Home » Posts filed under Tatar Ukur
Showing posts with label Tatar Ukur. Show all posts
Friday, July 7, 2023
![]() |
| Keluarga Besar IKOTW tetap eksis menjaga silaturahmi (Foto Pepen Padmadilaga) |
Sebagaimana diketahui IKOTW (Ikatan Obor Tatali Wargi ) Limbangan –Garut sejak resmi dibentuk 8 Agustus 1981 hingga sekarang tetap konsisten dalam setahun mengadakan 3 (tiga) kali pertemuan, silaturahmi yang waktunya dikaitkan dengan acara Halal bi Halal Idul Fitri (di Karawang), Idul Adha (di Limbangan-Garut) dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (di Bandung).
Seperti dalam Idul Adha 1444H kemarin, keluarga besarnya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ini pun mengadakan silaturahmi di Limbangan – Garut, yang kali ini bertempat di rumah Hj. Usu (H. Uwit) di Kampung Tembong, Desa Cigawir, Minggu (2/7/2023). Mereka datang dari Jakarta, Karawang, Purwakarta, Bandung, Tasikmalaya, Garut, dsb.
Usai acara Haji Darmatin Toha mengatakan pada wartawan, tujuan IKOTW ini adalah untuk terus mengikat erat tali silaturahmi dan persaudaraan agar tidak Pareumeun Obor (Padam Obor/penerang, tidak saling mengenal diantara saudara), sebagaimana lambang IKOTW yang berupa obor.
“Ini sudah amanah sepuh (orang tua) dan karuhun (leluhur), agar tetap mengupayakan silaturahmi secara resmi tiga kali dalam setahunnya. Bulan Syawal (sesudah idul Fitri) di Karawang, Maulid Nabi di Bandung dan Idul Adha di Limbangan-Garut. Itu amanah sepuh jangan sampai terputus,“ katanya serius.
Makanya Darmatin yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Islam At Tohariah Sukamakmur Kecamatan Teluk Jambe Timur – Kawarang ini, terus mengajak agar keluarga IKOTW yang ada di Karawang harus hadir bersilaturahmi. Seperti saat itu dia membawa 13 mobil berombongan.
“Alhamdulillah dari Karawang minimal 10 mobil mah pasti datang berombongan. Malah biasanya mah suka pakai Bus. Hanya kebetulan yang lainnya tengah mempersiapkan keperluan para putranya yang lagi daftar masuk sekolah,“ tandasnya.
![]() |
| Haji Darmatin, sukses berkat silaturahmi (Foto Pepen Padmadilaga) |
Bagi Darmatin yang lahir dari keluarga besar Mad Sari Bin Aki Awang dan terkenal di kalangan IKOTW dengan sebutan keluarga Pandawa Lima (Lima Bersaudara : H. Tatang Story, H. Darmatin, H. Endang Iskandar, H. Bunyamin dan H. Burhanudin - kelimanya selalu kompak dan tidak perbah absen menghadiri acara IKOTW dari sejak berdiri 2018), silaturahmi adalah menjadi kewajiban dan kebutuhan.
Dia menceritakan betapa silaturahmi telah membawanya ke gerbang kesuksesan.
Dari mulai tidak punya apa-apa, hanya diwaris masjid oleh orang tuanya (Haji Toha), sekarang punya Asrama Putra/Putri Pesantren At Tohariah, juga Madrasah tingkat SD (MI) dengan 300 siswa, tingkat SMP (Tsanawiyah) dengan 250 santri/160-an santriyah. Malah sekarang ditambah dengan adanya BLK (Balai Latihan Kerja) yang 3 bulan sekali merekrut lulusan SMA yang putus kerja dan belum punya kerja. Semuanya gratis, malah dibayar, dikasih makan, dikasih seragam, dan ongkos, hasilnya 7% dari 18 peserta berhasil diterima di pabrik-pabrik dengan sertifikat yang ada.
“Alhamdulillah semua ini hasil dari dorongan, doa dan petuah sepuh-sepuh dari Limbangan agar terus bersilaturahmi. Kalau tidak ada peran serta dari para sepuh, saya tidak akan jadi seperti ini,“ ungkapnya terharu.
Darmatin berharap manfaat silaturahmi ini dapat dicontoh dan diteruskan anak cucu dan cicit keluarga IKOTW serta jangan lupa selalu minta doa kepada kedua orang tua dan para sepuh agar selamat dan bahagia dunia –akhirat. Dia juga mengingatkan peran leluhurnya Wangsa Muhamad (Pangeran Papak) yang terkenal sebagai penyebar agama Islam di Limbangan dan Garut dapat diteladani dan diteruskan oleh keturunannya.
Senada dengan hal itu, perwakilan dari Jakarta Viniyati Maftuchach, (putri Siti Djuhanah, keturunan Minangsih binti Mad Sari- Eyang Akim) yang datang bersama suaminya Agus Sihombing. Mengatakan, Pentingnya silaturahmi, tidak sekedar membantu memperluas rezeki tapi silaturahmi juga bisa menjauhkan kita dari api neraka. Silaturahmi juga merupakan ciri berimannnya seseorang kepada Alloh SWT. Keutamaan Silaturahmni merekatkan tali persaudaraan, mendatangan keberkahan dan membuat panjang umur, maka umat Islam dilarang memutuskan hubungan tali silaturahmi. Dalam Islam silaturahmi bukan hanya dianjurkan tapi harus tetap dijaga dan hikmahnya telah disebutkan dalam Al Quran dan Hadits.
Kita sebagai mahluk sosial, kata Vini tentu nya hidup manusia tidak lepas dari manusia lainnya baik itu dalam kondisi apapun, dimana pun dan kapan pun - sehingga dengan saling membutuhlkan terjalinlah silaturahmi, tentunya persaudaraan diantara manusia juga akan terjalin hingga akhir hayat nanti.
Untuk itulah dirinya pun berusaha mengajarkan putra-putrinya untuk bersilaturahmi kepada keluarga besar IKOTW, dengan begitu silaturahmi diantara keluarga tidak akan pernah putus, moal pareumeun obor, karena tetap dijalin oleh anak, cucu, cicit, dst, hingga kelak nanti.
![]() |
| Viniyati Maftuchach, Menyiapkan pendirian Yayasan dan Buku Silsilah (Foto Asep Rahmat) |
“Dan saya sebagai perwakilan dari keluarga Siti Juhanah Jakarta, selama saya dikasih umur akan saya gunakan untuk menjaga silaturahmi dan menjadi hamba Alloh yang bermanfaat buat umat. Mohon doa nya sehat terus dan mohon partsipasi pada wargi semua supaya putra/putrinya diajak kalau ada acara sehinggga mereka saling kenal satu sama lainnya, syukur-syukur jadi pengurus untuk membantu setiap ada acara silaturahmi IKOTW,“ harapnya.
Dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta yang tengah menyelesaikan program Doktoral nya di Fakultas Ekonomi Unpak ini pun bersama saudaranya yang lain yang peduli memang tak kenal lelah, terus berusaha agar tali silaturahmi IKOTW ini makin terikat erat dengan membuat payung hukum berupa yayasan IKOTW dan menyempurnakan buku silsilah keluarga IKOTW.
“Buku silsilah ini semoga bisa bermanfaat bagi keluarga IKOTW yang ingin mengenal keluarga besarnya dan bisa jadi obor penerang bagi generasi selanjutnya, juga mudah-mudahan dengan terbentuknya yayasan akan semakin mendekatkan kekeluargaan diantara kita. Mohon doa dan supportnya aja dari para sepuh dan keluarga semuanya semoga agenda ini bisa lancar dan bisa mencetak generasi SDM yang kompeten di bidangnya,“ demikian kata Ketua Panitia yang sukses mengadakan acara perayaan “Maulid Nabi Muhammad SAW dan Bedah Silsilah IKOTW Limbangan –Garut yang digelar di DeTuik Resto Bandung (16/10/2022) yang dihadiri gubernur Jawa Barat dan 400-an keluarga Eyang Akim (Wangsa Mihardja), Wangsa Muhammad (Eyang Papak), Pak Kepala, dan Uyut Awang serta lainnya, dari Limbangan, Garut, Purwakarta, Jakarta, Tasikmalaya, Cikampek, Karawang, Cikarang, Sukabumi, Banten, dan Subang (Asep GP)***
Tatarjabar.com
July 07, 2023
CB Blogger
Indonesia
Silaturahmi IKOTW di Limbangan – Garut 2023 : Pentingnya Silaturahmi, Pembentukan Yayasan dan Buku Silsilah Keluarga
Keluarga Besar IKOTW tetap eksis menjaga silaturahmi (Foto Pepen Padmadilaga) Sebagaimana diketahui IKOTW (Ikatan Obor Tatali Wargi ) Limban...
