Friday, August 14, 2026
![]() |
| Mantan Gubernur Jabar Ridwan Kamil tengah menunjukkan karya lukisnya pada Pameran Seni Rupa Komunitas Lingkaran Seni di GPK, Jalan Naripan, Bandung (10/8/2026). |
Hasil Penjualan Lukisan Disumbangkan untuk Korban Bencana Banjir di Tamiang Aceh
Ya, Mantan orang nomor satu Jawa Barat itu hadir di Pameran Lukisan Komunitas Lingkaran Seni, pada Senin (10/9/2026) di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK), Jl. Naripan Kota Bandung. Kang Emil bahkan berkesempatan membuka acara dan ikut memamerkan lukisannya dan sebagian hasil penjualannya akan disumbangkan untuk korban bencana Aceh Tamiang, seperti pelukis lainnya. Ia juga akan membantu dengan merekonstruksi, membangun 50 rumah yang ia buat khusus dari bahan kayu gelondongan yang terbawa banjir, yang telah meluluhlantakkan perkampungan penduduk Kabupaten Aceh Tamiang, akibat pembalakan hutan. Semoga setelah musibah menjadi berkah, katanya.
![]() |
| Kang Emil tengah membuka pameran bertajuk “Embracing The Journey” Komunitas Lingkaran Seni. |
Kehadiran Ridwan Kamil di pameran yang berlangsung dari 10–24 Agustus 2026 tersebut membuat suasana menjadi lebih cerah dan bergairah, dipenuhi canda, tawa, bahagia. Kedua belah pihak, masyarakat, seniman dan mantan pemimpin Jawa Barat ini pada-pada nyacapkeun kasono, saling menumpahkan kerinduan yang lama dipisahkan tempat (kini tinggal di Bali) dan keadaan. Akrab sekali, bahkan Kang Emil usai membuka acara dan foto bersama berkeliling, mengapresiasi puluhan karya seniman, satu per satu tanpa kecuali.
![]() |
| Mengapresiasi karya para seniman. |
Walau latar belakang pendidikannya Arsitek (ITB), tapi Kang Emil memang senang lukisan dan suka melukis. Berawal ketika menjadi gubernur Jabar (2019) ia mulai melukis, dan hingga kini sudah merampungkan 141 karya lukis.
![]() |
| Dr. Supriatna tengah menerangkan karyanya, “Sebelum Menari”, kepada Kang RK, didampingi Moya Kamaruddin (Ketua Komunitas Lingkaran Seni) dan Dede Priana (Kabiro Akademik dan Umum ISBI Bandung). |
Walau melukis hanya untuk mengekspresikan suasana hati, tidak dikomersialkan, tapi banyak temannya yang ke rumah meminta dan membeli lukisannya hingga ada yang laku 400 juta. Foto lukisannya pun banyak diburu pengusaha untuk dijadikan penghias produk merchandise, mulai dari jaket, dompet, suvenir, dsb., hingga ia mendapat banyak royalti.
Perkawinan lukisan dengan ekonomi produktif di Indonesia, kata Emil belum banyak terjadi oleh karenanya ia berharap para seniman Bandung bisa mencobanya untuk meningkatkan nilai ekonomi tanpa menjual lukisannya, hanya fotonya saja dan hak patennya tetap menjadi milik pelukisnya, hingga mendapat royalti.
![]() |
| Kaligrafi karya seorang wartawan (Foto: Hakim). |
Selain itu Emil juga akan meng-online-kan pameran ini agar teman-temannya dari mancanegara yang ada di Bali tahu karya-karya seniman Pasundan, hingga bisa membelinya dengan harga yang tinggi.
Ditemui wartawan di Jabarano Coffee Braga usai pameran, Emil mengaku sangat senang bisa berada di lingkungan para seniman Bandung, Jawa Barat, Indonesia, yang bisa menggunakan karyanya untuk kemanusiaan. Karena menurutnya seni itu multifungsi, bisa buat seni sendiri, bisa untuk menggerakkan pemikiran, bisa juga untuk membuat hasilnya jadi bermanfaat.
Menurut Emil karya-karya yang dipamerkan bagus-bagus dan sangat personal. Ada yang representasional atau sesuatu yang terlihat diulang dan ada yang sifatnya nonrepresentasional, abstrak, “Semoga kekompakan ini terjalin terus dan saya berterima kasih jadi bagian komunitas yang luar biasa ini,” pungkasnya.
Menurut Ketua Komunitas Lingkaran Seni sekaligus Ketua Penyelenggara, Moya Kamarudin, “Embracing The Journey” (Merangkul Perjalanan) -# Bandung Art Project 2 – 2026 ini merupakan kelanjutan dari Unity -# Bandung Art Project 1 – 2024, yaitu salah satu proyek seni berupa pameran lukisan yang diprakarsai oleh Komunitas Lingkaran Seni.
Komunitas Lingkaran Seni lahir dari kegelisahan beberapa orang pelukis Bandung yang ingin membentuk wadah bersama dalam menjalankan visi–misi bersama dalam berkarya. Pameran Lukisan ini dimaksudkan sebagai keberlanjutan keberadaan komunitas Lingkaran Seni yang mengutamakan kebersamaan, kesatuan, solidaritas, persatuan, kepedulian, dan kasih sayang yang berkelanjutan dalam banyak aspek kehidupan.
