Wednesday, August 12, 2026
![]() |
| Dari kiri: Kurator Rahmat Jabbaril, Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan, Gina Puspitasari, dan Tata Sutaryat dalam pembukaan Pameran Seni Rupa SORARUPA di Plataran Bandung (9/8/2026). |
Sorarupa: Menafsir Bunyi Menjadi Rupa, menghadirkan karya-karya yang lahir dari perjumpaan antara bunyi, pengalaman, dan ekspresi visual. Sebuah ruang untuk menikmati seni, berdialog, dan merayakan kreativitas bersama.
Pameran Seni Rupa Kontemporer yang diinisiasi Rumah Seni Ropih bersama Plataran Bandung ini, berlangsung mulai dari tanggal 9 Agustus 2026 hingga 30 Agustus 2026 di Plataran Bandung, Jl. Diponegoro No. 27, Kota Bandung.
![]() |
| Pengguntingan Pita |
Menampilkan 9 Seniman: Dede Ginanjar, Tata Sutaryat, Dede Mahyudin, Rizkan Gumilang, Lian Kyla Kizhaya Sulwen, Zalu Adhiyat, Azizah Permata Qalbu, Defany Sri Nurbudi, dan Agus.nsb.
Pada sesi Pembukaan, Minggu (9/8/2026), hadir Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., yang sekaligus membuka acara, kurator Rahmat Jabbaril, Tata Sutaryat, Gina Puspitasari (Ketua Rumah Seni Ropih), para seniman dan budayawan, serta para pelajar dan mahasiswa Bandung, bahkan ada dua orang mahasiswa dari Cirebon yang sengaja datang menghadiri pembukaan pameran, Muhammad Afana Fitro (LPK Minori) dan Fikhar Moh. Akram, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon, Angkatan 2024.
Pada sesi Pembukaan, Minggu (9/8/2026), hadir Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., yang sekaligus membuka acara, kurator Rahmat Jabbaril, Tata Sutaryat, Gina Puspitasari (Ketua Rumah Seni Ropih), para seniman dan budayawan, serta para pelajar dan mahasiswa Bandung, bahkan ada dua orang mahasiswa dari Cirebon yang sengaja datang menghadiri pembukaan pameran, Muhammad Afana Fitro (LPK Minori) dan Fikhar Moh. Akram, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon, Angkatan 2024.
![]() |
| Tata Sutaryat dengan lukisannya “Nojer ka Bagal Buana” yang sarat dengan falsafah Sunda. |
Dalam sambutannya Kadisbudpar Kota Bandung mengatakan, Pemerintah Kota Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap Rumah Seni Ropih terus konsisten memberikan ruang kreativitas melalui kegiatan seni rupa, pelestarian budaya, edukasi seni juga kolaborasi bersama masyarakat.
“Kami dari Disbudpar Kota Bandung, alhamdulillah dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Seni Ropih, tentu menjadi ruang ekspresi bagi senimannya, kemudian edukasi budaya tentang memperkuat kolaborasi karya ekosistem seni di Kota Bandung terus makin sibuk, “ kata Adi.
“Kami dari Disbudpar Kota Bandung, alhamdulillah dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Seni Ropih, tentu menjadi ruang ekspresi bagi senimannya, kemudian edukasi budaya tentang memperkuat kolaborasi karya ekosistem seni di Kota Bandung terus makin sibuk, “ kata Adi.
![]() |
| Rizkan Gumilang bersama Kadisbudpar Kota Bandung dengan latar karya patung Kacapi Parahu dan Piul/Biolanya. |
“Kami yakin bahwa sebuah kota itu maju bukan hanya dibangun oleh infrastruktur, materi, tetapi yang lebih penting adalah masyarakat yang terus menjaga kreativitasnya, berbudaya. Dan sebenarnya hati kita menjadi kering kalau tidak disentuh seni dan budaya. Hanya menghadapi polutan-polutan materi yang terkadang menghilangkan suara hati nurani (Adi mencontohkan penebangan pohon di pinggir jalan di Kota Bandung untuk kepentingan toko atau tempat usaha adalah perbuatan tidak berbudaya). Jadi kegiatan ini sangat baik dan terus menjangkau identitas kita, dan ini sebetulnya yang akan menjadi ruh dari pembangunan di kota kita, “ pungkasnya.
Demikian juga dari pihak Plataran Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada Rumah Seni Ropih yang menggelar pameran di salah satu venue yang ada di Plataran Bandung, Gallery of Old Bandung Paris Van Java, sebuah lorong yang dipersiapkan khusus untuk menampung karya para seniman yang ada di Kota Bandung.
Demikian juga dari pihak Plataran Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada Rumah Seni Ropih yang menggelar pameran di salah satu venue yang ada di Plataran Bandung, Gallery of Old Bandung Paris Van Java, sebuah lorong yang dipersiapkan khusus untuk menampung karya para seniman yang ada di Kota Bandung.
![]() |
| Mahasiswa dari Cirebon, Fikhar (kiri) dan Muhammad Afana (kanan) bersama perupa Lian Kyla Kizhaya Sulwen dan karyanya. |
“Plataran Bandung sangat berterima kasih dan mengapresiasi besar kepada Rumah Seni Ropih dan juga para seniman yang ikut memeriahkan acara pameran yang dibuka Kadisbudpar Kota Bandung, yang berlangsung mulai dari 9-30 Agustus 2026 ini, “ demikian dikatakan Auryn, Marcom (Marketing Communication/Humas) Plataran Bandung, kepada wartawan.
Auryn juga mempersilakan publik seni Bandung yang akan mengapresiasi, melihat karya seni dari Rumah Seni Ropih ini tanpa dipungut bayaran alias gratis.
Auryn juga mempersilakan publik seni Bandung yang akan mengapresiasi, melihat karya seni dari Rumah Seni Ropih ini tanpa dipungut bayaran alias gratis.
Bahkan kata Auryn Plataran Bandung sangat terbuka bagi para seniman Bandung yang akan menggelar karya di galerinya. Tinggal menghubungi marcom-nya saja.