Thursday, May 25, 2023
Wanoja/Perempuan Sunda memang bukan hanya terkenal cantik parasnya, ramah pembawaannya, lemah lembut tutur katanya. Tapi dari dulu para Wanoja Priangan ini pun kesohor cerdas, pandai, pemberani dan banyak yang menjadi tokoh pembaharu, tokoh pergerakan, tokoh pendidikan, tokoh emansipasi perempuan, dan Pahlawan Nasional, memberi sumbangsih untuk kemajuan bangsa dan Negara.
Sebut saja diantaranya Raden Dewi Sartika, Raden Ayu Laksminingrat, Inggit Garnasih.
Dewi Sartika, dikenal sebagai Pahlawan Nasional Pelopor Pendidikan Wanita dan lebih rill memajukan wanita bangsanya dengan mendirikan sekolah Kautamaan Istri.
Raden Ayu Laksminingrat sudah berkecimpung dalam perjuangan kaum perempuan dalam dunia pendidikan, jauh sebelum Dewi Sartika dan Kartini. Tokoh Wanoja intelektual pertama yang yang menulis buku pelajaran dan besar andilnya dalam sekolah Kautamaan Istri ini lahir tahun 1843 di Garut dan meninggal taun 1948, dan pernah diusulkan diberi gelar pahlawan Nasional oleh Guru Besar Sejarah Unpad, Prof. Nina Herlina Lubis.
Inggit Garnasih dari Desa Kamasan, Banjaran-Kabupaten Bandung (lahir 17 Februari 1988) ini, adalah perempuan tangguh yang tetap mendampingi Bung Karno selama 20 tahun, sosoknya ada dalam setiap langkah perjuangan Bung Karno hingga ke gerbang kemerdekaan Indonesia. Inggit Garnasih sering diusulkan Pahlawan Nasional dan akhirnya diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, langsung oleh Mantan Presiden Megawati melalui pesannya kepada Gubernur Jabar Ridwan kamil pada tahun 2023 dan Kang Emil langsung melakukan percepatan dengan menunjuk langsung Tim Pengkaji Gelar Pahlawan Daerah (TP2GD) yang diketuai Guru Besar Sejarah Unpad, Prof. Dr. Reiza Dienaputra, M.Hum.
Atau kita bisa melihat tentang Wanoja Sunda yang digambarkan dalam karya Sastra Lama Sunda yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh wanita yang jadi peran utama, tidak hanya sebagai pelengkap yang menceritakan kisah kaum lelaki. Seperti dalam cerita legenda Sangkuriang, kalau diperhatikan betapa tokoh Dayang Sumbi sama pentingnya dengan tokoh Sangkuriang sebagai pemeran utama. Tanpa tokoh Dayang Sumbi, kisah Sang Kuriang takkan tercipta. Dalam mempertahankan kebenaran keyakinannya, Dayang Sumbi pun meski seorang wanita tapi tidak kalah oleh Sang Kuriang. Setelah segala akalnya buntu menghadapi kesaktian Sang Kuriang, ia tidak menyerah kepada Sang Kuriang, melainkan memilih lari, walaupun Sang Kuriang tetap mengejarnya.
Begitu pun dalam Cerita Pantun “Lutung Kasarung” tokoh utamanya malah perempuan, Nyi Mas Purba Sari Ayu Wangi, bukan Guru Minda yang menjelma jadi Lutung. Putra Sunan Ambu ini diperintahkan ibundanya untuk turun ke Buana Pancatengah (dunia) ketika di dunia terjadi ketidakadilan, Purbasari diperlakukan tidak adil oleh kakaknya Purbararang yang kejam.
Tadi disinggung nama Sunan Ambu, ya menurut beberapa cerita Pantun memang sering disebutkan beliaulah penguasa “Kahiangan”, tempat para hiang di surga. Jadi yang berkuasa di Kahiangan pun menurut kepercayaan Sunda Lama yang dituliskan dalam karya sastra adalah seorang Perempuan/Wanoja.
Dan, seperti yang dikatakan Ajip Rosidi dalam Manusia Sunda, Sunan Ambu di Kahiangan itu tidak dilukiskan sebagai istri dari seseorang, seperti Dewi Durga istri Dewa Siwa. Perkataan Ambu sendiri tidaklah selalu perempuan tapi dia seorang Ibu, sifat perempuan sebagai Lambang Kesuburan. Sedangkan kata Sunan ditujukan untuk orang yang dihormati (susuhunan), yang dijunjung di atas kepala.
Wanoja Sunda Dari Dulu Sudah Biasa Memimpin
Menurut Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si, Apt., perempuan atau wanoja Sunda ini memang punya potensi yang kuat. Sekarang pun banyak perempuan Sunda yang mewarnai di Nasional salah satunya Ceu Popong (Popong Otje Djundjunan-Anggota Komisi X DPR RI), Nurul Arifin (Artis Senior, Anggota DPR RI Fraksi Golkar 2004-2009, 2009-2014), Rieke Diah Pitaloka (Aktris, Anggota DPR RI PDI Perjuangan 2014-2019), Desi Ratnasari (Aktris, anggota DPR RI 2019-2024), dsb, di tingkat Jawa Barat pun ada Ataliya Praratya (istri Gubernur Ridwan Kamil), Ineu Purwadewi Sundari (ketua DPRD Jabar 2014-2019, Wakil Ketua DPRD Jabar 2019-2024), Neti Prasetiyani (Istri Mantan Gubernur Jabar Akhmad Heryawan, Anggota DPR RI - PKS), Bupati Karawang Cellica Nurrachadina, Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, dsb.
“Pokoknya kalau bicara kesetaraan gender di Jawa Barat sudah punya kesempatan yang setara dengan laki-laki. Kenapa wanoja Sunda/perempuan Jabar suka nyongcolang (prestasinya melebihi yang lain), karena dari gaya bicara dan penampilannya baik, santun, kemudian intelektualnya tinggi dan kalau bicara diplomasi juga sudah punya tatacara diplomasi yang merenah, terstruktur. Itu memang salah satu keunggulannya, karena kultur Jabar/Sunda yang punya filosofi: Cageur-Bageur-Bener-Pinter, ditambah Singer, Wanter, Teger, Cangker,” kata Keri.
![]() |
| Prof. Keri bersama Ibunda Prof. A Djajasudharma yang juga seorang Guru Besar Profesor (foto istimewa) |
Itulah delapan (8) filosofi keunggulan SDM Jabar baik laki-laki maupun perempuan. Jadi kata Keri, kalau ini dijadikan pegangan apapun tantangan ke depan tidak ada yang sulit.
Cageur (kesehatan itu yang utama), Bageur (harus baik kesemua orang), berbuat baik itu adalah inti kehidupan kita selain beribadah. Bener (berjalan di jalan kebenaran) Pinter (berilmu), dalam agama dinyatakan untuk menyelesaikan masalah atau pekerjaan serahkan segala sesuatau kepada ahlinya/yang punya ilmunya. Singer (tangkas, cekatan dalam bekerja), keunggulan insan Sunda lainnya, Wanter (tidak malu tampil ke depan, berani), Urang Jabar harus berani karena benar, jangan pernah ada lagi cerita “kumeok memeh dipacok” kalah sebelum perang. Kalau wanter nantinya akan teger (tegar) dalam menghadapi setiap tantangan, dan yang terakhir Cangker (gagah, perkasa), kuat dan berani menghadapi segala tantangan.
“Jadi itulah 8 ciri-ciri yang ada pada Manusa Masagi Sunda. Manusia masagi Jabar mah ancrub (turun, berkecimpung) dimana pun siap, di Nasional, regional, atau Internasioanal siap. Contohnya Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja itu kaliber Internasioanal besar jasanya bagi bangsa dan Negara, nya ku putra Sunda eta, sekarang Indonesia memiliki kedaulatan dan hak berdaulat atas 6,4 juta km2 laut teritorial maupun ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Indonesia. Tanpa peperangan. Demikian juga dengan Ir. H Djoenda Kartawidjaja (Ir. H. Juanda), Otto Iskandardinata, Mochammmad Toha, dan tokoh wanoja Sunda Laksminingrat bener-benar tokoh perempuan cerdas yang menerjemahkan pelajaran dari bahasa Belanda untuk diajarkeun ke masyarakat Sunda, sehingga membuka wawasan masyarakat Sunda saat itu terhadap wawasan Internasional,“ papar Keri.
Jadi menurut Guru Besar Farmasi Unpad yang menemukan obat diabetes dari ekstak biji Pala ini, sebetulnya perempuan-perempuan Sunda zaman baheula sudah think globally, act locally (berpikir secara global dan bertindak secara lokal).
