah dasar. “Cara mengajar kita beda dengan zaman dulu. Jangan membatasi dan menghambat imajinasi serta intuisi anak. Kalau dulu intuisi kita selalu dicagat oleh guru. Kalau saya kasih warna matahari ungu dicarekan, kunaon ieu panon poe bet bungur kelirna. Saya jadi berpikir kunaon orang Indonesia tidak bisa nyieun film jiga Harry Potter, Star Trek, karena imajinasi kita selalu dibatasi. Baru mau aneh sedikit dibilang salah, padahal itu cikal bakal out of the box!”
Teh Melly juga berpesan, para seniman jangan sampai kehilangan ekosistem. Jangan hanya berhenti di kita yang tertarik membuat kesenian seperti ini, tapi anak-anak Gen-Z juga harus tertarik. Karena bisa saja mereka punya inovasi-inovasi yang lebih dari kita. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di jagad dunia maya (medsos). Asal dibimbing, mereka akan seperti kita.
“Sebagai seniman yang punya tugas dan kewajiban untuk selalu menjaga keindahan yang kita ciptakan dengan membuat konten-konten yang baik, edukatif, dan bagus lah untuk negeri ini,” pungkasnya. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
June 03, 2026
CB Blogger
IndonesiaTeh Melly juga berpesan, para seniman jangan sampai kehilangan ekosistem. Jangan hanya berhenti di kita yang tertarik membuat kesenian seperti ini, tapi anak-anak Gen-Z juga harus tertarik. Karena bisa saja mereka punya inovasi-inovasi yang lebih dari kita. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di jagad dunia maya (medsos). Asal dibimbing, mereka akan seperti kita.
“Sebagai seniman yang punya tugas dan kewajiban untuk selalu menjaga keindahan yang kita ciptakan dengan membuat konten-konten yang baik, edukatif, dan bagus lah untuk negeri ini,” pungkasnya. (Asep GP)***
Lima Perupa & Pendidik Pamerkan Hasil Riset dalam Berbagai Karya Seni
Lima Perupa-Pendidik Pameran Nawasena di Galeri SOS Babakan Siliwangi Bandung (1-7/6/2026), dari kiri:Wanda Listiani, Sri Rustiyanti, Supria...
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)

















