“Terus berkembang karya seni, terus maju seniman-seniman Indonesia, khususnya para seniman Bandung. Jangan takut berkarya karena semua karya itu bagus tidak ada yang jelek. Semua karya punya nilai seninya masing-masing dan layak untuk ditampilkan di khalayak umum, “ tandasnya.
Nilai-nilai filosofi Tembang Cianjuran dan Manuskrip Sunda Dalam Kanvas Tata Sutaryat
Menarik disimak karya Tata Sutaryat yang menampilkan bentuk geometri segitiga tidak seperti umumnya karya yang persegi panjang. Tata menggunakan bidang 3 (Tiga) dalam struktur kanvasnya, karena segitiga dalam struktur geometri adalah gabungan dari beberapa garis yang paling sederhana dan paling kuat dibanding segi 4 yang bisa goyah. Segi 3 membentuk suatu kekuatan geometri, kekuatan saling menopang yang lebih kuat - kokoh. Dan ini juga sering diaplikasikan ke struktur jembatan, besi betonnya memakai pola 3 agar kuat dan kokoh.
“Terus berkembang karya seni, terus maju seniman-seniman Indonesia, khususnya para seniman Bandung. Jangan takut berkarya karena semua karya itu bagus tidak ada yang jelek. Semua karya punya nilai seninya masing-masing dan layak untuk ditampilkan di khalayak umum, “ tandasnya.
Nilai-nilai filosofi Tembang Cianjuran dan Manuskrip Sunda Dalam Kanvas Tata Sutaryat
Menarik disimak karya Tata Sutaryat yang menampilkan bentuk geometri segitiga tidak seperti umumnya karya yang persegi panjang. Tata menggunakan bidang 3 (Tiga) dalam struktur kanvasnya, karena segitiga dalam struktur geometri adalah gabungan dari beberapa garis yang paling sederhana dan paling kuat dibanding segi 4 yang bisa goyah. Segi 3 membentuk suatu kekuatan geometri, kekuatan saling menopang yang lebih kuat - kokoh. Dan ini juga sering diaplikasikan ke struktur jembatan, besi betonnya memakai pola 3 agar kuat dan kokoh.
Kata Tata bidang tiga juga ada dalam Filosofi Tilu Sunda, pola tiga Sunda, Kosmologi Sunda Tri Tangtu di Bhuana, “Kalau di Sunda ada Rama-Resi-Ratu. Konsep yang yang diwariskan turun-temurun dari karuhun Sunda yang bisa diterapkan dalam ketatanegaraan dan diri pribadi juga pada konstruksi bangunan atau jembatan agar kuat dan kokoh. Karena memang struktur Geometri yang paling kokoh adalah segitiga, “ terangnya.
Filosofi, gambaran yang diambil, adalah bagaimana nilai-nilai filosofi dalam Tembang Sunda Cianjuran digambarkan dalam kanvas. Salah satunya lagu Pangapungan yang diaplikasikan ke dalam lukisannya yang berjudul “Nojer ka Bagal Buana”. Kata Tata Lagu Pangapungan yang termasuk ke dalam kelompok wanda Papantunan (bersumber dari lagu-lagu pantun), yang selalu didahului oleh Papatet Ratu menggambarkan proses naik ke jabaning langit seperti dalam cerita pantun Mundinglaya Dikusumah, di mana Munding Laya naik ke langit untuk mengambil Layang Salaka Domas yang dijaga Guriang 7 (gambaran perjuangan keras meraih cita-cita yang banyak rintangannya, dan harus dihadapi dengan kesabaran dan kebersihan hati dengan menaklukkan Guriang 7, simbol jurig, Duruwiksa atau simbol 7 lubang yang ada dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan ditata peruntukannya).
Filosofi, gambaran yang diambil, adalah bagaimana nilai-nilai filosofi dalam Tembang Sunda Cianjuran digambarkan dalam kanvas. Salah satunya lagu Pangapungan yang diaplikasikan ke dalam lukisannya yang berjudul “Nojer ka Bagal Buana”. Kata Tata Lagu Pangapungan yang termasuk ke dalam kelompok wanda Papantunan (bersumber dari lagu-lagu pantun), yang selalu didahului oleh Papatet Ratu menggambarkan proses naik ke jabaning langit seperti dalam cerita pantun Mundinglaya Dikusumah, di mana Munding Laya naik ke langit untuk mengambil Layang Salaka Domas yang dijaga Guriang 7 (gambaran perjuangan keras meraih cita-cita yang banyak rintangannya, dan harus dihadapi dengan kesabaran dan kebersihan hati dengan menaklukkan Guriang 7, simbol jurig, Duruwiksa atau simbol 7 lubang yang ada dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan ditata peruntukannya).
Tata juga memvisualkan warna-warna dalam lagu pangapungan rumpaka ka-4 ke dalam lukisan Nojer ka Bagal Buana, “NepI kana mega bodas, mega kayas, mega jingga, mega paul., mega hideung,” hingga ujung dari lukisan segitiganya yang berwarna Emas, Layang Salaka Domas (gambaran penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa atas segala usaha).
Lukisan keduanya berjudul, “Itu Gunung Naon”, yang inspirasinya dari lagu Nataan Gunung yang tiap baitnya selalu diakhiri dengan “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa). Gambaran dari akal, pikiran, otak atau kepala manusia (gambaran gunung yang ada pada diri manusia). Jadi menurut Tata “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa), sama dengan bertanya, “Itu manusia yang bagaimana/seperti apa.”
Lukisan keduanya berjudul, “Itu Gunung Naon”, yang inspirasinya dari lagu Nataan Gunung yang tiap baitnya selalu diakhiri dengan “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa). Gambaran dari akal, pikiran, otak atau kepala manusia (gambaran gunung yang ada pada diri manusia). Jadi menurut Tata “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa), sama dengan bertanya, “Itu manusia yang bagaimana/seperti apa.”
Dan ini kata Tata masih ada korelasinya dengan lukisan Nojer ka Bagal Buana, “Jadi Guriang 7 itu ada di gunung manusia, ada di 7 lubang yang ada di Kepala kita, “ katanya pasti.
