Saturday, May 9, 2026
![]() |
| Wamendikdasmen Atip Latipulhayat, ketika memberi keterangan pers di BBGTK Provinsi Jabar( Foto: Asep GP) |
Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tersebut ditetapkan karena kemahiran Bahasa Inggris siswa Indonesia rendah, tertinggal dari negara lain. Sedangkan Bahasa Inggris adalah alat komunikasi dunia. Dengan memiliki kemampuan Bahasa Inggris, para pelajar akan memiliki ilmu pengetahuan dan pergaulan kelas dunia.
“Ini salah satu jawaban sebab ranking kemahiran berbahasa Inggris anak didik kita masih belum menggembirakan dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan di ASEAN,” demikian dikatakan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Atip Latipulhayat, usai Peluncuran Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) di Kantor BBGTK Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (8/5/2026).
Program tersebut diawali dengan pelatihan guru SD agar mampu mengajarkan Bahasa Inggris sejak kelas 3 SD, dengan tidak hanya berfokus pada sekadar teori mata pelajaran, tetapi harus diarahkan menjadi alat komunikasi aktif bagi siswa sejak usia dini.
![]() |
| Atip Latipulhayat berharap, Guru bisa mengajarkan percakapan dasar, mendengar, membaca dan menulis sederhana dalam Bahasa Inggris, untuk kelas 3 SD (Foto: Asep GP) |
“Tidak apa-apa salah satu, dua, tiga, all beginning is difficult pada awalnya. Tapi lama-kelamaan karena sudah terbiasa, maka menjadi sesuatu yang melekat,” kata Atip.
Karena itu, pemerintah meminta para guru mulai menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran di kelas, meski dilakukan secara bertahap dan sederhana.
Program pelatihan guru Bahasa Inggris tersebut mulai dijalankan secara bertahap sejak 2026 melalui skema percontohan atau piloting. Pemerintah menargetkan seluruh SD di Indonesia siap menerapkan pelajaran wajib Bahasa Inggris pada 2029.
Saat ini, pelatihan difokuskan kepada guru kelas SD yang mayoritas tidak memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Inggris. Target pelatihan tahap awal belum mengarah pada standar kemampuan tinggi, melainkan memastikan guru mampu mengajarkan percakapan dasar, mendengar, membaca, dan menulis sederhana untuk siswa kelas 3 SD.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
“Pelatihan yang kita berikan sekarang adalah agar mereka mampu mengajar bahasa secara sederhana. Jadi, berbicara, mendengar, dan menulis Bahasa Inggris secara sederhana untuk anak-anak kelas 3 SD,” kata Atip.
Pemerintah menargetkan kemampuan Bahasa Inggris tingkat dasar siswa SD nantinya mencapai level A2 pada 2029 sesuai standar Common European Framework of Reference for Languages (CEFR).
Setelah pelatihan Bahasa Inggris untuk guru, ke depannya akan dilaksanakan juga program peningkatan kompetensi Bahasa Inggris untuk guru SMP hingga SMA/SMK. Demikian kata Wamendikdasmen, Atip Latipulhayat. (Asep GP)***
Kemendikdasmen Tahun 2027 Wajibkan Pelajaran Bahasa Inggris Mulai dari Tingkat SD
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat, ketika memberi keterangan pers di BBGTK Provinsi Jabar( Foto: Asep GP) Kebijakan Kementerian Pendidikan Da...
Thursday, May 7, 2026
Kirab Ngarak Cai Kota Cimahi menjadi bagian perhelatan budaya akbar yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kegiatan yang bertajuk Milangkala Tatar Sunda 2026 ini melibatkan komunitas budaya dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat dengan melakukan kirab budaya di 9 titik kabupaten/kota, terhitung tanggal 2 Mei di Sumedang, 3 Mei di Kawali Ciamis, 4 Mei di Tasikmalaya, 5 Mei di Garut, 6 Mei di Cianjur, 8 Mei di Kota Bogor, 9 Mei di Karawang, 10 Mei di Kota Cirebon, dan 16 Mei 2026 di Kota Bandung.
Hermana HMT, Ketua Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi sekaligus pimpinan rombongan “Kirab Ngarak Cai Kota Cimahi”, mengatakan merasa bangga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian peringatan Milangkala (Hari Jadi) Tatar Sunda 2026.
“Komunitas kami diundang langsung oleh Provinsi Jawa Barat untuk turut andil memeriahkan Milangkala Tatar Sunda 2026 dan melakukan safari budaya dalam bentuk kirab selama 5 hari berturut-turut mulai dari Kabupaten Sumedang, dilanjutkan ke Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan Cianjur,” ujar Hermana.
Menurut Hermana, Kirab Ngarak Cai Cimahi digagas dirinya tahun 2010 dan mulai digelar pada peringatan Hari Jadi Kota Cimahi tahun 2011 sebagai sebuah gagasan yang terinspirasi dari banyaknya kehilangan sumber mata air di Kota Cimahi karena tanah sebagai tempat bersemayamnya air bersih beralih fungsi menjadi permukiman.
“Di tempat kelahiran saya, Kampung Babakan Loa RW 07, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, dulu memiliki lebih dari 7 seke (sumber mata air), namun kini tinggal 1 seke, dan seke lainnya hilang karena diurug tanah serta tanahnya dijadikan perumahan elite,” ungkapnya.
Dari peristiwa itu, Hermana sebagai pelaku budaya tergugah membuat sebuah tanda peringatan agar masyarakat senantiasa mau menjaga tanahnya, sumber mata air termasuk sungai, dan pepohonan tempat mengikat air dengan melakukan kampanye pelestarian lingkungan hidup, sekaligus melestarikan budaya lokal dengan moto Jaga Lemah (tanah), Jaga Cai (air), dan Jaga Budaya dalam bentuk seni tontonan yang sarat dengan tuntunan berupa Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi.
“Pada kesempatan ini saya bersama komunitas dan pelaku budaya Kota Cimahi merasa bangga karena ‘Kirab Ngarak Cai Cimahi’ diapresiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan dilibatkan langsung menjadi peserta kirab budaya dalam memperingati Milangkala Tatar Sunda 2026,” ucapnya.
Jelas Hermana, keterlibatan Ngarak Cai Cimahi dalam kegiatan ini bukan sekadar ingin mempertontonkan beragam bentuk budaya pada masyarakat, tetapi menjadi perjalanan spiritual yang belum didapatkan sebelumnya.
“Milangkala Tatar Sunda 2026 yang baru kali pertama digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini bukan sebuah seremonial biasa, tetapi menjadi tanda kebangkitan Ki Sunda untuk kembali ‘Tanjeur di Juritan, Jaya di Buana’ (menjadi bangsa yang kuat dan unggul),” tandasnya.
Bagi Hermana dan 110 orang timnya, melakukan kirab budaya beruntun di 5 kabupaten tentu saja merupakan pengalaman yang luar biasa.
“Dalam perjalanan Kirab Ngarak Cai Cimahi, kami membawa air dari sumber mata air Kampung Ciawitali, Kota Cimahi, tempat kami berproses berkebudayaan untuk disuguhkan atau diminum Gubernur Jawa Barat dan bupati/wali kota atau pemangku kebijakan daerah lainnya,” ujarnya.
Bagi Hermana, sebagai pelaku budaya banyak hal yang didapat dari kegiatan ini. Selain mendapatkan pengalaman berkeliling ke beberapa kabupaten/kota yang secara tidak langsung telah dibantu Pemerintah Jawa Barat mempromosikan sekaligus mempublikasikan budaya lokal Kota Cimahi kepada masyarakat luas, juga menjadi perjalanan spiritual yang tidak ternilai harganya.