Senada dengan hal itu, Kurator Agus Cahyana mengatakan, “Embracing The Journey”: Merangkul Seni, Menginspirasi Kehidupan. Setiap perjalanan meninggalkan jejak di ingatan, pengalaman batin, dan berbagai bentuk ekspresi. Pameran Embracing The Journey menampilkan seni lukis sebagai cara untuk merangkul jejak-jejak itu. Perjalanan bukan cuma soal perpindahan, tetapi juga tentang mengalami, mengingat, menerima dan menafsirkan kembali kehidupan.
Kata Embracing mengandung sikap menerima beragam pengalaman yang membentuk manusia, kegembiraan, harapan, kegagalan, keraguan, kehilangan, serta kemungkinan untuk bangkit kembali. Sementara Journey menegaskan bahwa kehidupan bukanlah keadaan yang selesai, melainkan proses yang terus berlangsung. Pameran ini tidak hanya merayakan pencapaian, tapi juga menghargai jalan yang ditempuh untuk mencapainya.
“Realisme, figurasi, abstraksi, dekorasi, dan kaligrafi dalam pameran ini hadir sebagai bahasa visual untuk merekam perjalanan personal, sosial, historis kultural, dan spiritual. Sejumlah karya menghidupkan kembali ingatan mengenai sejarah bangsa Kota Bandung, sementara karya lainnya menghadirkan tradisi sebagai pengetahuan yang terus bergerak dan memperoleh makna baru. Figur manusia, alam, warna, tekstur, ritme dan aksara menjadi sarana untuk mengungkapkan identitas, kegundahan, harapan, pencarian batin, serta kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan,” papar Agus.
Makanya Komunitas Lingkaran Seni berkomitmen, sebagian hasil penjualan karya akan disalurkan kepada korban terdampak bencana banjir di Aceh Tamiang.
Sang Kurator juga menyoroti karya Supriatna, yang menurutnya pada zaman sekarang jarang dibuat perupa lainnya. Karya Supriatna menyatakan tentang identitas lokal yang berhubungan dengan penari (tradisi Sunda). Walaupun banyak yang kemudian melakukan abstraksi, tapi Supriatna bisa konsisten menampilkan penari sebagai objek dan semakin ke sini semakin beragam karyanya, awalnya ada yang sifatnya tunggal, kemudian berkelompok penarinya.
Istimewanya karya Supriatna, “Sebelum Menari” (diameter 100 cm) berbentuk lingkaran, memperlihatkan objek penari kadang bukan di atas panggung, tapi backstage, di belakang panggung, apa yang lepas dari pengamatan orang, ia hadirkan di atas kanvas.
“Sebetulnya ini meneruskan tradisi modern, kalau di Barat lebih ke objek Balet dan banyak yang kemudian mengambil tema bukan pertunjukan baletnya tetapi di belakang panggung. Nah Pak Pri seperti meneruskan itu, tapi dengan unsur identitas Sundanya. Ya sesuai dengan latar belakang pendidikannya dari alumni Seni Rupa ITB (S1-S2 FSRD-ITB-S3 Unpad) yang kental dengan teori Barat, dan sekarang jadi bagian dari ISBI Bandung (Wakil Rektor), yang kental dengan tradisi,” demikian kata Kurator Agus Cahyana. (Asep GP)***
Ridwan Kamil Hadir di Pameran Lukisan Komunitas Lingkaran Seni
Mantan Gubernur Jabar Ridwan Kamil tengah menunjukkan karya lukisnya pada Pameran Seni Rupa Komunitas Lingkaran Seni di GPK, Jalan Naripan, ...
Wednesday, August 12, 2026
![]() |
| Dari kiri: Kurator Rahmat Jabbaril, Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan, Gina Puspitasari, dan Tata Sutaryat dalam pembukaan Pameran Seni Rupa SORARUPA di Plataran Bandung (9/8/2026). |
Sorarupa: Menafsir Bunyi Menjadi Rupa, menghadirkan karya-karya yang lahir dari perjumpaan antara bunyi, pengalaman, dan ekspresi visual. Sebuah ruang untuk menikmati seni, berdialog, dan merayakan kreativitas bersama.
Pameran Seni Rupa Kontemporer yang diinisiasi Rumah Seni Ropih bersama Plataran Bandung ini, berlangsung mulai dari tanggal 9 Agustus 2026 hingga 30 Agustus 2026 di Plataran Bandung, Jl. Diponegoro No. 27, Kota Bandung.
![]() |
| Pengguntingan Pita |
Menampilkan 9 Seniman: Dede Ginanjar, Tata Sutaryat, Dede Mahyudin, Rizkan Gumilang, Lian Kyla Kizhaya Sulwen, Zalu Adhiyat, Azizah Permata Qalbu, Defany Sri Nurbudi, dan Agus.nsb.
Pada sesi Pembukaan, Minggu (9/8/2026), hadir Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., yang sekaligus membuka acara, kurator Rahmat Jabbaril, Tata Sutaryat, Gina Puspitasari (Ketua Rumah Seni Ropih), para seniman dan budayawan, serta para pelajar dan mahasiswa Bandung, bahkan ada dua orang mahasiswa dari Cirebon yang sengaja datang menghadiri pembukaan pameran, Muhammad Afana Fitro (LPK Minori) dan Fikhar Moh. Akram, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon, Angkatan 2024.
