Sunday, March 15, 2026
![]() |
| Para Pengurus dan Anggota Galih Pakuan (Foto: Asep GP) |
Galih Pakuan (GP) adalah kumpulan atau organisasi seni tari yang di dalamnya terdiri para maestro Tari Sunda. Ada Indrawati Lukman (Studio Tari Sunda/STI), Irawati Durban (Pusat Bimbingan Tari/Pusbit Tari), Aim Salim (Setia Luyu), Yeti Mamat (Kandaga), Risyani, S.ST., M.Sen., Yuli Sunarya, juga ada dari generasi mudanya seperti Drs. Dida Margana dan Nyi Rd. Nina Lydia, S.Sen., dari Natya Dance Community (NDC), dsb.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Belakangan, para maestro yang berusia 70 tahun ke atas tersebut satu per satu meninggalkan dunia fana, seperti Irawati Durban dan Aim Salim. Tinggal Indrawati Lukman (82) yang masih aktif mengajar di usianya yang sudah senja.
![]() |
| Ketua Umum Galih Pakuan (Periode 2024-2026), Risyani, Seni Tradisi tak boleh mati! |
“Memang GP ini sebenarnya terdiri dari para penari yang berusia lanjut, sudah sepuh, tapi semangatnya 45 dan mereka menarinya masih bagus. Nah, karena kita memang tiap tahun bertambah usia, kita memerlukan generasi penerus. Dan generasi penerus itu tidak akan datang sendiri kalau tidak diajak oleh GP ini. Oleh karena itu saya imbau agar dari sanggar yang tergabung di GP ini supaya menyertakan anggota-anggotanya masuk ke dalam GP, supaya ada generasi penerus,” demikian dikatakan Indrawati Lukman kepada wartawan, belum lama ini di Bandung.
![]() |
| Indrawati Lukman, Maestro Tari berusia 82 - semangat 45 masih melatih Tari Sunda (Foto: Istimewa) |
Penasehat Galih Pakuan ini juga berharap agar pemerintah terkait ikut mendukung usaha pelestarian seni Sunda yang adilihung peninggalan leluhur ini. “Dukungan pemerintah sangat perlu. Kami tidak punya modal untuk membuat sebuah pertunjukan atau apa. Dan untuk cari sponsor saat ini tidak semudah yang dipikirkan, jadi untuk membuat pertunjukan yang besar itu perlu biaya, dana pendukung yang tidak sedikit. Jadi perlu dukungan dari Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi. Jadi ketika kita mengajukan proposal, mendapat perhatian,” tegasnya.
![]() |
| Yuli Sunarya (Ketua Umum GP Periode 2019-2023), membuat legalitas GP dan pelatihan untuk SMP-SMA (Foto: Asep GP) |
Ya, memang Galih Pakuan pada bulan November tahun ini berencana mengadakan pagelaran lagi untuk mengenalkan tari Sunda kepada generasi muda yang diharapkan akan jadi generasi penerusnya. Sekarang sedang mempersiapkan proposal untuk diajukan kepada dinas terkait, agar mendapat dukungan dan bantuan yang diperlukan.
![]() |
| Dida Margana, harus ada generasi penerus (Foto: Asep GP) |
Hal tersebut juga dibenarkan Ketua Umum Galih Pakuan (Periode 2024–2026), Risyani, S.ST., S.Sen. (75), ketika bertemu wartawan dalam acara Milangkala GP dan Halal bi Halal di Gedung Pusat Kesenian (GPK), Jalan Naripan No. 7 Kota Bandung (9/4/2026).
Malah, kata dosen Tari ISBI Bandung ini, proposal sudah sampai ke BPK, evaluasi tanggal 6 November. “Semoga saja lolos,” harapnya. Selain itu, Risyani juga akan bekerja sama dengan ISBI Bandung dan DPRD Jabar, Pemkot (Wali Kota), Kadisparbud Jabar dan Kadisbudpar Kota Bandung, juga Paguyuban Pasundan.
Pada pagelaran tahun ini GP akan menyuguhkan tarian karya maestro Indrawati Lukman dan karya Natya Dance Community. Risyani juga berharap Sanggar Kang Rahmat dari Ciamis bisa menyemarakkan acara yang diinisiasi GP ini. “Mari kita merawat budaya dan menjaga keberlanjutannya. Tradisi tak boleh mati, tapi harus ada inovasi agar disukai generasi nanti,” tandasnya.
