Home
» Seni Budaya
» Hajatan Mulung Mantu Ala Seniman Sunda Yoyon Dharsono: Menginspirasi Calung Sunda Jadi Mata Kuliah di ISBI Bandung
Saturday, May 16, 2026
![]() |
| Ida Rosida ngawih Mang Kokoan Wanda Anyar di Syukuran Mulung Mantu Yoyon Darsono (Foto Istimewa) |
Hajatan, syukuran, resepsi pernikahan pada zaman sekarang biasanya dilaksanakan di gedung, aula, atau bagi orang kelebihan uang digelar di hotel-hotel mewah bintang lima. Tentu semua ini membutuhkan biaya tidak sedikit dan banyak orang yang memaksakan diri pinjam uang sana-sini demi membahagiakan anak, bahkan demi gengsi.
Padahal zaman dulu, baik di pedesaan atau perkotaan, hajat pernikahan cukup dilangsungkan di halaman rumah sendiri (biasanya di mempelai perempuan), pakai tenda biru (balandongan), pasang panggung nanggap hiburan seni tradisi seperti calung, wayang golek, atau gambusan plus pengajian (tausiah dari ajengan), juga orkes melayu, atau kesininya cukup elektunan, dsb., sudah meriah. Ini dilakukan bukan hanya oleh orang-orang yang punya rumah di pinggir jalan, tapi hingga ke gang-gang.
Yang menarik, kebersamaan atau gotong royongnya sangat kental. Hampir semua tetangga tidak usah disuruh, mereka ramai-ramai ikut membantu dengan sukarela.
Apakah zaman sekarang masih ada hajatan seperti ini?
Ada, walau sudah jarang terlihat. Contohnya bisa disaksikan di hajatan syukuran Mulung Mantu keluarga Yoyon Dharsono (65), yang berlangsung belum lama ini di Saung Budaya Yoyon, di Kompleks GCI RW 17, Desa Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2026). Ya, putra Yoyon, Hardian Prawira, S.E., menikah dengan Tiara Nabila, S.Ikom. (14 April 2026) di Surade – Sukabumi.
Ya, kebetulan seniman Sunda serba bisa ini mendirikan Saung Budaya dekat rumahnya, tempat latihan dan pagelaran seni tradisi yang dikelolanya. Jadi, waktu hajatan mulung mantu kemarin, Yoyon bisa menggelar seni hiburan di tempat itu.
Sedangkan untuk konsumsi undangan, Yoyon tidak memesan catering, tapi dia memasak makanan sendiri di kebunnya memakai dua tungku (hawu). Dia memasang tenda khusus di kebun tempat emak-emak dari keluarga istrinya dari Cirebon, dengan dibantu tetangganya, memasak makanan untuk para tetamu undangan.
“Dalam hajat mulung mantu kemarin, itu hajat tradisional, tidak pake EO (event organizer), dsb. Untuk konsumsi tamu, saya membuat 2 tungku pakai suluh (kayu bakar), di kebun pake balandongan (tenda biru), yang ngurus masaknya (candoli) ibu-ibu dari keluarga saya di Cirebon, dibantu para tetangga yang datang membantu dengan sukarela, berduyun-duyun membawa peralatan masak masing-masing. Ada juga yang meminjamkan peralatan masak lainnya. Kami senang dan haru sekali melihatnya, seperti zaman dahulu gotong royongnya sangat kuat. Ini sungguh hajat tradisional yang harus dilestarikan,” kenang Yoyon ketika ditemui wartawan usai hajatan.
Yoyon juga saat itu menyuguhkan pisang hasil kebunnya yang dipeuyeum (diperam) sendiri. Disimpan, digantung di tiang-tiang tenda dekat kursi tetamu agar gampang ngambilnya untuk cuci mulut.
Parade Bentang Calung Menginspirasi Calung Jadi Mata Kuliah di ISBI
Sebagai seniman tradisi dan akademisi, dosen Jurusan Musik Prodi Angklung dan Musik Bambu ISBI Bandung, Yoyon dalam hajatan itu mengundang seniman-seniman Sunda untuk unjuk kabisa di panggung menghibur para tamu undangan.