“Lelah, kurang tidur, diguyur hujan, dan banyak peristiwa lainnya selama 5 hari perjalanan tidak membuat kami kapok. Pengalaman ini semakin menguatkan hati saya bersama tim bahwa kami bukan semata ingin menyuguhkan tontonan, tetapi kirab ini menjadi perjalanan spiritual yang memperkaya pengalaman batin, memperkuat kecintaan pada budaya Sunda. Semakin yakin bahwa karuhun (nenek moyang) bangsa Sunda telah mewariskan nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan yang serba digital sekarang ini,” jelasnya.
Hermana juga mengajak masyarakat Jawa Barat, khususnya yang merasa urang Sunda, agar saling menguatkan dan saling mendukung dalam ikatan “silih asah, silih asih, dan silih asuh” dengan memelihara serta menerapkan kearifan budaya lokal peninggalan nenek moyang bangsa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, saat ini dan mendatang.
“Nya ku saha deui bangsa Sunda nanjeurna, ari lain ku urang Sundana sorangan mah. Hayu urang rempug jukung sauyunan ngajaga-ngariksa jeung nanjeurkeun darajat Ki Sunda (Bangsa Sunda berjaya oleh orang Sunda sendiri. Mari kita saling dukung, saling bantu, hidup rukun, harmoni dalam kebersamaan menjaga dan menguatkan marwah bangsa Sunda),” pungkas Hermana. (Asep GP)***
Sebanyak 110 Orang Pelaku Kirab Ngarak Cai Cimahi Turut Meriahkan Hari Jadi Tatar Sunda 2026
Kirab Ngarak Cai Kota Cimahi menjadi bagian perhelatan budaya akbar yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kegiatan yang bertajuk Mila...
Wednesday, May 6, 2026
Muskotika Unpad Bandung 2026: momentum perkuat soliditas alumni dan sinergi lintas profesi yang berdayaguna
Pendopo Kota Bandung, 5 Mei 2026, Musyawarah Kota Ikatan Alumni (Muskotika) Universitas Padjadjaran, Pengurus Kota Bandung tahun 2026 ini mengusung semangat rereongan ide dan energi untuk memastikan peran alumni Unpad dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Mengangkat tagline “Connect, Collaborate, Change Bandung”, diharapkan seluruh daya intelektual alumni dapat dihimpun untuk memperkuat peran strategis dalam pembangunan nasional dan daerah. Soliditas alumni dan sinergi lintas profesi yang dimiliki sedapat mungkin didayagunakan untuk mengembangkan lingkungan yang kolaboratif serta silih rojong, silih tulungan, silih asah, silih asih, dan silih asuh, di mana pun alumni Unpad berada.
Muskot ini menjadi krusial di tengah peliknya tantangan pembangunan Kota Bandung saat ini, mulai dari isu pengelolaan sampah, transportasi publik, bencana hidrometeorologi, kemacetan, hingga laju pertumbuhan ekonomi yang memerlukan solusi cerdas dan terintegrasi. Alumni Unpad harus hadir untuk membawa gagasan-gagasan konkret dalam mengoptimalkan tata kelola perkotaan yang lebih berkelanjutan agar Bandung tetap menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh warganya.
![]() |
| Dr. Dicky Wishnumulya Rustandi, S.Sos., M.M., Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung |
“Melalui acara ini, kami memanggil para alumni Unpad, yang dikenal sebagai insan abdi masyarakat dan pembina nusa bangsa, untuk bersama-sama menyalakan api masa depan dan mengambil peran strategis sebagai calon Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung untuk empat tahun ke depan dalam periode masa bakti 2026–2030. Mari kita berhimpun dalam kontestasi ide, gagasan, perhatian, dan energi secara demokratis dan kekeluargaan sebagai sesama insan Padjadjaran,” demikian dikatakan Ketua IKA Unpad Pengurus Kota Bandung Dr. Dicky Wishnumulya Rustandi, S.Sos., M.M., pada acara launching musyawarah kota dan pemilihan ketua Ikatan Alumni Unpad Pengurus Kota Bandung di Pendopo Bandung, Jl. Dalem Kaum No. 56, Kota Bandung, Selasa (5/5/2026).
Dicky juga mengatakan forum ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi sebuah ruang untuk menyatukan potensi alumni lintas profesi. Karena partisipasi alumni menjadi kunci dalam menentukan arah organisasi ke depan. Untuk itulah ia berharap alumni Unpad di Kota Bandung yang berjumlah sekitar 2.000–3.000 orang terlibat aktif dalam proses pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini.
![]() |
| MQ.Iswara Dewan Penasehat Ika UNPAD |
“Alumni Unpad yang ada di Bandung, punya KTP Kota Bandung, silakan turun untuk memilih ketua dan pengurusnya,” ajaknya.
Ditanya tentang seberapa kompak alumni Unpad selama ini, “Kita alumni Unpad banyak sekali di instansi, baik swasta maupun di kepemerintahan, tapi kekompakan dan persatuannya dirasa kurang. Rasa memilikinya kurang, tidak seperti ikatan alumni di perguruan tinggi lain. Tapi semoga dengan adanya wadah seperti ini, kita bisa memperkuat persatuan Unpad. U-N-P-A-D!” pungkasnya.
Sementara itu, MQ Iswara yang juga hadir di Pendopo mengatakan sebagai Dewan Penasihat IKA Unpad menyambut baik kegiatan IKA Unpad Pengkot (pengurus kota) Bandung di bawah kepemimpinan Kang Dicky yang melakukan konsolidasi organisasi. Karena menurut Sekjen IKA Unpad 2020–2024, konsolidasi organisasi itu suatu keharusan dalam sebuah organisasi, yaitu memilih pengurus yang baru. Ia juga mengapresiasi kepengurusan Kang Dicky periode yang lalu yang sudah aktif membantu IKA Unpad Pusat maupun berperan aktif dalam program-program pemerintah, baik itu Pemprov Jabar maupun Pemkot Bandung.
“Kami berharap sebagai organisasi alumni, para alumni dapat menjaga silaturahmi. Silaturahmi itu dapat terjaga dengan baik kalau database alumninya dimiliki dengan baik dan di-update, dimutakhirkan setiap tahun. Sesama alumni juga diharapkan bisa saling support. Itu bisa terjadi kalau komunikasi terjalin dengan baik. Lainnya, kami berharap kami juga bisa membantu almamater kita. Seperti hari ini Unpad kalau melihat QS World University Rankings itu masih ranking 500-an, sedangkan targetnya ada di ke-300, dan itu tidak mudah. Ada beberapa aspek penilaian, dari sisi penelitian, lulusan, berapa lama mendapatkan pekerjaan, berapa gaji yang diterima, dan seterusnya. Itu yang harus dibantu, dan alumni bisa berperan sangat signifikan di situ,” paparnya.
Adapun tahapan Musyawarah Kota dan Pemilihan Ketua Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran Pengurus Kota Bandung tahun 2026 adalah sebagai berikut:
Waktu tahapan 5 Mei 2026: launching musyawarah kota dan pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung tahun 2026. 5–25 Mei 2026: penjaringan calon. 19–25 Mei 2026: verifikasi berkas administrasi. 25 Mei 2026: penetapan calon ketua dan penentuan nomor urut. 25 Mei–20 Juni 2026: masa kampanye. 13 Juni 2026: dialog publik calon ketua. 20 Juni 2026: musyawarah kota dan pemilihan ketua.
20 Juni 2026: penetapan Ketua Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran Pengurus Kota Bandung terpilih. 21 Juni–10 Juli 2026: penyusunan pengurus. 11 Juli 2026: pelantikan dan pengukuhan pengurus.