Tata juga membandingkan Nataan Gunung ini dengan naskah Sunda Kuna Bujangga Manik (yang sekarang lagi booming diteliti Prof. Bagus Mulyadi), “Saya setahun lalu mencoba membandingkan sebuah manuskrip lalampahan Bujangga Manik yang menelusuri gunung dan sungai yang detail dan nyata itu dengan lagu Nataan Gunung Cianjuran dan ternyata ada 80% kesamaan. Berarti lagu Nataan Gunung bukan hanya menceritakan perasaan lewat lagu saja, tapi itu memang menceritakan letak gunung-gunung di Tatar Sunda,” paparnya.
Tata juga membandingkan Nataan Gunung ini dengan naskah Sunda Kuna Bujangga Manik (yang sekarang lagi booming diteliti Prof. Bagus Mulyadi), “Saya setahun lalu mencoba membandingkan sebuah manuskrip lalampahan Bujangga Manik yang menelusuri gunung dan sungai yang detail dan nyata itu dengan lagu Nataan Gunung Cianjuran dan ternyata ada 80% kesamaan. Berarti lagu Nataan Gunung bukan hanya menceritakan perasaan lewat lagu saja, tapi itu memang menceritakan letak gunung-gunung di Tatar Sunda,” paparnya.
Lukisan ketiga “Cancandran”, inspirasinya dari lagu Sunda Mekar. Ada visi-misi, keduanya lebih menggambarkan alamnya dan yang ketiga seuweu–siwi Siliwangi. Jadi lebih ke gambaran dalam memelihara alam warisan karuhun yang harus bisa diwariskan ka generasi saterusnya dengan utuh, tidak dirusak, tidak dikurangi apalagi untuk dieksploitasi demi keuntungan pribadi, karena kita bukan pemilik tapi meneruskan, “Harus seperti meneruskan tongkat estafet lah, utuh, tidak dikurangi, kalau sekilo ya sekilo, sebongkah, segram, ya segitu tidak dikurangi, “ tuturnya.
Dan Tata membuktikan itu semua, putranya, Rizkan Gumilang siap meneruskan tongkat estafet dari bapaknya. Dalam pameran ini Rizkan ikut menampilkan karya patungnya yang berbentuk Kacapi Parahu dan Piul/Biola dari bahan kawat.
Dan Tata membuktikan itu semua, putranya, Rizkan Gumilang siap meneruskan tongkat estafet dari bapaknya. Dalam pameran ini Rizkan ikut menampilkan karya patungnya yang berbentuk Kacapi Parahu dan Piul/Biola dari bahan kawat.
Menurut Tata, Rizkan memang dari kecil sudah akrab dengan kacapi dikenalkan bapak, demikian juga kakaknya Eviani Amalia menyukai biola hingga sekarang pun menjadi guru biola. Ternyata setelah ditelusuri kakeknya pun pemaen piul/biola Sunda. Demikian dikatakan Tata kepada wartawan usai pembukaan pameran dan diskusi.
Menurut Kurator Rahmat Jabbaril, ini adalah kali kedua dia mengkuratori pameran keluragan almarhum Abah Ropih. Kali ini temanya tentang Sora Rupa yang berhubungan dengan musik. Karena kebetulan hampir dari seluruh peserta punya pengalaman atau ada hubungannya dengan dunia musik, baik tradisi maupun modern.
Menurut Rahmat ini sesuatu yang cukup menarik. Karena selama ini seni rupa hanya dilihat dari perspektif seni rupanya saja tidak dilihat dari perspektif musik.
Menurut Kurator Rahmat Jabbaril, ini adalah kali kedua dia mengkuratori pameran keluragan almarhum Abah Ropih. Kali ini temanya tentang Sora Rupa yang berhubungan dengan musik. Karena kebetulan hampir dari seluruh peserta punya pengalaman atau ada hubungannya dengan dunia musik, baik tradisi maupun modern.
Menurut Rahmat ini sesuatu yang cukup menarik. Karena selama ini seni rupa hanya dilihat dari perspektif seni rupanya saja tidak dilihat dari perspektif musik.
Dia mencoba mengelaborasi kesadaran apa itu musik dan apa itu seni rupa, “Nah saya berpikiran musik dan seni rupa itu kesatuan utuh yang tidak bisa dilepaskan. Seolah-olah musik berdiri sendiri padahal dia berhubungan dengan bentuk rupa, begitu juga sebaliknya. Jadi musik dan rupa selalu akan saling berkaitan satu sama lain, “ tegas Rahmat.
Rahmat juga mengatakan, dilihat dari perspektif kodratnya musik dan rupa itu semacam hukum alam yang tidak bisa dipungkiri bahwa ujungnya ke bunyi. Bunyi sama rupa, wujud, itu adalah kesemestaan, realitas semesta yang kemudian irama bunyi yang membentuk irama itu menjadi nada kehidupan, bisa menjadi musik yang sesungguhnya, bisa juga dalam perjalanan laku hidup. Itu juga sebagai nada hidup.
“Nah bagaimana ujungnya dari semua nada ini, sebetulnya tidak berujung. Si Nada ini akan terus berkembang, bagai spiral, antara rupa dan bunyi itu selalu begitu. Makanya tidak ada istilah endisme, dia akan tumbuh terus menjadi apa dan apa, dan seterusnya. Misalnya dalam kehidupan manusia setelah kematian ada kehidupan lagi. Itu tidak bisa dipungkiri. Seperti juga tergambarkan pada kenyataan hidup kita, kita tidur pun ada kehidupan – dalam ketidaksadaran itu ada kehidupan, dalam bentuk mimpi,” demikian pungkas Rahmat Jabbaril.
***
Event selanjutnya dari pameran ini, Workshop Melukis Bunyi – KSS Experience yang akan berlangsung Minggu 30 Agustus 2026 mulai Pk. 14.00-17.00 di Plataran Bandung.
Bagaimana jika bunyi yang kita dengarkan dapat diterjemahkan menjadi warna, garis, bentuk, dan lukisan?
Dalam workshop ini peserta diajak untuk: Mendengar – Merasakan – Menafsirkan – Melukiskan bunyi menjadi karya visual.
Acara akan diawali Special Performance String Ensemble YMS Bandung, dilanjutkan dengan pengalaman kreatif KSS Experience.