Pada sesi Pembukaan, Minggu (9/8/2026), hadir Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., yang sekaligus membuka acara, kurator Rahmat Jabbaril, Tata Sutaryat, Gina Puspitasari (Ketua Rumah Seni Ropih), para seniman dan budayawan, serta para pelajar dan mahasiswa Bandung, bahkan ada dua orang mahasiswa dari Cirebon yang sengaja datang menghadiri pembukaan pameran, Muhammad Afana Fitro (LPK Minori) dan Fikhar Moh. Akram, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon, Angkatan 2024.
![]() |
| Tata Sutaryat dengan lukisannya “Nojer ka Bagal Buana” yang sarat dengan falsafah Sunda. |
Dalam sambutannya Kadisbudpar Kota Bandung mengatakan, Pemerintah Kota Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap Rumah Seni Ropih terus konsisten memberikan ruang kreativitas melalui kegiatan seni rupa, pelestarian budaya, edukasi seni juga kolaborasi bersama masyarakat.
“Kami dari Disbudpar Kota Bandung, alhamdulillah dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Seni Ropih, tentu menjadi ruang ekspresi bagi senimannya, kemudian edukasi budaya tentang memperkuat kolaborasi karya ekosistem seni di Kota Bandung terus makin sibuk, “ kata Adi.
“Kami dari Disbudpar Kota Bandung, alhamdulillah dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Seni Ropih, tentu menjadi ruang ekspresi bagi senimannya, kemudian edukasi budaya tentang memperkuat kolaborasi karya ekosistem seni di Kota Bandung terus makin sibuk, “ kata Adi.
![]() |
| Rizkan Gumilang bersama Kadisbudpar Kota Bandung dengan latar karya patung Kacapi Parahu dan Piul/Biolanya. |
“Kami yakin bahwa sebuah kota itu maju bukan hanya dibangun oleh infrastruktur, materi, tetapi yang lebih penting adalah masyarakat yang terus menjaga kreativitasnya, berbudaya. Dan sebenarnya hati kita menjadi kering kalau tidak disentuh seni dan budaya. Hanya menghadapi polutan-polutan materi yang terkadang menghilangkan suara hati nurani (Adi mencontohkan penebangan pohon di pinggir jalan di Kota Bandung untuk kepentingan toko atau tempat usaha adalah perbuatan tidak berbudaya). Jadi kegiatan ini sangat baik dan terus menjangkau identitas kita, dan ini sebetulnya yang akan menjadi ruh dari pembangunan di kota kita, “ pungkasnya.
Demikian juga dari pihak Plataran Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada Rumah Seni Ropih yang menggelar pameran di salah satu venue yang ada di Plataran Bandung, Gallery of Old Bandung Paris Van Java, sebuah lorong yang dipersiapkan khusus untuk menampung karya para seniman yang ada di Kota Bandung.
Demikian juga dari pihak Plataran Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada Rumah Seni Ropih yang menggelar pameran di salah satu venue yang ada di Plataran Bandung, Gallery of Old Bandung Paris Van Java, sebuah lorong yang dipersiapkan khusus untuk menampung karya para seniman yang ada di Kota Bandung.
![]() |
| Mahasiswa dari Cirebon, Fikhar (kiri) dan Muhammad Afana (kanan) bersama perupa Lian Kyla Kizhaya Sulwen dan karyanya. |
“Plataran Bandung sangat berterima kasih dan mengapresiasi besar kepada Rumah Seni Ropih dan juga para seniman yang ikut memeriahkan acara pameran yang dibuka Kadisbudpar Kota Bandung, yang berlangsung mulai dari 9-30 Agustus 2026 ini, “ demikian dikatakan Auryn, Marcom (Marketing Communication/Humas) Plataran Bandung, kepada wartawan.
Auryn juga mempersilakan publik seni Bandung yang akan mengapresiasi, melihat karya seni dari Rumah Seni Ropih ini tanpa dipungut bayaran alias gratis.
Auryn juga mempersilakan publik seni Bandung yang akan mengapresiasi, melihat karya seni dari Rumah Seni Ropih ini tanpa dipungut bayaran alias gratis.
Bahkan kata Auryn Plataran Bandung sangat terbuka bagi para seniman Bandung yang akan menggelar karya di galerinya. Tinggal menghubungi marcom-nya saja.
“Terus berkembang karya seni, terus maju seniman-seniman Indonesia, khususnya para seniman Bandung. Jangan takut berkarya karena semua karya itu bagus tidak ada yang jelek. Semua karya punya nilai seninya masing-masing dan layak untuk ditampilkan di khalayak umum, “ tandasnya.
Nilai-nilai filosofi Tembang Cianjuran dan Manuskrip Sunda Dalam Kanvas Tata Sutaryat
Menarik disimak karya Tata Sutaryat yang menampilkan bentuk geometri segitiga tidak seperti umumnya karya yang persegi panjang. Tata menggunakan bidang 3 (Tiga) dalam struktur kanvasnya, karena segitiga dalam struktur geometri adalah gabungan dari beberapa garis yang paling sederhana dan paling kuat dibanding segi 4 yang bisa goyah. Segi 3 membentuk suatu kekuatan geometri, kekuatan saling menopang yang lebih kuat - kokoh. Dan ini juga sering diaplikasikan ke struktur jembatan, besi betonnya memakai pola 3 agar kuat dan kokoh.