Termasuk Emansipasi perempuan di tanah Sunda sudah dari baheula/zaman dulu. Keri menuturkan bahwa neneknya (dari pihak ayah) Nini Rukmini dulu pada zaman pendudukan Jepang menjabat Kuwu (Kepala Desa) Desa Cikoneng Majalengka-Jawa Barat.
Jadi intinya kata peraih Inspiring Women Award 2021, di Sunda memilih pemimpin perempuan itu sudah bukan suatu yang istimewa. Demikian juga dengan perempuan berkarir. Ibunda Keri Prof. A Djajasudharma adalah seorang Guru Besar Pertanian Unpad dan Keri pun jadi Guru Besar (profesor) Farmasi Unpad dan pernah menjabat Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian Pada Masyarakat, Kerjasama, Inovasi dan Koorporasi Akademik Unpad (2015-2020), bahkan jadi kandidat kuat Rektor Unpad 2019-2024, serta pernah menjadi Dekan Fakultas Farmasi Unpad (2014-2015).
“Karir dalam Perempuan Sunda itu suatu hal yang terbuka dan ini tentu saja atas dukungan dan ijin suami, itu yang terpenting. Karena kita berkiprah di luar dan itu perlu dukungan pasangan, dukungan suami, begitu pun sebaliknya suami perlu dukungan istri,“ pungkas pemeran tokoh Ambu dalam Kabayan Milenial yang kini jadi Direktur INJABAR (Institut Pembangunan Jawa Barat). (Asep GP)***
Wanoja Sunda Berpotensi Manggung di Lokal dan Nasional
Prof. Keri, Wanoja Sunda sudah terbiasa memimpin dari dulu kala (foto istimewa). Wanoja /Perempuan Sunda memang bukan hanya terkenal canti...
Monday, August 2, 2021
![]() |
| Santi Wulandari, siap sepenuhnya mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat |
Hal itu ditegaskan Santi Wulandari (Teh Wulan) kepada wartawan di GOR Pajajaran Bandung, lokasi yang direncanakannya untuk menggelar 1000 vaksin Covid-19 gratis untuk masyarakat di Kelurahan Pajajaran, juga Andir dan Ciroyom, Agustus ini.
Mantan Model cantik Majalah X3, Indomodel, dan Maxim 2019 ini tekadnya memang sudah bulat ingin berbagi illmu dan mensejahterakan masyarakat terutama kaum perempuan dan anak-anak terlantar yang menurutnya membutuhkan kesehatan dan pendidikan yang baik yang seharusnya mereka bisa sekolah gratis hingga tamat SMA.
“Saya suka terenyuh melihat mereka, saya harus bisa membantu mensejahterakan mereka. Karena saya juga sebagai single parent merasakan bagaimana susahnya banting-tulang dari pagi hingga malam mencari nafkah dan biaya sekolah untuk anak-anak. Apalagi di saat pandemi seperti sekarang, banyak yang kena dampaknya, rakyat menjerit, perekonomian sulit, ema-ema pun banyak yang menjadi buruh serabutan yang dibayar 5 ribu seharinya,“ kata Wulan terharu.
![]() |
| Peragawati yang cantik dan berprestasi |
Makanya sekarang Wulan berusaha menampungnya dan setahun ini sudah berjalan melatih dan mempekerjakan mereka. “Aku tampung ada 20-an, ya daripada mereka ngutang ke Bank Emok (rentenir) mendingan kita tampung, kita jadikan UMKM. Saya ajarin mereka dress making, membuat pola dan menjahit baju biar punya skill (keterampilan, keahlian). Apalagi di saat pandemi, mereka pada membuat masker dan baju hazmat APD (Alat Pelindung Diri). Lumayan hasilnya buat menutupi kebutuhan sehari-hari,“ paparnya.
Wulan juga mau membuat koperasi dimana nantinya ada pelatihan-pelatihan dan untuk tahap awal akan membeli “Mesin Sablon Predator” buatan asli anak negeri - Mahasiswa Teknik Mesin ITB, yang harganya jauh lebih murah tapi kualitasnya tidak kalah bagus dari buatan luar negeri. Mesin itu kata Wulan seharinya bisa memproduksi 100-200 kaos sablon. “Dan itu akan saya masukin ke desa-desa, biar anak-anak mudanya tidak ada yang jadi pengangguran, bisa jualan kaos, distro atau lainnya,“ katanya pasti.
![]() |
| Hasil karya desainnya |
Mantan peragawati cantik ini memang karirnya berangkat dari konpeksi, dari fashion, dia juga jebolan Desainer Vila Merah ITB - S2 (2017) dan dari 2019 hingga sekarang ngajar (pola untuk baju) di LPK Dress Making Cimahi serta punya distro di dekat Tabanan – Bali. Wulan juga tahun 2009-2010 pernah terjun ke dunia entertainmen di Jakarta, dan sempat nongol di sinetron Desert dan Kliwon, Rumah Boneka, dll (Hartin Cinema Art SCTV), serta 2012-2013 bekerja di Soraya Film (SCTV) dan menjadi aktivis dan pengurus di beberapa organisasi kemasyarakatan dan politik termasuk AMS (Angkatan Muda Siliwangi) dan Partai NasDem (Nasional Demokrat).
Menjadi Wakil Rakyat Itu Pengabdian
Ya tekad Wulan memang sudah bulat ingin mengabdi kepada masyarakat, ingin mensejahterakan rakyat dengan segala kemampuan yang ada. Untuk itulah dia menjadi kader Partai Nasional Demokrat (NasDem). Putra kedua wartawan senior (wartawan pengadilan negeri) Koko Asmara Mainur BA (Trans Actual) ini akan terus berkarya di partainya. Akan lebih melayani masyarakat yang membutuhkan arahan dan bimbingannya.
Menjadi Wakil Rakyat Itu Pengabdian
Ya tekad Wulan memang sudah bulat ingin mengabdi kepada masyarakat, ingin mensejahterakan rakyat dengan segala kemampuan yang ada. Untuk itulah dia menjadi kader Partai Nasional Demokrat (NasDem). Putra kedua wartawan senior (wartawan pengadilan negeri) Koko Asmara Mainur BA (Trans Actual) ini akan terus berkarya di partainya. Akan lebih melayani masyarakat yang membutuhkan arahan dan bimbingannya.
Banyak sekali agenda yang mau dikerjakan Bakal Calon DPRD Dapil 1 Kota Bandung dari Partai Nasdem ini, diantaranya selain 1000 Vaksin Gratis, juga ada Bea Siswa S1 untuk 250 mahasiswa yang masuk Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Bisnis pada akhir Agustus ini, serta pada tanggal 17 Agustus bersama “Garnita” (aktivis, kader perempuan Nasdem) akan mengadakan fashion show. Wulan juga akan blusukan dengan prokes ketat tentunya, ke masyarakat bawah, memberi pengarahan para pemuda-pemudi dan nantinya akan dibawa di konsorsium.
“Nantinya mereka yang nganggur itu akan saya kasih pelatihan, akan dididik seperti di perguruan tinggi dan nantinya akan saya salurkan ke bidang-bidang atau perusahaan yang membutuhkan, termasuk yang mau bisnis nanti akan dikasih modal, juga pelatihan security nanti akan disalurkan ke instansi atau perusahaan yang membutuhkan,” pungkasnya.
Santi Wulandari atau Teh Wulan lahir di Bandung 7 Mei 1984, Ibunya Pusparini (Almh) ASN di Dinkes Kota Bandung – Labkes Jalan Sederhana, Ayahnya Koko Asmara Mainur BA, Wartawan Trans Actual (di PN Bandung). Wulan adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakaknya Lia Kumala Dewi (Notaris di KBB) dan adiknya Yuniar Andriani Putri jebolan sekretaris, sekarang di Bekasi.
Riwayat pendidikan Emaknya Nabila Kharisma Hibati Kusnendar (Mahasiswi Psikologi Maranatha) dan Chanela Zahra Anzani (siswa SDN Mandiri III Padasuka - Cimahi) : SD Sukawarna 5 Sarijadi, SMP 29 Gegerkalong, SMA 6 Pasir Kaliki, kuliah di S1 Manajemen - Fakultas Ekonomi UTama (Universitas Widyatama) dan S2 Desainer, di Villa Merah ITB. (Asep GP)***
Santi Wulandari, Mantan Model dan Desainer Fashion Cantik Itu Kini Akan Mengabdikan Dirinya Untuk Rakyat
Santi Wulandari, siap sepenuhnya mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat Hal itu ditegaskan Santi Wulandari (Teh Wulan) kepada wartaw...
