Home
» Seni Budaya
» ISBI Bandung Sukses Gelar Teater Kontemporer “Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik Kapai-Kapai” Karya Arifin C. Noer
Thursday, February 19, 2026
![]() |
| Foto Asep GP |
Setelah sukses digelar di Pusat Kebudayaan Prancis, IFI Bandung, (12–13 November 2025), Teater Kontemporer “Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik Kapai-Kapai” Karya Arifin C. Noer kembali mengulang suksesnya setelah dipertunjukkan lagi di ISBI Bandung. Terlihat penonton yang kebanyakan anak muda (mahasiswa dan pelajar) penuh sesak memenuhi Gedung Kesenian Sunan Ambu Kampus ISBI Bandung, Jalan Buah Batu No. 212 Kota Bandung, Rabu (11/2/2026). Benar, hingga banyak penonton yang duduk di bawah, tidak kebagian kursi.
Pagelaran teater yang teks pertunjukan dan sutradaranya digarap Fathul A. Husein ini memang berhasil memukau anak-anak muda, padahal umumnya naskah teater karya Arifin C. Noer secara tematik termasuk berat/pilosofis serta panjang, lambat dicerna anak-anak muda. Tapi dengan cerdiknya Fathul A. Husein memasukkan unsur-unsur seni tradisi Pantura seperti Tarling, Sintren, dan Wayang Kulit serta jalan ceritanya dijadikan minimalis, hingga disenangi kaum muda.
“Waduh, presh, keren pisan! Saya baru melihat pertunjukan teater seperti ini,” kata Ihsan Kamil, yang datang bersama 9 orang temannya mahasiswa Jurusan Informatika (S1) Universitas Teknologi Digital (UTD). Ihsan yang juga anggota kelompok teater Munggaran Kesenian Digitek (MKD) ini merasa kagum ge balaka, dengan dialog, gestur, dan akting para aktor teaternya yang matang. Ditambah ada selipan kesenian tradisi Pantura (Wayang Kulit, Sintren, Tarling).
Kebetulan, kata Ihsan, kelompok teaternya (MKD) yang dipimpin dan dilatih oleh Salsabilla Alaika ini banyak mempergelarkan lakon Kerajaan Sunda yang terkadang dipadukan dengan teater modern.
![]() |
| Foto Asep GP |
“Keren sih, saya gak nyangka bakal muncul wayang (kulit) dari layar putih, kirain hanya kain penghias panggung saja,” demikian kata mahasiswa UTD Angkatan 2024 yang merasa dapat banyak tambahan ilmu teaternya.
Hal itu sependapat dengan yang dikatakan Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimarwati, di hadapan awak media sehari sebelum pagelaran. Retno yang juga aktor teater mengatakan bahwa kekuatan dari karya ini, yaitu munculnya intensitas, musikalitas, dan tarian tradisional tiga wilayah yang ada di Pantura (Pantai Utara), Sintren, Tarling, dan Wayang Kulit.
“Jadi seni tradisi itu muncul kuat di sini. Fathul terlihat mencoba menguatkan dimensi artistiknya dengan kesenian wilayah tiga dalam karyanya yang tidak ada dalam naskah aslinya, sebab Mas Arifin walau sama orang Pantura tapi lebih banyak berkutat di metropolitan. Tapi ketika Fathul membaca kesengsaraan, kungkungan dari pemegang kekuasaan, kapitalisme yang sangat kuat di Indonesia, hingga Majalengka mulai goyah dengan adanya Bandara Kertajati, ya akhirnya menjelma jadi karya ini,” kata Bu Rektor.
Hasil pembacaan-pembacaan aktual inilah, kata rektor, yang selanjutnya dipanggungkan oleh Fathul dengan cara minimalis, hanya mengambil esensinya yang dipadukan dengan pengetahuannya dalam hal Lao Tzu (pendiri Taoisme), juga filsafat Barat dan pengalaman 10 tahun mengajar filsafat di perguruan tinggi, plus Fathul kuat Islam-nya. “Jadi cara-cara membaca karya Arifin yang dilakukan Fathul pasti beda. Dan pagelaran teater ini persembahan kami, dalam membaca naskah Arifin dengan cara dekonstruksi,” demikian kata rektor ISBI yang dalam pagelaran teater “Kapai-Kapai” garapan Fathul ini ikut main memerankan tokoh Emak.