Sedangkan persyaratan calon Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung antara lain;
- Untuk dapat menggunakan hak memilih dan dipilih dalam pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung, setiap alumni harus terdaftar sebagai alumni di Aplikasi Kita Unpad.
- Calon ketua harus pernah kuliah dan/lulus Diploma, S1, S2, dan S3 di Unpad, yang dibuktikan dengan ijazah atau keterangan lainnya yang menyatakan pernah kuliah di Unpad.
- Pencalonan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung minimal mendapat dukungan/rekomendasi dari 3 (tiga) pengurus fakultas dan dibuktikan dengan formulir dukungan.
- Mengisi dan melengkapi formulir pendaftaran.
- Pengembalian formulir pendaftaran harus dilakukan secara langsung oleh bakal calon kepada panitia di Sekretariat Panitia, di Bale Alumni Unpad Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, dan tidak dapat diwakilkan.
- Pengambilan dan pengembalian formulir dilakukan dengan berkoordinasi dengan narahubung panitia Sdri. Nadya (0897-4500-523). (Asep GP)***
Launching musyawarah kota dan pemilihan ketua Ikatan Alumni Unpad Pengurus Kota Bandung
Muskotika Unpad Bandung 2026: momentum perkuat soliditas alumni dan sinergi lintas profesi yang berdayaguna Pendopo Kota Bandung, 5 Mei 2026...
Saturday, May 2, 2026
![]() |
| Muhammad Guntur, Urang Bandung harus terlayani kebutuhan airnya secara merata dan berkualitas (Foto :Asep GP) |
Air adalah kebutuhan pokok bagi semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, dan tumbuhan. Tanpa air, makhluk hidup tidak akan bertahan hidup. Kebutuhan manusia akan air tentu saja berbeda dengan makhluk lainnya, manusia membutuhkan air bersih untuk kehidupan sehari-hari, kesehatan, dan sanitasi, terutama untuk yang hidup di perkotaan yang jauh dari sungai bersih, gunung, dan perbukitan yang menyimpan sumber air.
Untuk mengelola air bersih maka pemerintah mendirikan perusahaan air minum di tingkat kota/kabupaten (berbentuk Perumda Air Minum, PDAM), untuk menyediakan layanan air bersih yang layak, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Contohnya di Kota Bandung adalah Perumda Tirtawening.
Dan di tahun 2026 ini, Perumda Tirtawening ini mengadakan seleksi Direktur Utama, menyusul habisnya masa jabatan Dirut utama sebelumnya pada Juli 2025. Tercatat ada 96 kandidat yang mendaftar untuk memperebutkan kursi Direktur Utama Perumda Tirta Wening.
Di antara para kandidat yang lolos tes penyaringan hingga 5 besar adalah Muhammad Guntur Nugroho Sasongko. Kebetulan wartawan belum lama ini berkesempatan ngobrol, ngawangkong di Kantor EGS, Jalan KH. Ahmad Dahlan No. 43 AB (Jalan Banteng), Kota Bandung.
Ya, lelaki yang akrab disapa Mas Guntur (H. Mas Guntur NuSa) ini memang menjabat Direktur PT EGS Heart Facility Service, perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa cleaning service, satpam, driver (supir), staf ahli, purnabakti. Lebih dari 2.000 karyawannya kini tersebar mulai dari Jawa Barat, Jakarta, Banten hingga Bali, bekerja di hotel-hotel, rumah sakit, pabrik, kantor swasta dan pemerintahan termasuk di DPRD provinsi.
Direktur yang juga mantan cleaning service di Jakarta ini pun sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Ia bahkan rutin memberangkatkan karyawannya yang berprestasi pergi umrah. Termasuk tahun ini mengumrahkan 11 karyawannya.
Ayah Saya Satpam PDAM Kota Bandung
Ya, benar, ayah Guntur adalah seorang satpam PDAM (Kepala Satpam, tahun 1995–2005), dan semasa itu alumni SMAN 5 Bandung ini tengah kuliah di Unpad. Jadi biaya kuliah dan kebutuhan lainnya dibiayai dari gaji ayahnya yang bekerja jadi satpam PDAM. Merasa begitu, maka ketika dibuka pendaftaran calon Dirut PDAM, dia langsung ikut, dengan niat mengabdi dan balas budi.
Keduanya, Mas Guntur juga ingin ngabeberes, terutama dengan banyaknya rumor dan isu tentang pelayanan yang belum merata, “Padahal, yang namanya air itu adalah hajat hidup orang banyak dan kebutuhan primer, sifatnya utama. Kalau pengelolaannya kurang baik, maka dampaknya akan negatif kepada masyarakat,” tandasnya.
“Dengan 2,6 juta penduduk Bandung saat ini, sambungan langganan itu baru 170–180 ribu, berarti kurang dari 14%. Padahal usia PDAM sendiri 51 tahun (peninggalan Belanda), tapi baru bisa mencakup melayani hanya 170–180 ribu sambungan, berarti masih banyak yang belum dibenahi. Tentunya perlu penataan infrastruktur, revitalisasi dan rehabilitasi infrastruktur,” sambungnya.
Terus belum lagi tata kelola yang profesional dan akuntabel yang terbuka dan transparan, profesionalitas. Mestinya ISO 9001:2015 tentang sistem manajemen mutu bisa konsisten diterapkan.
Belum lagi ISO Manajemen Anti Penyuapan 37001, “Nah itu kalau diterapkan mestinya PDAM ini bisa jauh lebih baik lagi melayani,” paparnya.
Selain itu kata Mas Guntur, secara sosial ekonomi kemasyarakatan, bisa jadi penyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang besar bagi kesejahteraan masyarakat Bandung.
Jadi menurutnya, yang perlu ditata, pertama-tama transparansi, akuntabilitas, digitalisasi, bagaimana masyarakat Bandung bisa terlayani dengan baik, segala keluhan cepat tertangani, 24 jam air mengalir, dan yang terpenting juga kualitas airnya sesuai standar WHO dan standar internasional. Juga non-revenue water (air bersih yang sudah diproduksi tidak menghasilkan pendapatan bagi perusahaan air/PDAM) bisa diminimalisir. Sehingga bisa menjadi standar nasional menjadi kurang dari 20%, sekarang masih besar NRW-nya.
Kualitas air idealnya harus standar WHO, bisa drinkable tap water (air keran yang bisa langsung diminum), kalau standarnya sudah benar tidak perlu dimasak. Selain itu kata Mas Guntur, kita juga harus memikirkan tentang pembangunan berkelanjutan, “Ngamumule cai teh berarti, sumber air bakunya, wilayahnya harus bisa ditata. Berarti sumber mata airnya, resapannya, air sungainya harus terintegrasi. Dengan alamnya harus terintegrasi, maka air ini akan menjadi sumber berkah kalau dikelola secara benar. Tapi kalau dikelola kurang benar akan jadi musibah, besok lusa banjir. Jadi perlu penanganan secara holistik dan integrasi. Bukan hanya PDAM saja, tapi warga Bandung termasuk dinas-dinas terkait juga harus sama-sama bisa menjaga kelestarian alam sebagai sumber daya air,” kata Mas Guntur.
Tentu saja dalam pemilihan Dirut PDAM Kota Bandung ini Mas Guntur berharap objektif, dan baginya siapa pun yang terpilih adalah yang terbaik bagi PDAM. Khususnya yang punya visi dan misi melayani masyarakat, kesejahteraan masyarakat Bandung. Karena yang namanya air ini bisa jadi hal primer yang bakal lebih mahal dari emas.