“Terus berkembang karya seni, terus maju seniman-seniman Indonesia, khususnya para seniman Bandung. Jangan takut berkarya karena semua karya itu bagus tidak ada yang jelek. Semua karya punya nilai seninya masing-masing dan layak untuk ditampilkan di khalayak umum, “ tandasnya.
Nilai-nilai filosofi Tembang Cianjuran dan Manuskrip Sunda Dalam Kanvas Tata Sutaryat
Menarik disimak karya Tata Sutaryat yang menampilkan bentuk geometri segitiga tidak seperti umumnya karya yang persegi panjang. Tata menggunakan bidang 3 (Tiga) dalam struktur kanvasnya, karena segitiga dalam struktur geometri adalah gabungan dari beberapa garis yang paling sederhana dan paling kuat dibanding segi 4 yang bisa goyah. Segi 3 membentuk suatu kekuatan geometri, kekuatan saling menopang yang lebih kuat - kokoh. Dan ini juga sering diaplikasikan ke struktur jembatan, besi betonnya memakai pola 3 agar kuat dan kokoh.
Kata Tata bidang tiga juga ada dalam Filosofi Tilu Sunda, pola tiga Sunda, Kosmologi Sunda Tri Tangtu di Bhuana, “Kalau di Sunda ada Rama-Resi-Ratu. Konsep yang yang diwariskan turun-temurun dari karuhun Sunda yang bisa diterapkan dalam ketatanegaraan dan diri pribadi juga pada konstruksi bangunan atau jembatan agar kuat dan kokoh. Karena memang struktur Geometri yang paling kokoh adalah segitiga, “ terangnya.
Filosofi, gambaran yang diambil, adalah bagaimana nilai-nilai filosofi dalam Tembang Sunda Cianjuran digambarkan dalam kanvas. Salah satunya lagu Pangapungan yang diaplikasikan ke dalam lukisannya yang berjudul “Nojer ka Bagal Buana”. Kata Tata Lagu Pangapungan yang termasuk ke dalam kelompok wanda Papantunan (bersumber dari lagu-lagu pantun), yang selalu didahului oleh Papatet Ratu menggambarkan proses naik ke jabaning langit seperti dalam cerita pantun Mundinglaya Dikusumah, di mana Munding Laya naik ke langit untuk mengambil Layang Salaka Domas yang dijaga Guriang 7 (gambaran perjuangan keras meraih cita-cita yang banyak rintangannya, dan harus dihadapi dengan kesabaran dan kebersihan hati dengan menaklukkan Guriang 7, simbol jurig, Duruwiksa atau simbol 7 lubang yang ada dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan ditata peruntukannya).
Filosofi, gambaran yang diambil, adalah bagaimana nilai-nilai filosofi dalam Tembang Sunda Cianjuran digambarkan dalam kanvas. Salah satunya lagu Pangapungan yang diaplikasikan ke dalam lukisannya yang berjudul “Nojer ka Bagal Buana”. Kata Tata Lagu Pangapungan yang termasuk ke dalam kelompok wanda Papantunan (bersumber dari lagu-lagu pantun), yang selalu didahului oleh Papatet Ratu menggambarkan proses naik ke jabaning langit seperti dalam cerita pantun Mundinglaya Dikusumah, di mana Munding Laya naik ke langit untuk mengambil Layang Salaka Domas yang dijaga Guriang 7 (gambaran perjuangan keras meraih cita-cita yang banyak rintangannya, dan harus dihadapi dengan kesabaran dan kebersihan hati dengan menaklukkan Guriang 7, simbol jurig, Duruwiksa atau simbol 7 lubang yang ada dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan ditata peruntukannya).
Tata juga memvisualkan warna-warna dalam lagu pangapungan rumpaka ka-4 ke dalam lukisan Nojer ka Bagal Buana, “NepI kana mega bodas, mega kayas, mega jingga, mega paul., mega hideung,” hingga ujung dari lukisan segitiganya yang berwarna Emas, Layang Salaka Domas (gambaran penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa atas segala usaha).
Lukisan keduanya berjudul, “Itu Gunung Naon”, yang inspirasinya dari lagu Nataan Gunung yang tiap baitnya selalu diakhiri dengan “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa). Gambaran dari akal, pikiran, otak atau kepala manusia (gambaran gunung yang ada pada diri manusia). Jadi menurut Tata “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa), sama dengan bertanya, “Itu manusia yang bagaimana/seperti apa.”
Lukisan keduanya berjudul, “Itu Gunung Naon”, yang inspirasinya dari lagu Nataan Gunung yang tiap baitnya selalu diakhiri dengan “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa). Gambaran dari akal, pikiran, otak atau kepala manusia (gambaran gunung yang ada pada diri manusia). Jadi menurut Tata “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa), sama dengan bertanya, “Itu manusia yang bagaimana/seperti apa.”
Dan ini kata Tata masih ada korelasinya dengan lukisan Nojer ka Bagal Buana, “Jadi Guriang 7 itu ada di gunung manusia, ada di 7 lubang yang ada di Kepala kita, “ katanya pasti.