![]() |
| Foto Asep GP |
Acara pagelaran teater ini dalam rangka pelaksanaan Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana 2025, atas nama Fathul A. Husein, bekerja sama dengan UPA Ajang Gelar ISBI Bandung serta Neo Theater.
Para pendukung pagelaran selengkapnya, Sutradara: Fathul A. Husein; Manajer Program: Retno Dwimarwati (Rektor ISBI Bandung) & Andreas D. Bolo; Pimpro: Yani Mae; Aktor: Retno Dwimarwati, Yani Mae, Hendra Permana, Muhamad Nur Rozzaq, Fellycha Yuliwanda Aletika, Xena Nursyifa, dan Salma Najiyah. Penari oleh Aulia Rachma dan Ardelia Manarina Faihaa Azhaar, Vokalis & Dalang oleh Sumartana, Penata Artistik & Pimpinan Pentas oleh Ade Ii Syarifuddin, Penata Busana & Perancang Grafis oleh Dita Rosmaritasari, Penata Rias Mardaleni Muchtar, Penata Musik & Suara Isep Sepiralisman, Penata Lampu Zamzam Mubarok, Penata Pentas Ali Nurdin, Oki Suhendra, dan Mang Iwey. Dokumentasi Foto & Video oleh Herfan Rusando, Ade Daryana, dan Nietzani Adama Mahatma., Publikasi: GB. Susanto & LSP Creation.
Usai pagelaran dilanjutkan diskusi, dengan narasumber: Dr. Ipit Saefidier Dimyati, S.Sn., M.Si (Budayawan & Kritikus Teater, serta Dosen Jurusan Teater FSP ISBI Bandung), Irwan Jamaludin, S.Sn., M.Sn (Sutradara Kelompok Aktor Piktoral, Dosen Jurusan Teater FSP ISBI Bandung), dan Sutradara Fathul A. Husein.
**
Fathul A. Husein sebagai Penulis Teks Pertunjukan dan Sutradara juga pimpinan NEO Theatre Indonesia mengatakan, pertunjukan bertajuk 'Dekonstruksi Minimalis KAPAI-KAPAI' ini merupakan sebuah pertunjukan teater kontemporer menggunakan tafsir dekonstruksi dan transformasi teks; dari teks dramatik (dramatic text), ke teks pertunjukan (performance text) dan ke mise en scene.
![]() |
| Foto Asep GP |
Tentu saja, kata Fathul, pertunjukan ini berdasarkan lakon asli, ‘Kapai-kapai’, sebagai teks dramatik, karya dramawan Indonesia, Arifin C. Noer (1941–1995).
Inti lakon ‘Kapai-kapai’ (ditulis pada tahun 1970) mengisahkan perjuangan hidup tokoh utamanya, Abu, seorang tokoh yang terpinggirkan dan hidup dalam kemiskinan material dan moral. Kisah ini berpusat pada pencarian Abu untuk menemukan ‘Cermin Tipu Daya’, sebuah cermin ajaib yang selalu diceritakan ibunya, Emak, dalam dongeng. Dalam dongeng Emak, seorang pangeran dan putri hidup bahagia dan terhindar dari bahaya dan malapetaka berkat ‘Cermin Tipu Daya’. Abu sangat terpengaruh oleh kisah tersebut dan percaya bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan jika ia menemukan ‘Cermin Tipu Daya’, yang menurut Emak berada di ‘Ujung Dunia’.
Perjalanan dan penderitaan Abu dalam melakoni hidup yang penuh dengan kesulitan dan kerja keras sebagai buruh, namun ia terus memendam mimpi-mimpi fantastis tentang ‘Cermin Tipu Daya’. Ia bahkan mengajak istrinya, Iyem, dalam perjalanan panjang dan sangat berat (sesungguhnya ‘perjalanan spiritual’) mencari 'Ujung Dunia' (kematian). Pada akhirnya, setelah melewati berbagai lika-liku kehidupan dan penderitaan, Abu konon menemukan ‘Cermin Tipu Daya’, justru manakala ajalnya tiba.
“Moral cerita yang hendak disampaikan melalui lakon ini: kisah surealis yang menggambarkan harapan, ilusi, dan perjuangan umat manusia dan kemanusiaan dalam mencari kebahagiaan sejati, jati diri, yang sering kali hanyalah fantasi yang tak mungkin tercapai dalam kenyataan,” jelas Fathul.
