Friday, June 26, 2026
![]() |
Zona Penentuan Satuan Jarak 500 Meter dari Lokasi Sekolah di DKI Jakarta (Jakut, Jaktim, dan Jakpus). (2026) |
Iklan Rokok Kepung Sekolah di Jakarta menjadi sorotan setelah terungkap bahwa hanya beberapa hari pasca DKI Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-499, ibu kota justru menghadapi fakta memprihatinkan terkait perlindungan hak hidup sehat anak-anaknya. Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) bersama koalisi orang muda merilis temuan spasial terbaru yang mengungkap bahwa 99 persen iklan rokok luar ruang di Jakarta dipasang di dalam radius 500 meter dari sekolah. Kondisi darurat ini secara masif mengepung jalur aktivitas harian pelajar di wilayah Matraman, Tanah Abang, dan Cilincing, sekaligus melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 serta Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2015 yang melarang total reklame rokok luar ruang di ibu kota.
Nalsali Ginting, Peneliti IYCTC, memaparkan pemetaan sebanyak 315 titik iklan rokok pada tiga kecamatan padat penduduk, yaitu Matraman, Tanah Abang, dan Cilincing. “Dari total 315 titik iklan rokok luar ruang yang ditemukan, hampir seluruhnya terletak pada warung-warung dan toko, dengan bentuk iklan mikro seperti banner, spanduk, dan stiker, yang sehari-hari dilewati oleh siswa-siswi di sekitar perumahan dan sekolah mereka. Ada sebanyak 84.551 siswa sekolah di Jakarta yang terpapar promosi rokok secara langsung setiap hari saat mereka pergi ke sekolah,” tegas Nalsali.
Menurut hasil analisisnya, paparan paling masif terjadi pada kelompok usia paling rentan, yaitu siswa SD sebanyak 29.211 anak dan siswa SMP sebanyak 24.176 anak. Kecamatan Matraman menjadi wilayah tingkat pelanggaran terpadat dengan 116 iklan (seluruhnya berada di bawah radius 500 meter dari sekolah) yang mengepung 109 sekolah, atau setara dengan kerapatan 24 iklan per km persegi. Sementara itu, di Tanah Abang ditemukan 102 iklan yang mengepung 104 sekolah, dan di Cilincing terdapat 97 iklan yang memapar hingga 288 sekolah, dengan 123 di antaranya merupakan jenjang TK dan SD.
Kondisi ini diperparah oleh isi visual iklan rokok luar ruang yang dinilai sangat agresif membidik minat kelompok remaja. “Sebanyak 61,8 persen dari total iklan secara terang-terangan memajang harga murah di bawah Rp20.000, 44,1 persen menonjolkan varian rasa buah-buahan yang manis, dan 40,2 persen menggunakan warna visual yang mencolok agar menarik perhatian anak secara instan,” tambah Nalsali. Ia menegaskan bahwa pengosongan zona radius 500 meter dari iklan rokok adalah langkah darurat yang mendesak untuk menyelamatkan anak-anak dari adiksi. Industri rokok secara cerdik menggunakan taktik visual dan penawaran harga yang sesuai dengan isi dompet pelajar demi mengikat konsumen baru.
Temuan ini diperkuat oleh hasil audit sosial dari delegasi Dewan Perwakilan Remaja DKI Jakarta, Mutiara Hasriani, yang mengungkapkan bahwa akses fisik anak-anak terhadap rokok di Jakarta juga sangat terbuka lebar karena 61,2 persen toko ritel dan kelontong di sekitar sekolah secara terang-terangan melanggar aturan zonasi penjualan rokok dekat fasilitas pendidikan. “Paparan iklan yang konstan membuat remaja memiliki risiko 1,67 kali lebih besar untuk menjadi perokok aktif. Sayangnya, pengeluaran rokok ini juga merusak ekonomi rumah tangga berpenghasilan bawah, di mana rata-rata pengeluaran rokok per kapita mencapai Rp111.546 per bulan, angka yang jauh melampaui gabungan belanja daging (Rp19.071) serta telur dan susu (Rp24.983) yang sangat dibutuhkan untuk mencegah stunting pada anak.”
Menyikapi tantangan implementasi ini, Ketua Umum IYCTC, Manik Marganamahendra, mengingatkan bahwa Jakarta sebenarnya adalah inisiator historis yang menginspirasi wilayah lain terkait KTR, dimulai dari dimasukkannya isu rokok dalam regulasi pencemaran udara daerah. “Meskipun proses perumusan Perda KTR DKI ini sangat panjang, jangan sampai hanya bersandar pada hukum tertulis, melainkan membangun sistem pengawasan yang aktif di lapangan. Kita harus memperbanyak replikasi program berbasis komunitas seperti Kampung KTR atau Kampung Bebas Asap Rokok di Jakarta. Jika SDM Satpol PP terbatas, libatkan organisasi orang muda untuk ikut mengawasi dan menindak pelanggaran iklan di tingkat kecamatan,” tambahnya.
Masalah ini mendapat perhatian serius dari pihak legislatif Jakarta. Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Francine Widjojo, mengusulkan agar larangan tidak hanya menyasar iklan, melainkan juga menyentuh penjualan produk tembakau dalam radius 500 meter dari sekolah. “Orang muda kita saat ini terlalu sering terpapar promosi rokok karena intensitas tinggi dalam bermain gawai. Penguatan larangan iklan rokok di media sosial tidak kalah penting, lengkap dengan sanksi tegas hingga Rp100 juta untuk meredam pelanggaran,” ujar Francine. Ia juga menekankan agar rokok dilarang keras dijual secara ketengan agar anak sekolah tidak mudah membelinya dengan uang saku terbatas. “Kami meminta peran Satpol PP sebagai penegak perda diperkuat secara signifikan agar operasi penertiban berjalan optimal di lapangan,” tegasnya.
Merespons berbagai desakan tersebut, Intan, Perwakilan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, menegaskan komitmen Pemprov untuk segera menyelesaikan aturan teknis demi menghentikan eksploitasi promosi produk tembakau. Pihaknya mengonfirmasi bahwa draf Peraturan Gubernur (Pergub) sebagai aturan pelaksana teknis dari Perda Nomor 7 Tahun 2025 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) saat ini sedang dalam tahap pemantapan akhir dan ditargetkan finalisasi pada minggu depan.
“Data kami mencatat 36 persen siswa SMP dan SMA di Jakarta sudah pernah mencoba merokok, dengan usia inisiasi paling muda dimulai dari umur 7 tahun. Melalui Pergub KTR ini, kami mengunci segala kemungkinan celah industri rokok dalam mempromosikan produknya, termasuk kewajiban menyimpan rokok di tempat tertutup tanpa memperlihatkan logo atau warna merek di ritel, mengenakan denda administratif sesuai tingkat pelanggaran individu, pengelola, atau badan usaha, serta melakukan pembayaran denda nontunai melalui e-wallet atau QRIS yang sistemnya sudah disiapkan oleh BPKD,” papar Intan. Ia menambahkan, karena keterbatasan personel Satpol PP di lapangan, pembentukan Satgas KTR berjenjang perlu melibatkan lintas dinas dan masyarakat, di mana aduan publik kini dapat dengan mudah dilaporkan langsung lewat aplikasi JAKI. Bersamaan dengan itu, Dinkes juga tengah memperluas poliklinik Upaya Berhenti Merokok (UBM) di puskesmas-puskesmas.
Langkah percepatan aturan di Jakarta ini mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan RI yang tengah memfasilitasi penentuan kabupaten/kota percontohan KTR nasional. PJ PPAT Direktorat P2PTM Kementerian Kesehatan, Benget Saragih, memaparkan bahwa adiksi rokok sejak usia dini berkontribusi langsung pada beban ganda penyakit kronis di Jakarta, seperti kasus ISPA di puskesmas yang mencapai 641.906 pasien dan hipertensi esensial sebanyak 282.982 pasien.
“Kita tidak bisa terus mendiamkan penyakit ini terus membebani sistem kesehatan hanya karena anak-anak kita terus-menerus dirayu oleh iklan rokok murah di sekitar sekolah. Kami mendorong Pemprov DKI Jakarta untuk segera mengesahkan Pergub KTR ini agar sejalan dengan amanat perlindungan kesehatan pada PP 28 Tahun 2024, sekaligus memantapkan komitmen Jakarta Bebas Iklan Rokok Luar Ruang menyambut momentum 500 tahun Jakarta pada 2027,” ucap Benget.
Peneliti Senior Seknas FITRA, Gurnadi Ridwan, mengingatkan bahwa pengawasan aturan ini baru akan berjalan efektif jika didukung oleh transparansi anggaran daerah. “DKI Jakarta memang bukan daerah penghasil tembakau, namun kita memiliki potensi fiskal luar biasa karena DKI menduduki peringkat keenam terbesar penerima PRD nasional, mencapai Rp900 miliar pada tahun 2025. Sesuai aturan PRD, ada porsi 5 persen untuk penegakan hukum yang jika dimaksimalkan bisa mengalokasikan anggaran operasional Rp3 hingga Rp4 miliar bagi Satpol PP untuk menertibkan iklan luar ruang, jauh lebih menjanjikan dibanding DBHCHT DKI yang relatif kecil dan sering dianggap transfer umum daerah biasa. KTR harus dipandang sebagai ekosistem anggaran yang utuh, bukan sekadar nama program (nomenklatur), terutama melihat belanja langsung KTR Jakarta yang sangat minim, yakni Rp85 juta pada 2024 dan turun menjadi Rp64 juta pada 2025. Belajar dari efektivitas denda Covid-19 dulu, denda administratif kecil sekitar Rp250 ribu yang dibayar nontunai langsung di tempat justru jauh lebih efektif mendisiplinkan publik dibanding denda besar yang kerap dibebaskan saat sidang yustisi. Sebagai calon kota global, Jakarta harus menjadi role model tanpa pemandangan orang merokok sembarangan,” pungkas Adi Gunadi.
Hasil lengkap penelitian dapat diakses melalui tautan berikut ini: https://bit.ly/RisetIYCTC-DKIJakarta.
Tentang Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC): Koalisi kaum muda dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengendalian zat adiktif berupa produk tembakau di Indonesia dengan pendekatan yang inklusif dan bermakna. Nama IYCTC mengalami penyesuaian pada tahun 2023, yang sebelumnya dikenal dengan Dewan Muda Indonesia untuk Pengendalian Tembakau [Indonesian Youth Council for Tobacco Control – IYCTC] yang telah disepakati dan terbentuk pada 20 Februari 2021, melalui musyawarah virtual yang dihadiri 50 perwakilan kaum muda sekaligus penggagas IYCTC dari 45 organisasi/komunitas dari 28 kabupaten/kota se-Indonesia.
