Wednesday, July 22, 2026
![]() |
| Dr. Supriatna dengan latar belakang karya mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung pada Pameran "Setalah Ini Pameran Hanya..." di Galeri ASTAKA FSRD ISBI Bandung (20–22 Juli 2026). |
Kegiatan ini digelar di Galeri ASTAKA Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISBI Bandung, Jalan Buah Batu No. 212, Kota Bandung, dari tanggal 20–22 Juli 2026.
Pameran bertajuk "Setalah Ini Pameran Hanya…", yang dibuka oleh Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., menampilkan beragam karya empat orang mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung.
![]() |
| Jihan Azhari, motif ukir Rumah Gadang Kaluak Paku Kacang Balingbiang diaplikasikan pada busana pengantin modern. (Foto: Asep GP) |
Fuad Saefuz Zaman (Pupu) mengeksplorasi limbah kain denim (bahan jeans) menjadi berbagai kostum karakter tokoh folklor (cerita rakyat).
Gilang Mustofa mengolah tanah liat yang diambil dari kampung halamannya menjadi lukisan bertema AMD (ABRI Masuk Desa, program kreatif pengabdian masyarakat ABRI/TNI yang diinisiasi Jenderal M. Jusuf pada tahun 1980), yang merupakan peristiwa yang diingat secara kolektif oleh masyarakat yang mengalaminya.
![]() |
| Pupu (Fuad Saefuz Zaman) mengeksplorasi limbah kain denim menjadi kostum karakter tokoh folklor. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Jihan Azhari Nurani mengolah sulaman emas untuk diaplikasikan pada pakaian pernikahan khas Minang. Jihan mengeksplorasi motif ukir hias Rumah Gadang Minangkabau, Kaluak Paku Kacang Balingbiang, untuk karyanya. Motif hias ukir yang kini sudah jarang ditemui di Sumatera Barat ini ia aplikasikan ke dalam busana pengantin modern dengan teknik bordir agar tidak punah ditelan masa dan dilupakan generasi muda.
![]() |
| Gilang Mustofa mengolah tanah liat dari kampungnya menjadi lukisan bertema ABRI Masuk Desa. (Foto: Istimewa) |
Kaluak Paku Kacang Balingbiang ini, menurut Jihan, adalah salah satu motif ukiran dalam adat Minangkabau yang melambangkan pertumbuhan, kebersamaan, keseimbangan, tanggung jawab, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam kehidupan sosial. Proses eksplorasi dilakukan terhadap nilai filosofis motif, referensi visual busana pengantin tradisional dan modern, serta pengembangan teknik bordir sebagai medium ekspresi artistik. "Hasil karya ini diharapkan menghasilkan karya busana pengantin yang mempertahankan identitas budaya Minangkabau sekaligus menghadirkan kebaruan visual dan konseptual yang relevan dengan perkembangan seni dan desain busana modern," tutur Jihan, yang berdarah Sunda-Minang ini.
![]() |
| Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan.
Menurut Kurator Pameran, Supriatna, "Setalah Ini Pameran Hanya…" merupakan sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Judul ini tidak dimaksudkan sebagai penutup, melainkan sebagai pembuka bagi berbagai kemungkinan makna setelah karya dipertemukan dengan publik.
![]() |
| Kepala Biro Akademik dan Umum, Dede Priana, turut mengapresiasi. (Foto: Asep GP) |
Kata Setalah, yang tidak mengikuti ejaan baku, menjadi simbol bahwa proses berkesenian tidak selalu berjalan dalam kesempurnaan. Kesalahan, keraguan, dan proses pencarian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik artistik.
Melalui pameran ini, setiap karya dihadirkan bukan untuk memberikan jawaban yang pasti, melainkan mengundang pertanyaan, refleksi, dan kemungkinan interpretasi baru. "Dengan demikian, 'Setalah Ini Pameran Hanya…' menjadi pengingat bahwa setelah ruang pamer ditinggalkan, karya tidak benar-benar selesai. Ia terus hidup melalui ingatan, percakapan, dan makna yang dibangun oleh setiap orang yang mengalaminya," demikian kata Supriatna. (Asep GP)***
Pameran Seni Rupa 4 Mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung
Posted by
Tatarjabar.com on Wednesday, July 22, 2026
![]() |
| Dr. Supriatna dengan latar belakang karya mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung pada Pameran "Setalah Ini Pameran Hanya..." di Galeri ASTAKA FSRD ISBI Bandung (20–22 Juli 2026). |
Kegiatan ini digelar di Galeri ASTAKA Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISBI Bandung, Jalan Buah Batu No. 212, Kota Bandung, dari tanggal 20–22 Juli 2026.