Tata juga membandingkan Nataan Gunung ini dengan naskah Sunda Kuna Bujangga Manik (yang sekarang lagi booming diteliti Prof. Bagus Mulyadi), “Saya setahun lalu mencoba membandingkan sebuah manuskrip lalampahan Bujangga Manik yang menelusuri gunung dan sungai yang detail dan nyata itu dengan lagu Nataan Gunung Cianjuran dan ternyata ada 80% kesamaan. Berarti lagu Nataan Gunung bukan hanya menceritakan perasaan lewat lagu saja, tapi itu memang menceritakan letak gunung-gunung di Tatar Sunda,” paparnya.
Tata juga membandingkan Nataan Gunung ini dengan naskah Sunda Kuna Bujangga Manik (yang sekarang lagi booming diteliti Prof. Bagus Mulyadi), “Saya setahun lalu mencoba membandingkan sebuah manuskrip lalampahan Bujangga Manik yang menelusuri gunung dan sungai yang detail dan nyata itu dengan lagu Nataan Gunung Cianjuran dan ternyata ada 80% kesamaan. Berarti lagu Nataan Gunung bukan hanya menceritakan perasaan lewat lagu saja, tapi itu memang menceritakan letak gunung-gunung di Tatar Sunda,” paparnya.
Lukisan ketiga “Cancandran”, inspirasinya dari lagu Sunda Mekar. Ada visi-misi, keduanya lebih menggambarkan alamnya dan yang ketiga seuweu–siwi Siliwangi. Jadi lebih ke gambaran dalam memelihara alam warisan karuhun yang harus bisa diwariskan ka generasi saterusnya dengan utuh, tidak dirusak, tidak dikurangi apalagi untuk dieksploitasi demi keuntungan pribadi, karena kita bukan pemilik tapi meneruskan, “Harus seperti meneruskan tongkat estafet lah, utuh, tidak dikurangi, kalau sekilo ya sekilo, sebongkah, segram, ya segitu tidak dikurangi, “ tuturnya.
Dan Tata membuktikan itu semua, putranya, Rizkan Gumilang siap meneruskan tongkat estafet dari bapaknya. Dalam pameran ini Rizkan ikut menampilkan karya patungnya yang berbentuk Kacapi Parahu dan Piul/Biola dari bahan kawat.
Dan Tata membuktikan itu semua, putranya, Rizkan Gumilang siap meneruskan tongkat estafet dari bapaknya. Dalam pameran ini Rizkan ikut menampilkan karya patungnya yang berbentuk Kacapi Parahu dan Piul/Biola dari bahan kawat.
Menurut Tata, Rizkan memang dari kecil sudah akrab dengan kacapi dikenalkan bapak, demikian juga kakaknya Eviani Amalia menyukai biola hingga sekarang pun menjadi guru biola. Ternyata setelah ditelusuri kakeknya pun pemaen piul/biola Sunda. Demikian dikatakan Tata kepada wartawan usai pembukaan pameran dan diskusi.
Menurut Kurator Rahmat Jabbaril, ini adalah kali kedua dia mengkuratori pameran keluragan almarhum Abah Ropih. Kali ini temanya tentang Sora Rupa yang berhubungan dengan musik. Karena kebetulan hampir dari seluruh peserta punya pengalaman atau ada hubungannya dengan dunia musik, baik tradisi maupun modern.
Menurut Rahmat ini sesuatu yang cukup menarik. Karena selama ini seni rupa hanya dilihat dari perspektif seni rupanya saja tidak dilihat dari perspektif musik.
Menurut Kurator Rahmat Jabbaril, ini adalah kali kedua dia mengkuratori pameran keluragan almarhum Abah Ropih. Kali ini temanya tentang Sora Rupa yang berhubungan dengan musik. Karena kebetulan hampir dari seluruh peserta punya pengalaman atau ada hubungannya dengan dunia musik, baik tradisi maupun modern.
Menurut Rahmat ini sesuatu yang cukup menarik. Karena selama ini seni rupa hanya dilihat dari perspektif seni rupanya saja tidak dilihat dari perspektif musik.
Dia mencoba mengelaborasi kesadaran apa itu musik dan apa itu seni rupa, “Nah saya berpikiran musik dan seni rupa itu kesatuan utuh yang tidak bisa dilepaskan. Seolah-olah musik berdiri sendiri padahal dia berhubungan dengan bentuk rupa, begitu juga sebaliknya. Jadi musik dan rupa selalu akan saling berkaitan satu sama lain, “ tegas Rahmat.
Rahmat juga mengatakan, dilihat dari perspektif kodratnya musik dan rupa itu semacam hukum alam yang tidak bisa dipungkiri bahwa ujungnya ke bunyi. Bunyi sama rupa, wujud, itu adalah kesemestaan, realitas semesta yang kemudian irama bunyi yang membentuk irama itu menjadi nada kehidupan, bisa menjadi musik yang sesungguhnya, bisa juga dalam perjalanan laku hidup. Itu juga sebagai nada hidup.
“Nah bagaimana ujungnya dari semua nada ini, sebetulnya tidak berujung. Si Nada ini akan terus berkembang, bagai spiral, antara rupa dan bunyi itu selalu begitu. Makanya tidak ada istilah endisme, dia akan tumbuh terus menjadi apa dan apa, dan seterusnya. Misalnya dalam kehidupan manusia setelah kematian ada kehidupan lagi. Itu tidak bisa dipungkiri. Seperti juga tergambarkan pada kenyataan hidup kita, kita tidur pun ada kehidupan – dalam ketidaksadaran itu ada kehidupan, dalam bentuk mimpi,” demikian pungkas Rahmat Jabbaril.