![]() |
| Yoyon Darsono dan keluarga, bersama kedua mempelai dan penyambut pengantin (Foto Istimewa) |
Siangnya diisi kesenian dari kelompok Ida Rosida (Yayasan Cangkurileung). Putri Seniman Sunda terkenal Mang Koko Koswara ini membawakan Kawih Mang Kokoan wanda anyar, diiringi kecapi Kang Aldi N. Iskandar (dosen baru ISBI), dkk. Bagi penonton yang berumur 50–60-an, tentu saja kawih-kawih tersebut menggugah kenangan masa lalu, menikmati dengan hatinya. Selain itu, ada juga elektone pop Sundaan.
Di antara para penonton, saat itu hadir pula pejabat-pejabat tinggi dan Guru Besar ISBI Bandung seperti Prof. Een Herdiani, Prof. Endang Caturwati, Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, Dr. Ismet Ruchimat (Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung), Ketua Caraka Budaya Sunda Kab. Sumedang Dr. H. Dudi dan rengrengannya, dosen Unpad, Unpas, UPI Bandung, para seniman-budayawan, dan handai taulan lainnya. “Alhamdulillah, ratusan undangan yang disebar saya dan sitri, 90%-nya berkenan datang,” kata Yoyon semringah.
Nah, malamnya, setelah Da’wah Wayang (Daway) Ustad Ramdhan Juniarsyah, M.Ag. dan Musik Bambu kolaborasi Komstrad Entertainment pimpinan Yoyon Darsono, giliran para pemain calung terkenal beraksi di panggung, seperti Haji Yayan Jatnika (keponakan Darso), Ujang Darso (putra bungsu tokoh calung, penyanyi Sunda legendaris, Sang The’ Phenomenon Hendarso/Kang Darso-Alm.), Abiel Jatnika, putra Yayan Jatnika, alumni ISBI Bandung (berhalangan hadir), Mang Jey (Si Tangan Gledeg, dalang calung jago kleter, ngagorek calung melodi) cs, Nenda Harewos dari Paguyuban Calung Kabupaten Bandung. Juga tak ketinggalan Bah Juyaman dan Bah Enjang dari Paguyuban Calung Kabupaten Sumedang, dengan pirigan Gumasep Grup pimpinan Abah Adis. (Ade Rohana, S.Sn., M.SI., tokoh seni pengerak Padepokan Seni Dangiang Jagat, pemain calung yang juga mantan birokrat dan Camat Pamulihan Sumedang, juga sedianya akan datang, tapi tidak bisa hadir karena sakit). Semua ikut kaul meramaikan kariaan hajatan.
![]() |
| Tari Penyambutan Pengantin oleh Komunitas Seniman Tradisi (KOMSTRAD) pimpinan Yoyon Darsono. |
Walau malam itu hujan, penonton tetap tak beringsut menyaksikan dan menikmati lagu-lagu Sunda dari para Bentang Calung hingga akhir. Yoyon yang si empunya hajat pun didaulat menyanyikan “Mawar Bodas” (karangan Uko Hendarto yang dipopulerkan Darso), bernyanyi trio bersama Yayan Jatnika dan Ujang Darso.
Tentu saja Yoyon dan keluarga terharu campur bahagia dan sangat berterima kasih kepada pengisi acara dan tamu undangan yang bekenan hadir meluangkan waktu di acara syukuran Mulung Mantu tsb.
Nah, hiburan hajatan di Saung Budaya Yoyon yang diisi para bentang calung tersebut, oleh Yoyon Dharsono dinamakan “Parade Bentang Calung”.
Yoyon sengaja ngasih nama tersebut karena selanjutnya mereka akan dilibatkan di perhelatan akbar, Parade Bentang Calung Jawa Barat 2027, yang diinisiasinya.
![]() |
| Yoyon Darsono,S.Kar., M.Sn, Akademisi dan Seniman Sunda (Foto Istimewa) |
Selain itu, karena Yoyon mengajar (dosen) di Program Studi Angklung dan Musik Bambu ISBI Bandung, Parade Bentang Calung tersebut jadi inspirasi dan memperkuat keinginannya untuk memasukan Calung Sunda ke mata kuliah di jurusannya. “Masa Calung Banyumas dan Calung Rindik Bali ada mata kuliahnya, sedangkan Calung Sunda tidak ada. Kan ISBI ada di tanah Sunda,” demikian alasan Yoyon.