Pameran bertajuk "Setalah Ini Pameran Hanya…", yang dibuka oleh Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., menampilkan beragam karya empat orang mahasiswa Studio I Pascasarjana ISBI Bandung.
![]() |
| Jihan Azhari, motif ukir Rumah Gadang Kaluak Paku Kacang Balingbiang diaplikasikan pada busana pengantin modern. (Foto: Asep GP) |
Fuad Saefuz Zaman (Pupu) mengeksplorasi limbah kain denim (bahan jeans) menjadi berbagai kostum karakter tokoh folklor (cerita rakyat).
Gilang Mustofa mengolah tanah liat yang diambil dari kampung halamannya menjadi lukisan bertema AMD (ABRI Masuk Desa, program kreatif pengabdian masyarakat ABRI/TNI yang diinisiasi Jenderal M. Jusuf pada tahun 1980), yang merupakan peristiwa yang diingat secara kolektif oleh masyarakat yang mengalaminya.
![]() |
| Pupu (Fuad Saefuz Zaman) mengeksplorasi limbah kain denim menjadi kostum karakter tokoh folklor. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Jihan Azhari Nurani mengolah sulaman emas untuk diaplikasikan pada pakaian pernikahan khas Minang. Jihan mengeksplorasi motif ukir hias Rumah Gadang Minangkabau, Kaluak Paku Kacang Balingbiang, untuk karyanya. Motif hias ukir yang kini sudah jarang ditemui di Sumatera Barat ini ia aplikasikan ke dalam busana pengantin modern dengan teknik bordir agar tidak punah ditelan masa dan dilupakan generasi muda.
![]() |
| Gilang Mustofa mengolah tanah liat dari kampungnya menjadi lukisan bertema ABRI Masuk Desa. (Foto: Istimewa) |
Kaluak Paku Kacang Balingbiang ini, menurut Jihan, adalah salah satu motif ukiran dalam adat Minangkabau yang melambangkan pertumbuhan, kebersamaan, keseimbangan, tanggung jawab, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam kehidupan sosial. Proses eksplorasi dilakukan terhadap nilai filosofis motif, referensi visual busana pengantin tradisional dan modern, serta pengembangan teknik bordir sebagai medium ekspresi artistik. "Hasil karya ini diharapkan menghasilkan karya busana pengantin yang mempertahankan identitas budaya Minangkabau sekaligus menghadirkan kebaruan visual dan konseptual yang relevan dengan perkembangan seni dan desain busana modern," tutur Jihan, yang berdarah Sunda-Minang ini.
![]() |
| Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan. (Foto: Istimewa) |
Sementara itu, Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan.
Menurut Kurator Pameran, Supriatna, "Setalah Ini Pameran Hanya…" merupakan sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Judul ini tidak dimaksudkan sebagai penutup, melainkan sebagai pembuka bagi berbagai kemungkinan makna setelah karya dipertemukan dengan publik.
![]() |
| Kepala Biro Akademik dan Umum, Dede Priana, turut mengapresiasi. (Foto: Asep GP) |
Kata Setalah, yang tidak mengikuti ejaan baku, menjadi simbol bahwa proses berkesenian tidak selalu berjalan dalam kesempurnaan. Kesalahan, keraguan, dan proses pencarian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik artistik.
Melalui pameran ini, setiap karya dihadirkan bukan untuk memberikan jawaban yang pasti, melainkan mengundang pertanyaan, refleksi, dan kemungkinan interpretasi baru. "Dengan demikian, 'Setalah Ini Pameran Hanya…' menjadi pengingat bahwa setelah ruang pamer ditinggalkan, karya tidak benar-benar selesai. Ia terus hidup melalui ingatan, percakapan, dan makna yang dibangun oleh setiap orang yang mengalaminya," demikian kata Supriatna. (Asep GP)***