Monday, March 1, 2021
Kaayaan urang Sunda kiwari aya dina posisi bertahan di satengahing gempuran globalisasi ti luar. Urang kudu mertahankeun basa, budaya, jeung sarakan katut lemah cai urang tina gempuran investasi nu keur lumangsung. Da lila-lila mah budaya katut rajakaya tanah Sunda teh bakal tumpur jeung koredas.
Kangaranan panitia Kongres Sunda, wajar lamun sagalana kudu “Nyunda”. Kapanan motekar, webinar make aplikasi zoom ge disebutna “Sawalamaya”. Kawasna kahareupna ge bakal dilengkepan saperti dina susunan pangurus, Ketua jadi Pupuhu, Sekretaris jadi Girangserat, Panitia jadi Panatacalagara, Bendahara : Panataharta, Pendiri : Panaratas, jsb.
Hal ieu wajar lamun nyoko kana kaayaan urang Sunda anu kiwari aya dina posisi bertahan di satengahing gempuran globalisasi ti luar. Urang kudu mertahankeun basa, budaya, jeung sarakan katut lemah cai urang tina gempuran investasi nu keur lumangsung. Da lila-lila mah rajakaya tanah Sunda teh bakal koredas. Kitu Cek Avi taufik Hidayat, Pupuhu Panitia Kongres Sunda.
Tah sawatara waktu nu kaliwat (12/2/2021), kalayan nyokot tempat di Pusat Digitalisasi BudayaSunda Unpad, Jalan Dipatiukur 46 Bandung, panitia Kongres Sunda geus madungdengkeun sual “Utusan Daerah”.
Utusan Daerah anu jadi salahsahiji pamilon Kongres teh rek dingaranan heuseus cenah ge. Aya nu usul dingaranan “Kandaga Lante”. Kandaga cek Danabrata, hartina kapala rayat anu ngagem pepeten nagara (pepetian/peti anu dieusi barang perhiasan/peti emas), ari Lante, Kapala sababaraha kandaga. Tapi aya anu ngahulag, wawakil ti Cianjur, beurat teuing cenah ge, pakait jeung 4 Kandaga Lante Pajajaran anu diutus raja masrahkeun Mahkuta Binokasih jeung pusaka lianna ka Sumedanglarang nalika Pajajaran burak (1579), coba we ngaran “Jantaka” (Kapala Pasukan). Da urang lembur mah ngan saukur ngalaksanakeun tugas ti puseur, saukur palaksana tugas.
![]() |
| Panatacalagara Kongres Sunda |
Cek Avi Taufik, memang di Subang geus aya nu make gelar anu luhur Prabu/Raja Galuh, nyaeta Evi Silviadi salaku Raja LAK (Lembaga Adat Karatwan) Galuh Pakuan Rahyang Mandalajati anu tangtuna leuwih luhur ti Kandaga Lante jeung sabenerna geus aya sababaraha inohong daerah anu make titel raja saperti di Sela Cau.
Sabenerna aya sababaraha tokoh anu make ngaran raja, tapi aya nu pada ngaku aya nu teu diaraku jadi weh teu laju. “Pami Kang Evi mah sejen deui, anjeunna mah salaku hiji pamingpin anu leres-leres berjuang pikeun rayatna, atuh teu helok lamun pada ngaku jadi raja/prabu teh. Malih tos remen ngayakeun kagiatan ageung anu sipatna internasional. Sakumaha nu pada uninga, Evi Silviadi kungsi kasinugrahan “Pala Emas” ti Presiden Jokowi lantaran naratas desa kawasan di Kacamatan Cijambe jeung Kacamatan Cibogo Kabupaten Subang. Sedengkeun anu lianna mah ngan ukur ngaku raja semet raksukanana bari jeung teu boga tarekah keur ngaraharjakeun rayatna,“ cek Avi tandes.
“Janten perkawis Utusan Daerah mah bebas bae lah, bade nganggo gelar, raja prabu, kandaga lante atawa jantaka ge, da anu utamina mah anjeunna mampuh jadi pamangku masarakat adat di daerahna sewang-sewangan, tiasa ngaraharjakeun masarakatna. Sareng ulah kawas 'Sunda Empire', anu ngalilieur sarea tea,“ timpah Avi bari seuri.
Ditalek iraha lumangsungna Kongres Sunda, nya jigana mah model KONI ngadadago PON jeung Olimpade we nungguan rengse sasalad Covid-19. Tapi Avi miharep dunya normal deui dina bulan November atawa Desember taun ieu. Kabeneran dina bulan-bulan eta pakait jeung kajadian-kajadian bersejarah pikeun urang Sunda jeung Nusantara, saperti Hari Djuanda (Ir. H. Djuanda Kartawijaya) anu ngadadasaranan Hari Nusantara (13 Desember), Kongres Pamuda Sunda (4-7 Desember) Sumpah Pamuda (28 Oktober), Hari Pahlawan (10 November). “Nya mugia we sasalad Corona enggal musnah sareng pamarentah ngarojong Kongres Sunda,“ kitu cek Avie anu harita dibaturan ku Andri Perkasa Kantaprawira, Panitia SC Kongres Sunda. (Asep GP)***
Ngaran Utusan Daerah Pamilon Kongres Sunda, make Ngaran Prabu, Raja, Kandaga Lante atawa Jantaka?
Avi Taufik Hidayat, nu utama bisa ngaraharjakeun masarakat Kaayaan urang Sunda kiwari aya dina posisi bertahan di satengahing gempuran glo...
Wednesday, November 25, 2020
Budaya Sunda kungsi boga 300 jenis kasenian daerah, tapi tambah dieu tambah muguran, data taun 2000-an geus nunjukeun 250 jenis kasenian Sunda tumpur kari catur, tina sesa nu sakitu teh 25 jenis kasenian kiwari keur sakarat jeung 15 kasenian keur langlayeuseun/survive. Akibat dimomorekeun ku ahli warisna.
Generasi ngora kiwari memang katilikna geus arang langka anu ngamumule budaya sorangan, contona dina kasenian, geus jarang kaum milenial nu sok pirajeunan dialajar ngibing Sunda boh klasik atawa kreasi Tari Topeng, Bajidoran, Jaipongan, jsb, ari lain di Pantura mah. Padahal nu ngaranna budaya daerah teh ngabentuk karakter building Nasional, ti mimiti hal anu leutik nepi ka nu gedena, urang wajib miarana.
Nyoko kana hal eta tangtu matak pikahariwangeun. Sunda ilang budayana, padahal budaya teh ciciren bangsa, ilang budaya musnah bangsana. Kasawang lamun budaya Sunda tumpur, taya bukti gambar-gambarna acan, generasi ngora leungiteun jatidirina.
“Ku kituna sateucanna budaya Sunda tumpur kari catur, peryogi aya pendokumentasian anu daria. Sadaya unsur-unsur kabudayaan Sunda kalebet kasenianana, didata dikempelkeun laju didokumentasikeun, saterasna tiasa janten bahan panalungtikan, bahan atikan, dimekarkeun sarta dimumule, diwariskeun ka unggal generasi", kitu saur Doktor Nina Kurnia Hikmawati, SE., MM, basa tepung di Sekretariat Kongres Sunda, di Perpustakaan Aji Rosidi, Jalan Garut No. 2 Kota Bandung (27/10/2020). Harita ieu Dosen Prodi Sistem Informasi Unikom teh rengse ngaguar “Konsep Budaya Digital”, di payuneun para inohong Sunda jeung Panitia Kongres Sunda..
Cek Nina, kabeneran kiwari urang hirup dina zaman Budaya Digital, ku ayanana Revolusi 4.0 sakabeh hirup jeung kahirupan sapopena didigitalisasikeun, teu leupas tina transaksi online, transaksi ngagunakeun smartphone (hape pinter). Mimiti memeres imah, mesen jeung ngirim dahareun, nongton, jsb, kaasup mayarna bisa dibayar ku cara online tina hape.
“Tah Budaya Digitalisasi eta lamun dipatalikeun jeung Digitalisasi Budaya bisa ngaronjatkeun daya guna dina widang kabudayaan utamana dina hal ngokolakeun data budaya anu saterusna pendokumentasian. Teknolohgi informasi jeung komunikasi bisa dimangpaatkeun dina hal ngamumule kabudayaan, ari konsep digitalisasi budaya nyaeta tarekah ngadigitalisasikeun budaya nu aya di masarakat atawa di Indonesia“, kitu cek Nina.
Cara ngokolakeunana si data disiar dina bentuk database laju didokumentasikeun, disimpen, anu saterusna disebarkeun nepi bisa mere value (ajen) keur masarakat.