Para peserta workshop akan mendapat alat dan bahan lukis, coffee break, hasil lukisan, dan sertifikat digital dengan membayar Rp150.000 untuk Pelajar/Mahasiswa dan Rp300.000 untuk peserta Umum/Profesional. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
August 12, 2026
CB Blogger
IndonesiaRahmat juga mengatakan, dilihat dari perspektif kodratnya musik dan rupa itu semacam hukum alam yang tidak bisa dipungkiri bahwa ujungnya ke bunyi. Bunyi sama rupa, wujud, itu adalah kesemestaan, realitas semesta yang kemudian irama bunyi yang membentuk irama itu menjadi nada kehidupan, bisa menjadi musik yang sesungguhnya, bisa juga dalam perjalanan laku hidup. Itu juga sebagai nada hidup.
“Nah bagaimana ujungnya dari semua nada ini, sebetulnya tidak berujung. Si Nada ini akan terus berkembang, bagai spiral, antara rupa dan bunyi itu selalu begitu. Makanya tidak ada istilah endisme, dia akan tumbuh terus menjadi apa dan apa, dan seterusnya. Misalnya dalam kehidupan manusia setelah kematian ada kehidupan lagi. Itu tidak bisa dipungkiri. Seperti juga tergambarkan pada kenyataan hidup kita, kita tidur pun ada kehidupan – dalam ketidaksadaran itu ada kehidupan, dalam bentuk mimpi,” demikian pungkas Rahmat Jabbaril.
***
Event selanjutnya dari pameran ini, Workshop Melukis Bunyi – KSS Experience yang akan berlangsung Minggu 30 Agustus 2026 mulai Pk. 14.00-17.00 di Plataran Bandung.
Bagaimana jika bunyi yang kita dengarkan dapat diterjemahkan menjadi warna, garis, bentuk, dan lukisan?
Dalam workshop ini peserta diajak untuk: Mendengar – Merasakan – Menafsirkan – Melukiskan bunyi menjadi karya visual.
Acara akan diawali Special Performance String Ensemble YMS Bandung, dilanjutkan dengan pengalaman kreatif KSS Experience.
Para peserta workshop akan mendapat alat dan bahan lukis, coffee break, hasil lukisan, dan sertifikat digital dengan membayar Rp150.000 untuk Pelajar/Mahasiswa dan Rp300.000 untuk peserta Umum/Profesional. (Asep GP)***
Pameran Seni Rupa SORARUPA: Menafsir Bunyi Menjadi Rupa
Dari kiri: Kurator Rahmat Jabbaril, Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan, Gina Puspitasari, dan Tata Sutaryat dalam pembukaan Pameran Seni ...
Wednesday, July 22, 2026
![]() |
| Dr. Supriatna dengan latar belakang karya mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung pada Pameran "Setalah Ini Pameran Hanya..." di Galeri ASTAKA FSRD ISBI Bandung (20–22 Juli 2026). |
Kegiatan ini digelar di Galeri ASTAKA Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISBI Bandung, Jalan Buah Batu No. 212, Kota Bandung, dari tanggal 20–22 Juli 2026.
Pameran bertajuk "Setalah Ini Pameran Hanya…", yang dibuka oleh Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., menampilkan beragam karya empat orang mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung.
![]() |
| Jihan Azhari, motif ukir Rumah Gadang Kaluak Paku Kacang Balingbiang diaplikasikan pada busana pengantin modern. (Foto: Asep GP) |
Fuad Saefuz Zaman (Pupu) mengeksplorasi limbah kain denim (bahan jeans) menjadi berbagai kostum karakter tokoh folklor (cerita rakyat).
Gilang Mustofa mengolah tanah liat yang diambil dari kampung halamannya menjadi lukisan bertema AMD (ABRI Masuk Desa, program kreatif pengabdian masyarakat ABRI/TNI yang diinisiasi Jenderal M. Jusuf pada tahun 1980), yang merupakan peristiwa yang diingat secara kolektif oleh masyarakat yang mengalaminya.
![]() |
| Pupu (Fuad Saefuz Zaman) mengeksplorasi limbah kain denim menjadi kostum karakter tokoh folklor. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Jihan Azhari Nurani mengolah sulaman emas untuk diaplikasikan pada pakaian pernikahan khas Minang. Jihan mengeksplorasi motif ukir hias Rumah Gadang Minangkabau, Kaluak Paku Kacang Balingbiang, untuk karyanya. Motif hias ukir yang kini sudah jarang ditemui di Sumatera Barat ini ia aplikasikan ke dalam busana pengantin modern dengan teknik bordir agar tidak punah ditelan masa dan dilupakan generasi muda.
![]() |
| Gilang Mustofa mengolah tanah liat dari kampungnya menjadi lukisan bertema ABRI Masuk Desa. (Foto: Istimewa) |
Kaluak Paku Kacang Balingbiang ini, menurut Jihan, adalah salah satu motif ukiran dalam adat Minangkabau yang melambangkan pertumbuhan, kebersamaan, keseimbangan, tanggung jawab, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam kehidupan sosial. Proses eksplorasi dilakukan terhadap nilai filosofis motif, referensi visual busana pengantin tradisional dan modern, serta pengembangan teknik bordir sebagai medium ekspresi artistik. "Hasil karya ini diharapkan menghasilkan karya busana pengantin yang mempertahankan identitas budaya Minangkabau sekaligus menghadirkan kebaruan visual dan konseptual yang relevan dengan perkembangan seni dan desain busana modern," tutur Jihan, yang berdarah Sunda-Minang ini.
![]() |
| Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan.
Menurut Kurator Pameran, Supriatna, "Setalah Ini Pameran Hanya…" merupakan sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Judul ini tidak dimaksudkan sebagai penutup, melainkan sebagai pembuka bagi berbagai kemungkinan makna setelah karya dipertemukan dengan publik.
![]() |
| Kepala Biro Akademik dan Umum, Dede Priana, turut mengapresiasi. (Foto: Asep GP) |
Kata Setalah, yang tidak mengikuti ejaan baku, menjadi simbol bahwa proses berkesenian tidak selalu berjalan dalam kesempurnaan. Kesalahan, keraguan, dan proses pencarian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik artistik.