Apalagi kalau mengingat dampak geopolitik perang Iran–Israel, air ini sangat dibutuhkan sekali, dan kalau tidak ditata dari sekarang, visi 2030 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Sustainability Development Goals itu tidak akan tercapai. Sedangkan targetnya 2030 itu masyarakat Bandung terlayani dengan air secara merata dan berkualitas. Termasuk sanitasi dan limbahnya.
Dan, “Kalau nanti saya terpilih menjadi Direktur Utama PDAM Kota Bandung tentunya menjadi amanat yang bisa menjadi jalan keberkahan buat seluruh masyarakat, utamanya masyarakat Bandung,” pungkasnya.
Sementara tulisan ini diturunkan, para pelanggan air PDAM Kota Bandung yang ada di Baladewa, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, sudah lebih dari seminggu krisis air, air PDAM tidak mengalir. Kata beberapa warga setelah mereka lapor ke pengaduan, konon katanya ada sumbatan pada pipa di daerah Garunggang dan belum tertangani secara optimal. (Asep GP)***
Muhammad Guntur Nugroho : Anak Satpam PDAM Ingin Balas Budi, Ikut Seleksi Calon Dirut PDAM Kota Bandung
Muhammad Guntur, Urang Bandung harus terlayani kebutuhan airnya secara merata dan berkualitas (Foto :Asep GP) Air adalah kebutuhan pokok bag...
Thursday, April 30, 2026
![]() |
| Suasana Artist Talk Supriatna kedua dari kanan |
Pada hari Kamis (16/4/2026), Asosiasi Pelukis Nasional (ASPEN) kembali menggelar perhelatan seni dan budaya. Kali ini Komunitas ASPEN menggelar perayaan seni dan budaya melalui Pameran Lukisan bertema “Habis Gelap Terbitlah Terang”, di Galeri Panyawangan, Bandung Barat.
Pameran menampilkan karya-karya seniman perwakilan ASPEN dari Jakarta dan Bandung yang merefleksikan semangat kolaborasi dan kebersamaan, keberanian, serta peran penjaga seni budaya dalam membangun bangsa. Setiap goresan adalah cerita tentang cahaya yang lahir dari kegelapan, tentang harapan yang tumbuh dari perjuangan. Kegiatan juga diramaikan dengan Contemporary Artistic Movement – Mustakaweni Sundanese Music Healing – Ringga & De’ Empet.
Menarik, di antara lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang relevan dengan tema pameran, yaitu lukisan Supriatna “Menanti Terang” #1 (Media: akrilik di atas kanvas, ukuran 120 x 120 cm – 2026) dan “Menanti Terang” #2 (akrilik di atas kanvas, ukuran 120 x 120 cm – 2026). Lukisan yang berwujud seperti Pahlawan Nasional, Tokoh Emansipasi Wanita, R.A. Kartini ini menurut pelukisnya memang konsepnya merupakan simbolisasi “Kartini” yang masih menunggu kaumnya benar-benar maju dalam kesetaraan, kesempatan, serta keadilan.
![]() |
| Lukisan Supriatna, "Menanti Terang" #1. Lukisan 2026, media Akrilik di atas Kanvas |
Sedangkan Kurator Eddy Hermanto melihat karya lukis Supriatna ini nampak seperti menangkap goresan kuas pendek dan halus: jejak sapuan kuas tampak ngajirim (jelas), spontan, dan berirama meski terasa senyap. “Fokus pada kesan warna dan cahaya menciptakan interpretasi emosional yang lebih dalam daripada sekadar akurasi detail, yang sering kali mirip dengan menangkap momen sekilas apakah itu tentang sosok (figur), tentang gesture andalemik yang dibalut dengan interaksi cahaya yang berkelindan dengan objek secara akurat dan objektif… mantap!” katanya.
![]() |
| Lukisan Supriatna, "Menanti Terang" #2. Lukisan 2026, media Akrilik di atas Kanvas |
Selain itu, Supriatna juga berkesempatan menjadi pembicara dalam “Artis Talk ASPEN” pada Sabtu (25/4/2026), di Silokarupaka Indoor Teater Bale Seni Barli bersama Dr. Warli Haryana, M.Pd. (Akademisi dan Praktisi Seni), dengan penanggap Dr. Sarnadi Adam, M.Sn. (Akademisi dan Maestro Pelukis Betawi), serta moderator Kembang Sepatu (Akademisi dan Praktisi).
Sebagaimana diketahui, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn. adalah seorang seniman sekaligus akademisi. Alumni Seni Murni FSRD ITB (S1–S2) ini meneruskan menimba Ilmu Komunikasi Seni di S3 Pascasarjana Unpad dan kini menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama di ISBI Bandung. Namun kegemarannya melukis tak pernah padam. Tak heran karyanya hingga kini sudah mencapai seribuan. Ada yang dikoleksi dan ada juga beberapa lukisannya yang tidak tahu rimbanya, tidak didokumentasikan. Karyanya sudah dikoleksi oleh kolektor di beberapa negara seperti China, Thailand, Jepang, dan sisanya walau orientasinya bukan untuk komersial, lukisannya dibeli teman-temannya dan perusahaan di dalam negeri. “Saya melukis hanya untuk mengekspresikan kegelisahan jiwa saja,” pungkasnya. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
April 30, 2026
CB Blogger
IndonesiaSebagaimana diketahui, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn. adalah seorang seniman sekaligus akademisi. Alumni Seni Murni FSRD ITB (S1–S2) ini meneruskan menimba Ilmu Komunikasi Seni di S3 Pascasarjana Unpad dan kini menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama di ISBI Bandung. Namun kegemarannya melukis tak pernah padam. Tak heran karyanya hingga kini sudah mencapai seribuan. Ada yang dikoleksi dan ada juga beberapa lukisannya yang tidak tahu rimbanya, tidak didokumentasikan. Karyanya sudah dikoleksi oleh kolektor di beberapa negara seperti China, Thailand, Jepang, dan sisanya walau orientasinya bukan untuk komersial, lukisannya dibeli teman-temannya dan perusahaan di dalam negeri. “Saya melukis hanya untuk mengekspresikan kegelisahan jiwa saja,” pungkasnya. (Asep GP)***
Dr. Supriatna di Pameran Lukisan Komunitas ASPEN “Habis Gelap Terbitlah Terang” 2026
Suasana Artist Talk Supriatna kedua dari kanan Pada hari Kamis (16/4/2026), Asosiasi Pelukis Nasional (ASPEN) kembali menggelar perhelatan s...
Monday, April 27, 2026
![]() |
| Nico Valerie, Promotor MSL Regional Bandung (Foto: Asep GP) |
BANDUNG – Mini soccer mengalami akselerasi pertumbuhan signifikan dalam industri olahraga nasional. Sebagai olahraga yang relatif baru, mini soccer lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan karena sifatnya yang lebih aman dan mengedepankan aspek rekreasional. Karakteristik tersebut menjadikan mini soccer sebagai salah satu sarana dalam memperkuat posisi Kota Bandung sebagai destinasi sport tourism saat ini.
Kota Bandung memiliki keunggulan geografis berupa udara sejuk dan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat. Bandung memiliki kapasitas untuk menyelenggarakan event mini soccer skala nasional maupun internasional. Integrasi fasilitas olahraga yang mumpuni dengan kondisi alam dan iklim kota menciptakan daya tarik bagi wisatawan dalam berolahraga, yang berdampak langsung pada UMKM, penguatan ekonomi lokal, dan tentunya bagi kesehatan masyarakat.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Untuk itulah Minisoccer Super League (MSL), bekerja sama dengan Indonesia Football 7 Federation dan Inaspro LPDUK Kemenpora RI, mengadakan Indonesia Corporate Championship Cup 2026 Regional Series Bandung. Kegiatan resmi digelar hari Minggu (26/4/2026) di Sport Jabar Arcamanik, Jl. Pacuan Kuda No. 140, Sukamiskin, Arcamanik, Kota Bandung.
