Wednesday, June 3, 2026
![]() |
| Lima Perupa-Pendidik Pameran Nawasena di Galeri SOS Babakan Siliwangi Bandung (1-7/6/2026), dari kiri:Wanda Listiani, Sri Rustiyanti, Supriatna, Ika Ismurdiyahwati & Ariesa Pandanwangi. |
Pameran bertajuk “Nawasena” ini berlangsung di Galeri Ruang A SOS Babakan Siliwangi, Kota Bandung, dari tanggal 1–7 Juni 2026 (dibuka untuk umum: pukul 10.00–17.00). Sedangkan artis talk akan berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) di tempat yang sama.
Kontributor pameran: Prof. Dr. Marijke J. Klokke, Anrilia EM Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Dra. Sriati Dwiatmini, M.Hum., Dra. Suryanti, M.Hum., Dr. Anita Restu Puji Raharjeng, M.Si., M.Biomed.Sc., Dwi Amelia Savitri, M.Pd., Ellysia Alena, Priyanka Azura Dilla, Riezquita, Mita Handayani, Zakiy Fauzi, dan Zimam Fauzi.
![]() |
| Melly Goeslaw (baju putih) sedang mengapresiasi karya para perupa, didampingi Kurator pameran Rahmat Jabbaril (bertopi). |
Adapun kelima perupa dan pendidik yang berpameran tersebut, yaitu Dr. Wanda Listiani dan Prof. Sri Rustiyanti (ISBI Bandung), Dr. Supriatna (ISBI Bandung), Dr. Ika Ismurdiyahwati (Universitas Adibuna Surabaya), dan Prof. Ariesa Pandanwangi (Universitas Kristen Maranatha).
Pameran dibuka oleh Melly Goeslaw (Anggota DPR RI Komisi X) dan dimeriahkan oleh Musikalisasi Disonansi Metafora.
Menurut kurator pameran, Rahmat Jabbaril, pilihan judul pameran Nawasena tiada lain sebagai pintu masuk dari perspektif kajian artistik berdasarkan hasil risetnya. Objek-objek artistik yang diajukan oleh kelima perupa tersebut berhubungan erat dengan sejarah, antropologi, sekaligus perkembangan sosial budaya masyarakat urban.
Pameran dibuka oleh Melly Goeslaw (Anggota DPR RI Komisi X) dan dimeriahkan oleh Musikalisasi Disonansi Metafora.
Menurut kurator pameran, Rahmat Jabbaril, pilihan judul pameran Nawasena tiada lain sebagai pintu masuk dari perspektif kajian artistik berdasarkan hasil risetnya. Objek-objek artistik yang diajukan oleh kelima perupa tersebut berhubungan erat dengan sejarah, antropologi, sekaligus perkembangan sosial budaya masyarakat urban.
![]() |
| Ariesa Pandanwangi, menuangkan kisah perjalanan bangsawan, resi pertapa Pajajaran,Bujangga Manik, dalam karya seni batik |
Wanda Listiani dan Sri Rustiyanti mengeksplorasi hasil temuannya di wilayah kepulauan Sumatera dalam bentuk karya seni instalasi. “Banyak sekali temuan dari hasil risetnya, seperti batik, prasasti, dsb. Itu baru dari Pulau Sumatera saja, bagian terkecil dari Nusantara. Belum seluruh Nusantara, yang kaya dan beragam. Ya itu, jadi membuka kekayaan di Nusantara,” jelas Rahmat.
Sementara Supriatna mencoba mempertanyakan ulang makna simbol mitos Nyi Roro Kidul dalam bentuk karya seni instalasi. Ia mengeksplorasi temuannya dengan mempertanyakan perubahan simbol dari mitos Nyi Roro Kidul yang menggunakan mahkota menjadi kerudung/jilbab. “Itu yang menarik dari Pa Supri, apakah itu akan menggeser nilai-nilai mitos Nyi Roro Kidul, hilangnya konsepsi kosmologis dan filosofisnya sebagai penguasa Laut Selatan Sunda,” kata Rahmat.
Sementara Supriatna mencoba mempertanyakan ulang makna simbol mitos Nyi Roro Kidul dalam bentuk karya seni instalasi. Ia mengeksplorasi temuannya dengan mempertanyakan perubahan simbol dari mitos Nyi Roro Kidul yang menggunakan mahkota menjadi kerudung/jilbab. “Itu yang menarik dari Pa Supri, apakah itu akan menggeser nilai-nilai mitos Nyi Roro Kidul, hilangnya konsepsi kosmologis dan filosofisnya sebagai penguasa Laut Selatan Sunda,” kata Rahmat.