Melalui pameran ini, setiap karya dihadirkan bukan untuk memberikan jawaban yang pasti, melainkan mengundang pertanyaan, refleksi, dan kemungkinan interpretasi baru. "Dengan demikian, 'Setalah Ini Pameran Hanya…' menjadi pengingat bahwa setelah ruang pamer ditinggalkan, karya tidak benar-benar selesai. Ia terus hidup melalui ingatan, percakapan, dan makna yang dibangun oleh setiap orang yang mengalaminya," demikian kata Supriatna. (Asep GP)***
Pameran Seni Rupa 4 Mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung
Dr. Supriatna dengan latar belakang karya mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung pada Pameran "Setalah Ini Pameran Hanya..."...
Sunday, July 19, 2026
Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang terbuka terhadap keberagaman dan persahabatan internasional melalui penyelenggaraan West Java International Fun Folk Festival yang berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Minggu (19/7/2026). Festival budaya yang mempertemukan delegasi dari Indonesia, Rusia, Malaysia, Filipina, dan India ini menghadirkan pertunjukan seni tradisional yang memukau sekaligus menjadi ruang diplomasi budaya yang mempererat hubungan antarmasyarakat lintas negara. Lions Club Bandung Sangkuriang dan Lions Club Bandung Raya bekerja sama menyelenggarakan kegiatan ini berkolaborasi dengan Color of Indonesia dan Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Kota Bandung.
![]() |
| Acara diresmikan oleh Walikota Bandung |
![]() |
| Defile lima negara |
![]() |
| MC memperkenalkan salah satu delegasi dari negara India tepatnya dari Gujarat dan akan menarikan tarian dari Gujarat. |
![]() |
| MC Siska dari Lions Club Bandung Sangkuriang memperkenalkan delegasi dari Philipina yang akan menampilkan tarian untuk perkawinan. |
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Panitia Pelaksana, Irma Suganda dari Lions Club Bandung Sangkuriang. Dalam sambutannya, Irma menyampaikan bahwa festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah gerakan untuk membangun persahabatan dunia melalui kebudayaan. "Kami merasa terhormat dapat mempertemukan sahabat-sahabat dari lima negara di Kota Bandung. Semoga festival ini menjadi jembatan yang memperkuat diplomasi budaya, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Jawa Barat kepada masyarakat internasional," ujar Irma. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Novi Khotimah dari Color of Indonesia, Ketua Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Jawa Barat Hj. Lina Marlina Ruzhan, S.E., serta Ketua Wilayah Lions Clubs, Lion Chen Sun Fen. Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, S.E. Dalam sambutannya, Farhan menyampaikan apresiasi atas kehadiran para delegasi mancanegara yang telah memilih Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan festival budaya internasional tersebut. "Kami merasa sangat terhormat menyambut para tamu dari Rusia, Malaysia, Filipina, dan India. Bandung memiliki sejarah panjang sebagai kota yang membangun dialog dunia melalui semangat Konferensi Asia Afrika. Hari ini semangat itu kembali hidup melalui diplomasi budaya yang menghadirkan persahabatan tanpa batas," kata Farhan.
![]() |
| MC memperkenalkan delegasi dari Rusia tepatnya dari Moscow. |
![]() |
| MC Siska memperkenalkan delegasi dari Malaysia tepatnya dari Sabah. |
![]() |
| Delegasi dari Indonesia salah satunya tari Merak yang akan tampil dalam West Java International Fun Folk Festival |
Kemeriahan festival diawali dengan penampilan Rampak Kendang dan tari gamelan yang dibawakan sekitar 30 siswa SDN M. Toha. Penampilan generasi muda tersebut menjadi simbol bahwa pelestarian budaya harus dimulai sejak usia dini, terlebih menjelang peringatan Hari Anak Nasional. Suasana semakin semarak ketika lima penari yang disuguhkan oleh Sanggar Pusbitari menampilkan Tari Merak, salah satu ikon budaya Jawa Barat yang telah diakui oleh Kemendikbudristek sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada Desember 2020. Penampilan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para tamu internasional. Delegasi Rusia, Malaysia, Filipina, dan India kemudian bergantian mempersembahkan tarian tradisional khas negaranya masing-masing. Beragam kostum, musik, dan gerak tari menciptakan harmoni budaya yang menunjukkan bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan untuk saling mengenal dan menghargai. Selain itu, juga dimeriahkan oleh berbagai tarian dari Sanggar Tari Tri dan Sanggar Rengganis.
![]() |
| Foto bersama dengan perwakilan delegasi dari lima negara |
![]() |
| Apresiasi penonton yang luar biasa |
Festival ditutup dengan Social Dance Tari Kalem Aya Urang/Balakutak Line Dance yang dipandu instruktur d’ULD (The Universal Line Dance) Jawa Barat. Seluruh tamu undangan, delegasi luar negeri, panitia, hingga masyarakat ikut menari bersama dalam suasana penuh kegembiraan.
Penyelenggaraan West Java International Fun Folk Festival dinilai berlangsung sukses, tertib, dan profesional. Para peserta mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Bandung serta kualitas penyelenggaraan acara. Festival ini menjadi bukti bahwa Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, mampu menjadi rumah bagi perjumpaan budaya dunia sekaligus menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya lokal sambil membangun persahabatan global. (Asep GP)***
Bandung Jadi Panggung Persahabatan Dunia, “West Java International Fun Folk Festival” Satukan Budaya Lima Negara
Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang terbuka terhadap keberagaman dan persahabatan internasional melalui penyelenggaraan W...
Monday, July 13, 2026
![]() |
| Aksi Penghijauan Kelompok Anak Muda "Bikers For Nature Live" di Kawasan Punclut,Bandung Utara.Minggu (12/7/2026).(Foto: Istimewa) |
Kelompok muda Bikers For Nature Life yang terdiri dari enam klub motor: Accidentally Familia, Rebel Bastard, Barred Nomad, Esquadron, Courage B’Brothers, dan Dulur MC, menggelar aksi terpuji dengan melakukan penghijauan, menanam ratusan pohon tegakan dan buah-buahan di Punclut, Bandung Utara, pada Minggu (12/7/2026).
Hal ini dilakukan untuk mengejar target penanaman hingga 3.000 bibit pohon sampai akhir tahun 2026.