Kabudayaan Sunda kawadahan dina saniskara kasenian nu aya di daerah Sunda anu unggal daerah boga ciri mandirina sewang-sewangan, boh seni pintonan (sandiwara, teater, tari, musik, jsb), nu lianna bahasa/basa anu tiap wewengkon ngabogaan dialek jeung lentongna sewang-sewangan. Kitu deui sistem kasab/mata pencaharian kaasup tata cara tatanen, ingon-ingon, pamayang (nelayan). Sakabeh tatacara geus diwariskeun ku para karuhun tingggal urang ngajaga-ngariksa jeung ngamumulena. Cek Nina daria.
Karuhun geus ngajarkeun cara tatanen melak pare ngolah sawah nu make Garu atawa Wuluku anu kabuktian yen “Lanyam (wuluku kayu)” memang cocok digunakeun dina “lahan baseuh/sawah”, karuhun ge tara make gemuk orea atawa nu ngandung kimia kawas ayeuna tapi make gemuk kandang anu teu ngaruksak unsur hara, kitu deui dina cara melak pare teu padu kitu wae sabada panen langsung ceb deui dipelakan aya antarana, aya tatacarana.
“Saleresna sistem pangupa jiwa (mata pencaharian) sareng sistem ekonomi zaman kapungkur mah teu ngandelkeun artos. Tah model kitu anu kedah didokumentasikeun sareng diwanohkeun ka generasi ayeuna teh“, pokna.
Sistem elmu pangaweruh warisan karuhun ge kacida lobana kitu deui sistem organisasi kamasarakatan, jeung sistem religina (ti mimiti haul-haul adat, nadran, tawasulan, pesta laut), laju aya sistem teknologi jeung pakakas, sakabeh eta asup unsur-unsur budaya.
Tah, cek Nina, unsur-unsur budaya anu 7 ieu kudu disimpen. Tinggal model konsepna kumaha cara ngadigitalisasikeun budaya. Hal ieu jelas teu bisa digarap sosoranganan, sakuatna pamarentah atawa nyieun aplikasi, jsb, lamun teu aya nu make, taya nu mere value mah, cumah.
Jadi konsepna anu mimiti dina nyieun hiji konsep ngadigitalisasikeun budaya, cek Nina, nyaeta make konsep ABGCM: Akademik, optimalkeun kampus-kampus nu aya utamana dina kagiatan Pengabdian Masarakat, kagiatan kamasarakatan. Bisnis, di urang industri pabalatak, loba pausahaan-pausahaan BUMN, jsb, anu bisa dioptimalkeun sangkan bisa mere sumbangsih/CSR kana kagiatan budaya nu aya di daerahna. Government, pamarentah kudu care kana budaya sabab budaya nangtukeun hiji daerah, lamun saupamana di hiji daerah aya budaya nuang hasil olahan hasil eta daerah, teu meuli ti luar, alhasil kulinerna ge bakal boga ciri nu mandiri jeung payu dijua kitu deui hasil bumina kayaning hui, kacang, jsb.
Tatarjabar.com
November 25, 2020
CB Blogger
IndonesiaTah, cek Nina, unsur-unsur budaya anu 7 ieu kudu disimpen. Tinggal model konsepna kumaha cara ngadigitalisasikeun budaya. Hal ieu jelas teu bisa digarap sosoranganan, sakuatna pamarentah atawa nyieun aplikasi, jsb, lamun teu aya nu make, taya nu mere value mah, cumah.
Jadi konsepna anu mimiti dina nyieun hiji konsep ngadigitalisasikeun budaya, cek Nina, nyaeta make konsep ABGCM: Akademik, optimalkeun kampus-kampus nu aya utamana dina kagiatan Pengabdian Masarakat, kagiatan kamasarakatan. Bisnis, di urang industri pabalatak, loba pausahaan-pausahaan BUMN, jsb, anu bisa dioptimalkeun sangkan bisa mere sumbangsih/CSR kana kagiatan budaya nu aya di daerahna. Government, pamarentah kudu care kana budaya sabab budaya nangtukeun hiji daerah, lamun saupamana di hiji daerah aya budaya nuang hasil olahan hasil eta daerah, teu meuli ti luar, alhasil kulinerna ge bakal boga ciri nu mandiri jeung payu dijua kitu deui hasil bumina kayaning hui, kacang, jsb.
“Tah, hal eta kedah diinpokeun ka generasi ayeuna, tiasa nganggo medsos, media komunikasi, ngaliwatan market place, upload, download, oge nganggo branding jalmi, tah ieu sakedahna janten strategi pamarentah, kawajiban pamarentah. Sabab hal ieu nangtukeun ekonomi karayatan, nangtukeun palaku industri rumahan, nangtukeun strategi kumaha carana sangkan rayatna bagja, raharja, jeung tingkat ekonomina undak, carana optimalkeun budaya dina sistem ekonomina, budayana, dina hasil pencaharian hasil leuweungna, kumaha carana sangkan hasil pepelakanana dikonsumsi ku nyalira, budaya nuang comro, nuang opak, budaya magawe (ngawuluku) di sawah, kapanan kiwari mah jalma geus sarangeukeun ka sawah, hoyongna ngojeg, ngagreb, lamun teu sakola nya nyiar gawe ka dayeuh padahal eta budayakeun, optimalkeun ngolah sawah urang, tanah urang, di lembur mah cai cur cor di pancuran, lauk emas pating soloyong dina balong, hayam rendang, sagala aya moal dugi kalaparan, margi alam tos nyayogikeun sagalana nu sampurna titipan Nu Maha Sampura Alloh SWT", cek Nina Tandes.
Community oge kudu care kana komunitas budaya pecinta lingkungan, bahasa, kuliner, pecinta adat budaya.
Media kacida pentingna dina nyambunglayangkeun, miralkeun. Hiji dokumen teh diupload-download -dipublish di media komunikasi WhatsApp, Line, Telegram, jsb, katut medsos bisa make FB (Facebook), IG (Instagram), YouTube, oge lian ti teknologi, poto, scan, jsb, urang bisa manggihan teknologi anu kiwari keur in happening saperti virtual reality anu saolah urang bisa ningali kalayan jelas jiga nyata.
Urang ge ngantep kana mekarna tatandingan-tatandingan budaya barudak IT nyieun aplikasi film, laju jalma bisa upload-download mangrupa hiji marketplace, kawas mall eusina saniskara budaya urang. Laju jalma-jalma lianna bisa berselancar di dinya, bisa ngirim carita/dongeng, atawa blog masarakat anu bisa ngadigitalisasikeun budayana. Budaya Sunda tangtuna. Kitu cek Doktor Nina.
***
Media kacida pentingna dina nyambunglayangkeun, miralkeun. Hiji dokumen teh diupload-download -dipublish di media komunikasi WhatsApp, Line, Telegram, jsb, katut medsos bisa make FB (Facebook), IG (Instagram), YouTube, oge lian ti teknologi, poto, scan, jsb, urang bisa manggihan teknologi anu kiwari keur in happening saperti virtual reality anu saolah urang bisa ningali kalayan jelas jiga nyata.
Urang ge ngantep kana mekarna tatandingan-tatandingan budaya barudak IT nyieun aplikasi film, laju jalma bisa upload-download mangrupa hiji marketplace, kawas mall eusina saniskara budaya urang. Laju jalma-jalma lianna bisa berselancar di dinya, bisa ngirim carita/dongeng, atawa blog masarakat anu bisa ngadigitalisasikeun budayana. Budaya Sunda tangtuna. Kitu cek Doktor Nina.
***
Nina lahir di Majalengka, 4 Maret 1969. Pendidikan Terakhir S3 Doktor Ilmu Manajemen FEB Unpad, S2 na (Magister Manajemen) lulusan Institut Manajemen Telkom (UTelkom, 2009-2011) jeung Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unisba (1987-1992).
Lian ti ngadosenan, Nina ge kawentar salaku aktivis dina kagiatan sosial, di kampusna (Unikom) Nina Wakil Sekjen I Bidang Eksternal Asosiasi pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer. Nina ge jadi Komisaris & Founder di sababaraha Pausahaan jeung Yayasan jeung Tim Implementasi, Rekomendasi di sababaraha Kementerian jeung Proyek di Industri. Nina oge care kana Nasional Character Building, kitu oge ka kaum wanoja, sabab cek pangrasana nya kaum wanoja anu nangtukeun cara berbudaya, tatacara barang tuang, ngatik ngadidik budak, jadi ku hadena wanoja budaya ge beres roes, kitu deui nagara, pendidikan katut ahlakna bakal beres.
Hadirna Nina di Sekretariat Kongres Sunda Jalan Garut harita lantaran kapeto jadi Sekretaris (Girang Serat) Kongres Sunda. Riweuh-riweuh oge disanggupan cenah ge da boga konsep hirup, Filsafat Elmu- kudu nyiar elmu pangaweruh anu saloba-lobana laju diamalkeun mangpaatna. Urang beunghar ku elmu pangaweruh tapi cumah lamun teu diamalkeun mah, tapi kudu rohmatan lil allamien.
