Monday, July 13, 2026
![]() |
Dosen dan alumni STISI Bandung yang berpameran bersama Bu Cinta. (Foto: Asep GP) |
Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) di Hotel De Paviljoen Bandung, Jalan R.E. Martadinata No. 68 (Jalan Riau), Kota Bandung. Pameran yang berlangsung dari 10 Juli hingga 10 September ini dibuka langsung oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. Atalia Praratya, S.IP., M.Ikom., dan dimeriahkan oleh Disonansi Metafora (Musikalisasi Puisi).
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
Tatarjabar.com
July 13, 2026
CB Blogger
Indonesia![]() |
Gunting pita oleh Atalia Praratya sebagai tanda pameran resmi dibuka. (Foto: Asep GP) |
Pameran karya 45 seniman, dosen, dan alumni STISI (Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia) Bandung angkatan 90-an ini menampilkan beragam teknik, mulai dari lilitan kawat, arsiran, anyaman, teknik tempel, cat akrilik, cat minyak, pahatan, hingga eksplorasi mixed media. Keragaman itu menegaskan tidak ada jalur tunggal dalam berkesenian. Setiap seniman tumbuh lewat pengalaman berbeda, tetapi tetap membawa resonansi dari ruang pembelajaran yang dulu mempertemukan mereka.
![]() |
| Mengapresiasi Karya (Foto: Asep GP) |
Tajuk pameran "Pertemuan Ruang Waktu" ini, kata Kurator Pameran Rahmat Jabbaril, mengambil inspirasi dari gagasan ruang-waktu Albert Einstein. Pameran ini memandang karya seni sebagai jejak peristiwa. Setiap karya adalah rekaman proses panjang yang membentuk kesadaran artistik para penciptanya. Ruang pamer tidak hanya jadi lokasi, dan waktu tidak hanya hitungan tahun. Keduanya berfungsi sebagai medium yang mempertemukan kenangan, masa lalu, masa kini, proses, dan pencapaian.
![]() | ||
|
Rahmat juga membaca pameran ini lewat perspektif fenomenologi Edmund Husserl: kesadaran selalu bergerak menuju sesuatu. "Pertemuan Ruang Waktu" hadir ketika pengalaman artistik yang tersebar dalam rentang ruang dan waktu kembali menemukan medan perjumpaannya. Pameran ini bisa dibaca sebagai singularitas kecil, titik temu berbagai lintasan pengalaman, gagasan, dan ekspresi yang membentuk konstelasi baru.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Pameran seni rupa yang menampilkan beragam teknik ini mendapat apresiasi tinggi dari Atalia Praratya, yang saat itu membuka acara. Hampir semua seniman diajak ngawangkong, ditanya, dan diapresiasi karyanya. Kelihatannya Bu Cinta sangat menikmati sekali. Ya, maklum, doktor Ilmu Komunikasi lulusan Unpad ini penikmat seni, tahu dan mengerti tentang seni. Mantannya (Ridwan Kamil, mantan Gubernur Jabar) seorang arsitek kawakan dan banyak karya lukisnya. Ditambah putrinya sering memaksa diantar melihat pameran seni rupa dan pergi ke museum.
![]() |
| Foto: Asep GP |
"Seni itu perjuangan yang tidak mudah karena menghadirkan banyak hal, mulai dari pengalaman, perasaan, keindahan, dan berkaitan dengan waktu yang mematangkannya. Bu Cinta kenapa sok tahu tentang seni? Kan mantan saya orang seni, seniman dan arsitek yang senang melukis, dan anak saya hobinya ke museum melihat pameran. Jadi ema nya digigiwing diajak menemani," kata Atalia sambil tertawa, disambut tepuk tangan hadirin.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Karya 45 seniman STISI Bandung angkatan 90-an dari jurusan/prodi Fotografi, Kriya, Desain Interior, DKV, dan Seni Lukis yang menggunakan beragam teknik dan media ini, menurut Atalia, adalah sesuatu yang indah. Pertemuan ini tidak hanya mengumpulkan mereka yang satu tujuan terkait keindahan, tetapi juga bisa bernostalgia dan bersilaturahmi. Bersama, tetapi menunjukkan bahwa seni itu bisa beresonansi terkait semangat menghasilkan karya, semangat untuk terus belajar, dan bagaimana menciptakan karya seni yang bermakna.