Kontak: iyctc.id@gmail.com
Website: www.iyctc.id || Instagram dan TikTok: @iyctc.id || Twitter: @iyctc_id || YouTube: https://www.youtube.com/@iyctc8467.
Tentang Koalisi Save Our Surroundings: Koalisi Save Our Surroundings (SOS) merupakan gerakan organik yang melibatkan lebih dari 3.000 anggota dari berbagai latar belakang, yang berkomitmen pada pengendalian konsumsi rokok dan terciptanya lingkungan serta masyarakat yang lebih sehat. SOS mengusung delapan pilar fokus isu, yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, hak asasi manusia, kebijakan publik, budaya sosial baru, serta perlindungan hak anak. Melalui pendekatan kolaboratif, kreatif, dan partisipatif, Koalisi SOS berkomitmen untuk mendorong penguatan kebijakan untuk gaya hidup sehat serta membangun kesadaran publik akan pentingnya ruang hidup yang bersih dan sehat. Koalisi ini mengajak para pembuat kebijakan dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, berdaya, dan terlindungi dari dampak konsumsi rokok.
(Asep GP)*** Tatarjabar.com June 26, 2026 CB Blogger Indonesia
Iklan Rokok Kepung Sekolah di Jakarta, Pemprov DKI Kejar Finalisasi Pergub KTR
Zona Penentuan Satuan Jarak 500 Meter dari Lokasi Sekolah di DKI Jakarta (Jakut, Jaktim, dan Jakpus). (2026) Iklan Rokok Kepung Sekolah di J...
![]() |
| Panitia dan para calon Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung Periode 2026–2030. (Foto: Asep GP) |
Musyawarah Kota dan Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengurus Kota Bandung 2026–2030 akhirnya mencapai tahap penetapan calon Ketua IKA Unpad Pengurus Kota Bandung, setelah para calon ketua mengembalikan formulir pendaftaran yang terakhir ditutup pada Rabu, 24 Juni 2026, di Bale Alumni, Jl. Dipatiukur No. 35, Bandung.
Dari 6 (enam) peminat, ada 4 (empat) calon yang akhirnya mengembalikan formulir sebagai calon Ketua IKA Unpad Pengurus Kota Bandung.
![]() |
| Dicky Wishnumulya Ristandi menguatkan koneksi alumni lintas generasi berbasis kolaborasi, bukan bersekat jabatan. (Foto: Asep GP) |
Semua calon ketua yang mengembalikan formulir kemudian terverifikasi secara administratif sehingga langsung dilakukan pengundian nomor urut, dan hasilnya berdasarkan nomor urut berikut:
Tatarjabar.com
June 26, 2026
CB Blogger
Indonesia- Dicky Wishnumulya Ristandi / Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) 1994
- M. Bayu Wardiansyah / Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) 2005
- Agung Firmansyah Sumantri / Fakultas Kedokteran (FK) 2000
- Ikhsan Tanuwijaya / FISIP 2005.
![]() |
| Bayu Wardiansyah (kiri, baju putih) menyerahkan formulir pendaftaran. (Foto: Asep GP) |
Agung Firmansyah dalam visi-misinya menyampaikan, IKA Unpad Pengkot Bandung harus jadi wadah ikatan alumni yang bisa berkolaborasi dengan tiap angkatan, lintas fakultas, lintas generasi, untuk maju bersama, berkembang aktif untuk almamater dan Kota Bandung yang kita cintai.
Agung juga ingin menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung ini menjadi wadah besar untuk berkontribusi kepada Kota Bandung karena "Unpad adalah Bandung, Bandung adalah Unpad". Untuk itulah dia berharap dalam membangun sebuah kota kita harus bekerja secara keseluruhan, bekerja secara pentahelix, pendekatan kolaboratif menyatukan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas/masyarakat, dan media.
"Kita harus memunculkan ide-ide baru untuk Kota Bandung yang kita cintai dan tentunya IKA Unpad Pengkot Kota Bandung ini harus jadi corong, jadi yang terdepan untuk IKA Pengkot-Pengkot lainnya. Semoga apa yang kita harapkan, apa yang kita cita-citakan diridai Allah," ujarnya.
Agung juga ingin menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung ini menjadi wadah besar untuk berkontribusi kepada Kota Bandung karena "Unpad adalah Bandung, Bandung adalah Unpad". Untuk itulah dia berharap dalam membangun sebuah kota kita harus bekerja secara keseluruhan, bekerja secara pentahelix, pendekatan kolaboratif menyatukan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas/masyarakat, dan media.
"Kita harus memunculkan ide-ide baru untuk Kota Bandung yang kita cintai dan tentunya IKA Unpad Pengkot Kota Bandung ini harus jadi corong, jadi yang terdepan untuk IKA Pengkot-Pengkot lainnya. Semoga apa yang kita harapkan, apa yang kita cita-citakan diridai Allah," ujarnya.
![]() |
| Agung Firmansyah Sumantri: IKA Unpad menjadi wadah besar untuk berkontribusi kepada Kota Bandung. (Foto: Asep GP) |
Senada dengan hal itu, calon ketua lainnya, Bayu Wardiansyah, kepada wartawan mengatakan, akan menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung ini menjadi wadah alumni Unpad yang ada di Kota Bandung agar bisa berkolaborasi, berdaya, dan tumbuh bersama, bisa memberikan dampak untuk Kota Bandung, almamater, dan alumni sendiri.
Demikian juga dengan Dicky Wishnumulya, ia punya visi menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung sebagai gerakan yang solid, terbuka, dan berdampak nyata bagi anak muda melalui kolaborasi sederhana, dekat, dan berkelanjutan.
Misinya, menguatkan koneksi alumni lintas generasi berbasis kolaborasi, bukan bersekat jabatan. Menciptakan program nyata yang langsung dirasakan anak muda dan masyarakat. Mendorong pertumbuhan ekonomi alumni melalui digitalisasi dan UMKM.
Menjadikan IKA Unpad ruang terbuka yang hangat, santai, dan produktif, yaitu menghadirkan gerakan sosial dan lingkungan sederhana, tetapi berdampak besar.
Adapun program kerja unggulan yang pertama adalah Alumni on Class; kedua, Manis Dikurangi, gerakan hidup sehat, konsepnya kampanye hidup sehat dan kurangi gula berlebih; ketiga, Alumni Base Camp – sekretariat dan café kolaborasi alumni, konsepnya ruang nongkrong UMKM dan diskusi tanpa sekat; keempat, Alumni Market Hub, digitalisasi UMKM alumni dengan konsep guyub digital untuk ekonomi alumni; kelima, Ngopi Tanpa Sekat, yaitu alumni ngobrol rutin, konsep ngopi santai lintas angkatan; dan keenam, Alumni Green Action – gerakan lingkungan alumni, konsepnya aksi lingkungan sederhana tetapi konsisten, taglinenya "Gerak Kecil Dampak Besar – Alumni Hijau, Bumi Lebih Maju", fokusnya bersih lingkungan, kurangi sampah plastik, dan aksi sosial hijau di Kota Bandung.
Ketua SC (Steering Committee) Musyawarah Kota, Adang Muhammad Tsaury, berharap visi-misi para calon ketua ini bukan hanya lips service, tetapi bagaimana menjalankan visi-misi tersebut dengan baik.
Demikian juga dengan Dicky Wishnumulya, ia punya visi menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung sebagai gerakan yang solid, terbuka, dan berdampak nyata bagi anak muda melalui kolaborasi sederhana, dekat, dan berkelanjutan.
Misinya, menguatkan koneksi alumni lintas generasi berbasis kolaborasi, bukan bersekat jabatan. Menciptakan program nyata yang langsung dirasakan anak muda dan masyarakat. Mendorong pertumbuhan ekonomi alumni melalui digitalisasi dan UMKM.
Menjadikan IKA Unpad ruang terbuka yang hangat, santai, dan produktif, yaitu menghadirkan gerakan sosial dan lingkungan sederhana, tetapi berdampak besar.
Adapun program kerja unggulan yang pertama adalah Alumni on Class; kedua, Manis Dikurangi, gerakan hidup sehat, konsepnya kampanye hidup sehat dan kurangi gula berlebih; ketiga, Alumni Base Camp – sekretariat dan café kolaborasi alumni, konsepnya ruang nongkrong UMKM dan diskusi tanpa sekat; keempat, Alumni Market Hub, digitalisasi UMKM alumni dengan konsep guyub digital untuk ekonomi alumni; kelima, Ngopi Tanpa Sekat, yaitu alumni ngobrol rutin, konsep ngopi santai lintas angkatan; dan keenam, Alumni Green Action – gerakan lingkungan alumni, konsepnya aksi lingkungan sederhana tetapi konsisten, taglinenya "Gerak Kecil Dampak Besar – Alumni Hijau, Bumi Lebih Maju", fokusnya bersih lingkungan, kurangi sampah plastik, dan aksi sosial hijau di Kota Bandung.
Ketua SC (Steering Committee) Musyawarah Kota, Adang Muhammad Tsaury, berharap visi-misi para calon ketua ini bukan hanya lips service, tetapi bagaimana menjalankan visi-misi tersebut dengan baik.
![]() |
| Sekjen IKA Unpad Pusat, Yhodisman Soratha: Harus ramai, tetapi tetap guyub. (Foto: Asep GP) |
Adang juga berharap sama, IKA Unpad Pengkot Bandung ada sinergitas dengan Pemkot Bandung. Sebab, kata dia, karena Unpad adalah Bandung dan Bandung adalah Unpad. Maka Bandung dan Unpad harus sama-sama ngapung ka jomantara.
"Ke depannya IKA Pengkot Kota Bandung harus ada sinergi dengan Pemkot Bandung karena kebetulan wali kotanya dari Unpad juga. Jadi artinya kita bisa sinergi dengan pekerjaan yang dilakukan Pemkot Bandung. Sekarang alumni Unpad yang ada di Kota Bandung ini ada puluhan ribu dan sudah tersaring 1.500 di kedinasan dan lainnya di Pemkot Bandung," kata Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan Baznas Kota Bandung yang baru saja dilantik wali kota.
Adang yang juga sangat mengapresiasi proses pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini berjalan baik dan berbeda dengan tahun sebelumnya. "Kalau menilik pemilihan tahun sebelumnya tidak ada kekuatan seperti sekarang ini. Nah, semoga ini menjadi role model untuk daerah lain. Semoga IKA Unpad Pengkot Bandung punya marwah yang bagus untuk kita semua," harapnya.