![]() |
| Supriatna di depan karya instalasinya yang mempertanyakan perubahan mitos Nyi Roro Kidul |
Senada dengan hal itu, Supriatna mengatakan fenomena tersebut berasal dari masyarakat. Ada yang percaya bahwa Nyi Roro Kidul sudah masuk Islam, sehingga diyakini sebagai sosok nyata yang hidup di masyarakat. Bahkan, menurut Kang Supri, ada seorang kiai mengatakan bahwa ia melihat sosok Nyi Roro Kidul di Tanah Suci sedang menunaikan ibadah haji, dan hal itu dipercaya oleh santrinya. Fenomena ini bagi Supriatna menarik untuk diteliti.
“Kalau seandainya betul beredar bahwa Nyi Roro Kidul berhijab dan masuk Islam, apakah nanti para pengagumnya tetap melakukan semedi di hadapan lukisan-lukisannya, tetap dijadikan media ritual, atau sama sekali ditinggalkan? Apa maknanya berubah karena sudah masuk Islam? Karena saya pelukis, saya tertarik urusan Nyi Roro Kidul, yang sebetulnya gaya lukisannya itu kontemporer, tapi disembah, dijadikan media secara tradisi. Itu yang menjadi menarik,” jelas Supriatna, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung.
“Kalau seandainya betul beredar bahwa Nyi Roro Kidul berhijab dan masuk Islam, apakah nanti para pengagumnya tetap melakukan semedi di hadapan lukisan-lukisannya, tetap dijadikan media ritual, atau sama sekali ditinggalkan? Apa maknanya berubah karena sudah masuk Islam? Karena saya pelukis, saya tertarik urusan Nyi Roro Kidul, yang sebetulnya gaya lukisannya itu kontemporer, tapi disembah, dijadikan media secara tradisi. Itu yang menjadi menarik,” jelas Supriatna, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung.
![]() |
| Wanda Listiani dan Sri Rustiyanti dengan karya instalasi hasil temuannya di pulau Sumatera |
Ariesa Pandanwangi juga tak kalah menarik. Perupa yang baru saja dikukuhkan menjadi Guru Besar Bahasa Rupa Universitas Kristen Maranatha tersebut mengajak publik melihat perjalanan seorang resi Bujangga Manik dalam bentuk karya seni batik.
Sebagaimana diketahui, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) adalah tokoh epik dan seorang resi dari Kerajaan Sunda (Pajajaran). Ia lebih memilih hidup sebagai pertapa dan berkelana meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan ka sakuliah Nusa Jawa bahkan hingga ke Bali. Catatan perjalanannya yang tertulis dalam naskah kuna daun lontar berbahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat di zamannya, memuat 450 nama tempat di Nusantara, termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya ia kembali ke Tatar Sunda dan bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Sayang, naskah Sunda Kuna yang sangat berharga ini kini aslinya berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.
Sebagaimana diketahui, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) adalah tokoh epik dan seorang resi dari Kerajaan Sunda (Pajajaran). Ia lebih memilih hidup sebagai pertapa dan berkelana meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan ka sakuliah Nusa Jawa bahkan hingga ke Bali. Catatan perjalanannya yang tertulis dalam naskah kuna daun lontar berbahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat di zamannya, memuat 450 nama tempat di Nusantara, termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya ia kembali ke Tatar Sunda dan bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Sayang, naskah Sunda Kuna yang sangat berharga ini kini aslinya berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.
![]() |
| Ika Ismurdiyahwati, menjadikan sampah jadi karya seni edukatif |
Sementara Ika Ismurdiyahwati mengajak publik merenung ulang tentang makna produk yang menjadi limbah di ruang publik dengan eksekusi artistiknya. Ia mengeksplorasi temuan keseharian masyarakat urban dengan menjadikan sampah-sampah produk pabrik besar (karung bekas pupuk, kaleng minuman, dsb.) menjadi karya seni kreatif dan edukatif. Limbah-limbah yang sebetulnya hasil karya seni (desain produk) dan dibuang masyarakat serta menjadi masalah lingkungan itu, dengan rasa tanggung jawab sebagai seniman dan ilmuwan, ia jadikan sesuatu yang baru, menjadi pencerahan.