Kejuaraan series ini diikuti PDAM Tirtawening, PDAM Tirta Raharja, Telkom Group, Wika Realty, Enviro, dan CV Mekar Sari Mandiri. Pemenang dari series ini akan maju ke Putaran Nasional.
Indonesia Football 7 Federation akan berpartisipasi di kualifikasi menuju Piala Dunia Football 7 yang akan digelar pada tahun 2026. Keikutsertaan ini akan menjadi debut Indonesia di level elite Football 7 dunia. Dengan demikian, event mini soccer di daerah akan berperan penting dalam pengembangan mini soccer di tingkat nasional maupun internasional.
Kejuaraan series ini diikuti PDAM Tirtawening, PDAM Tirta Raharja, Telkom Group, Wika Realty, Enviro, dan CV Mekar Sari Mandiri. Pemenang dari series ini akan maju ke Putaran Nasional.
Indonesia Football 7 Federation akan berpartisipasi di kualifikasi menuju Piala Dunia Football 7 yang akan digelar pada tahun 2026. Keikutsertaan ini akan menjadi debut Indonesia di level elite Football 7 dunia. Dengan demikian, event mini soccer di daerah akan berperan penting dalam pengembangan mini soccer di tingkat nasional maupun internasional.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Promotor MSL Regional Bandung, Nico Valerie, menegaskan bahwa kejuaraan ini merupakan bagian dari rangkaian pengembangan ekosistem mini soccer di Jawa Barat, “Mini soccer adalah motor penggerak ekonomi yang akan meningkatkan angka kunjungan wisatawan, memperpanjang durasi tinggal, dan memperkuat citra Bandung sebagai kota yang dinamis, sehat, dan kompetitif di sektor pariwisata berbasis olahraga,” demikian menurut Nico. Program ini akan dilanjutkan dengan penyelenggaraan turnamen kelompok umur melalui kategori U-11.
Nico juga mengatakan, selain kategori prestasi dan korporasi, fokus pengembangan akan diarahkan pada tingkat kewilayahan. Direncanakan sebuah turnamen mini soccer yang melibatkan perwakilan tim dari 151 kelurahan di seluruh Kota Bandung guna memastikan bahwa olahraga ini semakin dikenal di tingkat akar rumput.
Selain itu, kata Nico, kegiatan ini tujuannya sangat baik, merangsang perusahaan-perusahaan agar bisa melibatkan lebih banyak karyawannya aktif berolahraga, main bola, dan ke depannya menjadi lapangan pekerjaan bagi pensiunan pemain bola profesional.
Nico juga mengatakan, selain kategori prestasi dan korporasi, fokus pengembangan akan diarahkan pada tingkat kewilayahan. Direncanakan sebuah turnamen mini soccer yang melibatkan perwakilan tim dari 151 kelurahan di seluruh Kota Bandung guna memastikan bahwa olahraga ini semakin dikenal di tingkat akar rumput.
Selain itu, kata Nico, kegiatan ini tujuannya sangat baik, merangsang perusahaan-perusahaan agar bisa melibatkan lebih banyak karyawannya aktif berolahraga, main bola, dan ke depannya menjadi lapangan pekerjaan bagi pensiunan pemain bola profesional.
![]() |
| Inilah Sang Juara Series 1, Tim PDAM Tirtaraharja (Foto: Istimewa) |
Nico juga menyampaikan, ke depannya turnamen ini tidak hanya menyasar perusahaan (corporate). Sesuai tujuan organisasi, ada pengembangan usia dini antar-SMA, komunitas yang mungkin ujungnya nanti jadi klub, juga ada women sebagai apresiasi kepada perempuan yang berprestasi. Selain itu ada antar-kewilayahan, antar-instansi, “Yang pasti ini tidak cuma profesional, tapi buat partisipasi semua orang,” tandasnya.
Semua itu, kata Nico, ke depannya tentu akan didukung dengan sarana dan prasarana yang lebih baik. Pihaknya akan berusaha menyediakan lapangan yang representatif sesuai standar Football Seven Indonesia, mulai dari lebar lapangan, ketebalan rumput, dan lain-lain.
“Ini baru awal, kita akan banyak penyesuaian, masih banyak toleransi dari standar. Tapi insya Allah dengan jalannya waktu 2–3 tahun ke depan, dapat venue yang terbaik,” pungkasnya.
Pada partai final series 1 ini Tim PDAM Tirta Raharja (PDAM Kabupaten Bandung) menjadi juara setelah berhasil mengalahkan Telkom Group dengan skor 1–0. Selanjutnya kedua tim ini memastikan diri melaju ke final yang akan berlangsung di Jakarta. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
April 27, 2026
CB Blogger
IndonesiaSemua itu, kata Nico, ke depannya tentu akan didukung dengan sarana dan prasarana yang lebih baik. Pihaknya akan berusaha menyediakan lapangan yang representatif sesuai standar Football Seven Indonesia, mulai dari lebar lapangan, ketebalan rumput, dan lain-lain.
“Ini baru awal, kita akan banyak penyesuaian, masih banyak toleransi dari standar. Tapi insya Allah dengan jalannya waktu 2–3 tahun ke depan, dapat venue yang terbaik,” pungkasnya.
Pada partai final series 1 ini Tim PDAM Tirta Raharja (PDAM Kabupaten Bandung) menjadi juara setelah berhasil mengalahkan Telkom Group dengan skor 1–0. Selanjutnya kedua tim ini memastikan diri melaju ke final yang akan berlangsung di Jakarta. (Asep GP)***
Indonesia Corporate Championship Cup 2026 Rangsang Tourism Kota Bandung
Nico Valerie, Promotor MSL Regional Bandung (Foto: Asep GP) BANDUNG – Mini soccer mengalami akselerasi pertumbuhan signifikan dalam industri...
Sunday, April 26, 2026
![]() |
| Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin disambut hangat Direktur LPP Ariyanti, Ishviastuti di kampus Ariyanti, Bandung (Foto: Asep GP) |
Ya, memang pada Selasa (21/4/2026), Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen RI Tatang Muttaqin, S.Sos., M.Ed., Ph.D., di antaranya mengunjungi Kampus LPP Ariyanti di Jl. Hos Cokroaminoto (Pasirkaliki) No. 127–131 Kota Bandung. Pak Dirjen bersama Direktur Kursus dan Pelatihan, Dr. Yaya Sutarya, S.Pd., M.Pd., beserta jajarannya, melihat langsung bagaimana keberlangsungan pembelajaran di LPP Ariyanti, fasilitas sarana-prasarana yang digunakan, dan bagaimana LPP Ariyanti mengolah lulusannya untuk cepat bekerja.
![]() |
| Dari Kiri: Direktur LPP Ariyanti Ishviastuti,Dirjen Tatang Muttaqin, dan Direktur Kursus & Pelatihan Yaya Sutarya ketika meninjau kegiatan kampus (Dok. Humas Ariyanti) |
“Kami sangat senang sekali dan berbangga hati karena Bapak Dirjen berkenan hadir di kampus kami, sehingga kami merasa termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Kemudian perhatian dari para pejabat yang hadir ini membuat kami merasa diperhatikan. Kami merasa dianggap penting bagi pengembangan Sumber Daya Manusia di Indonesia,” demikian dikatakan Direktur LPP Ariyanti, Ishviastuti, S.E.