Zakky Faisal, Ketua OC (Organizing Committee) untuk Muskot dan Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung, berharap empat calon ini bisa berkompetisi dengan baik, sehat, dan ketua terpilih nanti bisa berkolaborasi dengan Unpad serta ikut membangun Kota Bandung.
Zakky juga mengatakan, "Mohon dukungan semua teman alumni yang berada di Kota Bandung untuk menyukseskan acara. Semoga ini bisa memperbesar silaturahmi kita dan bersinergi ke depannya," katanya sambil mengumumkan jadwal ke depannya. Setelah penetapan calon ini, rencananya akan ada debat kandidat atau diskusi di salah satu stasiun TV swasta pada 6 Juli 2026.
"Ke depannya IKA Pengkot Kota Bandung harus ada sinergi dengan Pemkot Bandung karena kebetulan wali kotanya dari Unpad juga. Jadi artinya kita bisa sinergi dengan pekerjaan yang dilakukan Pemkot Bandung. Sekarang alumni Unpad yang ada di Kota Bandung ini ada puluhan ribu dan sudah tersaring 1.500 di kedinasan dan lainnya di Pemkot Bandung," kata Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan Baznas Kota Bandung yang baru saja dilantik wali kota.
Adang yang juga sangat mengapresiasi proses pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini berjalan baik dan berbeda dengan tahun sebelumnya. "Kalau menilik pemilihan tahun sebelumnya tidak ada kekuatan seperti sekarang ini. Nah, semoga ini menjadi role model untuk daerah lain. Semoga IKA Unpad Pengkot Bandung punya marwah yang bagus untuk kita semua," harapnya.
Zakky Faisal, Ketua OC (Organizing Committee) untuk Muskot dan Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung, berharap empat calon ini bisa berkompetisi dengan baik, sehat, dan ketua terpilih nanti bisa berkolaborasi dengan Unpad serta ikut membangun Kota Bandung.
Zakky juga mengatakan, "Mohon dukungan semua teman alumni yang berada di Kota Bandung untuk menyukseskan acara. Semoga ini bisa memperbesar silaturahmi kita dan bersinergi ke depannya," katanya sambil mengumumkan jadwal ke depannya. Setelah penetapan calon ini, rencananya akan ada debat kandidat atau diskusi di salah satu stasiun TV swasta pada 6 Juli 2026.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Tentu saja Sekjen IKA Unpad Pusat, Yhodisman Soratha, menyambut baik proses rutin ini. Setiap kepengurusan ada periodisasinya, katanya. Oleh karena itu, mewakili pengurus pusat, ia berharap proses pemilihan IKA Unpad Pengkot Bandung berjalan ramai tetapi guyub dan melahirkan ketua yang bisa diterima oleh banyak kelompok, banyak pihak, atau para alumni, khususnya di Kota Bandung.
Kang Odis juga berharap Pengkot Bandung ini jadi pemersatu karena menurutnya bagaimanapun Bandung ini parameternya Unpad, bisa dikatakan ibu kotanya Pajajaran, walau sekarang sudah pindah ke Sumedang (Jatinangor).
Dan alumni Unpad harus berkiprah di mana pun mereka berada. Kontribusinya bukan hanya ke pemerintah saja, tetapi ke masyarakat juga. "Nah, kebetulan kan seingat saya banyak alumni kita yang berkiprah di pemerintahan di Kota Bandung, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Buat saya dengan sendirinya mereka harus punya kontribusi positif di bidangnya masing-masing. Kalau dari calon yang empat ini ada yang dari bisnis atau pegiat sosial, itu kan juga harus berkontribusi pada bidang pilihannya masing-masing," katanya.
Jadi intinya, kata Kang Odis, Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini, pertama, harus ramai tetapi tetap menjaga keguyuban. Kedua, bisa menghasilkan ketua yang bisa mengayomi semua karena alumni Unpad di Bandung banyak sekali. Ketiga, ada kontribusi nyata empat tahun ke depan setelah terpilih, baik ke pemerintahan maupun ke masyarakat. "Dan jangan lupa kudu mulang tarima ka kampus, ka almamater tercinta," pungkasnya. (Asep GP)***
Kang Odis juga berharap Pengkot Bandung ini jadi pemersatu karena menurutnya bagaimanapun Bandung ini parameternya Unpad, bisa dikatakan ibu kotanya Pajajaran, walau sekarang sudah pindah ke Sumedang (Jatinangor).
Dan alumni Unpad harus berkiprah di mana pun mereka berada. Kontribusinya bukan hanya ke pemerintah saja, tetapi ke masyarakat juga. "Nah, kebetulan kan seingat saya banyak alumni kita yang berkiprah di pemerintahan di Kota Bandung, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Buat saya dengan sendirinya mereka harus punya kontribusi positif di bidangnya masing-masing. Kalau dari calon yang empat ini ada yang dari bisnis atau pegiat sosial, itu kan juga harus berkontribusi pada bidang pilihannya masing-masing," katanya.
Jadi intinya, kata Kang Odis, Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini, pertama, harus ramai tetapi tetap menjaga keguyuban. Kedua, bisa menghasilkan ketua yang bisa mengayomi semua karena alumni Unpad di Bandung banyak sekali. Ketiga, ada kontribusi nyata empat tahun ke depan setelah terpilih, baik ke pemerintahan maupun ke masyarakat. "Dan jangan lupa kudu mulang tarima ka kampus, ka almamater tercinta," pungkasnya. (Asep GP)***
Panitia Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung Tetapkan 4 Calon Ketua: Para Calon Ketua Siap Berkontribusi pada Kampus, Masyarakat, dan Pemerintah Kota Bandung
Panitia dan para calon Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung Periode 2026–2030. (Foto: Asep GP ) Musyawarah Kota dan Pemilihan Ketua IKA Unpad Pen...
Saturday, June 13, 2026
Bandung – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran menggelar Festival Budaya Maritim: Jejak Budaya Maritim Warisan Dunia sebagai proyek Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda Tahun Akademik 2025/2026, dengan dosen pengampu: Dr. Undang Ahmad Darsa, M.Hum., Dr. Taufik Ampera, M.Hum., Dr. Teddi Muhtadin, M.Hum., Dr. Asep Yusup Hudayat, M.A., Rahmat Sopian, M.Hum., Ph.D., Dr. Asri Soraya Afsari, M.Hum., dan Dr. Taufik Rahayu, M.Hum. Kegiatan Festival Budaya Maritim dilaksanakan pada hari Jumat, 5 Juni 2026, di Lapang Parkir Gedung A FIB Unpad, diikuti oleh mahasiswa dari sembilan program studi S-1 yang secara kolaboratif menampilkan berbagai karya dan pertunjukan bertema budaya maritim.
Festival ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari karnaval budaya, pameran karya mahasiswa, pertunjukan seni, pemutaran video dokumenter, video kreatif, hingga peragaan busana yang mengangkat kekayaan budaya maritim Nusantara. Melalui berbagai media ekspresi tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Sunda dalam konteks kebudayaan maritim Indonesia yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, identitas, dan peradaban bangsa.
Karnaval budaya menjadi salah satu atraksi yang menampilkan kreativitas mahasiswa dalam mengemas simbol-simbol budaya maritim ke dalam berbagai bentuk visual dan pertunjukan. Sementara itu, pameran karya dan pemutaran video dokumenter memperlihatkan hasil kajian mahasiswa mengenai jejak budaya maritim, tradisi pesisir, teknologi pelayaran tradisional, serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih hidup di berbagai daerah di Indonesia.
Tidak kalah menarik, pertunjukan seni dan peragaan busana menghadirkan interpretasi kreatif mahasiswa terhadap warisan budaya maritim melalui seni pertunjukan, musik, tari, serta desain busana yang terinspirasi oleh kehidupan masyarakat pesisir dan pelaut Nusantara. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang mengintegrasikan aspek akademik, penelitian sederhana, kreativitas, dan kerja sama lintas program studi.
Koordinator Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Taufik Ampera, M.Hum., menjelaskan bahwa festival ini merupakan bentuk implementasi pembelajaran berbasis proyek yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh di kelas ke dalam karya nyata.
“Melalui Festival Budaya Maritim ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep kebudayaan secara teoritis, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Tema budaya maritim dipilih karena Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki kekayaan budaya luar biasa dan perlu terus dikenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Taufik Ampera menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya.
“Kami berharap mahasiswa mampu memahami bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Festival ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa pembelajaran kebudayaan dapat dikemas secara inovatif, menarik, dan relevan dengan tantangan zaman,” tambahnya.
Melalui penyelenggaraan Festival Budaya Maritim, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran berharap dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai keberagaman budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya bangsa. Festival ini juga menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat menghasilkan karya-karya kreatif yang memberikan kontribusi bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia, khususnya Pemajuan Kebudayaan Daerah. (Asep GP)***
Festival Budaya Maritim Meriahkan Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda
Bandung – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran menggelar Festival Budaya Maritim: Jejak Budaya Maritim Warisan Dunia sebag...
Acara Pelepasan (Kelulusan & Perayaan/Samen) kelas 6 SDN 154 Citepus Bandung ini digelar pada Rabu, (10/6/2026) di pelataran sekolah, Jl. Citepus III/Astana Eyang RT 07/RW 10 Kel. Pajajaran, Kec. Cicendo, Kota Bandung, dengan tajuk “Melesat Maju Menuju Masa Depan.”
Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Sekolah SDN 154 Citepus, Evi Lativah, S.Pd., M.M., dan Rida Indriawaty, S.Pd., M.Si. (Pengawas Bina), serta jajaran guru, karyawan, dan para orang tua murid.
Acara diisi dengan penampilan tari, sungkeman peserta didik kelas 6, pemberian mawar kepada orang tua dari peserta didik, pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi, pemberian buket bunga kepada guru, serta menyanyikan lagu “Pileuleuyan” dan “Saat Kau Telah Mengerti.”
Kepala Sekolah SDN 154 Citepus, Evi Lativah (50), usai acara menitipkan pesan kepada wartawan untuk para siswa kelas 6 yang baru saja lulus dan akan meneruskan sekolah ke tingkat SMP, agar senantiasa menjaga karakter/tabiat, berperilaku baik di mana pun berada. “Karakter itu paling utama,” katanya.
“Sebab tanpa karakter anak sekarang akan kehilangan arah. Prestasi itu bisa dikejar, tapi kalau pembentukan karakter yang baik susah diraih,” kata Bu Kepala.