Yoyon juga sudah ngobrol dengan Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, Dr. Ismet Ruchimat, juga Ketua Jurusan Angklung dan Musik Bambu Dr. Hinhin Agung Daryana serta Sekretaris Jurusan Moch. Gigin Ginanjar, M.Sn., dan alhamdulillah semuanya mendukung, mendapat respon baik, dan calung akan diusahakan masuk mata kuliah.
Dan ini jadi khabar baik bagi para seniman calung yang main di Parade Bentang Calung di Saung Budaya Yoyon, sebab mereka sempat curhat sebagai praktisi merasa tidak diakui oleh para akademisi. Calung dari daerah lain ada mata kuliahnya, tapi calung Sunda tidak ada. Dan kalau ada mata kuliah Calung di ISBI, ini akan sesuai dengan visi-misi ISBI sebagai garda terdepan pelestari seni budaya tradisi Sunda.
Ya, karena Calung Sunda itu kan bukan hanya sekadar Calung Jingjing (calung yang ditenteng seperti yang dilihat sekarang), tapi akan dipelajari dan terlestarikan pula Calung Tarawangsa, Calung Renteng, Calung Rantay, yang merupakan Calung Buhun, cikal bakal calung (calung jingjing) yang ada sekarang, yang dikembangkan oleh mahasiswa Unpad yang tergabung dalam Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa sekitar tahun 1961, yang dirintis Ekik Barkah dkk.
“Kalau ini terwujud, tentu para bentang calung termasuk Haji Yayan Jatnika (Alumni ASTI, sebelum jadi STSI dan menjadi ISBI Bandung sekarang) dan Pak Ade Rohana, dan lainnya, tentu akan sangat bahagia sekali karena merasa diakui, punya induk, punya lembaga,” terang Yoyon.
Para praktisi calung tersebut juga, kata Yoyon, kalau dulu bisa dijadikan dosen tamu atau dosen luar biasa, kalau sekarang bisa dijadikan narasumber, sample, perkembangan Calung Jawa Barat, sejarah dan seni pertunjukan.
Kenal Calung Sejak SD di Darmaraja Sumedang
Yoyon mengenal calung sejak SD di tempat kelahirannya di Darmaraja, Sumedang. Selain diajarkan calung oleh guru SD-nya, Yoyon juga di rumah belajar calung pada Mang Ooy, pamannya (guru kesenian SD), dan kecapi salendro, piul/biola, dan suling kepada ayahnya, Pak Amin (Alm.).
![]() |
| Yayan Jatnika tampil memikat di Saung Budaya Yoyon (Foto Istimewa) |
“Calung itu sangat disukai masarakat dari dulu hingga sekarang. Saya aja sekarang usia sudah 65 tahun, dari SD sudah mengenal calung, diajarkan guru dan Mang Ooy (pamannya) yang juga guru SD. Selain itu, saya juga di rumah belajar kacapi salendro, biola/piul, dan suling kepada bapak (Pak Amin-Alm.). Beliau itu bukan seniman pertunjukan, tapi seninya untuk kalangenan saja. Habis pulang dari sawah, setelah istirahat, selepas Isa saya disuruh menyalakan lampu patromak, lalu bapak memainkan kecapi salendronya di bale-bale rumah panggung, ditonton keluarga, bubar-bubar jam 10–11 malam,” kata Yoyon bercerita kenangan manisnya waktu kecil bersama keluarga.