Namun semua itu tidak membuat Ariyanti berpuas diri, apalagi di tengah persaingan teknologi yang semakin maju. Direktur dan jajarannya secara periodik terus berkoordinasi mengembangkan segala sarana dan prasarana, mengejar segala kekurangan. Ishvi menambahkan bahwa di tengah teknologi yang semakin maju, pihaknya harus mengejar kekurangan yang ada saat ini agar bisa menghasilkan lulusan yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
Namun semua itu tidak membuat Ariyanti berpuas diri, apalagi di tengah persaingan teknologi yang semakin maju. Direktur dan jajarannya secara periodik terus berkoordinasi mengembangkan segala sarana dan prasarana, mengejar segala kekurangan. Ishvi menambahkan bahwa di tengah teknologi yang semakin maju, pihaknya harus mengejar kekurangan yang ada saat ini agar bisa menghasilkan lulusan yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
![]() |
| Berkeliling kampus (Dok.Humas Ariyanti) |
Ishvi juga mengatakan, para lulusan LPP Ariyanti sangat mudah mendapatkan pekerjaan, baik yang linier dengan keterampilan yang didapat dari kampus maupun sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
“Dalam dunia kerja idealnya memang harus linier, tetapi kalau mereka tidak bisa bersaing secara linier dari ilmu yang mereka punya, mereka harus bisa bernegosiasi dengan diri sendiri. Semisal Tata Boga itu tidak harus jadi chef saja, tetapi bisa juga menjadi barista,” demikian kata Direktur LPP Ariyanti.
Program dan Alumni LPP Ariyanti
LPP Ariyanti selama ini menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta kemandirian peserta didik. Program tersebut meliputi Pendidikan dan Pelatihan Program Satu Tahun Siap Kerja dengan jurusan Administrasi Perkantoran, Komputer Akuntansi, Perhotelan, Tata Boga, serta Tours and Travel. Selain itu, tersedia pula Program Kewanitaan yang mencakup Tata Kecantikan Rambut (jenjang 2, 3, dan 4), Tata Kecantikan Kulit (jenjang 2, 3, dan 4), Tata Rias Pengantin, serta Tata Busana tingkat Basic dan Advance.
“Dalam dunia kerja idealnya memang harus linier, tetapi kalau mereka tidak bisa bersaing secara linier dari ilmu yang mereka punya, mereka harus bisa bernegosiasi dengan diri sendiri. Semisal Tata Boga itu tidak harus jadi chef saja, tetapi bisa juga menjadi barista,” demikian kata Direktur LPP Ariyanti.
Program dan Alumni LPP Ariyanti
LPP Ariyanti selama ini menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta kemandirian peserta didik. Program tersebut meliputi Pendidikan dan Pelatihan Program Satu Tahun Siap Kerja dengan jurusan Administrasi Perkantoran, Komputer Akuntansi, Perhotelan, Tata Boga, serta Tours and Travel. Selain itu, tersedia pula Program Kewanitaan yang mencakup Tata Kecantikan Rambut (jenjang 2, 3, dan 4), Tata Kecantikan Kulit (jenjang 2, 3, dan 4), Tata Rias Pengantin, serta Tata Busana tingkat Basic dan Advance.
LPP Ariyanti juga mengembangkan program pelatihan berbasis kluster kompetensi seperti Food and Beverage Service, Baker, Cookery, dan Patisserie, disertai Program Pelatihan Produktivitas Tenaga Kerja, Program Pelatihan Kewirausahaan, serta Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat. Untuk menjawab kebutuhan dunia industri dan organisasi, diselenggarakan pula pelatihan in-house training yang meliputi Service Excellence, Leadership, Pengembangan Kepribadian, Etika dan Citra Diri Positif, MC Protokoler, Public Speaking, Komunikasi, serta Grooming, termasuk program keterampilan intensif dan privat yang berfokus pada penguatan hard skills dan soft skills.
Kualitas alumni Ariyanti tak perlu diragukan lagi, dengan jumlah lulusan LPP Ariyanti yang lebih dari 95.000 orang, tersebar di berbagai perusahaan besar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Mereka diterima di dunia kerja di antaranya sebagai Sekretaris Direksi, General Manager, Executive Chef, Hotel Manager, Cinema Manager, Senior Airport Service Agent, Pastry Coordinator, Personalia, dan masih banyak posisi lainnya.
Kualitas alumni Ariyanti tak perlu diragukan lagi, dengan jumlah lulusan LPP Ariyanti yang lebih dari 95.000 orang, tersebar di berbagai perusahaan besar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Mereka diterima di dunia kerja di antaranya sebagai Sekretaris Direksi, General Manager, Executive Chef, Hotel Manager, Cinema Manager, Senior Airport Service Agent, Pastry Coordinator, Personalia, dan masih banyak posisi lainnya.
Dunia usaha dan industri yang menerima alumni Ariyanti antara lain PT KAI, UPI, ITB, RSHS, The Ritz Carlton Pacific Place Jakarta, Mercure Setiabudhi Bandung Hotel, The Trans Luxury Hotel Bandung, Holiday Inn Hotel Batam, Arion Swiss-Belhotel Bandung, PT Graha Layar Prima (CGV Cinemas) Bandung, Bank BRI, Bank BCA. Sedangkan yang bekerja di luar negeri, antara lain di Intercontinental Hotel Dubai UEA, International Hotel Dubai, The Monarch Hotel Dubai, Hotel Rehab Al Misk Madinah Arab Saudi, Raffles Hotel Singapura, COSL Drilling Pan Pacific – Singapore, dan kapal pesiar seperti Holland American Line (HAL), Carnival, Thomson Dream, MSC Cruises, serta masih banyak lagi di dalam dan luar negeri.
Lulusan LPP Ariyanti juga diberikan wawasan entrepreneurship. Diharapkan alumni LPP Ariyanti tidak hanya mampu bersaing mencari kerja tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan, minimal untuk diri sendiri dan lingkungannya. Ada beberapa alumni Ariyanti yang sukses berwirausaha seperti membuka salon, butik, pastry bakery, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, Pemilik Roemah Snack Mekarsari, Pemilik Narda Catering, Pemilik Klinik Kecantikan G&G Skin Care, House of Raddysa Salon, Spa, Butiq & Wedding Gallery Cimahi, Van’s Salon Wedding Gallery & Spa, Anis Salon, Charoline Salon, Uki Salon, serta masih banyak lagi salon-salon di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. (Asep GP.)***
Tatarjabar.com
April 26, 2026
CB Blogger
Indonesia
LPP Ariyanti Dinilai Pemerintah Sebagai Penyumbang SDM di Indonesia
Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin disambut hangat Direktur LPP Ariyanti, Ishviastuti di kampus Ariyanti, Ban...
Monday, April 13, 2026
Bandung, Komunitas 22 Ibu adalah Komunitas seni yang beranggotakan perempuan dari lintas institusi, juga seniman dan desainer, sekarang komunitas ini mengadakan pameran di Hotel de Paviljoen dengan mengusung tajuk “Saniskara Hawa”. Pameran dibuka untuk umum mulai tanggal 11 April - 10 Juni 2026.
Pameran yang dikuratori Rahmat Jabaril ini menghadirkan 53 perempuan perupa dari komunitas 22 Ibu. Pameran secara resmi dibuka oleh Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung. Pameran ini menampilkan beragam karya seni lukis dua dimensi dengan eksplorasi teknik seperti garis, warna, bentuk, dan tempelan, yang merepresentasikan kedalaman gagasan artistik para seniman.