Apalagi di zaman yang tidak baik-baik saja seperti sekarang, di tengah derasnya arus informasi global dan serba digital, demam medsos yang tidak bisa dicegah, karakter anak kian tersingkirkan. Di satu sisi, anak memang butuh media sosial (internet) untuk menambah pengetahuannya, tapi di sisi lain banyak unsur negatifnya, banyak tontonan yang akan merusak moral generasi muda, mengubah tabiat jadi tidak baik. Jadi ini jelas membutuhkan bimbingan dan pendampingan serius orang tua.
“Jadi jangan senang dulu kalau melihat anak aranteng (asyik) bermain hape (gadget), sebab kita tidak tahu apa yang mereka lihat, tonton, dan kerjakan. Apakah akan mencerdaskan atau menjerumuskan ke hal yang negatif,” kata Evi, serius.
Lingkungan dan keluarga juga sangat memengaruhi karakter anak. Kalau anak bergaul dengan orang yang tidak baik, atau lingkungan sekitarnya kurang baik, tentu anak juga bakal bergajulan. Demikian juga kalau lingkungan keluarganya kurang harmonis, akan memengaruhi tabiat dan karakternya.
“Jadi yang lebih utama, harus dididik secara baik di rumah oleh orang tuanya. Jangan sampai anak ditekan, dididik keras, tapi orang tuanya sendiri tidak menjadi contoh baik bagi anaknya,” tegas Bu Evi.
Lingkungan dan keluarga juga sangat memengaruhi karakter anak. Kalau anak bergaul dengan orang yang tidak baik, atau lingkungan sekitarnya kurang baik, tentu anak juga bakal bergajulan. Demikian juga kalau lingkungan keluarganya kurang harmonis, akan memengaruhi tabiat dan karakternya.
“Jadi yang lebih utama, harus dididik secara baik di rumah oleh orang tuanya. Jangan sampai anak ditekan, dididik keras, tapi orang tuanya sendiri tidak menjadi contoh baik bagi anaknya,” tegas Bu Evi.
Ibu Kepala berharap para orang tua lebih serius lagi mendidik putra-putrinya. Zaman sekarang, baik anak laki-laki maupun perempuan sama-sama susah dibentuk karakternya, harus benar-benar sabar dan paham. Contohnya ketika upacara bendera di hari Senin, anak-anak asyik ngobrol ketika pembina upacara memberi wejangan, begitu juga ketika berdoa. Jadi anak perlu dididik kedisiplinan dari hal-hal kecil dulu agar jadi kebiasaan yang baik.
“Ya semoga saja putra-putri ibu semua jadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, dan sukses dunia-akhirat,” demikian harapan dan doa Ibu Kepala.
Akan Menambah Sarana–Prasarana Sekolah, Ekskul & Kompetensi Guru
Tatarjabar.com
June 13, 2026
CB Blogger
Indonesia“Ya semoga saja putra-putri ibu semua jadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, dan sukses dunia-akhirat,” demikian harapan dan doa Ibu Kepala.
Akan Menambah Sarana–Prasarana Sekolah, Ekskul & Kompetensi Guru
Evi Lativah yang ditugaskan tanggal 1 April 2026 memimpin SDN 154 Citepus, akan berusaha menata sekolah yang dipimpinnya ke arah lebih baik lagi.
Program ke depannya lebih ke pembentukan karakter dan menambah serta mengaktifkan kembali program ekstrakurikuler (ekskul) supaya siswa menjurus ke jalur prestasi, menjadi peserta lomba/kejuaraan yang akan membawa nama harum sekolah. Selain itu meningkatkan kompetensi guru-gurunya, menambah ilmu pengetahuan yang relevan dengan zaman, serta meningkatkan disiplin guru dan siswa.
Selain itu, Evi yang puluhan tahun jadi guru di SD Cipto, akan menambah dan mengembangkan sarana-prasarana sekolah. Ia prihatin melihat keadaan sekolah yang puluhan tahun pernah dikunjunginya tatkala mengawas Ebtanas, hingga sekarang tidak berubah sarana dan prasarananya. Hal itu ia buktikan sebagai gerakan awal dengan memperbaiki lantai halaman sekolah (dipelur). Itu juga hasil sumbangan (rereongan door to door ketika rapat) dari orang tua siswa kelas 6.
Selain itu, Evi yang puluhan tahun jadi guru di SD Cipto, akan menambah dan mengembangkan sarana-prasarana sekolah. Ia prihatin melihat keadaan sekolah yang puluhan tahun pernah dikunjunginya tatkala mengawas Ebtanas, hingga sekarang tidak berubah sarana dan prasarananya. Hal itu ia buktikan sebagai gerakan awal dengan memperbaiki lantai halaman sekolah (dipelur). Itu juga hasil sumbangan (rereongan door to door ketika rapat) dari orang tua siswa kelas 6.
Oleh karena itu, lulusan PGSD UPI tahun 1999 ini meminta kepada pihak Dinas Pendidikan Kota Bandung, “Saya ingin mengajukan ruangan kelas yang baru dan merehab kelas yang sudah ada, sebab atapnya bocor dan kayu kusennya sudah keropos. Khawatir roboh menimpa siswa yang sedang belajar, seperti kejadian di sekolah lainnya. Kalau sarana-prasarana sekolah bagus dan lengkap, tentu para siswa, penerus bangsa, dan gurunya juga akan nyaman belajarnya. Kalau saya lihat sekarang, keadaannya memprihatinkan,” demikian kata Kepala Sekolah yang sebelumnya mengajar puluhan tahun di SDN 016 Dr. Cipto Pajajaran Bandung (Maret 2000–1 Maret 2023) dan tiga tahun memimpin SDN 123 Babakan Priangan Bandung (1 Maret 2023–2026). (Asep GP)***
Graduation Day & Celebration Kelas 6 SDN 154 Citepus 2025/2026
Acara Pelepasan (Kelulusan & Perayaan/Samen) kelas 6 SDN 154 Citepus Bandung ini digelar pada Rabu, (10/6/2026) di pelataran sekolah, Jl...
Saturday, June 6, 2026
Pameran Seni Rupa Nawasena yang berlangsung pada 1–7 Juni 2026 di Galeri Seni SOS Babakan Siliwangi, Bandung, turut menghadirkan karya seni hasil penelitian dari dua peneliti: Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn., dan Dr. Wanda Listiani, M.Ds.
Pameran ini menjadi ruang dialog antara hasil riset dan praktik artistik yang dilakukan sejak 2023 hingga 2026. Tajuk pameran Nawasena dimaknai sebagai harapan menuju masa depan yang lebih baik. Pameran ini merupakan upaya mengembangkan wacana seni rupa berbasis riset dan praktik artistik untuk menghasilkan karya seni yang berdampak bagi masyarakat. Eksplorasi medium dan praktik artistik dari riset kolaboratif merefleksikan hubungan antara kearifan lokal, folklor, dan ekspresi estetika.
Pembukaan pameran pada Senin (1/6/2026) dilakukan oleh Melly Goeslaw, Anggota DPR RI Komisi X. Menurut Melly Goeslaw, “Pameran ini memberikan kontribusi pada pendidikan budaya dan menghadirkan wacana yang berbeda bagi perkembangan perspektif seni budaya Indonesia. Karya seni tidak hanya memberikan ruang kreatif, tetapi juga merupakan pendekatan kritis untuk menyampaikan gagasan tentang persoalan masyarakat kepada pemerintah dengan sudut pandang yang berbeda.”
Kurator pameran, Rahmat Jabaril, menilai bahwa karya Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn., dan Dr. Wanda Listiani, M.Ds., memperlihatkan bagaimana penelitian dapat menjadi fondasi penting dalam penciptaan karya seni rupa kontemporer. Karya seni berbasis penelitian yang didanai oleh Kemendiktisaintek melalui Skema Penelitian Fundamental ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga menyampaikan temuan reflektif yang relevan dengan persoalan masyarakat saat ini.
Pameran Nawasena juga diapresiasi oleh Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., serta Nurul Arifin, Anggota DPR RI Komisi I, pada Selasa (2/6/2026). Kehadiran Nurul Arifin merupakan bentuk dukungan terhadap perkembangan ekosistem seni rupa berbasis penelitian. Menurutnya, praktik seni berbasis penelitian memiliki peran strategis dalam perkembangan pengetahuan dan diplomasi seni budaya.
Pameran Nawasena juga diapresiasi oleh Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., serta Nurul Arifin, Anggota DPR RI Komisi I, pada Selasa (2/6/2026). Kehadiran Nurul Arifin merupakan bentuk dukungan terhadap perkembangan ekosistem seni rupa berbasis penelitian. Menurutnya, praktik seni berbasis penelitian memiliki peran strategis dalam perkembangan pengetahuan dan diplomasi seni budaya.
“Kehadiran Ibu Melly Goeslaw dan Ibu Nurul Arifin menjadi momentum penting bagi kami, akademisi dan perupa, untuk terus memproduksi pengetahuan serta luaran penelitian yang berdampak bagi masyarakat, khususnya atlet pencak silat Indonesia,” kata Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn., di tengah kesibukannya mendampingi dosen yang akan dipromosikan menjadi Guru Besar tahun ini, yaitu Dr. Wanda Listiani, M.Ds., melalui Skema Penugasan Guru Besar dari dana penelitian DIPA Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.
Prof. Dr. Sri Rustiyanti juga menambahkan, “Pameran ini menunjukkan bahwa praktik seni dapat menjadi instrumen refleksi kepakaran akademik sekaligus sumber inspirasi bagi generasi muda. Peneliti muda yang kami dampingi adalah Ellysia Alenda dan Priyanka Azura Dilla Riezquita, siswa SMA Negeri 8 Jakarta yang sedang melakukan penelitian dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2026. Mereka berkolaborasi dengan Anrilia E.M. Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Psikolog dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya; Dr. Anita Restu Puji Raharjeng, M.Si., dari UIN Raden Fatah Palembang; serta Dwi Amelia Savitri, M.Pd., Guru Pendamping Kelas X dari SMA Negeri 8 Jakarta,” pungkasnya. (Asep GP)***
Hasil Riset Dosen ISBI Bandung dalam Pameran Nawasena
Pameran Seni Rupa Nawasena yang berlangsung pada 1–7 Juni 2026 di Galeri Seni SOS Babakan Siliwangi, Bandung, turut menghadirkan karya seni ...
Wednesday, June 3, 2026
![]() |
| Lima Perupa-Pendidik Pameran Nawasena di Galeri SOS Babakan Siliwangi Bandung (1-7/6/2026), dari kiri:Wanda Listiani, Sri Rustiyanti, Supriatna, Ika Ismurdiyahwati & Ariesa Pandanwangi. |
Pameran bertajuk “Nawasena” ini berlangsung di Galeri Ruang A SOS Babakan Siliwangi, Kota Bandung, dari tanggal 1–7 Juni 2026 (dibuka untuk umum: pukul 10.00–17.00). Sedangkan artis talk akan berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) di tempat yang sama.