***
Event selanjutnya dari pameran ini, Workshop Melukis Bunyi – KSS Experience yang akan berlangsung Minggu 30 Agustus 2026 mulai Pk. 14.00-17.00 di Plataran Bandung.
Bagaimana jika bunyi yang kita dengarkan dapat diterjemahkan menjadi warna, garis, bentuk, dan lukisan?
Dalam workshop ini peserta diajak untuk: Mendengar – Merasakan – Menafsirkan – Melukiskan bunyi menjadi karya visual.
Acara akan diawali Special Performance String Ensemble YMS Bandung, dilanjutkan dengan pengalaman kreatif KSS Experience.
Para peserta workshop akan mendapat alat dan bahan lukis, coffee break, hasil lukisan, dan sertifikat digital dengan membayar Rp150.000 untuk Pelajar/Mahasiswa dan Rp300.000 untuk peserta Umum/Profesional. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
August 12, 2026
CB Blogger
IndonesiaRahmat juga mengatakan, dilihat dari perspektif kodratnya musik dan rupa itu semacam hukum alam yang tidak bisa dipungkiri bahwa ujungnya ke bunyi. Bunyi sama rupa, wujud, itu adalah kesemestaan, realitas semesta yang kemudian irama bunyi yang membentuk irama itu menjadi nada kehidupan, bisa menjadi musik yang sesungguhnya, bisa juga dalam perjalanan laku hidup. Itu juga sebagai nada hidup.
“Nah bagaimana ujungnya dari semua nada ini, sebetulnya tidak berujung. Si Nada ini akan terus berkembang, bagai spiral, antara rupa dan bunyi itu selalu begitu. Makanya tidak ada istilah endisme, dia akan tumbuh terus menjadi apa dan apa, dan seterusnya. Misalnya dalam kehidupan manusia setelah kematian ada kehidupan lagi. Itu tidak bisa dipungkiri. Seperti juga tergambarkan pada kenyataan hidup kita, kita tidur pun ada kehidupan – dalam ketidaksadaran itu ada kehidupan, dalam bentuk mimpi,” demikian pungkas Rahmat Jabbaril.
***
Event selanjutnya dari pameran ini, Workshop Melukis Bunyi – KSS Experience yang akan berlangsung Minggu 30 Agustus 2026 mulai Pk. 14.00-17.00 di Plataran Bandung.
Bagaimana jika bunyi yang kita dengarkan dapat diterjemahkan menjadi warna, garis, bentuk, dan lukisan?
Dalam workshop ini peserta diajak untuk: Mendengar – Merasakan – Menafsirkan – Melukiskan bunyi menjadi karya visual.
Acara akan diawali Special Performance String Ensemble YMS Bandung, dilanjutkan dengan pengalaman kreatif KSS Experience.
Para peserta workshop akan mendapat alat dan bahan lukis, coffee break, hasil lukisan, dan sertifikat digital dengan membayar Rp150.000 untuk Pelajar/Mahasiswa dan Rp300.000 untuk peserta Umum/Profesional. (Asep GP)***
Pameran Seni Rupa SORARUPA: Menafsir Bunyi Menjadi Rupa
Dari kiri: Kurator Rahmat Jabbaril, Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan, Gina Puspitasari, dan Tata Sutaryat dalam pembukaan Pameran Seni ...
Wednesday, July 22, 2026
![]() |
| Dr. Supriatna dengan latar belakang karya mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung pada Pameran "Setalah Ini Pameran Hanya..." di Galeri ASTAKA FSRD ISBI Bandung (20–22 Juli 2026). |
Kegiatan ini digelar di Galeri ASTAKA Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISBI Bandung, Jalan Buah Batu No. 212, Kota Bandung, dari tanggal 20–22 Juli 2026.
Pameran bertajuk "Setalah Ini Pameran Hanya…", yang dibuka oleh Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., menampilkan beragam karya empat orang mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung.
![]() |
| Jihan Azhari, motif ukir Rumah Gadang Kaluak Paku Kacang Balingbiang diaplikasikan pada busana pengantin modern. (Foto: Asep GP) |
Fuad Saefuz Zaman (Pupu) mengeksplorasi limbah kain denim (bahan jeans) menjadi berbagai kostum karakter tokoh folklor (cerita rakyat).
Gilang Mustofa mengolah tanah liat yang diambil dari kampung halamannya menjadi lukisan bertema AMD (ABRI Masuk Desa, program kreatif pengabdian masyarakat ABRI/TNI yang diinisiasi Jenderal M. Jusuf pada tahun 1980), yang merupakan peristiwa yang diingat secara kolektif oleh masyarakat yang mengalaminya.
![]() |
| Pupu (Fuad Saefuz Zaman) mengeksplorasi limbah kain denim menjadi kostum karakter tokoh folklor. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Jihan Azhari Nurani mengolah sulaman emas untuk diaplikasikan pada pakaian pernikahan khas Minang. Jihan mengeksplorasi motif ukir hias Rumah Gadang Minangkabau, Kaluak Paku Kacang Balingbiang, untuk karyanya. Motif hias ukir yang kini sudah jarang ditemui di Sumatera Barat ini ia aplikasikan ke dalam busana pengantin modern dengan teknik bordir agar tidak punah ditelan masa dan dilupakan generasi muda.