Palsapah hirupna, urang kudu boga hubungan nu hade jeung sasama manusa katut AllohNa.
“Tah nya di dieu urang milih konsep teh. Janten naon wae nu ngandung ajen positip sareng nimbulkeun dampak anu hade, pasti abdi ngiring ngabantos kalayan lilahi ta’ala, tanpa karana, margi salami ieu abdi ge sok masihan sumbangsih dina atikan sapertos orasi ilmiah, seminar, sjb, mangga uningaan wae saneskanten kagiatan abdi dina Facebook, IG (Instagram), Twitter: ninakaha/Nina Kurnia Himawati", pokna mungkas wangkongan. (Asep GP)***
Hadirna Nina di Sekretariat Kongres Sunda Jalan Garut harita lantaran kapeto jadi Sekretaris (Girang Serat) Kongres Sunda. Riweuh-riweuh oge disanggupan cenah ge da boga konsep hirup, Filsafat Elmu- kudu nyiar elmu pangaweruh anu saloba-lobana laju diamalkeun mangpaatna. Urang beunghar ku elmu pangaweruh tapi cumah lamun teu diamalkeun mah, tapi kudu rohmatan lil allamien.
Palsapah hirupna, urang kudu boga hubungan nu hade jeung sasama manusa katut AllohNa.
“Tah nya di dieu urang milih konsep teh. Janten naon wae nu ngandung ajen positip sareng nimbulkeun dampak anu hade, pasti abdi ngiring ngabantos kalayan lilahi ta’ala, tanpa karana, margi salami ieu abdi ge sok masihan sumbangsih dina atikan sapertos orasi ilmiah, seminar, sjb, mangga uningaan wae saneskanten kagiatan abdi dina Facebook, IG (Instagram), Twitter: ninakaha/Nina Kurnia Himawati", pokna mungkas wangkongan. (Asep GP)***
Dr. Nina Kurnia Hikmawati, SE., MM : Ngamangpaatkeun Teknologi Digital Keur Ngamumule Budaya Sunda
Budaya Sunda kungsi boga 300 jenis kasenian daerah, tapi tambah dieu tambah muguran, data taun 2000-an geus nunjukeun 250 jenis kasenian Su...
Monday, November 16, 2020
Wacana ngaganti ngaran Provinsi Jawa Barat ku Provinsi Sunda beuki ngabebela sabada meunang pangrojong ti Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad jeung Anggota DPD RI Jawa Barat, Dra. Ir. Hj. Eni Sumarni, M.Kes, sawatara waktu nu kaliwat. Cikeneh rojongan geus jol deui ti anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon anu ngahajakeun rawuh dina gempungan jeung rengrengan para inohong katut Panata Calagara Kongres Sunda di Sekretariat Kongres Sunda, di Perpustakaan Ajip Rosidi Jl. Garut No. 2 Kota Bandung (10/11/2020). Atuh kaayaan teh beuki harengheng wae, kiwari Tatar Pasundan keur jadi sorotan Nasional boh ti pihak anu pro – kontra atawana anu hayang apal kana kasangtukangna jeung seuhseuhanana.
Samemehna nalika Fadel Muhammad hadir di Sekretariat Kongres Sunda (12/10/2020), Fadel memang ngabewarakeun ka wartawan yen Fadli zhon geus deklarasi, kahayangna Sumatera Barat jadi Provinsi Minang sarta ngogan tanggapan anu luar biasa ramena. “Karep urang Sunda hayang ngaganti ngaran Provinsi Jabar ku Provinsi Sunda ge teu nanaon, eta mah hal anu biasa, cirining aya spirit-spirit anyar anu mucunghul. Hal ieu hade sangkan budaya daerah teu tumpur kari catur, sabalikna lamun aya anu teu panuju, nya hadena mah dikomunikasikeun bae“, cek Fadel harita tandes pisan.
Fadli Zon ge sapamadegan, asup akal cenah lamun aspirasi masarakat di Jawa Barat hayang ngarobah ngaran lemah sarakanana jadi Provinsi Sunda sabab nilik kana sajarah Tatar Sunda anu geus kacida kahotna.
Malah cek Fadli cek sakaol aya nu nyebutkeun geus ngadeg dina abad ka-2, abad ka-4, malah Arca Domas di Bogor umurna geus 5000 taun saacanna masehi.
Lian ti kitu secara faktual, istilah Kapuloan Sunda Besar jeung Sunda Kecil geus nanjeur jauh samemeh aya ngaran Nusantara/Indonesia. Malah cek Fadli baheula aya Nagara Pasundan anu dipingpin ku dua urang presiden.
"Pamendak kuring ku ayana aspirasi ngagunakeun nami Pasundan/Sunda dianggo janten nami provinsi teh justru bakal janten nguatan kabhinekaan urang. Margi sababaraha provinsi sanesna ge tos salin jinis janten nami etnis, kuring ge sami ngancokeun Provinsi Sumatera Barat janten Minangkabau, kunaon Jabar teu ngagunakeun nami Provinsi Sunda", pokna daria.
Fadli Zon ge nilik memang aya sabagean urang Batawi atawa Cirebon anu can bisa narima kana ieu usulan, tapi cek Fadli hal eta bisa dimusawarahkeun kalayan tartib sakumaha anu geus ditepikeun ku Fadli Zone yen di United Kingdom aya Englan, Wales, sarua di urang ge aya aceh, Papua, Bali, Lampung, Gorontalo
"Cek kuring keur urang Batawi jeung Cirebon mah teu jadi pasualan, sabab aya akulturasi budaya, nya aya hiji usulan mah wajar we atuh,” pokna daria
Jadi bagalna, cek Fadli Zon, taya masalah, justru identitas nu leutik teh bakal jadi hal penting, bakal nguatan persatuan, kabhinekaan dina zaman globalisasi. Dina gempungan harita, Fadli ngingetan sangkan Kongres Sunda nyieun naskah akademik keur ancokeuneun ka anggota DPR RI di Jabar.
"Kuring seja ngarojong sangkan usulan ieu bakal dibawa ka DPR, anu saterusna asup kana proleknas," cek Fadli, pasti.
Ku ayana dukungan ieu tangtu jadi jalan gede sasapuan tur nambah sumanget pikeun para panata calagara Kongres Sunda, kaasup Panitia Pengarah Andri Perkasa Kantaprawira anu ngeceskeun yen geus ti awalna keneh Fadli Zon ngarojong ayana Provinsi Tatar Sunda/Provinsi Sunda, sakumaha inyana ngusulkeun Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau.
Fadli Zon ge nilik memang aya sabagean urang Batawi atawa Cirebon anu can bisa narima kana ieu usulan, tapi cek Fadli hal eta bisa dimusawarahkeun kalayan tartib sakumaha anu geus ditepikeun ku Fadli Zone yen di United Kingdom aya Englan, Wales, sarua di urang ge aya aceh, Papua, Bali, Lampung, Gorontalo
"Cek kuring keur urang Batawi jeung Cirebon mah teu jadi pasualan, sabab aya akulturasi budaya, nya aya hiji usulan mah wajar we atuh,” pokna daria
Jadi bagalna, cek Fadli Zon, taya masalah, justru identitas nu leutik teh bakal jadi hal penting, bakal nguatan persatuan, kabhinekaan dina zaman globalisasi. Dina gempungan harita, Fadli ngingetan sangkan Kongres Sunda nyieun naskah akademik keur ancokeuneun ka anggota DPR RI di Jabar.
"Kuring seja ngarojong sangkan usulan ieu bakal dibawa ka DPR, anu saterusna asup kana proleknas," cek Fadli, pasti.
Ku ayana dukungan ieu tangtu jadi jalan gede sasapuan tur nambah sumanget pikeun para panata calagara Kongres Sunda, kaasup Panitia Pengarah Andri Perkasa Kantaprawira anu ngeceskeun yen geus ti awalna keneh Fadli Zon ngarojong ayana Provinsi Tatar Sunda/Provinsi Sunda, sakumaha inyana ngusulkeun Sumatera Barat menjadi Provinsi Minangkabau.
![]() |
| Fadli Zon, Provinsi Tatar Sunda Nguatan KaBhinekaan (Foto Istimewa) |
Andri ge nyebutkeun, medalna wacana ganti ngaran Provinsi ku ngaran etnis ieu sabab Provinsi Sunda boga akar sajarah nu kahot, sedengkeun wacana Provinsi Minangkabau hadir nalika aya tuduhan masarakat Minang teu Pancasilais.