Menurut Ketua Komunitas Bikers For Nature Life sekaligus Ketua Pelaksana, Gibran Ajib Jabbaril, kegiatan ini merupakan respons atas kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah Bandung, termasuk Kawasan Bandung Utara (KBU) dan wilayah penyangganya, yang hingga kini masih menjadi persoalan serius.
“Saat ini tutupan RTH di Bandung baru berkisar 17% hingga 24%. Padahal amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mewajibkan minimal 30% dari total luas wilayah harus berupa RTH,” jelas Gibran.
“Saat ini tutupan RTH di Bandung baru berkisar 17% hingga 24%. Padahal amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mewajibkan minimal 30% dari total luas wilayah harus berupa RTH,” jelas Gibran.
Di sisi lain, alih fungsi lahan di KBU sudah mencapai hampir 70% dari luas yang seharusnya menjadi kawasan hijau. Lonjakan pertumbuhan penduduk memicu konversi lahan menjadi permukiman dan ruang usaha, sehingga daya dukung lingkungan semakin tertekan.
“Merespons kondisi tersebut, kami komunitas anak muda yang tergabung dalam Bikers For Nature Life mengambil inisiatif nyata dengan menggelar aksi penghijauan,” tegas Gibran.
Kegiatan ini juga didukung oleh Serikat Petani Pasundan (SPP), Aktivis 98, Mapas, Jaga Seke, Satc Outdoor, Meped Interior, Maci, Oktum Boy, dan Watchjoe WD.
![]() |
| Gibran, Ketua Komunitas Muda "Bikers For Nature Live"(Kanan) bersama Wachjoe WD (Penasihat "Bikers For Nature Live") Foto: istimewa |
“Ini bukan sekadar aksi seremonial. Kami, anak muda, ingin membuktikan bahwa dengan motoran bisa berdampak baik untuk alam. Target kami adalah membantu mengembalikan fungsi ekologis KBU dan mengajak lebih banyak orang peduli terhadap kekurangan RTH di Bandung,” pungkas Gibran Ajib Jabbaril.
![]() |
| Foto bersama selesai acara |
Bikers For Nature Life berharap aksi ini menjadi pemantik kolaborasi antara bikers, petani, dan masyarakat luas untuk menjaga Bandung Utara sebagai kawasan resapan air dan paru-paru kota. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
July 13, 2026
CB Blogger
Indonesia
Kelompok Muda Bikers For Nature Life Gelar Aksi Penghijauan di Punclut Bandung Utara
Aksi Penghijauan Kelompok Anak Muda "Bikers For Nature Live" di Kawasan Punclut,Bandung Utara.Minggu (12/7/2026).(Foto: Istimewa) ...
![]() |
Dosen dan alumni STISI Bandung yang berpameran bersama Bu Cinta. (Foto: Asep GP) |
Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) di Hotel De Paviljoen Bandung, Jalan R.E. Martadinata No. 68 (Jalan Riau), Kota Bandung. Pameran yang berlangsung dari 10 Juli hingga 10 September ini dibuka langsung oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. Atalia Praratya, S.IP., M.Ikom., dan dimeriahkan oleh Disonansi Metafora (Musikalisasi Puisi).
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
Tatarjabar.com
July 13, 2026
CB Blogger
Indonesia![]() |
Gunting pita oleh Atalia Praratya sebagai tanda pameran resmi dibuka. (Foto: Asep GP) |
Pameran karya 45 seniman, dosen, dan alumni STISI (Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia) Bandung angkatan 90-an ini menampilkan beragam teknik, mulai dari lilitan kawat, arsiran, anyaman, teknik tempel, cat akrilik, cat minyak, pahatan, hingga eksplorasi mixed media. Keragaman itu menegaskan tidak ada jalur tunggal dalam berkesenian. Setiap seniman tumbuh lewat pengalaman berbeda, tetapi tetap membawa resonansi dari ruang pembelajaran yang dulu mempertemukan mereka.
![]() |
| Mengapresiasi Karya (Foto: Asep GP) |
Tajuk pameran "Pertemuan Ruang Waktu" ini, kata Kurator Pameran Rahmat Jabbaril, mengambil inspirasi dari gagasan ruang-waktu Albert Einstein. Pameran ini memandang karya seni sebagai jejak peristiwa. Setiap karya adalah rekaman proses panjang yang membentuk kesadaran artistik para penciptanya. Ruang pamer tidak hanya jadi lokasi, dan waktu tidak hanya hitungan tahun. Keduanya berfungsi sebagai medium yang mempertemukan kenangan, masa lalu, masa kini, proses, dan pencapaian.
![]() | ||
|
Rahmat juga membaca pameran ini lewat perspektif fenomenologi Edmund Husserl: kesadaran selalu bergerak menuju sesuatu. "Pertemuan Ruang Waktu" hadir ketika pengalaman artistik yang tersebar dalam rentang ruang dan waktu kembali menemukan medan perjumpaannya. Pameran ini bisa dibaca sebagai singularitas kecil, titik temu berbagai lintasan pengalaman, gagasan, dan ekspresi yang membentuk konstelasi baru.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Pameran seni rupa yang menampilkan beragam teknik ini mendapat apresiasi tinggi dari Atalia Praratya, yang saat itu membuka acara. Hampir semua seniman diajak ngawangkong, ditanya, dan diapresiasi karyanya. Kelihatannya Bu Cinta sangat menikmati sekali. Ya, maklum, doktor Ilmu Komunikasi lulusan Unpad ini penikmat seni, tahu dan mengerti tentang seni. Mantannya (Ridwan Kamil, mantan Gubernur Jabar) seorang arsitek kawakan dan banyak karya lukisnya. Ditambah putrinya sering memaksa diantar melihat pameran seni rupa dan pergi ke museum.