“Saniskara Hawa” merupakan perpaduan makna lintas bahasa dan budaya. Kata “Saniskara” dalam bahasa Sunda berarti “segala macam”, sekaligus memiliki keterkaitan makna dalam tradisi Sanskerta. Sementara “Hawa” dimaknai sebagai perempuan, ibu, sumber kehidupan, sekaligus suasana atau udara yang menghidupkan. Gabungan keduanya merepresentasikan perempuan sebagai elemen penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Kurator Rahmat Jabaril mengatakan, Bagi seorang seniman perempuan, berkarya adalah sebuah bentuk Saniskara—sebuah proses penyucian dan pengolahan kembali ingatan, emosi, dan peran yang mereka jalani sehari-hari. Di tengah hiruk-pikuk tuntutan sosial dan domestik, seni menjadi kawah candradimuka untuk membasuh segala kegelisahan menjadi sebuah keindahan yang bermakna. Melalui tangan-tangan para perempuan ini, kita diajak untuk melihat bagaimana "hawa" atau suasana batin diolah secara beragam. Hawa sebagai Napas Kehidupan: Karya-karya yang menonjolkan keibuan, kesuburan, dan hubungan harmonis dengan alam. Hawa sebagai Keinginan: Eksplorasi tentang mimpi, ambisi, dan keberanian perempuan dalam mendobrak batas-batas tradisi. Hawa sebagai Ruang Teduh: Estetika yang menawarkan ketenangan, refleksi diri, dan pemulihan jiwa (healing) melalui warna dan tekstur.
![]() |
| Ketua panitia pameran Rina Mariana, S.Pd., S.ST., M.Ds. mendampingi Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc, mengapresiasi karya-karya yang dipamerkan. (Bandung, 10/04/2026). Foto: Istimewa. |
Dalam sambutannya Rina Mariana selaku Ketua panitia pelaksana Pameran menyampaikan dengan penuh rasa syukur, “Kami menyambut terlaksananya pameran komunitas seni bertajuk Saniskara Hawa yang menghadirkan 53 perupa dari seluruh Nusantara sebagai wujud semangat kolaborasi dan keberagaman kreativitas. Kegiatan ini bukan sekadar ruang apresiasi karya, tetapi juga menjadi ajakan bagi kita semua untuk terus mendukung, menginspirasi, dan menghidupkan ekosistem seni yang inklusif serta berdaya. Semoga semangat yang terbangun dalam pameran ini mampu menumbuhkan harapan, memperkuat kebersamaan, dan mendorong lahirnya karya-karya yang memberi makna bagi masyarakat luas,“ katanya,
Sementara itu, Ketua Komunitas 22 Ibu, Mia Kurniasih, S.Pd, S.S.T, M.M.Pd, dalam sambutannya mengatakan bahwa Pameran Saniskara Hawa meruapakan salah satu wujud kreativitas dari Komunitas 22 ibu, yaitu suatu komunitas perempuan Indonesia yang secara dinamis dan kontinyu nemberikan ruang bagi perempuan untuk mendefinisikan diri, mengeksplorasi diri, menuangkan pengalaman diri atau mengangkat isu kesehariannya dengan mengandalkan kepekaan intuisi emosional dan ketajaman intelektualnya kedalam sebuah karya seni yang orisinal dan unik.
“Ini adalah suatu bukti bahwa kreativitas itu tanpa batas, dan seniman Perempuan mempunyai pilar penting dalam memberikan arah dan warna baru bagi perkembangan seni rupa di Indonesia,“ tegasnya. (Asep GP)***
Komunitas 22 Ibu Mengusung Saniskara Hawa di Hotel de Paviljoen Bandung
Pameran diresmikan oleh Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, didampingi Kur...
Monday, April 6, 2026
Kali ini giliran Prof. Dr. Jaeni, S.Sn., M.Si., Bidang Komunikasi Pertunjukan dan Seni Teater, dan Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, S.Ag., M.Hum., Ph.D., Bidang Antropologi Seni Budaya.
Pengukuhan Guru Besar berlangsung pada Kamis, (2/4/2026) di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Kampus ISBI Bandung, Jl. Buah Batu No. 212 Kota Bandung.
Tentu saja hal itu membanggakan rektor dan civitas akademika ISBI Bandung. Karena dalam Dies Natalis (ulang tahun) yang ke-58, ISBI bisa mengukuhkan kembali guru besar (profesor).
Tahun sebelumnya, pada Dies Natalis yang ke-57 (2025), ISBI juga mengukuhkan dua guru besarnya. Jadi selama kepemimpinan Rektor Retno Dwimarwati, ISBI sudah melahirkan 5 Guru Besar. Sekarang guru besar ISBI ada 8 (dari 12 guru besar keseluruhan, hanya 2 orang telah meninggal dan dua lainnya pensiun).
Jadi untuk terus menambah guru besarnya, rektor terus berusaha mendorong semua lektor kepala agar bisa mengajukan diri, karena secara akreditasi sebetulnya banyak sekali lektor kepala yang sudah siap untuk menjadi guru besar. Tapi dengan aturan baru, harus jurnal Scopus 2, itu juga jadi berat.
Sebelumnya kata Retno, pihaknya juga menyiapkan Pa Hendi (Dr. Suhendi Afryanto, S.Kar., M.M. - Mantan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi dan Kerja Sama), Pa Indra Ridwan (Indra Ridwan, S.Sos., M.Sn., M.A., Ph.D. - Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan), juga Pa Supri (Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn. (Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat & Sistem Informasi), untuk berproses. Hingga di tahun 2027 lebih banyak lagi guru besar di ISBI Bandung.
“Saya kira dengan adanya guru besar ini, ISBI Bandung jauh lebih punya potensi untuk lebih menguatkan dirinya menjadi garda terdepan, dalam membaca bagaimana kebutuhan zaman. Karena ternyata guru besar menjadi hal yang membanggakan secara akademik, dan kita berharap guru besar memberikan manfaat dan maslahat yang luar biasa kepada masyarakat. Sesuai dengan cita-cita pengabdian kita, mencoba apa yang kita lakukan itu senantiasa berdampak bagi masyarakat. Dan saya berharap betul dengan adanya guru besar ini ISBI Bandung jauh lebih terdepan,“ kata Bu Rektor.
![]() |
| Rektor ISBI Bandung,Retno Dwimarwati, Lima Guru Besar lahir dimasa kepemimpinannya (Foto: Asep GP) |
Rektor juga mengingatkan ada banyak ilmu pengetahuan yang bisa digali dari kearifan lokal dan pengetahuan lokal Indonesia. Dia berharap potensi-potensi ini harus jadi pengetahuan (knowledge) baru yang kemudian bisa diterima masyarakat bahwa pengetahuan nenek moyang kita zaman dulu itu jauh luar biasa (adiluhung), dan itu harus mulai dikenalkan kepada masyarakat, terutama ke generasi mudanya secara lebih luas.
Jadi Guru Besar itu memang cita-cita semua dosen. Tapi menempuhnya tidak semudah apa yang dibayangkan. Demikian dikatakan Prof. Jaeni pada wartawan usai acara pengukuhannya.
“Riset saya itu sudah 20 tahun tentang bagaimana mengomunikasikan seni. Jadi seni itu dikomunikasikan, yang kemudian jadi fenomenal itu saya mengomunikasikan seni itu untuk membentuk, mewujudkan wisata alam berbasis seni pertunjukan. Alhamdulillah itu sudah dipakai oleh masyarakat, bisa memberdayakan masyarakat. Jadi yang terpenting bagi saya, riset itu hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,“ tegasnya.
Jaeni mencontohkan daerah Batu Lawang-Cupang, perbatasan Majalengka-Cirebon tempat riset sekaligus hasil kinerjanya dalam membangun wisata alam yang sudah berkembang dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga kini. Daerah terpencil di atas gunung dan masyarakatnya terisolasi hutan pinus itu setelah dia rombak sekarang jadi tempat wisata yang bisa menghidupi masyarakat setempat secara ekonomi.