Pameran ‘Nawasena’ ini disambut baik oleh Ketua SOS (Sanggar Olah Seni) Babakan Siliwangi, Raden Kiyan Santang, yang berharap galeri SOS Babakan Siliwangi bisa diapresiasi oleh para seniman Bandung, Jawa Barat, bahkan Nusantara. Demikian juga Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Een Herdiani, yang hadir mewakili ISBI Bandung, sangat mengapresiasi pameran karya seni hasil riset para dosen ini.
Pameran ‘Nawasena’ ini disambut baik oleh Ketua SOS (Sanggar Olah Seni) Babakan Siliwangi, Raden Kiyan Santang, yang berharap galeri SOS Babakan Siliwangi bisa diapresiasi oleh para seniman Bandung, Jawa Barat, bahkan Nusantara. Demikian juga Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Een Herdiani, yang hadir mewakili ISBI Bandung, sangat mengapresiasi pameran karya seni hasil riset para dosen ini.
![]() |
| Prof.Een Herdiani, karya hasil riset harus digalakan, dipertunjukan dan bermanfaat bagi masyarakat |
Menurut Prof. Een, pameran ini memang berkaitan dengan para dosen. “Sekarang tuntutan kepada para dosen dahsyat. Kalau ingin mendapat dana sertifikasi harus pameran, harus menulis jurnal, bahkan sekarang harus ikut pelatihan satu tahun sekali. Selamat berpameran kepada kawan-kawan. Memang hasil riset itu harus dipertunjukkan kalau berupa karya seni, dan seni rupa juga sama harus dipamerkan agar diketahui. Mari kita galakkan karya-karya ini berdasarkan riset mendalam hingga bermanfaat bagi masyarakat luas,” ajaknya.
Melly Goeslaw (Komisi X DPR, Bidang Kebudayaan), sebagai seniman dan penyanyi, sangat senang berada di antara para seniman lainnya yang bersatu menggelar karya di studio alam SOS Babakan Siliwangi. Hanya saja pendiri dan vokalis Band Potret ini menyayangkan kurangnya kehadiran pemerintah. “Kok pemerintah kurang hadir ya di tempat-tempat seperti ini. Karena menurut saya, justru alat propaganda yang paling jitu itu adalah seni. Bagaimana kita dijajah Korea dengan drakornya (drama Korea) dan K-pop-nya, itu mereka melalui seni,” katanya.
Melly Goeslaw (Komisi X DPR, Bidang Kebudayaan), sebagai seniman dan penyanyi, sangat senang berada di antara para seniman lainnya yang bersatu menggelar karya di studio alam SOS Babakan Siliwangi. Hanya saja pendiri dan vokalis Band Potret ini menyayangkan kurangnya kehadiran pemerintah. “Kok pemerintah kurang hadir ya di tempat-tempat seperti ini. Karena menurut saya, justru alat propaganda yang paling jitu itu adalah seni. Bagaimana kita dijajah Korea dengan drakornya (drama Korea) dan K-pop-nya, itu mereka melalui seni,” katanya.
Menarik disimak dari sambutan putri penyanyi kenamaan Indonesia, Melly Goeslaw ini, yang bercerita tentang royalti yang belum dikelola secara baik dan belum bisa mensejahterakan seniman. Pemilik copyright 600 lagu ini merasa sangsi apakah karya-karyanya bisa menghidupi anak-cucunya nanti. Ia mencontohkan Michael Jackson, yang meski meninggal dengan utang ratusan miliar, kekayaannya berlipat ganda karena karya-karyanya dikelola lembaga royalti dengan baik.
Sebagai anggota Komisi X, ia kini giat melakukan revisi Undang-Undang Hak Cipta. Ia mengingatkan bahwa royalti bukan pemberian pemerintah, melainkan hak seniman yang berkarya, buah dari kerja lelah. Bahkan sebaliknya, senimanlah yang memberi bagian (pajak) kepada pemerintah.
Sebagai anggota Komisi X, ia kini giat melakukan revisi Undang-Undang Hak Cipta. Ia mengingatkan bahwa royalti bukan pemberian pemerintah, melainkan hak seniman yang berkarya, buah dari kerja lelah. Bahkan sebaliknya, senimanlah yang memberi bagian (pajak) kepada pemerintah.