“Para inohong Nasional Sunda jeung Minang boga peran nu penting dina sajarah ngadegna Negara Republik Indonesia. Ku kituna marwah, kaadilan jeung karaharjaan seke seler Sunda, Minang jeung ratusan seler bangsa lianna, utamana sarakanana kudu diperhatikeun, diantarana ngaliwatan kaadilan fiskal jeung pangwangunan nu affirmative pikeun masarakat jeung lingkungan hirup Tatar Sunda,” kitu cek Andri tandes.
Andri ge mastikeun, Fadli Zon siap hadir lamun diondang Webinar pikeun nguatan wacana Provinsi Sunda anu geus direncanakeun ku panata calagara nyokot tema: "Provinsi Sunda – Provinsi Minangkabau Diskursus KeBhinekaan di NKRI”, anu rencanana baris ngahadirkeun tokoh populer- populis Sunda Kang Dedi Mulyadi jeung Ceu Popong Otje Djunjunan. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
November 16, 2020
CB Blogger
Indonesia“Para inohong Nasional Sunda jeung Minang boga peran nu penting dina sajarah ngadegna Negara Republik Indonesia. Ku kituna marwah, kaadilan jeung karaharjaan seke seler Sunda, Minang jeung ratusan seler bangsa lianna, utamana sarakanana kudu diperhatikeun, diantarana ngaliwatan kaadilan fiskal jeung pangwangunan nu affirmative pikeun masarakat jeung lingkungan hirup Tatar Sunda,” kitu cek Andri tandes.
Andri ge mastikeun, Fadli Zon siap hadir lamun diondang Webinar pikeun nguatan wacana Provinsi Sunda anu geus direncanakeun ku panata calagara nyokot tema: "Provinsi Sunda – Provinsi Minangkabau Diskursus KeBhinekaan di NKRI”, anu rencanana baris ngahadirkeun tokoh populer- populis Sunda Kang Dedi Mulyadi jeung Ceu Popong Otje Djunjunan. (Asep GP)***
Fadli Zon Ngarojong Ayana Provinsi Tatar Sunda
Wacana ngaganti ngaran Provinsi Jawa Barat ku Provinsi Sunda beuki ngabebela sabada meunang pangrojong ti Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad...
Friday, November 6, 2020
![]() |
| Demi Sunda Mulya Nusantara Jaya |
Sabada meunang pangrojong ti Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad jeung Anggota DPD RI Jawa Barat Dra. Ir. Hj. Eni Sumarni, M.Kes., nu ngahajakeun rawuh ka Sekretariat Kongres Sunda di Perpustakaan Ajip Rosidi Jalan Garut No.2 Kota Bandung sawatara waktu nu kaliwat (12/10/2020), laju diliput ku media massa, soara para inohong Sunda nu aya karep rek ngaganti ngaran Provinsi Jawa Barat ku Provinsi Sunda jadi leuwih harus batan goong, beuki ngumbul ka luhur ngapung ka manggung marapat ka awang-awang matak seah batan gangseng, ear sajajagat, jadi isu nasional.
Anu pro jeung kontra ge beuki maweuh boh ti kalangan pangagung, kaum akademisi, atawa masarakat biasa, kaasup sabagean masarakat Cirebon anu ngancam rek misahkeun maneh lamun Provinsi Sunda/ Tatar Sunda laksana ngajadi. Cek para inohong hal ieu geus asup ka wewengkon pulitik. Bejana hal ieu ge geus nepi ka Presiden Jokowi jeung SBY.
Dina hal ieu Pupuhu Rukun Wargi Sumedang (RWS), Dr. Iwa Kuswaeri, mairan, ”Pro–kontra mah biasa, jalan teras weh ulah sieun, da niat kasaean mah tangtos loba pangrobeda, tah panggrobeda ieu hayu sasarengan urang robih janten pangropea”, pokna tandes.
Pihak panata calagara (panitia) Kongres Sunda ge terus beuki ngagedurkeun deui sumangetna, ku jalan ngayakeun komunikasi jeung sosialisasi ka tiap kabupaten/kota nu aya di Jawa Barat, saperti ka Bekasi (baheula Sundapura), Cirebon (baheulana Cirebon Larang bawahan Pajajaran, diadegkeun ku Pangeran Cakrabuana/Walangsungsang
![]() |
| Indra Perwira, Kongres Sunda teu perlu Dasar Hukum |
Putra Pamanahrasa (Prabu Siliwangi) anu nikah ka Subangrarang (Putra Ki Gedeng Tapa) santri Pasantren Quro – Karawang, sarta wewengkon pantura lianna bari terus ngayakeun Sawala Daerah minangka bagean tina tahapan pra kongres kayaning ka Sumedang (Sunda Mandiri Pangan), Bogor (Kota Pusaka), Tasik, Ciamis, Garut, Purwakarta, jsb.
Harita ge (28/10/2020) di Sektertariat Kongres Sunda Jalan Garut, panitia ngayakeun Gempungan anu dihadiran ku para Pakar kayaning Dr. Indra Perwira, Dr. Gunawan Undang, Memet Hamdan, Muhammad Ridho Easy, Adjie Esa Putra, Dr. Iwa Kuswaeri, Wali Syaiun (Cirebon), Yusyus Kuswandana, Memed Ahmad Hakim S.H., Maman Wangsaatmadja, Avi Taufik Hidayat, Andri Kantaprawira, Dina Ahmad, Teh Rita, Wawan Trah Kunci Iman, jrd, sarta Dr. Andri Abdurrohman (alumni FMIPA Unpad) jeung Drs.Toni Setiadi (alumni IKIP/UPI) anu ngawanohkeun Qur’an Galuh jeung Qur’an Cirebon anu aheng.
Anu narik ketak Indra Perwira, ieu Pakar Hukum Tata Negara Unpad teh langsung mairan kasauran salah saurang anggota DPR RI sawatara waktu kaliwat di media massa nu nanyakeun dasar hukum Kongres Sunda.
“Na ari baheula Panitia 9 nyieun Piagam Jakarta atanapi Kongres Pamuda Sunda taun 56 aya dasar hukumna teu? Teu aya! Can aya gerakan politik gaduh dasar hukum. Revolusi ge, pemberontakan, lamun tinekanan kakara jadi dasar hukum, tapi lamun eleh mah jadi penghianat. Janten sanggem abdi mah ulah terlalu naïf lah," pokna daria pisan.
Sabalika Indra ge nanyakeun naon mangpaatna lamun jadi Provinsi Sunda? Kudu dibedah mangpaatna cenah ge, saha nu bakal narima mangpaatna. Nu narima mangpaatna teh lain ngan saukur entitas Sunda tapi kum keur masarakat Jabar rek bangsa/etnis naon oge, hal kitu anu logis mah cenah ge, sabab cek Indra, lamun ditilik tina sababaraha kajadian pembentukan (ngadegna) ngaran provinsi alesanna teu logis tapi leuwih kana sentimen, psikologis. “Jadi ti awal keneh urang kudu geus ngitung-ngitung, nu ditatawarkeun ku urang teh patarohan logis anu bakal loba mangpaatna keur karaharjaan, kinerja, jsb.
Ajen naon anu rek dibangun jeung ditawarkeun ku urang keur anak-incu anu hirup dina zamanna (millennium). Eta nu leuwih penting.
![]() |
| Gunawan Undang, pembentukan Provinsi Sunda geus politis |
Kadua sual agenda 1-2 (Ngarumuskeun Adeg-adeg jeung Tangtungan Sunda), Ngaguar Sunda Sarakan jeung Nagara (pasualan-pasualan nu aya di nagara utamana di Jawa Barat jeung pasualan penting lianna), hal ieu urang tatawarkeun keur generasi ngora. Contona cek Indra, kamari inyana milu ngadegkeun “Bumi Alumni” anu ngawadahan 16 rebu UMKM alumni sa- Jawa Barat, para alumni Unpad nyieun market place sorangan. Tah hal ieu cek Indra mangrupa kakuatan-kakuatan (ekonomi) oge pikeun urang Sunda, “Janten pami urang ngaguar Provinsi Pasundan kedah tiasa ngajelaskan ka aranjeunna yen umpamana UMKM teh hade pikeun ngaronjatkeun perekonomian para patani.
“Jadi hayu urang sasarengan ngemutan pertanggungjawaban naskah akademik ti ngawitan ngemutan mangpaatna, sareng abdi ge aya kahariwang pami ieu (ngaran Jawa Barat) teu dirobah bakal jadi bom waktu nu ngancam NKRI. Agenda kahiji mah muka dialog we sareng dulur-dulur di Cirebon, dialog kucara kultural etnis Sunda-Cirebon sareng Malayu Batawi kanggo nyinglar kasalahpahaman", cek Indra tandes. Bari peupeujeuh sangkan ngagunakeun cara-cara pulitik meh teu mopo di jalan.
