Tuesday, May 26, 2026
![]() |
| Dr. Warli Haryana, M.Pd.: Semangat Kartini dalam Seni Rupa Indonesia Bersama Dr. Supriatna, M.Sn., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn. dan Kembang Sepatu. |
Sebagaimana diketahui, pada Kamis (16/4/2026), Asosiasi Pelukis Nasional (ASPEN) menggelar perhelatan seni dan budaya melalui Pameran Lukisan bertema “Habis Gelap Terbitlah Terang”, di Galeri Panyawangan, Bandung Barat. Acara ini mempertemukan seniman/praktisi seni, budayawan, akademisi, dan mahasiswa dari Jakarta dan Bandung untuk merayakan semangat R.A. Kartini melalui seni rupa.
Selain itu, digelar “Artist Talk ASPEN” pada Sabtu (25/4/2026), di Silokarupaka Indoor Theater Bale Seni Barli, Kota Baru Parahyangan, bersama Dr. Warli Haryana, M.Pd., praktisi seni dan dosen Pendidikan Seni Rupa - Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., seniman dan akademisi ISBI Bandung, dengan penanggap Dr. Sarnadi Adam, M.Sn. (akademisi dan maestro pelukis Betawi) serta moderator Kembang Sepatu (akademisi dan praktisi).
![]() |
| Foto bersama: Dr. Warli Haryana, M.Pd., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., Kembang Sepatu, Dede Priana, S.Sn., M.Si., Epi Gunawan dan Komunitas Aspen. |
Warli Haryana menegaskan bahwa tema ini mengajak kita untuk merefleksikan perjuangan Kartini. Ia menjelaskan bahwa seni memiliki peran vital sebagai medium pencerahan, bukan hanya dalam konteks estetika, tetapi juga sosial dan spiritual. “Gelap adalah simbol keterbatasan dan ketidaksetaraan, sementara Terang adalah harapan, kebangkitan, dan pemberdayaan. Seni berfungsi sebagai cahaya yang menuntun kita keluar dari kegelapan, menjadi ruang vital untuk dialog, refleksi, dan pencarian spiritual,” ujarnya. Pandangan ini menegaskan bahwa seni rupa Indonesia juga sejalan dengan semangat emansipasi dan pencerdasan bangsa yang diwariskan Kartini.
![]() |
| Karya: Warli Haryana — Judul: Dur Angkara — Media: Acrylic on canvas Ukuran: 100 × 90 cm |
Dalam paparannya, Warli memperkenalkan karya “Semar Ngejawantah” sebagai simbol kebijaksanaan rakyat yang menuntun masyarakat menuju harmoni, serta karya “Dur Angkara” yang menggambarkan bahaya keserakahan dan kekuasaan korup. Ia menekankan bahwa kedua karya tersebut bukan sekadar representasi visual, melainkan refleksi atas kondisi sosial yang nyata. Dengan menghubungkan nilai tradisi wayang dengan tantangan kontemporer, Warli menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara warisan budaya dan realitas modern. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa seni rupa Indonesia mampu menghadirkan kritik sosial sekaligus menawarkan solusi moral bagi masyarakat.
Menutup paparannya, Warli Haryana kembali menegaskan pentingnya semangat Kartini dalam seni rupa Indonesia. “Semangat Kartini adalah ajakan untuk terus mencari terang. Setiap karya seni adalah refleksi sosial, etika, dan spiritual kita, sekaligus dorongan untuk melawan keterbatasan menuju pencerahan,” tegasnya. Dalam konteks seni rupa, semangat ini diterjemahkan menjadi karya visual yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat makna sosial, budaya, dan spiritual.
Menutup paparannya, Warli Haryana kembali menegaskan pentingnya semangat Kartini dalam seni rupa Indonesia. “Semangat Kartini adalah ajakan untuk terus mencari terang. Setiap karya seni adalah refleksi sosial, etika, dan spiritual kita, sekaligus dorongan untuk melawan keterbatasan menuju pencerahan,” tegasnya. Dalam konteks seni rupa, semangat ini diterjemahkan menjadi karya visual yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat makna sosial, budaya, dan spiritual.
![]() |
| Karya: Warli Haryana — Judul: Semar Ngejawantah — Media: Acrylic on canvas Ukuran: 100 × 90 cm |
Warli juga mengatakan, kegiatan Artist Talk ini bukan sekadar diskusi seni, melainkan ruang refleksi bersama. Para seniman, akademisi, dan mahasiswa berdialog tentang peran seni sebagai medium pemberdayaan, kritik sosial, dan jembatan budaya. Kehadiran tokoh-tokoh lintas kota dan generasi memperkuat pesan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan.