Sebagai penutup, Teh Melly mengajak para perupa terus memberikan input cara mengajar anak-anak sekarang kepada guru-guru sekolah dasar. “Cara mengajar kita beda dengan zaman dulu. Jangan membatasi dan menghambat imajinasi serta intuisi anak. Kalau dulu intuisi kita selalu dicagat oleh guru. Kalau saya kasih warna matahari ungu dicarekan, kunaon ieu panon poe bet bungur kelirna. Saya jadi berpikir kunaon orang Indonesia tidak bisa nyieun film jiga Harry Potter, Star Trek, karena imajinasi kita selalu dibatasi. Baru mau aneh sedikit dibilang salah, padahal itu cikal bakal out of the box!”
Teh Melly juga berpesan, para seniman jangan sampai kehilangan ekosistem. Jangan hanya berhenti di kita yang tertarik membuat kesenian seperti ini, tapi anak-anak Gen-Z juga harus tertarik. Karena bisa saja mereka punya inovasi-inovasi yang lebih dari kita. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di jagad dunia maya (medsos). Asal dibimbing, mereka akan seperti kita.
“Sebagai seniman yang punya tugas dan kewajiban untuk selalu menjaga keindahan yang kita ciptakan dengan membuat konten-konten yang baik, edukatif, dan bagus lah untuk negeri ini,” pungkasnya. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
June 03, 2026
CB Blogger
IndonesiaTeh Melly juga berpesan, para seniman jangan sampai kehilangan ekosistem. Jangan hanya berhenti di kita yang tertarik membuat kesenian seperti ini, tapi anak-anak Gen-Z juga harus tertarik. Karena bisa saja mereka punya inovasi-inovasi yang lebih dari kita. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di jagad dunia maya (medsos). Asal dibimbing, mereka akan seperti kita.
“Sebagai seniman yang punya tugas dan kewajiban untuk selalu menjaga keindahan yang kita ciptakan dengan membuat konten-konten yang baik, edukatif, dan bagus lah untuk negeri ini,” pungkasnya. (Asep GP)***
Lima Perupa & Pendidik Pamerkan Hasil Riset dalam Berbagai Karya Seni
Posted by
Tatarjabar.com on Wednesday, June 3, 2026
![]() |
| Lima Perupa-Pendidik Pameran Nawasena di Galeri SOS Babakan Siliwangi Bandung (1-7/6/2026), dari kiri:Wanda Listiani, Sri Rustiyanti, Supriatna, Ika Ismurdiyahwati & Ariesa Pandanwangi. |
Pameran bertajuk “Nawasena” ini berlangsung di Galeri Ruang A SOS Babakan Siliwangi, Kota Bandung, dari tanggal 1–7 Juni 2026 (dibuka untuk umum: pukul 10.00–17.00). Sedangkan artis talk akan berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) di tempat yang sama.
Kontributor pameran: Prof. Dr. Marijke J. Klokke, Anrilia EM Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Dra. Sriati Dwiatmini, M.Hum., Dra. Suryanti, M.Hum., Dr. Anita Restu Puji Raharjeng, M.Si., M.Biomed.Sc., Dwi Amelia Savitri, M.Pd., Ellysia Alena, Priyanka Azura Dilla, Riezquita, Mita Handayani, Zakiy Fauzi, dan Zimam Fauzi.
![]() |
| Melly Goeslaw (baju putih) sedang mengapresiasi karya para perupa, didampingi Kurator pameran Rahmat Jabbaril (bertopi). |
Adapun kelima perupa dan pendidik yang berpameran tersebut, yaitu Dr. Wanda Listiani dan Prof. Sri Rustiyanti (ISBI Bandung), Dr. Supriatna (ISBI Bandung), Dr. Ika Ismurdiyahwati (Universitas Adibuna Surabaya), dan Prof. Ariesa Pandanwangi (Universitas Kristen Maranatha).
Pameran dibuka oleh Melly Goeslaw (Anggota DPR RI Komisi X) dan dimeriahkan oleh Musikalisasi Disonansi Metafora.
Menurut kurator pameran, Rahmat Jabbaril, pilihan judul pameran Nawasena tiada lain sebagai pintu masuk dari perspektif kajian artistik berdasarkan hasil risetnya. Objek-objek artistik yang diajukan oleh kelima perupa tersebut berhubungan erat dengan sejarah, antropologi, sekaligus perkembangan sosial budaya masyarakat urban.