Ya, sebagaimana kita tahu, Yoyon Darsono adalah seniman Sunda serba bisa yang sudah manggung ke berbagai mancanagara. Selain dikenal sebagai anggota grup band Krakatau Etno, ia juga dosen Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan Ketua Paguyuban Seniman dan Budayawan (Pasebban) Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Seniman Sunda trah keluarga besar IKOTW (Ikatan Obor Tatali Warangi) Limbangan Garut ini juga sekarang lagi rajin mengelola Saung Budaya Yoyon (SBY) di Kompleks GCI RW 17, Desa Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung. (Asep GP)***
Hajatan Mulung Mantu Ala Seniman Sunda Yoyon Dharsono: Menginspirasi Calung Sunda Jadi Mata Kuliah di ISBI Bandung
Posted by
Tatarjabar.com on Saturday, May 16, 2026
![]() |
| Ida Rosida ngawih Mang Kokoan Wanda Anyar di Syukuran Mulung Mantu Yoyon Darsono (Foto Istimewa) |
Hajatan, syukuran, resepsi pernikahan pada zaman sekarang biasanya dilaksanakan di gedung, aula, atau bagi orang kelebihan uang digelar di hotel-hotel mewah bintang lima. Tentu semua ini membutuhkan biaya tidak sedikit dan banyak orang yang memaksakan diri pinjam uang sana-sini demi membahagiakan anak, bahkan demi gengsi.
Padahal zaman dulu, baik di pedesaan atau perkotaan, hajat pernikahan cukup dilangsungkan di halaman rumah sendiri (biasanya di mempelai perempuan), pakai tenda biru (balandongan), pasang panggung nanggap hiburan seni tradisi seperti calung, wayang golek, atau gambusan plus pengajian (tausiah dari ajengan), juga orkes melayu, atau kesininya cukup elektunan, dsb., sudah meriah. Ini dilakukan bukan hanya oleh orang-orang yang punya rumah di pinggir jalan, tapi hingga ke gang-gang.
Yang menarik, kebersamaan atau gotong royongnya sangat kental. Hampir semua tetangga tidak usah disuruh, mereka ramai-ramai ikut membantu dengan sukarela.
Apakah zaman sekarang masih ada hajatan seperti ini?
Ada, walau sudah jarang terlihat. Contohnya bisa disaksikan di hajatan syukuran Mulung Mantu keluarga Yoyon Dharsono (65), yang berlangsung belum lama ini di Saung Budaya Yoyon, di Kompleks GCI RW 17, Desa Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2026). Ya, putra Yoyon, Hardian Prawira, S.E., menikah dengan Tiara Nabila, S.Ikom. (14 April 2026) di Surade – Sukabumi.
Ya, kebetulan seniman Sunda serba bisa ini mendirikan Saung Budaya dekat rumahnya, tempat latihan dan pagelaran seni tradisi yang dikelolanya. Jadi, waktu hajatan mulung mantu kemarin, Yoyon bisa menggelar seni hiburan di tempat itu.
Sedangkan untuk konsumsi undangan, Yoyon tidak memesan catering, tapi dia memasak makanan sendiri di kebunnya memakai dua tungku (hawu). Dia memasang tenda khusus di kebun tempat emak-emak dari keluarga istrinya dari Cirebon, dengan dibantu tetangganya, memasak makanan untuk para tetamu undangan.
“Dalam hajat mulung mantu kemarin, itu hajat tradisional, tidak pake EO (event organizer), dsb. Untuk konsumsi tamu, saya membuat 2 tungku pakai suluh (kayu bakar), di kebun pake balandongan (tenda biru), yang ngurus masaknya (candoli) ibu-ibu dari keluarga saya di Cirebon, dibantu para tetangga yang datang membantu dengan sukarela, berduyun-duyun membawa peralatan masak masing-masing. Ada juga yang meminjamkan peralatan masak lainnya. Kami senang dan haru sekali melihatnya, seperti zaman dahulu gotong royongnya sangat kuat. Ini sungguh hajat tradisional yang harus dilestarikan,” kenang Yoyon ketika ditemui wartawan usai hajatan.
Yoyon juga saat itu menyuguhkan pisang hasil kebunnya yang dipeuyeum (diperam) sendiri. Disimpan, digantung di tiang-tiang tenda dekat kursi tetamu agar gampang ngambilnya untuk cuci mulut.
Parade Bentang Calung Menginspirasi Calung Jadi Mata Kuliah di ISBI
Sebagai seniman tradisi dan akademisi, dosen Jurusan Musik Prodi Angklung dan Musik Bambu ISBI Bandung, Yoyon dalam hajatan itu mengundang seniman-seniman Sunda untuk unjuk kabisa di panggung menghibur para tamu undangan.