![]() |
| Foto Asep GP |
Pertunjukan teater kontemporer ini, kata Fathul, menekankan pendekatan tafsir dekonstruksi dan transformasi teks berdasarkan lakon 'Kapai-kapai' karya dramawan Indonesia, Arifin C. Noer (1941–1995). Lakon dengan beberapa bagian penting dan verbalitas tekstual (dialog dan arahan pengarang) di dalamnya semata-mata dipinjam untuk menjadi lebih sebagai 'peristiwa' pertunjukan daripada sekadar dominasi narasi verbal (kata-kata).
“Tema asli lakon tentang nasib kaum marginal yang miskin dan sengsara, sebagai korban yang tak terelakkan (baca: harus diciptakan) dari kekuasaan era industrialisasi dan kemajuan, modernitas dalam cengkeraman gurita raksasa kapitalisme, melalui konsep pertunjukan ini ditransformasikan menjadi kekuatan dramatis, simbolisme gestur/gerak, surealisme imajinatif, yang dijalin dengan musikalitas minimalis dan tembang-tembang tradisional (yang aslinya lebih berfungsi sebagai mantra) untuk menandai kelam dan getirnya kehidupan, tentang peniadaan jati diri manusia dan kemanusiaan, yang menjadi pesan inti lakon,” paparnya.
Selain itu, kata Sutradara Fathul, intertekstualitas dengan kearifan filsafat Timur, seperti Lao Tzu, juga merasuk ke dalam jiwa pertunjukan kontemporer ini. Idiom bentuk seni teater tradisional yang ‘dipinjam’ melalui pertunjukan ini setidaknya adalah teater tradisional ‘Tarling’ (mengandung unsur drama, musik, dan lagu), ‘Sintren’ (mengandung unsur tari, musik, dan mitos bidadari), dan ‘Wayang Kulit’ (teater boneka bayang-bayang yang lumrahnya berlandaskan pada kearifan kisah Ramayana atau Mahabharata), di mana ketiga jenis teater tradisional tersebut terutama diambil dari sumber yang berasal dari wilayah pesisir utara Jawa Barat.
Bertolak dari lakon ‘Kapai-kapai’: bagaimana sebuah lakon (dramatic text) dipahami, ditafsirkan, dan ditransformasikan ke atas panggung menjadi performance text dengan menerapkan sebuah pendekatan ‘strategi & siasat pemanggungan’ yang terkonsep secara kokoh dan mumpuni (mise en scène).
![]() |
| Foto Asep GP |
“Keseluruhan teks lakon asli hanya diambil untuk digunakan sekitar sepertiganya saja dari keseluruhan teks lakon, sebelum kemudian mendapat persentuhan ‘intertekstualitas’ dari beberapa entitas teks dan konteks dari luar yang merasuk ke dalam teks asli tersebut,” pungkas Fathul.
Proses eksplorasi dan latihan pertunjukan teater kontemporer telah diundang pula dalam rangka ‘workshop pertunjukan’ (performance workshop) oleh LASALLE College of the Arts, Singapura, 13–14 Oktober (bertempat di Kampus LASALLE), dan oleh Fakulti Seni Kreatif Universiti Malaya (UM), Kuala Lumpur, pada 16–18 Oktober (bertempat di Kampus UM). Hasilnya telah menciptakan suatu kolaborasi kecil dan ditampilkan di sana dengan melibatkan beberapa mahasiswa di sana yang terpilih dari proses singkat workshop.
Tapi intinya, seperti pernah dikatakan Fathul, “Ini bukan terlalu teaternya, bukan terlalu ngobrol-ngobrolnya (diskusi), tapi yang penting silaturahimnya, nilai silaturahimnya, pertemuan langsung kita sesama manusia. Semoga teater tetap punya kehidupan yang lebih baik ke depannya,” harapnya. (Asep GP) ***
ISBI Bandung Sukses Gelar Teater Kontemporer “Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik Kapai-Kapai” Karya Arifin C. Noer
Posted by
Tatarjabar.com on Thursday, February 19, 2026
![]() |
| Foto Asep GP |
Setelah sukses digelar di Pusat Kebudayaan Prancis, IFI Bandung, (12–13 November 2025), Teater Kontemporer “Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik Kapai-Kapai” Karya Arifin C. Noer kembali mengulang suksesnya setelah dipertunjukkan lagi di ISBI Bandung. Terlihat penonton yang kebanyakan anak muda (mahasiswa dan pelajar) penuh sesak memenuhi Gedung Kesenian Sunan Ambu Kampus ISBI Bandung, Jalan Buah Batu No. 212 Kota Bandung, Rabu (11/2/2026). Benar, hingga banyak penonton yang duduk di bawah, tidak kebagian kursi.