Pameran dibuka oleh Melly Goeslaw (Anggota DPR RI Komisi X) dan dimeriahkan oleh Musikalisasi Disonansi Metafora.
Menurut kurator pameran, Rahmat Jabbaril, pilihan judul pameran Nawasena tiada lain sebagai pintu masuk dari perspektif kajian artistik berdasarkan hasil risetnya. Objek-objek artistik yang diajukan oleh kelima perupa tersebut berhubungan erat dengan sejarah, antropologi, sekaligus perkembangan sosial budaya masyarakat urban.
![]() |
| Ariesa Pandanwangi, menuangkan kisah perjalanan bangsawan, resi pertapa Pajajaran,Bujangga Manik, dalam karya seni batik |
Wanda Listiani dan Sri Rustiyanti mengeksplorasi hasil temuannya di wilayah kepulauan Sumatera dalam bentuk karya seni instalasi. “Banyak sekali temuan dari hasil risetnya, seperti batik, prasasti, dsb. Itu baru dari Pulau Sumatera saja, bagian terkecil dari Nusantara. Belum seluruh Nusantara, yang kaya dan beragam. Ya itu, jadi membuka kekayaan di Nusantara,” jelas Rahmat.
Sementara Supriatna mencoba mempertanyakan ulang makna simbol mitos Nyi Roro Kidul dalam bentuk karya seni instalasi. Ia mengeksplorasi temuannya dengan mempertanyakan perubahan simbol dari mitos Nyi Roro Kidul yang menggunakan mahkota menjadi kerudung/jilbab. “Itu yang menarik dari Pa Supri, apakah itu akan menggeser nilai-nilai mitos Nyi Roro Kidul, hilangnya konsepsi kosmologis dan filosofisnya sebagai penguasa Laut Selatan Sunda,” kata Rahmat.
Sementara Supriatna mencoba mempertanyakan ulang makna simbol mitos Nyi Roro Kidul dalam bentuk karya seni instalasi. Ia mengeksplorasi temuannya dengan mempertanyakan perubahan simbol dari mitos Nyi Roro Kidul yang menggunakan mahkota menjadi kerudung/jilbab. “Itu yang menarik dari Pa Supri, apakah itu akan menggeser nilai-nilai mitos Nyi Roro Kidul, hilangnya konsepsi kosmologis dan filosofisnya sebagai penguasa Laut Selatan Sunda,” kata Rahmat.
![]() |
| Supriatna di depan karya instalasinya yang mempertanyakan perubahan mitos Nyi Roro Kidul |
Senada dengan hal itu, Supriatna mengatakan fenomena tersebut berasal dari masyarakat. Ada yang percaya bahwa Nyi Roro Kidul sudah masuk Islam, sehingga diyakini sebagai sosok nyata yang hidup di masyarakat. Bahkan, menurut Kang Supri, ada seorang kiai mengatakan bahwa ia melihat sosok Nyi Roro Kidul di Tanah Suci sedang menunaikan ibadah haji, dan hal itu dipercaya oleh santrinya. Fenomena ini bagi Supriatna menarik untuk diteliti.
“Kalau seandainya betul beredar bahwa Nyi Roro Kidul berhijab dan masuk Islam, apakah nanti para pengagumnya tetap melakukan semedi di hadapan lukisan-lukisannya, tetap dijadikan media ritual, atau sama sekali ditinggalkan? Apa maknanya berubah karena sudah masuk Islam? Karena saya pelukis, saya tertarik urusan Nyi Roro Kidul, yang sebetulnya gaya lukisannya itu kontemporer, tapi disembah, dijadikan media secara tradisi. Itu yang menjadi menarik,” jelas Supriatna, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung.
“Kalau seandainya betul beredar bahwa Nyi Roro Kidul berhijab dan masuk Islam, apakah nanti para pengagumnya tetap melakukan semedi di hadapan lukisan-lukisannya, tetap dijadikan media ritual, atau sama sekali ditinggalkan? Apa maknanya berubah karena sudah masuk Islam? Karena saya pelukis, saya tertarik urusan Nyi Roro Kidul, yang sebetulnya gaya lukisannya itu kontemporer, tapi disembah, dijadikan media secara tradisi. Itu yang menjadi menarik,” jelas Supriatna, yang kini menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung.