![]() |
| Foto: Asep GP |
"Seni itu perjuangan yang tidak mudah karena menghadirkan banyak hal, mulai dari pengalaman, perasaan, keindahan, dan berkaitan dengan waktu yang mematangkannya. Bu Cinta kenapa sok tahu tentang seni? Kan mantan saya orang seni, seniman dan arsitek yang senang melukis, dan anak saya hobinya ke museum melihat pameran. Jadi ema nya digigiwing diajak menemani," kata Atalia sambil tertawa, disambut tepuk tangan hadirin.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Karya 45 seniman STISI Bandung angkatan 90-an dari jurusan/prodi Fotografi, Kriya, Desain Interior, DKV, dan Seni Lukis yang menggunakan beragam teknik dan media ini, menurut Atalia, adalah sesuatu yang indah. Pertemuan ini tidak hanya mengumpulkan mereka yang satu tujuan terkait keindahan, tetapi juga bisa bernostalgia dan bersilaturahmi. Bersama, tetapi menunjukkan bahwa seni itu bisa beresonansi terkait semangat menghasilkan karya, semangat untuk terus belajar, dan bagaimana menciptakan karya seni yang bermakna.
![]() |
| Risma Nurhadiyani, Marcom Hotel De Paviljoen Bandung (Foto: Asep GP) |
"Saya reueus (bangga) karya-karya ini bisa terus dihadirkan. Jadi kalau ada sebuah ruang pameran, ya bukan hanya untuk menampilkan karya saja, tetapi menunjukkan bahwa memang seni itu akan selalu hadir dalam berbagai prosesnya, dan juga dalam berbagai ruang dan waktunya. Semoga pameran ini menjadi ruang apresiasi, inspirasi, juga kolaborasi bagi seluruh insan seni dan juga para pengunjung. Selamat atas dibukanya pameran ini. Semoga bisa memberikan semangat saling berbagi inspirasi. Termasuk ini juga kan mengayakan kebudayaan kita," pungkas Bu Cinta sambil menggunting pita.
![]() |
| Rahmat Jabbaril, Sang Kurator Pameran De Paviljoen Hotel (Foto:Asep GP) |
Kenapa di Hotel De Paviljoen Bandung Sering Ada Pameran Seni?
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Pameran di Hotel De Paviljoen Bandung digelar rutin tiga kali dalam setahun dengan tema yang berbeda. Untuk pengelolaannya biasanya bekerja sama dengan kurator. Pihak De Paviljoen hanya menyediakan venue (tempat) dan opening saat pameran seni (art exhibition) dimulai.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Risma juga menjelaskan, untuk art exhibition kali ini, apabila ada masyarakat yang ingin mengapresiasi karya seni dipersilakan datang, dan kalau berminat bisa langsung membelinya.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Karena di Bandung banyak perguruan tinggi seni, banyak seniman yang sudah malang melintang di event-event besar dunia, juga bisa melahirkan gerakan-gerakan budaya dan politik seperti Bung Karno yang kuliah di ITB Bandung dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Gagasan-gagasan seperti itu, kata Rahmat, harus jadi energi.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Kata Rahmat, kalau semua dikumpulkan ada ribuan dan ketemu lintas generasinya. Ini baru dari seni rupanya saja, belum dari seni lainnya.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Rahmat juga mengajak kepada seniman Bandung agar membesarkan Bandung, sarakan-nya (tempat kelahiran), terlebih dahulu, baru daerah lainnya. Karena perhelatan seni kontemporer di Yogya, ARTJOG, dan ARTSUB (di Surabaya) itu penggagasnya anak-anak muda Bandung.
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
Pameran “Pertemuan Ruang Waktu” Karya 45 Alumni STISI Bandung
Dosen dan alumni STISI Bandung yang berpameran bersama Bu Cinta. (Foto: Asep GP) Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) di Hotel De Pa...
Friday, July 10, 2026
![]() |
| Pernikahan Ulya Fatimah Zahrah dan Raden Ahmad Alvarizy, Sabtu (4/7/2026) di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung |
Kabar bahagia datang dari keluarga besar H. Asep Ruslan MS, S.Hut. dan Hj. Sri Arutinawati (alm). Putri ketiganya, Ulya Fatimah Zahrah, S.Agr. (Ulya), resmi dipersunting oleh Raden Ahmad Alvarizy, S.Agr. (Alva), putra pertama Prof. Dr. R. Arief Helmi, S.E., M.P. dan Rodianah, S.E. Sebagaimana diketahui, Asep Ruslan adalah Presiden/Ketua Umum Paguyuban Asep Dunia (PAD, periode 2020–2025) dan sekarang menjadi Dewan Pembina Pusat PAD (periode 2025–2030). Sedangkan besannya, Prof. Arief Helmi, adalah Guru Besar Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpad, dan kini menjabat Rektor Universitas Ekuitas Indonesia (UEI).
![]() |
| Pasangan Ulya Fatimah Zahrah dan Raden Ahmad Alvarizy, Sabtu (4/7/2026) dan keluarga besar Paguyuban Asep Dunia (PAD) di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung |
Akad dan resepsi pernikahan berlangsung khidmat serta dimeriahkan prosesi adat Sunda (Aki Lengser), Huap Lingkung, Bakakak, Nyawer, serta live music genre Sunda dan nostalgia oleh Sweet Java, pada Sabtu (4/7/2026), di Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati Ukur No. 35, Kota Bandung. Acara dihadiri keluarga besar, petinggi akademisi, pejabat pemerintahan, handai taulan, sahabat, serta tamu undangan dari berbagai daerah.
![]() |
| Pasangan yang berbahagia Ulya Fatimah Zahrah dan Raden Ahmad Alvarizy, Sabtu (4/7/2026) di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung |
Terlihat hadir para akademisi, di antaranya: Prof. Dr. R. Dudy Heryady, M.Si.; Drs. Asep (HC) Teuku Rezasyah, M.A., Ph.D.; Dr. Asep Mulyana, S.E., MCE.; Dr. Asep Sukendar, M.Pd.; Drs. Deni S. Hambali, M.Si. (mantan Direktur ASM Ariyanti Bandung); Hj. Nunung Nuraeni, S.Pd., M.Pd. (Kepala SMPN 51 Bandung); dan lain-lain.