Kontributor pameran: Prof. Dr. Marijke J. Klokke, Anrilia EM Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Dra. Sriati Dwiatmini, M.Hum., Dra. Suryanti, M.Hum., Dr. Anita Restu Puji Raharjeng, M.Si., M.Biomed.Sc., Dwi Amelia Savitri, M.Pd., Ellysia Alena, Priyanka Azura Dilla, Riezquita, Mita Handayani, Zakiy Fauzi, dan Zimam Fauzi.
![]() |
| Melly Goeslaw (baju putih) sedang mengapresiasi karya para perupa, didampingi Kurator pameran Rahmat Jabbaril (bertopi). |
Adapun kelima perupa dan pendidik yang berpameran tersebut, yaitu Dr. Wanda Listiani dan Prof. Sri Rustiyanti (ISBI Bandung), Dr. Supriatna (ISBI Bandung), Dr. Ika Ismurdiyahwati (Universitas Adibuna Surabaya), dan Prof. Ariesa Pandanwangi (Universitas Kristen Maranatha).
Pameran dibuka oleh Melly Goeslaw (Anggota DPR RI Komisi X) dan dimeriahkan oleh Musikalisasi Disonansi Metafora.
Menurut kurator pameran, Rahmat Jabbaril, pilihan judul pameran Nawasena tiada lain sebagai pintu masuk dari perspektif kajian artistik berdasarkan hasil risetnya. Objek-objek artistik yang diajukan oleh kelima perupa tersebut berhubungan erat dengan sejarah, antropologi, sekaligus perkembangan sosial budaya masyarakat urban.
Pameran dibuka oleh Melly Goeslaw (Anggota DPR RI Komisi X) dan dimeriahkan oleh Musikalisasi Disonansi Metafora.
Menurut kurator pameran, Rahmat Jabbaril, pilihan judul pameran Nawasena tiada lain sebagai pintu masuk dari perspektif kajian artistik berdasarkan hasil risetnya. Objek-objek artistik yang diajukan oleh kelima perupa tersebut berhubungan erat dengan sejarah, antropologi, sekaligus perkembangan sosial budaya masyarakat urban.
![]() |
| Ariesa Pandanwangi, menuangkan kisah perjalanan bangsawan, resi pertapa Pajajaran,Bujangga Manik, dalam karya seni batik |
Wanda Listiani dan Sri Rustiyanti mengeksplorasi hasil temuannya di wilayah kepulauan Sumatera dalam bentuk karya seni instalasi. “Banyak sekali temuan dari hasil risetnya, seperti batik, prasasti, dsb. Itu baru dari Pulau Sumatera saja, bagian terkecil dari Nusantara. Belum seluruh Nusantara, yang kaya dan beragam. Ya itu, jadi membuka kekayaan di Nusantara,” jelas Rahmat.
Sementara Supriatna mencoba mempertanyakan ulang makna simbol mitos Nyi Roro Kidul dalam bentuk karya seni instalasi. Ia mengeksplorasi temuannya dengan mempertanyakan perubahan simbol dari mitos Nyi Roro Kidul yang menggunakan mahkota menjadi kerudung/jilbab. “Itu yang menarik dari Pa Supri, apakah itu akan menggeser nilai-nilai mitos Nyi Roro Kidul, hilangnya konsepsi kosmologis dan filosofisnya sebagai penguasa Laut Selatan Sunda,” kata Rahmat.
Sementara Supriatna mencoba mempertanyakan ulang makna simbol mitos Nyi Roro Kidul dalam bentuk karya seni instalasi. Ia mengeksplorasi temuannya dengan mempertanyakan perubahan simbol dari mitos Nyi Roro Kidul yang menggunakan mahkota menjadi kerudung/jilbab. “Itu yang menarik dari Pa Supri, apakah itu akan menggeser nilai-nilai mitos Nyi Roro Kidul, hilangnya konsepsi kosmologis dan filosofisnya sebagai penguasa Laut Selatan Sunda,” kata Rahmat.
![]() |
| Supriatna di depan karya instalasinya yang mempertanyakan perubahan mitos Nyi Roro Kidul |
Senada dengan hal itu, Supriatna mengatakan fenomena tersebut berasal dari masyarakat. Ada yang percaya bahwa Nyi Roro Kidul sudah masuk Islam, sehingga diyakini sebagai sosok nyata yang hidup di masyarakat. Bahkan, menurut Kang Supri, ada seorang kiai mengatakan bahwa ia melihat sosok Nyi Roro Kidul di Tanah Suci sedang menunaikan ibadah haji, dan hal itu dipercaya oleh santrinya. Fenomena ini bagi Supriatna menarik untuk diteliti.
“Kalau seandainya betul beredar bahwa Nyi Roro Kidul berhijab dan masuk Islam, apakah nanti para pengagumnya tetap melakukan semedi di hadapan lukisan-lukisannya, tetap dijadikan media ritual, atau sama sekali ditinggalkan? Apa maknanya berubah karena sudah masuk Islam? Karena saya pelukis, saya tertarik urusan Nyi Roro Kidul, yang sebetulnya gaya lukisannya itu kontemporer, tapi disembah, dijadikan media secara tradisi. Itu yang menjadi menarik,” jelas Supriatna, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung.
“Kalau seandainya betul beredar bahwa Nyi Roro Kidul berhijab dan masuk Islam, apakah nanti para pengagumnya tetap melakukan semedi di hadapan lukisan-lukisannya, tetap dijadikan media ritual, atau sama sekali ditinggalkan? Apa maknanya berubah karena sudah masuk Islam? Karena saya pelukis, saya tertarik urusan Nyi Roro Kidul, yang sebetulnya gaya lukisannya itu kontemporer, tapi disembah, dijadikan media secara tradisi. Itu yang menjadi menarik,” jelas Supriatna, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung.
![]() |
| Wanda Listiani dan Sri Rustiyanti dengan karya instalasi hasil temuannya di pulau Sumatera |
Ariesa Pandanwangi juga tak kalah menarik. Perupa yang baru saja dikukuhkan menjadi Guru Besar Bahasa Rupa Universitas Kristen Maranatha tersebut mengajak publik melihat perjalanan seorang resi Bujangga Manik dalam bentuk karya seni batik.
Sebagaimana diketahui, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) adalah tokoh epik dan seorang resi dari Kerajaan Sunda (Pajajaran). Ia lebih memilih hidup sebagai pertapa dan berkelana meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan ka sakuliah Nusa Jawa bahkan hingga ke Bali. Catatan perjalanannya yang tertulis dalam naskah kuna daun lontar berbahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat di zamannya, memuat 450 nama tempat di Nusantara, termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya ia kembali ke Tatar Sunda dan bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Sayang, naskah Sunda Kuna yang sangat berharga ini kini aslinya berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.
Sebagaimana diketahui, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) adalah tokoh epik dan seorang resi dari Kerajaan Sunda (Pajajaran). Ia lebih memilih hidup sebagai pertapa dan berkelana meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan ka sakuliah Nusa Jawa bahkan hingga ke Bali. Catatan perjalanannya yang tertulis dalam naskah kuna daun lontar berbahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat di zamannya, memuat 450 nama tempat di Nusantara, termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya ia kembali ke Tatar Sunda dan bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Sayang, naskah Sunda Kuna yang sangat berharga ini kini aslinya berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.
![]() |
| Ika Ismurdiyahwati, menjadikan sampah jadi karya seni edukatif |
Sementara Ika Ismurdiyahwati mengajak publik merenung ulang tentang makna produk yang menjadi limbah di ruang publik dengan eksekusi artistiknya. Ia mengeksplorasi temuan keseharian masyarakat urban dengan menjadikan sampah-sampah produk pabrik besar (karung bekas pupuk, kaleng minuman, dsb.) menjadi karya seni kreatif dan edukatif. Limbah-limbah yang sebetulnya hasil karya seni (desain produk) dan dibuang masyarakat serta menjadi masalah lingkungan itu, dengan rasa tanggung jawab sebagai seniman dan ilmuwan, ia jadikan sesuatu yang baru, menjadi pencerahan.
Pameran ‘Nawasena’ ini disambut baik oleh Ketua SOS (Sanggar Olah Seni) Babakan Siliwangi, Raden Kiyan Santang, yang berharap galeri SOS Babakan Siliwangi bisa diapresiasi oleh para seniman Bandung, Jawa Barat, bahkan Nusantara. Demikian juga Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Een Herdiani, yang hadir mewakili ISBI Bandung, sangat mengapresiasi pameran karya seni hasil riset para dosen ini.
Pameran ‘Nawasena’ ini disambut baik oleh Ketua SOS (Sanggar Olah Seni) Babakan Siliwangi, Raden Kiyan Santang, yang berharap galeri SOS Babakan Siliwangi bisa diapresiasi oleh para seniman Bandung, Jawa Barat, bahkan Nusantara. Demikian juga Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Een Herdiani, yang hadir mewakili ISBI Bandung, sangat mengapresiasi pameran karya seni hasil riset para dosen ini.
![]() |
| Prof.Een Herdiani, karya hasil riset harus digalakan, dipertunjukan dan bermanfaat bagi masyarakat |
Menurut Prof. Een, pameran ini memang berkaitan dengan para dosen. “Sekarang tuntutan kepada para dosen dahsyat. Kalau ingin mendapat dana sertifikasi harus pameran, harus menulis jurnal, bahkan sekarang harus ikut pelatihan satu tahun sekali. Selamat berpameran kepada kawan-kawan. Memang hasil riset itu harus dipertunjukkan kalau berupa karya seni, dan seni rupa juga sama harus dipamerkan agar diketahui. Mari kita galakkan karya-karya ini berdasarkan riset mendalam hingga bermanfaat bagi masyarakat luas,” ajaknya.
Melly Goeslaw (Komisi X DPR, Bidang Kebudayaan), sebagai seniman dan penyanyi, sangat senang berada di antara para seniman lainnya yang bersatu menggelar karya di studio alam SOS Babakan Siliwangi. Hanya saja pendiri dan vokalis Band Potret ini menyayangkan kurangnya kehadiran pemerintah. “Kok pemerintah kurang hadir ya di tempat-tempat seperti ini. Karena menurut saya, justru alat propaganda yang paling jitu itu adalah seni. Bagaimana kita dijajah Korea dengan drakornya (drama Korea) dan K-pop-nya, itu mereka melalui seni,” katanya.