![]() |
| Wanda Listiani dan Sri Rustiyanti dengan karya instalasi hasil temuannya di pulau Sumatera |
Ariesa Pandanwangi juga tak kalah menarik. Perupa yang baru saja dikukuhkan menjadi Guru Besar Bahasa Rupa Universitas Kristen Maranatha tersebut mengajak publik melihat perjalanan seorang resi Bujangga Manik dalam bentuk karya seni batik.
Sebagaimana diketahui, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) adalah tokoh epik dan seorang resi dari Kerajaan Sunda (Pajajaran). Ia lebih memilih hidup sebagai pertapa dan berkelana meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan ka sakuliah Nusa Jawa bahkan hingga ke Bali. Catatan perjalanannya yang tertulis dalam naskah kuna daun lontar berbahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat di zamannya, memuat 450 nama tempat di Nusantara, termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya ia kembali ke Tatar Sunda dan bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Sayang, naskah Sunda Kuna yang sangat berharga ini kini aslinya berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.
Sebagaimana diketahui, Bujangga Manik (Jaya Pakuan, Rakeyan Ameng Layaran) adalah tokoh epik dan seorang resi dari Kerajaan Sunda (Pajajaran). Ia lebih memilih hidup sebagai pertapa dan berkelana meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran, nyukcruk galur mapay raratan ka sakuliah Nusa Jawa bahkan hingga ke Bali. Catatan perjalanannya yang tertulis dalam naskah kuna daun lontar berbahasa Sunda Kuna menjadi data topografi paling akurat di zamannya, memuat 450 nama tempat di Nusantara, termasuk deskripsi wilayah Majapahit dan dataran Demak. Hingga akhirnya ia kembali ke Tatar Sunda dan bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Sayang, naskah Sunda Kuna yang sangat berharga ini kini aslinya berada di Bodleian Library, Oxford, Inggris.
![]() |
| Ika Ismurdiyahwati, menjadikan sampah jadi karya seni edukatif |
Sementara Ika Ismurdiyahwati mengajak publik merenung ulang tentang makna produk yang menjadi limbah di ruang publik dengan eksekusi artistiknya. Ia mengeksplorasi temuan keseharian masyarakat urban dengan menjadikan sampah-sampah produk pabrik besar (karung bekas pupuk, kaleng minuman, dsb.) menjadi karya seni kreatif dan edukatif. Limbah-limbah yang sebetulnya hasil karya seni (desain produk) dan dibuang masyarakat serta menjadi masalah lingkungan itu, dengan rasa tanggung jawab sebagai seniman dan ilmuwan, ia jadikan sesuatu yang baru, menjadi pencerahan.
Pameran ‘Nawasena’ ini disambut baik oleh Ketua SOS (Sanggar Olah Seni) Babakan Siliwangi, Raden Kiyan Santang, yang berharap galeri SOS Babakan Siliwangi bisa diapresiasi oleh para seniman Bandung, Jawa Barat, bahkan Nusantara. Demikian juga Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Een Herdiani, yang hadir mewakili ISBI Bandung, sangat mengapresiasi pameran karya seni hasil riset para dosen ini.
Pameran ‘Nawasena’ ini disambut baik oleh Ketua SOS (Sanggar Olah Seni) Babakan Siliwangi, Raden Kiyan Santang, yang berharap galeri SOS Babakan Siliwangi bisa diapresiasi oleh para seniman Bandung, Jawa Barat, bahkan Nusantara. Demikian juga Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Een Herdiani, yang hadir mewakili ISBI Bandung, sangat mengapresiasi pameran karya seni hasil riset para dosen ini.
![]() |
| Prof.Een Herdiani, karya hasil riset harus digalakan, dipertunjukan dan bermanfaat bagi masyarakat |
Menurut Prof. Een, pameran ini memang berkaitan dengan para dosen. “Sekarang tuntutan kepada para dosen dahsyat. Kalau ingin mendapat dana sertifikasi harus pameran, harus menulis jurnal, bahkan sekarang harus ikut pelatihan satu tahun sekali. Selamat berpameran kepada kawan-kawan. Memang hasil riset itu harus dipertunjukkan kalau berupa karya seni, dan seni rupa juga sama harus dipamerkan agar diketahui. Mari kita galakkan karya-karya ini berdasarkan riset mendalam hingga bermanfaat bagi masyarakat luas,” ajaknya.