![]() |
| Ulya Fatimah Zahrah bersujud mohon doa restu kepada ayahnya H. Asep Ruslan, Sabtu (4/7/2026) di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung |
Pejabat pemerintahan dan tokoh masyarakat juga hadir, di antaranya: Drs. Wahyu Mijaya, S.H., M.Si. (Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat/Bakesbangpol Jabar); Dr. H. Erwin, S.E., M.Pd. (Wakil Wali Kota Bandung); H. Asep Mulyadi, S.H. (Ketua DPRD Kota Bandung); Drs. Rully H. Alfiady (Ketua Umum AMS); Rd. H. Piar Pratama, S.H. (Ketua Umum Pengurus Besar Pager Kencana Indonesia); Ketua Umum PAD Asep Jaelani, S.Pd., M.Pd.; Ketua Dewan Pembina Pusat PAD Mayjen TNI (Purn) Asep Kuswandi, S.H.; Brigjen TNI (Purn) Asep Syarifudin (Anggota Dewan Pembina Pusat PAD); Asep Jena, S.H. (Ketua PAD DPD Tangerang–Banten); Asep Ozzy (Ketua PAD DPW Priangan Barat); Andri Perkasa Kantaprawira, S.IP., M.M. (Ketua Badan Pekerja MMS); Rd. Holil Aksan Umarzein (Pini Sepuh MMS); Asep Chaerulloh (mantan Bidang Pencegahan KPK & Wakil Ketua Badan Pekerja MMS); Direktur Utama PT Majmu Musti Sundaya H. Asep Zaenal Mustofa, SKM., M.Epid.; Jumari Haryadi (Konsultan Media, Pemred MajmusSunda.co.id); dan banyak lagi.
![]() |
| H. Asep Ruslan MS, S.Hut. dan Hj. Hidayati, S.Pd, bersama Prof. Dr. R. Arief Helmi, S.E., M.P. dan Rodianah, S.E. di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung |
Kedua mempelai juga mendapat pangwilujeng dan doa dari Ketua Paguyuban Pasundan Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Rury Ahmad Sururie, S.E., M.Si., beserta seluruh pengurus dan keluarga besar Paguyuban Pasundan di sana.
![]() |
| Ulya Fatimah Zahrah diapit kakaknya Putri Maharani dan Istiqomah, Sabtu (4/7/2026) di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung |
“Selamat menempuh hidup baru kepada Ananda Raden Ahmad Alvarizy, S.Agr. dan Ulya Fatimah Zahrah, S.Agr. Semoga Allah SWT menjadikan rumah tangga yang dibangun sebagai keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, dipenuhi keberkahan, kebahagiaan, kesehatan, rezeki yang halal dan luas, serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Semoga cinta kasih keduanya senantiasa terjaga hingga akhir hayat dan menjadi keluarga yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin,” kata Kang Rury.
![]() |
| Upacara Adat Pernikahan Ulya Fatimah Zahrah dan Raden Ahmad Alvarizy, Sabtu (4/7/2026) di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung |
Perlu diketahui, mempelai perempuan Ulya pernah bersekolah di SMP Negeri 2 Malinau. Asep Ruslan sendiri dikenal sebagai salah satu pendiri sekaligus deklarator berdirinya Paguyuban Pasundan Kabupaten Malinau pada tahun 2015, ketika masih berdinas di PT Adindo Hutani Lestari Kabupaten Malinau.
![]() |
| H. Asep Ruslan bersama para sahabatnya, Sabtu (4/7/2026) di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung |
Bersama para tokoh Sunda di Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan, beliau berperan aktif membangun wadah silaturahmi, pelestarian budaya Sunda, serta mempererat persaudaraan masyarakat Sunda di Provinsi Kalimantan Utara.
“Alhamdulillah, hingga saat ini Paguyuban Pasundan Kabupaten Malinau tetap eksis dan berkembang sebagai organisasi kemasyarakatan yang aktif melestarikan budaya Sunda melalui berbagai kegiatan sosial, seni, budaya, dan kebersamaan. Paguyuban ini juga menjadi salah satu dari 15 paguyuban yang secara resmi diakui oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau, serta terus bersinergi mendukung pembangunan daerah dan memperkuat nilai-nilai persatuan dalam keberagaman,” kata Asep Ruslan, reueus.
Selain itu, Asep Ruslan juga banyak mendapat karangan bunga dari para pejabat, di antaranya dari Wali Kota Bandung Muhammad Farhan; Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., beserta keluarga; Kapolda Jabar Komjen Pol Dr. Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H.; Ketua DPRD Jawa Barat Dr. Buky Wibawa, M.Si.; Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi & keluarga; Asep Jena, S.H. (Indictment Jurist & Co); Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri Letjen TNI Iwan Setiawan, S.E., M.M., beserta Ketua Persit KCK PCBS Pussenif Ny. Beti Iwan Setiawan; Burhanuddin Abdullah (Pini Sepuh Majelis Musyawarah Sunda, Gubernur Bank Indonesia 2003–2008, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Gus Dur, Rektor IKOPIN 2011–2023); Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA. (Rektor Unpad ke-10); Prof. Dr. Endang Komara, M.Si. (Rektor UNINUS); Drs. H. Kusmana Hartadji, M.M. (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat) beserta keluarga besar; Dr. Asep Kurnia (Sekretaris Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan); Keluarga Besar PT Majmu Musti Sundaya; dan lain-lain.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada bapak/ibu/akang/teteh yang sudah memberikan ucapan selamat dan doa restu untuk anak kami Ulya dan Alva, juga kepada Alinea Catering & Decoration, Noora Poto, dan Marryngonten. Hatur nuhun. Jazakumullahu Khairan Katsiran. Semoga menjadi amal kebaikan bagi semua dan mendapat balasan kebaikan yang luas serta penuh berkah dari Allah SWT. Aamiin,” pungkas Kang Asep Ruslan, haru campur bahagia. (Asep GP)***
Tatarjabar.com July 10, 2026 CB Blogger Indonesia
Pernikahan Putri Tokoh Asep Sedunia Dihadiri Akademisi, Pejabat, dan Tokoh Masyarakat
Pernikahan Ulya Fatimah Zahrah dan Raden Ahmad Alvarizy, Sabtu (4/7/2026) di Gedung Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Jl. Dipati Ukur No.35 Ba...
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)




























