Hal regenerasi ini dirasakan sangat penting oleh Dida Margana, karena para maestro sudah sepuh. Oleh karena itu, harus ada generasi muda yang masih segar untuk meneruskan GP ini,” ujarnya. Tapi alhamdulillah, kata Dida, di Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Naripan sekarang sudah mulai lagi digiatkan pelatihan-pelatihan tari, seperti Studio Tari Indra (tiap Senin, pukul 15.00–17.00) dan dari Natya Dance. Selain itu, Pusbit Tari selepas ditinggal pendirinya (Irawati Durban, almh.) kini dilanjutkan Bu Wiwin masih di tempat yang sama di Museum Sri Baduga (Jalan BKR No. 185 Kota Bandung). Demikian juga sanggar tari Setia Luyu selepas ditinggal Pa Aim Salim kini digantikan putrinya Bu Riyan, membuka latihan di tempat yang sama di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang No. 1 Kota Bandung, juga Yeti Mamat (Sanggar Tari Kandaga) di GGM. Jadi, kata Dida, pihak GP siap ngamumule (melestarikan) Tari Sunda dengan potensi yang ada, tapi dia juga berharap pihak pemerintah, instansi terkait, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ikut mendukung kegiatan Galih Pakuan.
![]() |
| Geliat Tari Sunda di GPK (Dok. Studio Tari Indra) |
Hal senada juga dikatakan Yuli Sunarya (69), Ketua GP 2019–2023. Insyaallah, katanya, GP dengan segala kemampuan berusaha keras untuk terus melestarikan dan mewariskan Tari Sunda. Seperti yang dilakukan pada masa kepemimpinan Asep Yusuf (Ketua Umum GP pertama, alm.). Dengan mengadakan kunjungan ke sekolah-sekolah mengenalkan Tari Klasik, juga pada masa kepemimpinannya yang walau tersendat pandemi, telah berhasil membuat legalitas GP dan berusaha membuat pelatihan-pelatihan untuk siswa SMP dan SMA di YPK serta pagelaran di Taman Love Balkot Bandung (2019), Mayang Sunda, dan pagelaran virtual 2020. Dan alhamdulillah semua ini akan berlanjut. GP tidak lama lagi akan mengadakan kunjungan ke dinas-dinas terkait. “GP akan bersilaturahmi, ngawanohkeun utamanya ke Diknas. Sekalian usul supaya merekomendasikan ke sekolah-sekolah bahwa di GPK ada pelatihan Tari Klasik yang dikelola Galih Pakuan (GP). Nah, kepala sekolah juga nantinya merekomendasikan ke guru seninya agar membawa murid-muridnya ke Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Naripan. Semoga dengan demikian program GP ke depannya lebih meningkat dan banyak yang mau belajar, melestarikan Tari Klasik Sunda, biar ada regenerasi,” pungkasnya. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
March 15, 2026
CB Blogger
IndonesiaGalih Pakuan Butuh Generasi Penerus Pelestari Tari Sunda
Posted by
Tatarjabar.com on Sunday, March 15, 2026
![]() |
| Para Pengurus dan Anggota Galih Pakuan (Foto: Asep GP) |
Galih Pakuan (GP) adalah kumpulan atau organisasi seni tari yang di dalamnya terdiri para maestro Tari Sunda. Ada Indrawati Lukman (Studio Tari Sunda/STI), Irawati Durban (Pusat Bimbingan Tari/Pusbit Tari), Aim Salim (Setia Luyu), Yeti Mamat (Kandaga), Risyani, S.ST., M.Sen., Yuli Sunarya, juga ada dari generasi mudanya seperti Drs. Dida Margana dan Nyi Rd. Nina Lydia, S.Sen., dari Natya Dance Community (NDC), dsb.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Belakangan, para maestro yang berusia 70 tahun ke atas tersebut satu per satu meninggalkan dunia fana, seperti Irawati Durban dan Aim Salim. Tinggal Indrawati Lukman (82) yang masih aktif mengajar di usianya yang sudah senja.
![]() |
| Ketua Umum Galih Pakuan (Periode 2024-2026), Risyani, Seni Tradisi tak boleh mati! |
“Memang GP ini sebenarnya terdiri dari para penari yang berusia lanjut, sudah sepuh, tapi semangatnya 45 dan mereka menarinya masih bagus. Nah, karena kita memang tiap tahun bertambah usia, kita memerlukan generasi penerus. Dan generasi penerus itu tidak akan datang sendiri kalau tidak diajak oleh GP ini. Oleh karena itu saya imbau agar dari sanggar yang tergabung di GP ini supaya menyertakan anggota-anggotanya masuk ke dalam GP, supaya ada generasi penerus,” demikian dikatakan Indrawati Lukman kepada wartawan, belum lama ini di Bandung.
![]() |
| Indrawati Lukman, Maestro Tari berusia 82 - semangat 45 masih melatih Tari Sunda (Foto: Istimewa) |
Penasehat Galih Pakuan ini juga berharap agar pemerintah terkait ikut mendukung usaha pelestarian seni Sunda yang adilihung peninggalan leluhur ini. “Dukungan pemerintah sangat perlu. Kami tidak punya modal untuk membuat sebuah pertunjukan atau apa. Dan untuk cari sponsor saat ini tidak semudah yang dipikirkan, jadi untuk membuat pertunjukan yang besar itu perlu biaya, dana pendukung yang tidak sedikit. Jadi perlu dukungan dari Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi. Jadi ketika kita mengajukan proposal, mendapat perhatian,” tegasnya.