Melly Goeslaw (Komisi X DPR, Bidang Kebudayaan), sebagai seniman dan penyanyi, sangat senang berada di antara para seniman lainnya yang bersatu menggelar karya di studio alam SOS Babakan Siliwangi. Hanya saja pendiri dan vokalis Band Potret ini menyayangkan kurangnya kehadiran pemerintah. “Kok pemerintah kurang hadir ya di tempat-tempat seperti ini. Karena menurut saya, justru alat propaganda yang paling jitu itu adalah seni. Bagaimana kita dijajah Korea dengan drakornya (drama Korea) dan K-pop-nya, itu mereka melalui seni,” katanya.
Menarik disimak dari sambutan putri penyanyi kenamaan Indonesia, Melly Goeslaw ini, yang bercerita tentang royalti yang belum dikelola secara baik dan belum bisa mensejahterakan seniman. Pemilik copyright 600 lagu ini merasa sangsi apakah karya-karyanya bisa menghidupi anak-cucunya nanti. Ia mencontohkan Michael Jackson, yang meski meninggal dengan utang ratusan miliar, kekayaannya berlipat ganda karena karya-karyanya dikelola lembaga royalti dengan baik.
Sebagai anggota Komisi X, ia kini giat melakukan revisi Undang-Undang Hak Cipta. Ia mengingatkan bahwa royalti bukan pemberian pemerintah, melainkan hak seniman yang berkarya, buah dari kerja lelah. Bahkan sebaliknya, senimanlah yang memberi bagian (pajak) kepada pemerintah.
Sebagai anggota Komisi X, ia kini giat melakukan revisi Undang-Undang Hak Cipta. Ia mengingatkan bahwa royalti bukan pemberian pemerintah, melainkan hak seniman yang berkarya, buah dari kerja lelah. Bahkan sebaliknya, senimanlah yang memberi bagian (pajak) kepada pemerintah.
Sebagai penutup, Teh Melly mengajak para perupa terus memberikan input cara mengajar anak-anak sekarang kepada guru-guru sekolah dasar. “Cara mengajar kita beda dengan zaman dulu. Jangan membatasi dan menghambat imajinasi serta intuisi anak. Kalau dulu intuisi kita selalu dicagat oleh guru. Kalau saya kasih warna matahari ungu dicarekan, kunaon ieu panon poe bet bungur kelirna. Saya jadi berpikir kunaon orang Indonesia tidak bisa nyieun film jiga Harry Potter, Star Trek, karena imajinasi kita selalu dibatasi. Baru mau aneh sedikit dibilang salah, padahal itu cikal bakal out of the box!”
Teh Melly juga berpesan, para seniman jangan sampai kehilangan ekosistem. Jangan hanya berhenti di kita yang tertarik membuat kesenian seperti ini, tapi anak-anak Gen-Z juga harus tertarik. Karena bisa saja mereka punya inovasi-inovasi yang lebih dari kita. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di jagad dunia maya (medsos). Asal dibimbing, mereka akan seperti kita.
“Sebagai seniman yang punya tugas dan kewajiban untuk selalu menjaga keindahan yang kita ciptakan dengan membuat konten-konten yang baik, edukatif, dan bagus lah untuk negeri ini,” pungkasnya. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
June 03, 2026
CB Blogger
IndonesiaTeh Melly juga berpesan, para seniman jangan sampai kehilangan ekosistem. Jangan hanya berhenti di kita yang tertarik membuat kesenian seperti ini, tapi anak-anak Gen-Z juga harus tertarik. Karena bisa saja mereka punya inovasi-inovasi yang lebih dari kita. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di jagad dunia maya (medsos). Asal dibimbing, mereka akan seperti kita.
“Sebagai seniman yang punya tugas dan kewajiban untuk selalu menjaga keindahan yang kita ciptakan dengan membuat konten-konten yang baik, edukatif, dan bagus lah untuk negeri ini,” pungkasnya. (Asep GP)***
Lima Perupa & Pendidik Pamerkan Hasil Riset dalam Berbagai Karya Seni
Lima Perupa-Pendidik Pameran Nawasena di Galeri SOS Babakan Siliwangi Bandung (1-7/6/2026), dari kiri:Wanda Listiani, Sri Rustiyanti, Supria...
Thursday, May 28, 2026
![]() |
| Para Perupa Aspen Baja di Pameran Seni Rupa "Bangkit" di Galeri Amuya,Gunung Sahari,Kemayoran, Jakarta Pusat (Foto: Istimewa) |
Pameran yang digelar ASPEN (Asosiasi Pelukis Nusantara) dalam rangka memperingati “Hari Kebangkitan Nasional” dan “Anniversary Aspen Bandung–Jakarta (Baja)” ini, berlangsung dari 24 Mei – 4 Juni 2026 (dibuka mulai Pk. 10.00 - 20.00 WIB) di Amuya Gallery, Jl. Angkasa 1 Blok B-16, Gunung Sahari Selatan, Kemayoran - Jakarta Pusat.
Melalui pameran ini, para perupa tidak hanya menghadirkan karya sebagai objek visual, tetapi juga sebagai medium dialog. Setiap lukisan menjadi “struktur baja” yang menyusun jembatan imajiner - menghubungkan gagasan, pengalaman, serta latar sosial-budaya yang beragam. Di dalamnya terdapat tegangan, pertemuan, bahkan perbedaan, yang justru memperkuat konstruksi kebudayaan itu sendiri.
“Baja juga merefleksikan harapan akan ketahanan komunitas seni dalam menghadapi perubahan zaman. Di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan pergeseran nilai, para perupa dituntut untuk tetap kokoh dalam identitas, namun lentur dalam pendekatan. Seperti baja yang ditempa melalui panas dan tekanan, karya-karya dalam pameran ini lahir dari proses panjang – refleksi, kritik, dan pencarian makna,” demikian kata Kembang Sepatu, Ketua Umum Aspen.
Sementara itu, Kurator Pameran, A Dimas Aji Saka mengatakan, melalui “Bangkit”, komunitas Baja menghadirkan pameran sebagai ruang bersama untuk membaca ulang posisi manusia Indonesia hari ini – antara sejarah yang terus hidup, identitas yang terus bergerak, dan masa depan yang belum selesai ditentukan.
“Seni rupa dalam pameran ini menjadi medium untuk merawat kesadaran bahwa kebangkitan sejati tidak selalu hadir dalam sorak kemenangan, tetapi sering kali tumbuh dari keberanian untuk mengingat, mempertanyakan, dan terus menciptakan harapan.”
Adapun para perupa yang terlibat dalam pameran yang dikuratori oleh A Dimas Aji Saka tersebut adalah: Chryshnanda DL (Komjen. Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwi Laksana, M.Si. (Karya: Kontemplasi, Akrilik pada Kanvas: 135 x 145 cm tahun 2026), Gerbang Peradaban, Akrilik pada Kanvas: 135 x 145 cm - 2026, Dinamika, Akrilik pada Kanvas: 135 x 145 cm - 2026).
Dede Priana, S.Sn., M.Si., (Mencari Jati Diri, Acrylic on Canvas: 130 x 260 cm, Naga Terbang, Acrylic on Canvas: 130 x 260 cm).
Drs. Heri Heriana, M.M., (Harmoni (Seorang Kartini), Cat Minyak di atas Kanvas: 100 x 120 cm - 2024), Korupsi (Kegelapan) Segera Berakhir (Sebuah Harapan), Cat Minyak di atas Kanvas: 140 x 140 cm – 2026), Beragam Itu Indah, Cat Minyak di atas Kanvas: 100 x 120 cm – 2022).
Kembang Sepatu (Lentera Zaman, Acrylic on Canvas: 100 x 100 cm – 2025), Kyai Goro Bangsa, Acrylic on Canvas: 100 x 100 cm – 2025), Lompatan Penalaran, Acrylic on Canvas: 100 x 100 cm – 2025).
Mas Wit (Kartini Senyum Sendu, Akrilik pada Kanvas: 100 x 100 cm – 2005, Kedamaian Nyata, Akrilik pada Kanvas: 100 x 100 cm – 2005, Masihkah Ada Cinta Sejati, Akrilik pada Kanvas: 100 x 100 cm – 2005).
Pustanto (Negeri Terbit dari Kegelapan, Akrilik di atas Kanvas: 100 x 100 cm – 2026, Negeri Kepulauan Emas #2, Akrilik di atas Kanvas: 100 x 200 cm – (2 panel kanvas) – 2025).
Prof. Drs. H. Sarnadi Adam, M.Sn., (Dua Penari Betawi, Cat Minyak pada Kanvas: 90 x 110 cm – 2000, 4 Penari Cokek di Depan Rumah Tradisional Betawi, Cat Minyak pada Kanvas: 90 x 110 cm – 2000, 4 Penari Betawi di Depan Pintu Rumah Tradisional Betawi, Cat Minyak pada Kanvas: 90 x 110 cm – 2000).
Dr. Supriatna, M.Sn., (Menanti Terang #1, Akrilik di atas Kanvas: 120 x 120 cm - 2026, Menanti Terang #2, Akrilik di atas Kanvas: 120 x 120 cm – 2026, Srikandi Menahan Amarah, Akrilik di atas Kanvas: 100 x 80 cm - 2023).
Syakieb Sungkar (Bhismaparwa, Cat Minyak pada Kanvas: 120 x 145 cm – 2026, Putri Betawi, Cat Minyak pada Kanvas: 100 x 80 cm - 2026, Penari Legong, Cat Minyak pada Kanvas: 130 x 100 cm – 2025).
Dr. Warli Haryana, S.Pd., M.Sn., (Semar Ngejawantah, Akrilik di atas Kanvas: 100 x 90 cm – 2026, Dur Angkara: The Poisoned Tongue, Akrilik di atas Kanvas: 100 x 90 cm – 2026).
Dede Priana, Heri Heriana, Kembang Sepatu, Mas Wit, Pustanto, Sarnadi Adam, Supriatna, Syakieb Sungkar, Warli Haryana.
Khusus lukisan “Menanti Terang” karya Dr. Supriatna (Perupa dan Akademisi ISBI Bandung), Kurator A Dimas Aji Saka mengatakan, karya Supriatna yang berjudul Menanti Terang ini ada 2 seri. Sangat menarik bagaimana suatu momen untuk satu tema kebangkitan, entah tentang pendidikan, perjuangan, dan beragam hal lainnya, disimpulkan melalui sosok wanita yang terinspirasi dari sosok Kartini.
![]() |
| Dr. Supriatna dalam Artist Talk, menerangkan konsep karya (Foto: Istimewa) |
Melalui era Kartini yang memelopori gerakan kemajuan pendidikan terutama di kalangan wanita, tapi juga telah menginspirasi banyak orang termasuk juga para laki-laki, dan dalam lukisan Supriatna sosok Kartini tengah menghadap sebuah jendela atau sebuah akses dunia luar yang mulai temaram dan memancarkan cahaya.