![]() |
| Risma Nurhadiyani, Marcom Hotel De Paviljoen Bandung (Foto: Asep GP) |
"Saya reueus (bangga) karya-karya ini bisa terus dihadirkan. Jadi kalau ada sebuah ruang pameran, ya bukan hanya untuk menampilkan karya saja, tetapi menunjukkan bahwa memang seni itu akan selalu hadir dalam berbagai prosesnya, dan juga dalam berbagai ruang dan waktunya. Semoga pameran ini menjadi ruang apresiasi, inspirasi, juga kolaborasi bagi seluruh insan seni dan juga para pengunjung. Selamat atas dibukanya pameran ini. Semoga bisa memberikan semangat saling berbagi inspirasi. Termasuk ini juga kan mengayakan kebudayaan kita," pungkas Bu Cinta sambil menggunting pita.
![]() |
| Rahmat Jabbaril, Sang Kurator Pameran De Paviljoen Hotel (Foto:Asep GP) |
Kenapa di Hotel De Paviljoen Bandung Sering Ada Pameran Seni?
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Pameran di Hotel De Paviljoen Bandung digelar rutin tiga kali dalam setahun dengan tema yang berbeda. Untuk pengelolaannya biasanya bekerja sama dengan kurator. Pihak De Paviljoen hanya menyediakan venue (tempat) dan opening saat pameran seni (art exhibition) dimulai.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Risma juga menjelaskan, untuk art exhibition kali ini, apabila ada masyarakat yang ingin mengapresiasi karya seni dipersilakan datang, dan kalau berminat bisa langsung membelinya.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Karena di Bandung banyak perguruan tinggi seni, banyak seniman yang sudah malang melintang di event-event besar dunia, juga bisa melahirkan gerakan-gerakan budaya dan politik seperti Bung Karno yang kuliah di ITB Bandung dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Gagasan-gagasan seperti itu, kata Rahmat, harus jadi energi.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Kata Rahmat, kalau semua dikumpulkan ada ribuan dan ketemu lintas generasinya. Ini baru dari seni rupanya saja, belum dari seni lainnya.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Rahmat juga mengajak kepada seniman Bandung agar membesarkan Bandung, sarakan-nya (tempat kelahiran), terlebih dahulu, baru daerah lainnya. Karena perhelatan seni kontemporer di Yogya, ARTJOG, dan ARTSUB (di Surabaya) itu penggagasnya anak-anak muda Bandung.
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
Pameran “Pertemuan Ruang Waktu” Karya 45 Alumni STISI Bandung
Posted by
Tatarjabar.com on Monday, July 13, 2026
![]() |
Dosen dan alumni STISI Bandung yang berpameran bersama Bu Cinta. (Foto: Asep GP) |
Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) di Hotel De Paviljoen Bandung, Jalan R.E. Martadinata No. 68 (Jalan Riau), Kota Bandung. Pameran yang berlangsung dari 10 Juli hingga 10 September ini dibuka langsung oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. Atalia Praratya, S.IP., M.Ikom., dan dimeriahkan oleh Disonansi Metafora (Musikalisasi Puisi).
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
![]() |
Gunting pita oleh Atalia Praratya sebagai tanda pameran resmi dibuka. (Foto: Asep GP) |
Pameran karya 45 seniman, dosen, dan alumni STISI (Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia) Bandung angkatan 90-an ini menampilkan beragam teknik, mulai dari lilitan kawat, arsiran, anyaman, teknik tempel, cat akrilik, cat minyak, pahatan, hingga eksplorasi mixed media. Keragaman itu menegaskan tidak ada jalur tunggal dalam berkesenian. Setiap seniman tumbuh lewat pengalaman berbeda, tetapi tetap membawa resonansi dari ruang pembelajaran yang dulu mempertemukan mereka.
![]() |
| Mengapresiasi Karya (Foto: Asep GP) |
Tajuk pameran "Pertemuan Ruang Waktu" ini, kata Kurator Pameran Rahmat Jabbaril, mengambil inspirasi dari gagasan ruang-waktu Albert Einstein. Pameran ini memandang karya seni sebagai jejak peristiwa. Setiap karya adalah rekaman proses panjang yang membentuk kesadaran artistik para penciptanya. Ruang pamer tidak hanya jadi lokasi, dan waktu tidak hanya hitungan tahun. Keduanya berfungsi sebagai medium yang mempertemukan kenangan, masa lalu, masa kini, proses, dan pencapaian.