![]() |
| Gilang Mustofa mengolah tanah liat dari kampungnya menjadi lukisan bertema ABRI Masuk Desa. (Foto: Istimewa) |
Kaluak Paku Kacang Balingbiang ini, menurut Jihan, adalah salah satu motif ukiran dalam adat Minangkabau yang melambangkan pertumbuhan, kebersamaan, keseimbangan, tanggung jawab, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam kehidupan sosial. Proses eksplorasi dilakukan terhadap nilai filosofis motif, referensi visual busana pengantin tradisional dan modern, serta pengembangan teknik bordir sebagai medium ekspresi artistik. "Hasil karya ini diharapkan menghasilkan karya busana pengantin yang mempertahankan identitas budaya Minangkabau sekaligus menghadirkan kebaruan visual dan konseptual yang relevan dengan perkembangan seni dan desain busana modern," tutur Jihan, yang berdarah Sunda-Minang ini.
![]() |
| Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan.
Menurut Kurator Pameran, Supriatna, "Setalah Ini Pameran Hanya…" merupakan sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Judul ini tidak dimaksudkan sebagai penutup, melainkan sebagai pembuka bagi berbagai kemungkinan makna setelah karya dipertemukan dengan publik.
![]() |
| Kepala Biro Akademik dan Umum, Dede Priana, turut mengapresiasi. (Foto: Asep GP) |
Kata Setalah, yang tidak mengikuti ejaan baku, menjadi simbol bahwa proses berkesenian tidak selalu berjalan dalam kesempurnaan. Kesalahan, keraguan, dan proses pencarian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik artistik.
Melalui pameran ini, setiap karya dihadirkan bukan untuk memberikan jawaban yang pasti, melainkan mengundang pertanyaan, refleksi, dan kemungkinan interpretasi baru. "Dengan demikian, 'Setalah Ini Pameran Hanya…' menjadi pengingat bahwa setelah ruang pamer ditinggalkan, karya tidak benar-benar selesai. Ia terus hidup melalui ingatan, percakapan, dan makna yang dibangun oleh setiap orang yang mengalaminya," demikian kata Supriatna. (Asep GP)***
Pameran Seni Rupa 4 Mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung
Dr. Supriatna dengan latar belakang karya mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung pada Pameran "Setalah Ini Pameran Hanya..."...
Sunday, July 19, 2026
Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang terbuka terhadap keberagaman dan persahabatan internasional melalui penyelenggaraan West Java International Fun Folk Festival yang berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Minggu (19/7/2026). Festival budaya yang mempertemukan delegasi dari Indonesia, Rusia, Malaysia, Filipina, dan India ini menghadirkan pertunjukan seni tradisional yang memukau sekaligus menjadi ruang diplomasi budaya yang mempererat hubungan antarmasyarakat lintas negara. Lions Club Bandung Sangkuriang dan Lions Club Bandung Raya bekerja sama menyelenggarakan kegiatan ini berkolaborasi dengan Color of Indonesia dan Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Kota Bandung.
![]() |
| Acara diresmikan oleh Walikota Bandung |
![]() |
| Defile lima negara |
![]() |
| MC memperkenalkan salah satu delegasi dari negara India tepatnya dari Gujarat dan akan menarikan tarian dari Gujarat. |
![]() |
| MC Siska dari Lions Club Bandung Sangkuriang memperkenalkan delegasi dari Philipina yang akan menampilkan tarian untuk perkawinan. |
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Panitia Pelaksana, Irma Suganda dari Lions Club Bandung Sangkuriang. Dalam sambutannya, Irma menyampaikan bahwa festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah gerakan untuk membangun persahabatan dunia melalui kebudayaan. "Kami merasa terhormat dapat mempertemukan sahabat-sahabat dari lima negara di Kota Bandung. Semoga festival ini menjadi jembatan yang memperkuat diplomasi budaya, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Jawa Barat kepada masyarakat internasional," ujar Irma. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Novi Khotimah dari Color of Indonesia, Ketua Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Jawa Barat Hj. Lina Marlina Ruzhan, S.E., serta Ketua Wilayah Lions Clubs, Lion Chen Sun Fen. Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, S.E. Dalam sambutannya, Farhan menyampaikan apresiasi atas kehadiran para delegasi mancanegara yang telah memilih Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan festival budaya internasional tersebut. "Kami merasa sangat terhormat menyambut para tamu dari Rusia, Malaysia, Filipina, dan India. Bandung memiliki sejarah panjang sebagai kota yang membangun dialog dunia melalui semangat Konferensi Asia Afrika. Hari ini semangat itu kembali hidup melalui diplomasi budaya yang menghadirkan persahabatan tanpa batas," kata Farhan.