Hingga kalau Jaeni datang ke sana masyarakat ramai-ramai mengelu-elukannya. Disambut bagai yang mendirikan desa tersebut. Padahal Jaeni hanya memberikan ruang agar masyarakat di sana bisa hidup.
Karya-karya Prof. Jaeni juga bisa dilihat di YouTube, Gunung Kromong Performance Art, sebuah seni yang membranding satu wilayah untuk dijadikan wisata alam berbasis seni pertunjukan.
“Di sana ada perputaran ekonomi, apalagi kalau saya persiapkan festival, itu bisa menghasilkan sekitar 250 juta dalam dua malam. Karena buat saya riset itu bukan hanya kembali ke kampus tapi bagaimana kemudian masyarakat bisa menikmati keilmuan saya,“ katanya pasti.
Cuma kadang kata Jaeni, para birokrat, para pengambil kebijakan tidak jeli. Potensi besar ini harus dibangun, diurus dengan betul agar menjadi sesuatu untuk masyarakat bangsa.
“Saya berharap itu berlanjut, karena tiap minggu juga ada pertunjukan termasuk buat anak-anak, dsb. Sekarang sudah saya tinggalkan karena sudah berhasil,“ katanya gembira.
![]() |
| Prof. Jaeni, Seni itu potensi yang luar biasa untuk Indonesia (Foto: Asep GP) |
Setelah itu, Jaeni beralih membentuk wisata religi berbasis seni budaya di Desa Galagamba, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon (sudah berjalan 3 tahun). Kebetulan di Desa Galagamba ada beberapa situs dan ada upacara tiap tahun, tapi kurang menarik. Maka dia kasih sentuhan dengan kesenian, ada musiknya, ada tariannya, kemudian upacaranya dipoles, dikemas, dikembangkan lagi, di antaranya diadakan Upacara Ganti Kelambu tiap bulan pada tanggal 15 Oktober, dan itu menarik perhatian banyak orang.
“Jadi ada banyak yang bisa dikembangkan. Semoga ini bisa dimanfaatkan masyarakat. Jadi dengan ilmu-ilmu saya dari kampus, kemudian turun ke lapangan, harapan saya tidak lain ingin menyejahterakan masyarakat. Banyak seni tradisi termasuk seniman-seniman kontemporer kalau tidak ada tanggapan, ya kekurangan hidupnya. Kita harus membuat sebuah ruang-ruang kreatif agar mereka bisa terus berkreasi, dan terus dihidupi oleh pekerjaan seni mereka,“ ujar akademisi yang lebih suka hidup di desa, di tengah-tengah masyarakat ini.
Jaeni juga mengingatkan masyarakat butuh dukungan dari pemerintah. Makanya kalau ia melihat ada potensi besar di masyarakat, dia obrolkan dengan pemerintah terkait.
“Masyarakat kan butuh modal dan dorongan dari pemerintah. Kalau pemerintah punya program kalau hanya dikerjakan masyarakat sama saja kayak jualan, bisa bangkrut. Kalau saya memang harus kolaborasi dengan pemda,“ tandasnya.
![]() |
| Prof. Neneng Yanti merekonstruksi seni tradisi yang sudah mati. (Foto: Asep GP) |
Target Jaeni sekarang harus mulai membina dosen-dosen muda, sambil terus melakukan riset ke desa-desa. Itu memang sudah pekerjaannya dan harus terus menyentuh sampai pada masyarakat. Ia juga sekarang punya tugas khusus, mencerahkan bagaimana seni itu berkomunikasi. Sebab ketika orang menangkap pertunjukan seni dan dia tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman seni, yang terjadi kekacauan. Jaeni mencontohkan pada kasus-kasus kelompok band yang dipaksa, disetop, pertunjukan Panji jadi polemik, dsb. Jaeni juga menghimbau agar aparat dan para politisi belajar seni, agar seni tidak dianggap sebagai hiburan saja.
“Seni itu bukan hiburan, seni itu sekecil apa pun punya nilai. Saya sering mencontohkan ke mahasiswa saya, seni Ronggeng Monyet yang biasa digelar di jalan, walau estetikanya sangat kecil, tapi dia punya nilai ekonomi untuk menghidupi yang punya Ronggeng Monyet itu.”
“Tapi saking banyaknya seni, akhirnya jadi lupa bagaimana mengurus seni. Padahal seni itu sebuah potensi yang luar biasa untuk Indonesia. Kalau diurus menjadi satu aset yang luar biasa!“ pungkas Prof. Jaeni.
Sementara itu Prof. Neneng Yanti di hadapan para awak media mengatakan selama ini dirinya telah banyak merekonstruksi seni tradisi yang sudah punah, dihidupkan kembali. Karena kata Neneng, ketika tradisi itu hilang, nilai-nilainya pun ikut hilang.
“Nah bagaimana kita mengembalikan nilai-nilai itu dan juga bentuk-bentuk seninya, walaupun lebih ke untuk reservasi saja, maksudnya tidak untuk menjadi praktik kehidupan sehari-hari, kalau dulu seni itu kan praktik kehidupan sehari-hari, tapi ketika berubah zaman berubah jadi performance (pertunjukan) saja. Tapi paling tidak nilai-nilainya bisa tetap diwariskan kepada generasi muda,“ katanya.
Sebagai antropolog, Neneng mempelajari masyarakat dengan berbagai kompleksitasnya, khususnya masyarakat tradisional, komunitas dan kelompok seni yang terpinggirkan yang berusaha tetap bertahan. Masyarakat yang ada di persimpangan dan penuh kecemasan. Apakah harus beradaptasi dengan modernisasi atau tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi.
Dalam pidato ilmiahnya, “Meneguhkan Kembali Identitas Indonesia, Menguatkan Seni Budaya”, Neneng bercerita tatkala melakukan risetnya untuk program doktoral 10 tahun yang lalu. Dia menemukan Bi Omah (Romlah), nenek renta usia 70 tahun pembaca Syiiran satu-satunya yang masih ada di Cikeusal Tasikmalaya, yang kehilangan panggung di acara syukuran walimah pernikahan atau khitanan. Juga para penyanyi Beluk yang berusia lanjut lalu berpulang satu per satu tanpa ada penerusnya.
Di sana juga Neneng melihat kesenian Beluk dan Terebang tidak hanya kehilangan penyanyi atau pemainnya, tapi juga kehilangan ruang relevansinya, yaitu sawah.
Seni Tutunggulan tergantikan mesin giling padi (huller), seni Rengkong punah tergantikan kendaraan angkutan.
Hingga pasca reformasi, kesenian-kesenian tradisi yang kehilangan ruang sosialnya di masa Orba, kemudian menemukan kembali relevansinya di ruang-ruang pertunjukan dalam konteks yang baru, sebagai hiburan dan edukasi serta semangat pelestarian yang dibalut dengan kentalnya suasana politik kebudayaan yang berubah arah.
Pada akhirnya, sebagai akibat derasnya perubahan kebudayaan, seni tradisi pun bernegosiasi, berkompromi, dan menyesuaikan elemen-elemen artistiknya sesuai situasi zaman yang dihadapinya. Itu sebagaimana yang dilakukan para pemain calung yang menggabungkan penampilannya dengan musik dangdut jadi Calung Dangdut. Sebagai upaya dan bentuk daya tahan seni tradisi terhadap perubahan selera dan negosiasi pasar di tengah kencangnya laju industrialisasi. Demikian kata Prof. Neneng Yanti. (Asep GP)***
Mantap! Guru Besar ISBI Terus Bertambah
Kali ini giliran Prof. Dr. Jaeni, S.Sn., M.Si., Bidang Komunikasi Pertunjukan dan Seni Teater, dan Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, S.Ag...
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)



