“Dengan semangat Kartini yang terus bergema, pameran ASPEN ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diharapkan menjadi momentum penting bagi dunia seni rupa Indonesia. Ia menegaskan bahwa seni tidak pernah berhenti mencari terang, dan bahwa setiap karya adalah ajakan untuk merenungkan kondisi sosial, etika, spiritual, dan budaya,” pungkas Dr. Warli.
“Dengan semangat Kartini yang terus bergema, pameran ASPEN ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diharapkan menjadi momentum penting bagi dunia seni rupa Indonesia. Ia menegaskan bahwa seni tidak pernah berhenti mencari terang, dan bahwa setiap karya adalah ajakan untuk merenungkan kondisi sosial, etika, spiritual, dan budaya,” pungkas Dr. Warli.
![]() |
| Foto bersama: Dr. Warli Haryana, M.Pd., Dr. Supriatna, M.Sn., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., Kembang Sepatu, Dede Priana, S.Sn., M.Si., Epi Gunawan dan Komunitas Aspen. |
Sementara itu, Dr. Supriatna, M.Sn. (ISBI Bandung) yang membahas metodologi proses kekaryaan, menekankan pentingnya ruang dan waktu dalam penciptaan karya seni.
Sedangkan Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., maestro seni lukis Betawi, menyoroti kekhasan seniman Jakarta yang urban, kompleks, dan dinamis, serta seniman Bandung yang kreatif, eksperimental, dan reflektif. Acara dipandu oleh Kembang Sepatu, Ketua ASPEN, dengan gaya komunikatif dan reflektif yang memperkuat interaksi dengan audiens. (Rls/AGP)***
Sedangkan Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., maestro seni lukis Betawi, menyoroti kekhasan seniman Jakarta yang urban, kompleks, dan dinamis, serta seniman Bandung yang kreatif, eksperimental, dan reflektif. Acara dipandu oleh Kembang Sepatu, Ketua ASPEN, dengan gaya komunikatif dan reflektif yang memperkuat interaksi dengan audiens. (Rls/AGP)***
Dr. Warli Haryana Refleksikan Semangat Kartini dalam Seni Rupa Indonesia
Posted by
Tatarjabar.com on Tuesday, May 26, 2026
![]() |
| Dr. Warli Haryana, M.Pd.: Semangat Kartini dalam Seni Rupa Indonesia Bersama Dr. Supriatna, M.Sn., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn. dan Kembang Sepatu. |
Sebagaimana diketahui, pada Kamis (16/4/2026), Asosiasi Pelukis Nasional (ASPEN) menggelar perhelatan seni dan budaya melalui Pameran Lukisan bertema “Habis Gelap Terbitlah Terang”, di Galeri Panyawangan, Bandung Barat. Acara ini mempertemukan seniman/praktisi seni, budayawan, akademisi, dan mahasiswa dari Jakarta dan Bandung untuk merayakan semangat R.A. Kartini melalui seni rupa.
Selain itu, digelar “Artist Talk ASPEN” pada Sabtu (25/4/2026), di Silokarupaka Indoor Theater Bale Seni Barli, Kota Baru Parahyangan, bersama Dr. Warli Haryana, M.Pd., praktisi seni dan dosen Pendidikan Seni Rupa - Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., seniman dan akademisi ISBI Bandung, dengan penanggap Dr. Sarnadi Adam, M.Sn. (akademisi dan maestro pelukis Betawi) serta moderator Kembang Sepatu (akademisi dan praktisi).
![]() |
| Foto bersama: Dr. Warli Haryana, M.Pd., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., Kembang Sepatu, Dede Priana, S.Sn., M.Si., Epi Gunawan dan Komunitas Aspen. |
Warli Haryana menegaskan bahwa tema ini mengajak kita untuk merefleksikan perjuangan Kartini. Ia menjelaskan bahwa seni memiliki peran vital sebagai medium pencerahan, bukan hanya dalam konteks estetika, tetapi juga sosial dan spiritual. “Gelap adalah simbol keterbatasan dan ketidaksetaraan, sementara Terang adalah harapan, kebangkitan, dan pemberdayaan. Seni berfungsi sebagai cahaya yang menuntun kita keluar dari kegelapan, menjadi ruang vital untuk dialog, refleksi, dan pencarian spiritual,” ujarnya. Pandangan ini menegaskan bahwa seni rupa Indonesia juga sejalan dengan semangat emansipasi dan pencerdasan bangsa yang diwariskan Kartini.