“Adegan ini mengisyaratkan saat ini masih terus berlangsung, dan terus tetap diperjuangkan. Tidak hanya oleh seorang Kartini, tapi banyak Kartini-Kartini baru yang mengikuti jejak beliau dalam memperjuangkan pendidikan, kemerdekaan maupun hal-hal yang terkait dengan keluarga, bangsa, dan negara yang sekarang,” demikian kata Dimas.
![]() |
| Galeri Amuya dengan latar belakang lukisan "Menanti Terang (#1)", karya Supriatna (Foto: Istimewa) |
Pameran Bangkit di Galeri Amuya, merupakan pameran safari ASPEN (Asosiasi Pelukis Nusantara) Pusat - Jakarta, yang sebelumnya digelar di Galeri Panyawangan Kota Baru Parahyangan (KBB) tanggal 16 - 30 April 2026. Dan rencananya bulan Agustus tanggal 19 – 24 2026 akan digelar juga di Gallery Albirruni UITM Malaysia dengan karya baru, disesuaikan tema dan ukuran batas besaran pengiriman. (Rls/Asep GP)***
Pameran Seni Rupa Bandung–Jakarta (Baja) “Bangkit”: Baja Merefleksikan Harapan Ketahanan Komunitas Seni dalam Menghadapi Perubahan Zaman
Para Perupa Aspen Baja di Pameran Seni Rupa "Bangkit" di Galeri Amuya,Gunung Sahari,Kemayoran, Jakarta Pusat (Foto: Istimewa) Pame...
Tuesday, May 26, 2026
![]() |
| Dr. Warli Haryana, M.Pd.: Semangat Kartini dalam Seni Rupa Indonesia Bersama Dr. Supriatna, M.Sn., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn. dan Kembang Sepatu. |
Sebagaimana diketahui, pada Kamis (16/4/2026), Asosiasi Pelukis Nasional (ASPEN) menggelar perhelatan seni dan budaya melalui Pameran Lukisan bertema “Habis Gelap Terbitlah Terang”, di Galeri Panyawangan, Bandung Barat. Acara ini mempertemukan seniman/praktisi seni, budayawan, akademisi, dan mahasiswa dari Jakarta dan Bandung untuk merayakan semangat R.A. Kartini melalui seni rupa.
Selain itu, digelar “Artist Talk ASPEN” pada Sabtu (25/4/2026), di Silokarupaka Indoor Theater Bale Seni Barli, Kota Baru Parahyangan, bersama Dr. Warli Haryana, M.Pd., praktisi seni dan dosen Pendidikan Seni Rupa - Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., seniman dan akademisi ISBI Bandung, dengan penanggap Dr. Sarnadi Adam, M.Sn. (akademisi dan maestro pelukis Betawi) serta moderator Kembang Sepatu (akademisi dan praktisi).
![]() |
| Foto bersama: Dr. Warli Haryana, M.Pd., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., Kembang Sepatu, Dede Priana, S.Sn., M.Si., Epi Gunawan dan Komunitas Aspen. |
Warli Haryana menegaskan bahwa tema ini mengajak kita untuk merefleksikan perjuangan Kartini. Ia menjelaskan bahwa seni memiliki peran vital sebagai medium pencerahan, bukan hanya dalam konteks estetika, tetapi juga sosial dan spiritual. “Gelap adalah simbol keterbatasan dan ketidaksetaraan, sementara Terang adalah harapan, kebangkitan, dan pemberdayaan. Seni berfungsi sebagai cahaya yang menuntun kita keluar dari kegelapan, menjadi ruang vital untuk dialog, refleksi, dan pencarian spiritual,” ujarnya. Pandangan ini menegaskan bahwa seni rupa Indonesia juga sejalan dengan semangat emansipasi dan pencerdasan bangsa yang diwariskan Kartini.
![]() |
| Karya: Warli Haryana — Judul: Dur Angkara — Media: Acrylic on canvas Ukuran: 100 × 90 cm |
Dalam paparannya, Warli memperkenalkan karya “Semar Ngejawantah” sebagai simbol kebijaksanaan rakyat yang menuntun masyarakat menuju harmoni, serta karya “Dur Angkara” yang menggambarkan bahaya keserakahan dan kekuasaan korup. Ia menekankan bahwa kedua karya tersebut bukan sekadar representasi visual, melainkan refleksi atas kondisi sosial yang nyata. Dengan menghubungkan nilai tradisi wayang dengan tantangan kontemporer, Warli menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara warisan budaya dan realitas modern. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa seni rupa Indonesia mampu menghadirkan kritik sosial sekaligus menawarkan solusi moral bagi masyarakat.
Menutup paparannya, Warli Haryana kembali menegaskan pentingnya semangat Kartini dalam seni rupa Indonesia. “Semangat Kartini adalah ajakan untuk terus mencari terang. Setiap karya seni adalah refleksi sosial, etika, dan spiritual kita, sekaligus dorongan untuk melawan keterbatasan menuju pencerahan,” tegasnya. Dalam konteks seni rupa, semangat ini diterjemahkan menjadi karya visual yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat makna sosial, budaya, dan spiritual.
Menutup paparannya, Warli Haryana kembali menegaskan pentingnya semangat Kartini dalam seni rupa Indonesia. “Semangat Kartini adalah ajakan untuk terus mencari terang. Setiap karya seni adalah refleksi sosial, etika, dan spiritual kita, sekaligus dorongan untuk melawan keterbatasan menuju pencerahan,” tegasnya. Dalam konteks seni rupa, semangat ini diterjemahkan menjadi karya visual yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat makna sosial, budaya, dan spiritual.
![]() |
| Karya: Warli Haryana — Judul: Semar Ngejawantah — Media: Acrylic on canvas Ukuran: 100 × 90 cm |
Warli juga mengatakan, kegiatan Artist Talk ini bukan sekadar diskusi seni, melainkan ruang refleksi bersama. Para seniman, akademisi, dan mahasiswa berdialog tentang peran seni sebagai medium pemberdayaan, kritik sosial, dan jembatan budaya. Kehadiran tokoh-tokoh lintas kota dan generasi memperkuat pesan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan.
“Dengan semangat Kartini yang terus bergema, pameran ASPEN ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diharapkan menjadi momentum penting bagi dunia seni rupa Indonesia. Ia menegaskan bahwa seni tidak pernah berhenti mencari terang, dan bahwa setiap karya adalah ajakan untuk merenungkan kondisi sosial, etika, spiritual, dan budaya,” pungkas Dr. Warli.
“Dengan semangat Kartini yang terus bergema, pameran ASPEN ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diharapkan menjadi momentum penting bagi dunia seni rupa Indonesia. Ia menegaskan bahwa seni tidak pernah berhenti mencari terang, dan bahwa setiap karya adalah ajakan untuk merenungkan kondisi sosial, etika, spiritual, dan budaya,” pungkas Dr. Warli.
![]() |
| Foto bersama: Dr. Warli Haryana, M.Pd., Dr. Supriatna, M.Sn., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., Kembang Sepatu, Dede Priana, S.Sn., M.Si., Epi Gunawan dan Komunitas Aspen. |
Sementara itu, Dr. Supriatna, M.Sn. (ISBI Bandung) yang membahas metodologi proses kekaryaan, menekankan pentingnya ruang dan waktu dalam penciptaan karya seni.
Sedangkan Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., maestro seni lukis Betawi, menyoroti kekhasan seniman Jakarta yang urban, kompleks, dan dinamis, serta seniman Bandung yang kreatif, eksperimental, dan reflektif. Acara dipandu oleh Kembang Sepatu, Ketua ASPEN, dengan gaya komunikatif dan reflektif yang memperkuat interaksi dengan audiens. (Rls/AGP)***
Sedangkan Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., maestro seni lukis Betawi, menyoroti kekhasan seniman Jakarta yang urban, kompleks, dan dinamis, serta seniman Bandung yang kreatif, eksperimental, dan reflektif. Acara dipandu oleh Kembang Sepatu, Ketua ASPEN, dengan gaya komunikatif dan reflektif yang memperkuat interaksi dengan audiens. (Rls/AGP)***
Dr. Warli Haryana Refleksikan Semangat Kartini dalam Seni Rupa Indonesia
Dr. Warli Haryana, M.Pd.: Semangat Kartini dalam Seni Rupa Indonesia Bersama Dr. Supriatna, M.Sn., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn. dan Kembang Sepa...
Saturday, May 16, 2026
![]() |
| Ida Rosida ngawih Mang Kokoan Wanda Anyar di Syukuran Mulung Mantu Yoyon Darsono (Foto Istimewa) |
Hajatan, syukuran, resepsi pernikahan pada zaman sekarang biasanya dilaksanakan di gedung, aula, atau bagi orang kelebihan uang digelar di hotel-hotel mewah bintang lima. Tentu semua ini membutuhkan biaya tidak sedikit dan banyak orang yang memaksakan diri pinjam uang sana-sini demi membahagiakan anak, bahkan demi gengsi.
Padahal zaman dulu, baik di pedesaan atau perkotaan, hajat pernikahan cukup dilangsungkan di halaman rumah sendiri (biasanya di mempelai perempuan), pakai tenda biru (balandongan), pasang panggung nanggap hiburan seni tradisi seperti calung, wayang golek, atau gambusan plus pengajian (tausiah dari ajengan), juga orkes melayu, atau kesininya cukup elektunan, dsb., sudah meriah. Ini dilakukan bukan hanya oleh orang-orang yang punya rumah di pinggir jalan, tapi hingga ke gang-gang.
Yang menarik, kebersamaan atau gotong royongnya sangat kental. Hampir semua tetangga tidak usah disuruh, mereka ramai-ramai ikut membantu dengan sukarela.
Apakah zaman sekarang masih ada hajatan seperti ini?
Ada, walau sudah jarang terlihat. Contohnya bisa disaksikan di hajatan syukuran Mulung Mantu keluarga Yoyon Dharsono (65), yang berlangsung belum lama ini di Saung Budaya Yoyon, di Kompleks GCI RW 17, Desa Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2026). Ya, putra Yoyon, Hardian Prawira, S.E., menikah dengan Tiara Nabila, S.Ikom. (14 April 2026) di Surade – Sukabumi.
Ya, kebetulan seniman Sunda serba bisa ini mendirikan Saung Budaya dekat rumahnya, tempat latihan dan pagelaran seni tradisi yang dikelolanya. Jadi, waktu hajatan mulung mantu kemarin, Yoyon bisa menggelar seni hiburan di tempat itu.