![]() | ||
|
Rahmat juga membaca pameran ini lewat perspektif fenomenologi Edmund Husserl: kesadaran selalu bergerak menuju sesuatu. "Pertemuan Ruang Waktu" hadir ketika pengalaman artistik yang tersebar dalam rentang ruang dan waktu kembali menemukan medan perjumpaannya. Pameran ini bisa dibaca sebagai singularitas kecil, titik temu berbagai lintasan pengalaman, gagasan, dan ekspresi yang membentuk konstelasi baru.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Pameran seni rupa yang menampilkan beragam teknik ini mendapat apresiasi tinggi dari Atalia Praratya, yang saat itu membuka acara. Hampir semua seniman diajak ngawangkong, ditanya, dan diapresiasi karyanya. Kelihatannya Bu Cinta sangat menikmati sekali. Ya, maklum, doktor Ilmu Komunikasi lulusan Unpad ini penikmat seni, tahu dan mengerti tentang seni. Mantannya (Ridwan Kamil, mantan Gubernur Jabar) seorang arsitek kawakan dan banyak karya lukisnya. Ditambah putrinya sering memaksa diantar melihat pameran seni rupa dan pergi ke museum.
![]() |
| Foto: Asep GP |
"Seni itu perjuangan yang tidak mudah karena menghadirkan banyak hal, mulai dari pengalaman, perasaan, keindahan, dan berkaitan dengan waktu yang mematangkannya. Bu Cinta kenapa sok tahu tentang seni? Kan mantan saya orang seni, seniman dan arsitek yang senang melukis, dan anak saya hobinya ke museum melihat pameran. Jadi ema nya digigiwing diajak menemani," kata Atalia sambil tertawa, disambut tepuk tangan hadirin.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Karya 45 seniman STISI Bandung angkatan 90-an dari jurusan/prodi Fotografi, Kriya, Desain Interior, DKV, dan Seni Lukis yang menggunakan beragam teknik dan media ini, menurut Atalia, adalah sesuatu yang indah. Pertemuan ini tidak hanya mengumpulkan mereka yang satu tujuan terkait keindahan, tetapi juga bisa bernostalgia dan bersilaturahmi. Bersama, tetapi menunjukkan bahwa seni itu bisa beresonansi terkait semangat menghasilkan karya, semangat untuk terus belajar, dan bagaimana menciptakan karya seni yang bermakna.
![]() |
| Risma Nurhadiyani, Marcom Hotel De Paviljoen Bandung (Foto: Asep GP) |
"Saya reueus (bangga) karya-karya ini bisa terus dihadirkan. Jadi kalau ada sebuah ruang pameran, ya bukan hanya untuk menampilkan karya saja, tetapi menunjukkan bahwa memang seni itu akan selalu hadir dalam berbagai prosesnya, dan juga dalam berbagai ruang dan waktunya. Semoga pameran ini menjadi ruang apresiasi, inspirasi, juga kolaborasi bagi seluruh insan seni dan juga para pengunjung. Selamat atas dibukanya pameran ini. Semoga bisa memberikan semangat saling berbagi inspirasi. Termasuk ini juga kan mengayakan kebudayaan kita," pungkas Bu Cinta sambil menggunting pita.
![]() |
| Rahmat Jabbaril, Sang Kurator Pameran De Paviljoen Hotel (Foto:Asep GP) |
Kenapa di Hotel De Paviljoen Bandung Sering Ada Pameran Seni?
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Pameran di Hotel De Paviljoen Bandung digelar rutin tiga kali dalam setahun dengan tema yang berbeda. Untuk pengelolaannya biasanya bekerja sama dengan kurator. Pihak De Paviljoen hanya menyediakan venue (tempat) dan opening saat pameran seni (art exhibition) dimulai.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Risma juga menjelaskan, untuk art exhibition kali ini, apabila ada masyarakat yang ingin mengapresiasi karya seni dipersilakan datang, dan kalau berminat bisa langsung membelinya.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Karena di Bandung banyak perguruan tinggi seni, banyak seniman yang sudah malang melintang di event-event besar dunia, juga bisa melahirkan gerakan-gerakan budaya dan politik seperti Bung Karno yang kuliah di ITB Bandung dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Gagasan-gagasan seperti itu, kata Rahmat, harus jadi energi.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Kata Rahmat, kalau semua dikumpulkan ada ribuan dan ketemu lintas generasinya. Ini baru dari seni rupanya saja, belum dari seni lainnya.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Rahmat juga mengajak kepada seniman Bandung agar membesarkan Bandung, sarakan-nya (tempat kelahiran), terlebih dahulu, baru daerah lainnya. Karena perhelatan seni kontemporer di Yogya, ARTJOG, dan ARTSUB (di Surabaya) itu penggagasnya anak-anak muda Bandung.
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)




















No comments :
Post a Comment