![]() |
| Yuli Sunarya (Ketua Umum GP Periode 2019-2023), membuat legalitas GP dan pelatihan untuk SMP-SMA (Foto: Asep GP) |
Ya, memang Galih Pakuan pada bulan November tahun ini berencana mengadakan pagelaran lagi untuk mengenalkan tari Sunda kepada generasi muda yang diharapkan akan jadi generasi penerusnya. Sekarang sedang mempersiapkan proposal untuk diajukan kepada dinas terkait, agar mendapat dukungan dan bantuan yang diperlukan.
![]() |
| Dida Margana, harus ada generasi penerus (Foto: Asep GP) |
Hal tersebut juga dibenarkan Ketua Umum Galih Pakuan (Periode 2024–2026), Risyani, S.ST., S.Sen. (75), ketika bertemu wartawan dalam acara Milangkala GP dan Halal bi Halal di Gedung Pusat Kesenian (GPK), Jalan Naripan No. 7 Kota Bandung (9/4/2026).
Malah, kata dosen Tari ISBI Bandung ini, proposal sudah sampai ke BPK, evaluasi tanggal 6 November. “Semoga saja lolos,” harapnya. Selain itu, Risyani juga akan bekerja sama dengan ISBI Bandung dan DPRD Jabar, Pemkot (Wali Kota), Kadisparbud Jabar dan Kadisbudpar Kota Bandung, juga Paguyuban Pasundan.
Pada pagelaran tahun ini GP akan menyuguhkan tarian karya maestro Indrawati Lukman dan karya Natya Dance Community. Risyani juga berharap Sanggar Kang Rahmat dari Ciamis bisa menyemarakkan acara yang diinisiasi GP ini. “Mari kita merawat budaya dan menjaga keberlanjutannya. Tradisi tak boleh mati, tapi harus ada inovasi agar disukai generasi nanti,” tandasnya.
Hal regenerasi ini dirasakan sangat penting oleh Dida Margana, karena para maestro sudah sepuh. Oleh karena itu, harus ada generasi muda yang masih segar untuk meneruskan GP ini,” ujarnya. Tapi alhamdulillah, kata Dida, di Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Naripan sekarang sudah mulai lagi digiatkan pelatihan-pelatihan tari, seperti Studio Tari Indra (tiap Senin, pukul 15.00–17.00) dan dari Natya Dance. Selain itu, Pusbit Tari selepas ditinggal pendirinya (Irawati Durban, almh.) kini dilanjutkan Bu Wiwin masih di tempat yang sama di Museum Sri Baduga (Jalan BKR No. 185 Kota Bandung). Demikian juga sanggar tari Setia Luyu selepas ditinggal Pa Aim Salim kini digantikan putrinya Bu Riyan, membuka latihan di tempat yang sama di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang No. 1 Kota Bandung, juga Yeti Mamat (Sanggar Tari Kandaga) di GGM. Jadi, kata Dida, pihak GP siap ngamumule (melestarikan) Tari Sunda dengan potensi yang ada, tapi dia juga berharap pihak pemerintah, instansi terkait, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ikut mendukung kegiatan Galih Pakuan.
![]() |
| Geliat Tari Sunda di GPK (Dok. Studio Tari Indra) |
Hal senada juga dikatakan Yuli Sunarya (69), Ketua GP 2019–2023. Insyaallah, katanya, GP dengan segala kemampuan berusaha keras untuk terus melestarikan dan mewariskan Tari Sunda. Seperti yang dilakukan pada masa kepemimpinan Asep Yusuf (Ketua Umum GP pertama, alm.). Dengan mengadakan kunjungan ke sekolah-sekolah mengenalkan Tari Klasik, juga pada masa kepemimpinannya yang walau tersendat pandemi, telah berhasil membuat legalitas GP dan berusaha membuat pelatihan-pelatihan untuk siswa SMP dan SMA di YPK serta pagelaran di Taman Love Balkot Bandung (2019), Mayang Sunda, dan pagelaran virtual 2020. Dan alhamdulillah semua ini akan berlanjut. GP tidak lama lagi akan mengadakan kunjungan ke dinas-dinas terkait. “GP akan bersilaturahmi, ngawanohkeun utamanya ke Diknas. Sekalian usul supaya merekomendasikan ke sekolah-sekolah bahwa di GPK ada pelatihan Tari Klasik yang dikelola Galih Pakuan (GP). Nah, kepala sekolah juga nantinya merekomendasikan ke guru seninya agar membawa murid-muridnya ke Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Naripan. Semoga dengan demikian program GP ke depannya lebih meningkat dan banyak yang mau belajar, melestarikan Tari Klasik Sunda, biar ada regenerasi,” pungkasnya. (Asep GP)***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)















No comments :
Post a Comment