Sedangkan untuk konsumsi undangan, Yoyon tidak memesan catering, tapi dia memasak makanan sendiri di kebunnya memakai dua tungku (hawu). Dia memasang tenda khusus di kebun tempat emak-emak dari keluarga istrinya dari Cirebon, dengan dibantu tetangganya, memasak makanan untuk para tetamu undangan.
“Dalam hajat mulung mantu kemarin, itu hajat tradisional, tidak pake EO (event organizer), dsb. Untuk konsumsi tamu, saya membuat 2 tungku pakai suluh (kayu bakar), di kebun pake balandongan (tenda biru), yang ngurus masaknya (candoli) ibu-ibu dari keluarga saya di Cirebon, dibantu para tetangga yang datang membantu dengan sukarela, berduyun-duyun membawa peralatan masak masing-masing. Ada juga yang meminjamkan peralatan masak lainnya. Kami senang dan haru sekali melihatnya, seperti zaman dahulu gotong royongnya sangat kuat. Ini sungguh hajat tradisional yang harus dilestarikan,” kenang Yoyon ketika ditemui wartawan usai hajatan.
Yoyon juga saat itu menyuguhkan pisang hasil kebunnya yang dipeuyeum (diperam) sendiri. Disimpan, digantung di tiang-tiang tenda dekat kursi tetamu agar gampang ngambilnya untuk cuci mulut.
Parade Bentang Calung Menginspirasi Calung Jadi Mata Kuliah di ISBI
Sebagai seniman tradisi dan akademisi, dosen Jurusan Musik Prodi Angklung dan Musik Bambu ISBI Bandung, Yoyon dalam hajatan itu mengundang seniman-seniman Sunda untuk unjuk kabisa di panggung menghibur para tamu undangan.
![]() |
| Yoyon Darsono dan keluarga, bersama kedua mempelai dan penyambut pengantin (Foto Istimewa) |
Siangnya diisi kesenian dari kelompok Ida Rosida (Yayasan Cangkurileung). Putri Seniman Sunda terkenal Mang Koko Koswara ini membawakan Kawih Mang Kokoan wanda anyar, diiringi kecapi Kang Aldi N. Iskandar (dosen baru ISBI), dkk. Bagi penonton yang berumur 50–60-an, tentu saja kawih-kawih tersebut menggugah kenangan masa lalu, menikmati dengan hatinya. Selain itu, ada juga elektone pop Sundaan.
Di antara para penonton, saat itu hadir pula pejabat-pejabat tinggi dan Guru Besar ISBI Bandung seperti Prof. Een Herdiani, Prof. Endang Caturwati, Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, Dr. Ismet Ruchimat (Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung), Ketua Caraka Budaya Sunda Kab. Sumedang Dr. H. Dudi dan rengrengannya, dosen Unpad, Unpas, UPI Bandung, para seniman-budayawan, dan handai taulan lainnya. “Alhamdulillah, ratusan undangan yang disebar saya dan sitri, 90%-nya berkenan datang,” kata Yoyon semringah.
Nah, malamnya, setelah Da’wah Wayang (Daway) Ustad Ramdhan Juniarsyah, M.Ag. dan Musik Bambu kolaborasi Komstrad Entertainment pimpinan Yoyon Darsono, giliran para pemain calung terkenal beraksi di panggung, seperti Haji Yayan Jatnika (keponakan Darso), Ujang Darso (putra bungsu tokoh calung, penyanyi Sunda legendaris, Sang The’ Phenomenon Hendarso/Kang Darso-Alm.), Abiel Jatnika, putra Yayan Jatnika, alumni ISBI Bandung (berhalangan hadir), Mang Jey (Si Tangan Gledeg, dalang calung jago kleter, ngagorek calung melodi) cs, Nenda Harewos dari Paguyuban Calung Kabupaten Bandung. Juga tak ketinggalan Bah Juyaman dan Bah Enjang dari Paguyuban Calung Kabupaten Sumedang, dengan pirigan Gumasep Grup pimpinan Abah Adis. (Ade Rohana, S.Sn., M.SI., tokoh seni pengerak Padepokan Seni Dangiang Jagat, pemain calung yang juga mantan birokrat dan Camat Pamulihan Sumedang, juga sedianya akan datang, tapi tidak bisa hadir karena sakit). Semua ikut kaul meramaikan kariaan hajatan.
![]() |
| Tari Penyambutan Pengantin oleh Komunitas Seniman Tradisi (KOMSTRAD) pimpinan Yoyon Darsono. |
Walau malam itu hujan, penonton tetap tak beringsut menyaksikan dan menikmati lagu-lagu Sunda dari para Bentang Calung hingga akhir. Yoyon yang si empunya hajat pun didaulat menyanyikan “Mawar Bodas” (karangan Uko Hendarto yang dipopulerkan Darso), bernyanyi trio bersama Yayan Jatnika dan Ujang Darso.
Tentu saja Yoyon dan keluarga terharu campur bahagia dan sangat berterima kasih kepada pengisi acara dan tamu undangan yang bekenan hadir meluangkan waktu di acara syukuran Mulung Mantu tsb.
Nah, hiburan hajatan di Saung Budaya Yoyon yang diisi para bentang calung tersebut, oleh Yoyon Dharsono dinamakan “Parade Bentang Calung”.
Yoyon sengaja ngasih nama tersebut karena selanjutnya mereka akan dilibatkan di perhelatan akbar, Parade Bentang Calung Jawa Barat 2027, yang diinisiasinya.
![]() |
| Yoyon Darsono,S.Kar., M.Sn, Akademisi dan Seniman Sunda (Foto Istimewa) |
Selain itu, karena Yoyon mengajar (dosen) di Program Studi Angklung dan Musik Bambu ISBI Bandung, Parade Bentang Calung tersebut jadi inspirasi dan memperkuat keinginannya untuk memasukan Calung Sunda ke mata kuliah di jurusannya. “Masa Calung Banyumas dan Calung Rindik Bali ada mata kuliahnya, sedangkan Calung Sunda tidak ada. Kan ISBI ada di tanah Sunda,” demikian alasan Yoyon.
Yoyon juga sudah ngobrol dengan Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, Dr. Ismet Ruchimat, juga Ketua Jurusan Angklung dan Musik Bambu Dr. Hinhin Agung Daryana serta Sekretaris Jurusan Moch. Gigin Ginanjar, M.Sn., dan alhamdulillah semuanya mendukung, mendapat respon baik, dan calung akan diusahakan masuk mata kuliah.
Dan ini jadi khabar baik bagi para seniman calung yang main di Parade Bentang Calung di Saung Budaya Yoyon, sebab mereka sempat curhat sebagai praktisi merasa tidak diakui oleh para akademisi. Calung dari daerah lain ada mata kuliahnya, tapi calung Sunda tidak ada. Dan kalau ada mata kuliah Calung di ISBI, ini akan sesuai dengan visi-misi ISBI sebagai garda terdepan pelestari seni budaya tradisi Sunda.
Ya, karena Calung Sunda itu kan bukan hanya sekadar Calung Jingjing (calung yang ditenteng seperti yang dilihat sekarang), tapi akan dipelajari dan terlestarikan pula Calung Tarawangsa, Calung Renteng, Calung Rantay, yang merupakan Calung Buhun, cikal bakal calung (calung jingjing) yang ada sekarang, yang dikembangkan oleh mahasiswa Unpad yang tergabung dalam Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa sekitar tahun 1961, yang dirintis Ekik Barkah dkk.
“Kalau ini terwujud, tentu para bentang calung termasuk Haji Yayan Jatnika (Alumni ASTI, sebelum jadi STSI dan menjadi ISBI Bandung sekarang) dan Pak Ade Rohana, dan lainnya, tentu akan sangat bahagia sekali karena merasa diakui, punya induk, punya lembaga,” terang Yoyon.
Para praktisi calung tersebut juga, kata Yoyon, kalau dulu bisa dijadikan dosen tamu atau dosen luar biasa, kalau sekarang bisa dijadikan narasumber, sample, perkembangan Calung Jawa Barat, sejarah dan seni pertunjukan.
Kenal Calung Sejak SD di Darmaraja Sumedang
Yoyon mengenal calung sejak SD di tempat kelahirannya di Darmaraja, Sumedang. Selain diajarkan calung oleh guru SD-nya, Yoyon juga di rumah belajar calung pada Mang Ooy, pamannya (guru kesenian SD), dan kecapi salendro, piul/biola, dan suling kepada ayahnya, Pak Amin (Alm.).
![]() |
| Yayan Jatnika tampil memikat di Saung Budaya Yoyon (Foto Istimewa) |
“Calung itu sangat disukai masarakat dari dulu hingga sekarang. Saya aja sekarang usia sudah 65 tahun, dari SD sudah mengenal calung, diajarkan guru dan Mang Ooy (pamannya) yang juga guru SD. Selain itu, saya juga di rumah belajar kacapi salendro, biola/piul, dan suling kepada bapak (Pak Amin-Alm.). Beliau itu bukan seniman pertunjukan, tapi seninya untuk kalangenan saja. Habis pulang dari sawah, setelah istirahat, selepas Isa saya disuruh menyalakan lampu patromak, lalu bapak memainkan kecapi salendronya di bale-bale rumah panggung, ditonton keluarga, bubar-bubar jam 10–11 malam,” kata Yoyon bercerita kenangan manisnya waktu kecil bersama keluarga.
Ya, sebagaimana kita tahu, Yoyon Darsono adalah seniman Sunda serba bisa yang sudah manggung ke berbagai mancanagara. Selain dikenal sebagai anggota grup band Krakatau Etno, ia juga dosen Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan Ketua Paguyuban Seniman dan Budayawan (Pasebban) Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Seniman Sunda trah keluarga besar IKOTW (Ikatan Obor Tatali Warangi) Limbangan Garut ini juga sekarang lagi rajin mengelola Saung Budaya Yoyon (SBY) di Kompleks GCI RW 17, Desa Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung. (Asep GP)***
Hajatan Mulung Mantu Ala Seniman Sunda Yoyon Dharsono: Menginspirasi Calung Sunda Jadi Mata Kuliah di ISBI Bandung
Ida Rosida ngawih Mang Kokoan Wanda Anyar di Syukuran Mulung Mantu Yoyon Darsono (Foto Istimewa) Hajatan, syukuran, resepsi pernikahan pad...
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)




































.jpeg)
%20pimpinan%20Yoyon%20Darsono..jpeg)
.jpeg)
.jpeg)