![]() |
| Karya: Warli Haryana — Judul: Dur Angkara — Media: Acrylic on canvas Ukuran: 100 × 90 cm |
Dalam paparannya, Warli memperkenalkan karya “Semar Ngejawantah” sebagai simbol kebijaksanaan rakyat yang menuntun masyarakat menuju harmoni, serta karya “Dur Angkara” yang menggambarkan bahaya keserakahan dan kekuasaan korup. Ia menekankan bahwa kedua karya tersebut bukan sekadar representasi visual, melainkan refleksi atas kondisi sosial yang nyata. Dengan menghubungkan nilai tradisi wayang dengan tantangan kontemporer, Warli menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara warisan budaya dan realitas modern. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa seni rupa Indonesia mampu menghadirkan kritik sosial sekaligus menawarkan solusi moral bagi masyarakat.
Menutup paparannya, Warli Haryana kembali menegaskan pentingnya semangat Kartini dalam seni rupa Indonesia. “Semangat Kartini adalah ajakan untuk terus mencari terang. Setiap karya seni adalah refleksi sosial, etika, dan spiritual kita, sekaligus dorongan untuk melawan keterbatasan menuju pencerahan,” tegasnya. Dalam konteks seni rupa, semangat ini diterjemahkan menjadi karya visual yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat makna sosial, budaya, dan spiritual.
Menutup paparannya, Warli Haryana kembali menegaskan pentingnya semangat Kartini dalam seni rupa Indonesia. “Semangat Kartini adalah ajakan untuk terus mencari terang. Setiap karya seni adalah refleksi sosial, etika, dan spiritual kita, sekaligus dorongan untuk melawan keterbatasan menuju pencerahan,” tegasnya. Dalam konteks seni rupa, semangat ini diterjemahkan menjadi karya visual yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat makna sosial, budaya, dan spiritual.
![]() |
| Karya: Warli Haryana — Judul: Semar Ngejawantah — Media: Acrylic on canvas Ukuran: 100 × 90 cm |
Warli juga mengatakan, kegiatan Artist Talk ini bukan sekadar diskusi seni, melainkan ruang refleksi bersama. Para seniman, akademisi, dan mahasiswa berdialog tentang peran seni sebagai medium pemberdayaan, kritik sosial, dan jembatan budaya. Kehadiran tokoh-tokoh lintas kota dan generasi memperkuat pesan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan.
“Dengan semangat Kartini yang terus bergema, pameran ASPEN ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diharapkan menjadi momentum penting bagi dunia seni rupa Indonesia. Ia menegaskan bahwa seni tidak pernah berhenti mencari terang, dan bahwa setiap karya adalah ajakan untuk merenungkan kondisi sosial, etika, spiritual, dan budaya,” pungkas Dr. Warli.
“Dengan semangat Kartini yang terus bergema, pameran ASPEN ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diharapkan menjadi momentum penting bagi dunia seni rupa Indonesia. Ia menegaskan bahwa seni tidak pernah berhenti mencari terang, dan bahwa setiap karya adalah ajakan untuk merenungkan kondisi sosial, etika, spiritual, dan budaya,” pungkas Dr. Warli.
![]() |
| Foto bersama: Dr. Warli Haryana, M.Pd., Dr. Supriatna, M.Sn., Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., Kembang Sepatu, Dede Priana, S.Sn., M.Si., Epi Gunawan dan Komunitas Aspen. |
Sementara itu, Dr. Supriatna, M.Sn. (ISBI Bandung) yang membahas metodologi proses kekaryaan, menekankan pentingnya ruang dan waktu dalam penciptaan karya seni.
Sedangkan Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., maestro seni lukis Betawi, menyoroti kekhasan seniman Jakarta yang urban, kompleks, dan dinamis, serta seniman Bandung yang kreatif, eksperimental, dan reflektif. Acara dipandu oleh Kembang Sepatu, Ketua ASPEN, dengan gaya komunikatif dan reflektif yang memperkuat interaksi dengan audiens. (Rls/AGP)***
Sedangkan Dr. Sarnadi Adam, M.Sn., maestro seni lukis Betawi, menyoroti kekhasan seniman Jakarta yang urban, kompleks, dan dinamis, serta seniman Bandung yang kreatif, eksperimental, dan reflektif. Acara dipandu oleh Kembang Sepatu, Ketua ASPEN, dengan gaya komunikatif dan reflektif yang memperkuat interaksi dengan audiens. (Rls/AGP)***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)











No comments :
Post a Comment