![]() |
| Yoyon Darsono dan keluarga, bersama kedua mempelai dan penyambut pengantin (Foto Istimewa) |
Siangnya diisi kesenian dari kelompok Ida Rosida (Yayasan Cangkurileung). Putri Seniman Sunda terkenal Mang Koko Koswara ini membawakan Kawih Mang Kokoan wanda anyar, diiringi kecapi Kang Aldi N. Iskandar (dosen baru ISBI), dkk. Bagi penonton yang berumur 50–60-an, tentu saja kawih-kawih tersebut menggugah kenangan masa lalu, menikmati dengan hatinya. Selain itu, ada juga elektone pop Sundaan.
Di antara para penonton, saat itu hadir pula pejabat-pejabat tinggi dan Guru Besar ISBI Bandung seperti Prof. Een Herdiani, Prof. Endang Caturwati, Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, Dr. Ismet Ruchimat (Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung), Ketua Caraka Budaya Sunda Kab. Sumedang Dr. H. Dudi dan rengrengannya, dosen Unpad, Unpas, UPI Bandung, para seniman-budayawan, dan handai taulan lainnya. “Alhamdulillah, ratusan undangan yang disebar saya dan sitri, 90%-nya berkenan datang,” kata Yoyon semringah.
Nah, malamnya, setelah Da’wah Wayang (Daway) Ustad Ramdhan Juniarsyah, M.Ag. dan Musik Bambu kolaborasi Komstrad Entertainment pimpinan Yoyon Darsono, giliran para pemain calung terkenal beraksi di panggung, seperti Haji Yayan Jatnika (keponakan Darso), Ujang Darso (putra bungsu tokoh calung, penyanyi Sunda legendaris, Sang The’ Phenomenon Hendarso/Kang Darso-Alm.), Abiel Jatnika, putra Yayan Jatnika, alumni ISBI Bandung (berhalangan hadir), Mang Jey (Si Tangan Gledeg, dalang calung jago kleter, ngagorek calung melodi) cs, Nenda Harewos dari Paguyuban Calung Kabupaten Bandung. Juga tak ketinggalan Bah Juyaman dan Bah Enjang dari Paguyuban Calung Kabupaten Sumedang, dengan pirigan Gumasep Grup pimpinan Abah Adis. (Ade Rohana, S.Sn., M.SI., tokoh seni pengerak Padepokan Seni Dangiang Jagat, pemain calung yang juga mantan birokrat dan Camat Pamulihan Sumedang, juga sedianya akan datang, tapi tidak bisa hadir karena sakit). Semua ikut kaul meramaikan kariaan hajatan.
![]() |
| Tari Penyambutan Pengantin oleh Komunitas Seniman Tradisi (KOMSTRAD) pimpinan Yoyon Darsono. |
Walau malam itu hujan, penonton tetap tak beringsut menyaksikan dan menikmati lagu-lagu Sunda dari para Bentang Calung hingga akhir. Yoyon yang si empunya hajat pun didaulat menyanyikan “Mawar Bodas” (karangan Uko Hendarto yang dipopulerkan Darso), bernyanyi trio bersama Yayan Jatnika dan Ujang Darso.
Tentu saja Yoyon dan keluarga terharu campur bahagia dan sangat berterima kasih kepada pengisi acara dan tamu undangan yang bekenan hadir meluangkan waktu di acara syukuran Mulung Mantu tsb.
Nah, hiburan hajatan di Saung Budaya Yoyon yang diisi para bentang calung tersebut, oleh Yoyon Dharsono dinamakan “Parade Bentang Calung”.
Yoyon sengaja ngasih nama tersebut karena selanjutnya mereka akan dilibatkan di perhelatan akbar, Parade Bentang Calung Jawa Barat 2027, yang diinisiasinya.
![]() |
| Yoyon Darsono,S.Kar., M.Sn, Akademisi dan Seniman Sunda (Foto Istimewa) |
Selain itu, karena Yoyon mengajar (dosen) di Program Studi Angklung dan Musik Bambu ISBI Bandung, Parade Bentang Calung tersebut jadi inspirasi dan memperkuat keinginannya untuk memasukan Calung Sunda ke mata kuliah di jurusannya. “Masa Calung Banyumas dan Calung Rindik Bali ada mata kuliahnya, sedangkan Calung Sunda tidak ada. Kan ISBI ada di tanah Sunda,” demikian alasan Yoyon.