![]() |
| MC memperkenalkan delegasi dari Rusia tepatnya dari Moscow. |
![]() |
| MC Siska memperkenalkan delegasi dari Malaysia tepatnya dari Sabah. |
![]() |
| Delegasi dari Indonesia salah satunya tari Merak yang akan tampil dalam West Java International Fun Folk Festival |
Kemeriahan festival diawali dengan penampilan Rampak Kendang dan tari gamelan yang dibawakan sekitar 30 siswa SDN M. Toha. Penampilan generasi muda tersebut menjadi simbol bahwa pelestarian budaya harus dimulai sejak usia dini, terlebih menjelang peringatan Hari Anak Nasional. Suasana semakin semarak ketika lima penari yang disuguhkan oleh Sanggar Pusbitari menampilkan Tari Merak, salah satu ikon budaya Jawa Barat yang telah diakui oleh Kemendikbudristek sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada Desember 2020. Penampilan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para tamu internasional. Delegasi Rusia, Malaysia, Filipina, dan India kemudian bergantian mempersembahkan tarian tradisional khas negaranya masing-masing. Beragam kostum, musik, dan gerak tari menciptakan harmoni budaya yang menunjukkan bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan untuk saling mengenal dan menghargai. Selain itu, juga dimeriahkan oleh berbagai tarian dari Sanggar Tari Tri dan Sanggar Rengganis.
![]() |
| Foto bersama dengan perwakilan delegasi dari lima negara |
![]() |
| Apresiasi penonton yang luar biasa |
Festival ditutup dengan Social Dance Tari Kalem Aya Urang/Balakutak Line Dance yang dipandu instruktur d’ULD (The Universal Line Dance) Jawa Barat. Seluruh tamu undangan, delegasi luar negeri, panitia, hingga masyarakat ikut menari bersama dalam suasana penuh kegembiraan.
Penyelenggaraan West Java International Fun Folk Festival dinilai berlangsung sukses, tertib, dan profesional. Para peserta mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Bandung serta kualitas penyelenggaraan acara. Festival ini menjadi bukti bahwa Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, mampu menjadi rumah bagi perjumpaan budaya dunia sekaligus menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya lokal sambil membangun persahabatan global. (Asep GP)***
Bandung Jadi Panggung Persahabatan Dunia, “West Java International Fun Folk Festival” Satukan Budaya Lima Negara
Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang terbuka terhadap keberagaman dan persahabatan internasional melalui penyelenggaraan W...
Monday, July 13, 2026
![]() |
| Aksi Penghijauan Kelompok Anak Muda "Bikers For Nature Live" di Kawasan Punclut,Bandung Utara.Minggu (12/7/2026).(Foto: Istimewa) |
Kelompok muda Bikers For Nature Life yang terdiri dari enam klub motor: Accidentally Familia, Rebel Bastard, Barred Nomad, Esquadron, Courage B’Brothers, dan Dulur MC, menggelar aksi terpuji dengan melakukan penghijauan, menanam ratusan pohon tegakan dan buah-buahan di Punclut, Bandung Utara, pada Minggu (12/7/2026).
Hal ini dilakukan untuk mengejar target penanaman hingga 3.000 bibit pohon sampai akhir tahun 2026.
Menurut Ketua Komunitas Bikers For Nature Life sekaligus Ketua Pelaksana, Gibran Ajib Jabbaril, kegiatan ini merupakan respons atas kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah Bandung, termasuk Kawasan Bandung Utara (KBU) dan wilayah penyangganya, yang hingga kini masih menjadi persoalan serius.
“Saat ini tutupan RTH di Bandung baru berkisar 17% hingga 24%. Padahal amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mewajibkan minimal 30% dari total luas wilayah harus berupa RTH,” jelas Gibran.
“Saat ini tutupan RTH di Bandung baru berkisar 17% hingga 24%. Padahal amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mewajibkan minimal 30% dari total luas wilayah harus berupa RTH,” jelas Gibran.
Di sisi lain, alih fungsi lahan di KBU sudah mencapai hampir 70% dari luas yang seharusnya menjadi kawasan hijau. Lonjakan pertumbuhan penduduk memicu konversi lahan menjadi permukiman dan ruang usaha, sehingga daya dukung lingkungan semakin tertekan.
“Merespons kondisi tersebut, kami komunitas anak muda yang tergabung dalam Bikers For Nature Life mengambil inisiatif nyata dengan menggelar aksi penghijauan,” tegas Gibran.
Kegiatan ini juga didukung oleh Serikat Petani Pasundan (SPP), Aktivis 98, Mapas, Jaga Seke, Satc Outdoor, Meped Interior, Maci, Oktum Boy, dan Watchjoe WD.
![]() |
| Gibran, Ketua Komunitas Muda "Bikers For Nature Live"(Kanan) bersama Wachjoe WD (Penasihat "Bikers For Nature Live") Foto: istimewa |
“Ini bukan sekadar aksi seremonial. Kami, anak muda, ingin membuktikan bahwa dengan motoran bisa berdampak baik untuk alam. Target kami adalah membantu mengembalikan fungsi ekologis KBU dan mengajak lebih banyak orang peduli terhadap kekurangan RTH di Bandung,” pungkas Gibran Ajib Jabbaril.
![]() |
| Foto bersama selesai acara |
Bikers For Nature Life berharap aksi ini menjadi pemantik kolaborasi antara bikers, petani, dan masyarakat luas untuk menjaga Bandung Utara sebagai kawasan resapan air dan paru-paru kota. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
July 13, 2026
CB Blogger
Indonesia
Kelompok Muda Bikers For Nature Life Gelar Aksi Penghijauan di Punclut Bandung Utara
Aksi Penghijauan Kelompok Anak Muda "Bikers For Nature Live" di Kawasan Punclut,Bandung Utara.Minggu (12/7/2026).(Foto: Istimewa) ...
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)



















