![]() |
| Avi Taufik Hidayat (kenca) jeung Andri P Kantaprawira, Ngaran Prov. Sunda pangdorong sumanget ngamajukeun sarakan |
Gunawan Undang ge sapamadegan hal ieu geus asup kana wewengkon politik ngan omat cenah pami aya politisi anu teu satuju hadena ulah dikoncar (dijauhan) sumawonna dimomorekeun tapi kudu dirawu dipangku.
Kitu deui dina pamarekan (pendekatan) pulitik kewilayahan utamana jeung Cirebon ulah dijauhan tapi kudu diraeh. Ku kituna perlu aya jalma anu bisa ngayakeun pamarekan politik kasundaan.
Sagigireun eta Undang ge sarua natanyakeun mangpaat parobahan ngaran provinsi ieu, utamana keur anak-incu jaga. “Lamun rek malikeun deui idealisme yen Sunda teh baheulana ngawengku kapuloan Sunda Besar – Sunda Kecil, kuring sapuk (satuju), hal ieu ideologis pisan, pencitraan urang Sunda memang kudu digedurkeun deui. Baheula wewengkon Sunda kacida legana kiwari diriutkeun ukur jadi Jawa Barat, “ pokna.
![]() |
| Wali Syaiun (Cirebon), Jabar jadi Provinsi Sunda-Cirebon Daerah Istimewa |
Memet Hamdan ge sapuk lamun masalah ieu geus jadi domain politik, ku kituna kudu geuwat nyiapkeun kajian akademisna.
Aji Esa Poetra mah taya reureuhna dina unggal gempungan nandeskeun yen ide parobahan ngaran Provinsi Jawa Barat jadi Provinsi Sunda/Tatar Sunda prosesna rek politik atawa kabudayaan tapi dina pamustunganana mah pikeun kamanusaan. Buktina kaayaan Jabar ayeuna pamukim miskinna ti taun 90 teu robah 16 keneh, atikan tingkat SMA nepi ka kiwari ka 32 eleh ku Papua, Banten jeung Gorontalo, Paguron Luhur 27 eleh wowotan ku Aceh, Papua Barat jeung Banten, tingkat karaharjaan Jabar 10 besar ge teu asup tapi kriminalitas ka -5 panggorengna. “Jadi ide parubahan ngaran ieu gul ahirna mah kamanusaan, eta mah prosesna bade pulitik bade kebudayaan, gulna pikeun kemanusiaan”, pokna daria.
Ku kituna Yuyus Kuswandana ge satuju ku ayana Provinsi Sunda ngan Yuyus peupeujeuh kudu tapis jeung ati-ati dina ngagunakeun prosedurna. Utamana dina ngayakeun pamarekan ka DPR nu boga andil gede dina hal kawenangan konstitusi.
![]() |
| Qur'an Galuh jeung Qur'an Cirebon tea |
Bagalna, Yuyus miharep pihak pangagung jeung instansi anu aya patalina jeung hal ieu paham kana aspirasi atawa kahayang mayoritas masarakat Sunda. Eta cenah aya nu satuju jeung henteu, eta mah hal biasa dina demokrasi. Nu utama ajen palsapah jeung sajarah Sunda kudu diundakkeun deui ulah nepi ka ngaran Sunda kalindih.
“Aya Sunda Kalapa di Jakarta teu kasabit-sabit deui, kitu deui pulo Sunda Besar - Sunda Kecil. Padahal ayana NKRI ieu hasil tarekah urang Sunda, ku Juanda (Deklarasi Juanda) Nusanatara bisa ngahiji teh. Dinamika pasti aya ti kalangan pejabat politik di DPRD anu kudu dibere pamahaman ku urang yen aranjeunna dipilih ku masarakat Sunda jadi ulah nganggap disintegrasi kana masalah ieu. Sabalikna ajen Sunda mah justru bakal nohagaan pondasi NKRI “, kitu saurna, pasti.
Pakar lianna, Memed Ahmad Hakim nyebutkeun sual kasundaan sual Jabar teu kudu dipakaitkeun jeung nostalgia, romantisme, tapi kudu dihubungkeun jeung tangtangan sipil anu bakal kajadian di mangsa hareup, ku kituna Memed miharep para nonoman generasi ngora kudu guyub sauyunan dina ngarebut lemah sarakan.
Di pihak sejen, Wali Syaiun nu ngahaja datang ti Cirebon, ngawakilan pribadina, nyebutkeun yen karep baraya-baraya di tanah Sunda dina prinsipna ka hareupna satujuan jeung anu keur dirarancang ku sabagean masarakat Cirebon. Ayana kasatuan tradisi (Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan) bakal ditambah ku ngahijikeun entitas budaya. Lamun entitas budaya jeung tradisi Cirebon ngahiji bakal sajalan jeung paniatan dulur-dulur di Sunda. Jadi lamun saupamana Provinsi Jabar robah jadi Provinsi Sunda Cirebon bisa jadi Daerah Istimewa sakumaha halna Yogya di Jawa Tengah.
Jadi cek Syaiun pihakna aya dina konsep anu teu pro jeung kontra tapi miharep tujuan Kongres Sunda bakal sajalan jeung karep Cirebon. “Cirebon tetep bagean tina Jawa Barat keneh mung sipatna Istimewa“, kitu cek Pupuhu Keluarga Besar Pangeran Alas Kesultanan Cirebon terah Gebang-Cirebon Wetan.
Sarengsena kagiatan Pupuhu Panitia Kongres Sunda Avi Taufik Hidayat ngeceskeun ka wartawan, dina gempungan ieu berekah cenah para sunior mere sumanget jeung alat tangkapan kunaon Provinsi Sunda kudu ngadeg.
Hasil kacindekanana, alesan diadegkeunna Provinsi Sunda alesan kamanusaan anu nyoko kana kanyataan prestasi Jabar aya disahandapeun Provinsi Banten, Aceh jeung provinsi lianna anu geus robah ngaran.
Ku kituna cek Avi, kabuktian ku ayana parobahan ngaran teh jadi sumanget pikeun masarakat sangkan bisa ngamajukeun deui sarakanana.
“Insya Alloh sadaya bongbolongan ti para pakar baris diwadahan dina naskah ilmiah. Eta nu utami dina gempungan ayeuna,” pokna ka wartawan.
Avi ge malum kana ayana pro-kontra, sabab cenah anu ngarasa teu panuju mah kalolobaanana urang Jawa lain etnis Sunda. Ku kituna hadena mah usulan Provinsi Sunda teh direujeungkeun jeung pamekaran wilayah, sabab memang Jabar nu pamukimna 46 juta teh ngan ukur diwakilan ku 100 anggota DPR (DPRD) hal ieu cek Avi rugi da sakuduna mah ku 200 anggota DPR diwakilanana teh. “Ku kituna hadena mah Jabar dimekarkeun deui supados anggota DPR na nambihan," kitu cek Pupuhu Panata Calagara Kongres Sunda.
Hal Cirebon cek Andri Perkasa Kantaprawira, teu sakabeh urang Cirebon kontra (nolak/teu sapuk) kana ayana Provinsi Sunda/Tatar Sunda sabab di Kabupaten Cirebon loba urang Sunda. Andri sapamadegan jeung wali Syaiun (Syaiun terah Pagebangan ieu bis wae jadi Angota DPD RI 2004, jumlah soarana loba kacida), hadena Cirebon jadi Daerah Istimewa.
Lian ti kitu, ieu Panitia SC Kongres Sunda alumni Unpar ngabudalkeun kaprihatinanana kana kondisi Jabar ayeuna, utamana soal daya beuli dina mangsa maweuhna sasalad Covid-19.
“Jaring pengaman (bantuan) ti pamarentah kiwari mung ukur 4-5 kali henteu nutup rasiko hirup dina sataun, keur kitu teh datangna sok elat jeung beuki ngurangan. Jadi pamarentah daerah/provinsi kedah obyektip nilik kondisi sosial masarakat dina mangsa kiwari," Cek Andri daria.
Pamungkas, Dina Ahmad anu rajin hadir dina unggal gempungan, nyorot kana dunya atikan, ieu aktivis Kasundaan jeung panaratas Yayasan Chandrasangkala Sunda teh miharep mata pelajaran basa, sastra jeung aksara Sunda leuwih digedurkeun deui. Dinas ge ceuk Dina, hadena dibalikeun deui ngaranna kana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Cag! (Asep GP)
Sual Provinsi Tatar Sunda Sual Kamanusaan
Demi Sunda Mulya Nusantara Jaya Sabada meunang pangrojong ti Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad jeung Anggota DPD RI Jawa Barat Dra. Ir. Hj. En...
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)



