Melly Goeslaw (Komisi X DPR, Bidang Kebudayaan), sebagai seniman dan penyanyi, sangat senang berada di antara para seniman lainnya yang bersatu menggelar karya di studio alam SOS Babakan Siliwangi. Hanya saja pendiri dan vokalis Band Potret ini menyayangkan kurangnya kehadiran pemerintah. “Kok pemerintah kurang hadir ya di tempat-tempat seperti ini. Karena menurut saya, justru alat propaganda yang paling jitu itu adalah seni. Bagaimana kita dijajah Korea dengan drakornya (drama Korea) dan K-pop-nya, itu mereka melalui seni,” katanya.
Melly Goeslaw (Komisi X DPR, Bidang Kebudayaan), sebagai seniman dan penyanyi, sangat senang berada di antara para seniman lainnya yang bersatu menggelar karya di studio alam SOS Babakan Siliwangi. Hanya saja pendiri dan vokalis Band Potret ini menyayangkan kurangnya kehadiran pemerintah. “Kok pemerintah kurang hadir ya di tempat-tempat seperti ini. Karena menurut saya, justru alat propaganda yang paling jitu itu adalah seni. Bagaimana kita dijajah Korea dengan drakornya (drama Korea) dan K-pop-nya, itu mereka melalui seni,” katanya.
Menarik disimak dari sambutan putri penyanyi kenamaan Indonesia, Melly Goeslaw ini, yang bercerita tentang royalti yang belum dikelola secara baik dan belum bisa mensejahterakan seniman. Pemilik copyright 600 lagu ini merasa sangsi apakah karya-karyanya bisa menghidupi anak-cucunya nanti. Ia mencontohkan Michael Jackson, yang meski meninggal dengan utang ratusan miliar, kekayaannya berlipat ganda karena karya-karyanya dikelola lembaga royalti dengan baik.
Sebagai anggota Komisi X, ia kini giat melakukan revisi Undang-Undang Hak Cipta. Ia mengingatkan bahwa royalti bukan pemberian pemerintah, melainkan hak seniman yang berkarya, buah dari kerja lelah. Bahkan sebaliknya, senimanlah yang memberi bagian (pajak) kepada pemerintah.
Sebagai anggota Komisi X, ia kini giat melakukan revisi Undang-Undang Hak Cipta. Ia mengingatkan bahwa royalti bukan pemberian pemerintah, melainkan hak seniman yang berkarya, buah dari kerja lelah. Bahkan sebaliknya, senimanlah yang memberi bagian (pajak) kepada pemerintah.
Sebagai penutup, Teh Melly mengajak para perupa terus memberikan input cara mengajar anak-anak sekarang kepada guru-guru sekolah dasar. “Cara mengajar kita beda dengan zaman dulu. Jangan membatasi dan menghambat imajinasi serta intuisi anak. Kalau dulu intuisi kita selalu dicagat oleh guru. Kalau saya kasih warna matahari ungu dicarekan, kunaon ieu panon poe bet bungur kelirna. Saya jadi berpikir kunaon orang Indonesia tidak bisa nyieun film jiga Harry Potter, Star Trek, karena imajinasi kita selalu dibatasi. Baru mau aneh sedikit dibilang salah, padahal itu cikal bakal out of the box!”
Teh Melly juga berpesan, para seniman jangan sampai kehilangan ekosistem. Jangan hanya berhenti di kita yang tertarik membuat kesenian seperti ini, tapi anak-anak Gen-Z juga harus tertarik. Karena bisa saja mereka punya inovasi-inovasi yang lebih dari kita. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di jagad dunia maya (medsos). Asal dibimbing, mereka akan seperti kita.
“Sebagai seniman yang punya tugas dan kewajiban untuk selalu menjaga keindahan yang kita ciptakan dengan membuat konten-konten yang baik, edukatif, dan bagus lah untuk negeri ini,” pungkasnya. (Asep GP)***
Teh Melly juga berpesan, para seniman jangan sampai kehilangan ekosistem. Jangan hanya berhenti di kita yang tertarik membuat kesenian seperti ini, tapi anak-anak Gen-Z juga harus tertarik. Karena bisa saja mereka punya inovasi-inovasi yang lebih dari kita. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di jagad dunia maya (medsos). Asal dibimbing, mereka akan seperti kita.
“Sebagai seniman yang punya tugas dan kewajiban untuk selalu menjaga keindahan yang kita ciptakan dengan membuat konten-konten yang baik, edukatif, dan bagus lah untuk negeri ini,” pungkasnya. (Asep GP)***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)















No comments :
Post a Comment