Yoyon juga sudah ngobrol dengan Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, Dr. Ismet Ruchimat, juga Ketua Jurusan Angklung dan Musik Bambu Dr. Hinhin Agung Daryana serta Sekretaris Jurusan Moch. Gigin Ginanjar, M.Sn., dan alhamdulillah semuanya mendukung, mendapat respon baik, dan calung akan diusahakan masuk mata kuliah.
Dan ini jadi khabar baik bagi para seniman calung yang main di Parade Bentang Calung di Saung Budaya Yoyon, sebab mereka sempat curhat sebagai praktisi merasa tidak diakui oleh para akademisi. Calung dari daerah lain ada mata kuliahnya, tapi calung Sunda tidak ada. Dan kalau ada mata kuliah Calung di ISBI, ini akan sesuai dengan visi-misi ISBI sebagai garda terdepan pelestari seni budaya tradisi Sunda.
Ya, karena Calung Sunda itu kan bukan hanya sekadar Calung Jingjing (calung yang ditenteng seperti yang dilihat sekarang), tapi akan dipelajari dan terlestarikan pula Calung Tarawangsa, Calung Renteng, Calung Rantay, yang merupakan Calung Buhun, cikal bakal calung (calung jingjing) yang ada sekarang, yang dikembangkan oleh mahasiswa Unpad yang tergabung dalam Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa sekitar tahun 1961, yang dirintis Ekik Barkah dkk.
“Kalau ini terwujud, tentu para bentang calung termasuk Haji Yayan Jatnika (Alumni ASTI, sebelum jadi STSI dan menjadi ISBI Bandung sekarang) dan Pak Ade Rohana, dan lainnya, tentu akan sangat bahagia sekali karena merasa diakui, punya induk, punya lembaga,” terang Yoyon.
Para praktisi calung tersebut juga, kata Yoyon, kalau dulu bisa dijadikan dosen tamu atau dosen luar biasa, kalau sekarang bisa dijadikan narasumber, sample, perkembangan Calung Jawa Barat, sejarah dan seni pertunjukan.
Kenal Calung Sejak SD di Darmaraja Sumedang
Yoyon mengenal calung sejak SD di tempat kelahirannya di Darmaraja, Sumedang. Selain diajarkan calung oleh guru SD-nya, Yoyon juga di rumah belajar calung pada Mang Ooy, pamannya (guru kesenian SD), dan kecapi salendro, piul/biola, dan suling kepada ayahnya, Pak Amin (Alm.).
![]() |
| Yayan Jatnika tampil memikat di Saung Budaya Yoyon (Foto Istimewa) |
“Calung itu sangat disukai masarakat dari dulu hingga sekarang. Saya aja sekarang usia sudah 65 tahun, dari SD sudah mengenal calung, diajarkan guru dan Mang Ooy (pamannya) yang juga guru SD. Selain itu, saya juga di rumah belajar kacapi salendro, biola/piul, dan suling kepada bapak (Pak Amin-Alm.). Beliau itu bukan seniman pertunjukan, tapi seninya untuk kalangenan saja. Habis pulang dari sawah, setelah istirahat, selepas Isa saya disuruh menyalakan lampu patromak, lalu bapak memainkan kecapi salendronya di bale-bale rumah panggung, ditonton keluarga, bubar-bubar jam 10–11 malam,” kata Yoyon bercerita kenangan manisnya waktu kecil bersama keluarga.
Ya, sebagaimana kita tahu, Yoyon Darsono adalah seniman Sunda serba bisa yang sudah manggung ke berbagai mancanagara. Selain dikenal sebagai anggota grup band Krakatau Etno, ia juga dosen Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan Ketua Paguyuban Seniman dan Budayawan (Pasebban) Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Seniman Sunda trah keluarga besar IKOTW (Ikatan Obor Tatali Warangi) Limbangan Garut ini juga sekarang lagi rajin mengelola Saung Budaya Yoyon (SBY) di Kompleks GCI RW 17, Desa Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung. (Asep GP)***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
.jpeg)

.jpeg)
%20pimpinan%20Yoyon%20Darsono..jpeg)
.jpeg)
.jpeg)






No comments :
Post a Comment