Pagelaran teater yang teks pertunjukan dan sutradaranya digarap Fathul A. Husein ini memang berhasil memukau anak-anak muda, padahal umumnya naskah teater karya Arifin C. Noer secara tematik termasuk berat/pilosofis serta panjang, lambat dicerna anak-anak muda. Tapi dengan cerdiknya Fathul A. Husein memasukkan unsur-unsur seni tradisi Pantura seperti Tarling, Sintren, dan Wayang Kulit serta jalan ceritanya dijadikan minimalis, hingga disenangi kaum muda.
“Waduh, presh, keren pisan! Saya baru melihat pertunjukan teater seperti ini,” kata Ihsan Kamil, yang datang bersama 9 orang temannya mahasiswa Jurusan Informatika (S1) Universitas Teknologi Digital (UTD). Ihsan yang juga anggota kelompok teater Munggaran Kesenian Digitek (MKD) ini merasa kagum ge balaka, dengan dialog, gestur, dan akting para aktor teaternya yang matang. Ditambah ada selipan kesenian tradisi Pantura (Wayang Kulit, Sintren, Tarling).
Kebetulan, kata Ihsan, kelompok teaternya (MKD) yang dipimpin dan dilatih oleh Salsabilla Alaika ini banyak mempergelarkan lakon Kerajaan Sunda yang terkadang dipadukan dengan teater modern.
![]() |
| Foto Asep GP |
“Keren sih, saya gak nyangka bakal muncul wayang (kulit) dari layar putih, kirain hanya kain penghias panggung saja,” demikian kata mahasiswa UTD Angkatan 2024 yang merasa dapat banyak tambahan ilmu teaternya.
Hal itu sependapat dengan yang dikatakan Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimarwati, di hadapan awak media sehari sebelum pagelaran. Retno yang juga aktor teater mengatakan bahwa kekuatan dari karya ini, yaitu munculnya intensitas, musikalitas, dan tarian tradisional tiga wilayah yang ada di Pantura (Pantai Utara), Sintren, Tarling, dan Wayang Kulit.
“Jadi seni tradisi itu muncul kuat di sini. Fathul terlihat mencoba menguatkan dimensi artistiknya dengan kesenian wilayah tiga dalam karyanya yang tidak ada dalam naskah aslinya, sebab Mas Arifin walau sama orang Pantura tapi lebih banyak berkutat di metropolitan. Tapi ketika Fathul membaca kesengsaraan, kungkungan dari pemegang kekuasaan, kapitalisme yang sangat kuat di Indonesia, hingga Majalengka mulai goyah dengan adanya Bandara Kertajati, ya akhirnya menjelma jadi karya ini,” kata Bu Rektor.
Hasil pembacaan-pembacaan aktual inilah, kata rektor, yang selanjutnya dipanggungkan oleh Fathul dengan cara minimalis, hanya mengambil esensinya yang dipadukan dengan pengetahuannya dalam hal Lao Tzu (pendiri Taoisme), juga filsafat Barat dan pengalaman 10 tahun mengajar filsafat di perguruan tinggi, plus Fathul kuat Islam-nya. “Jadi cara-cara membaca karya Arifin yang dilakukan Fathul pasti beda. Dan pagelaran teater ini persembahan kami, dalam membaca naskah Arifin dengan cara dekonstruksi,” demikian kata rektor ISBI yang dalam pagelaran teater “Kapai-Kapai” garapan Fathul ini ikut main memerankan tokoh Emak.
![]() |
| Foto Asep GP |
Acara pagelaran teater ini dalam rangka pelaksanaan Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana 2025, atas nama Fathul A. Husein, bekerja sama dengan UPA Ajang Gelar ISBI Bandung serta Neo Theater.
Para pendukung pagelaran selengkapnya, Sutradara: Fathul A. Husein; Manajer Program: Retno Dwimarwati (Rektor ISBI Bandung) & Andreas D. Bolo; Pimpro: Yani Mae; Aktor: Retno Dwimarwati, Yani Mae, Hendra Permana, Muhamad Nur Rozzaq, Fellycha Yuliwanda Aletika, Xena Nursyifa, dan Salma Najiyah. Penari oleh Aulia Rachma dan Ardelia Manarina Faihaa Azhaar, Vokalis & Dalang oleh Sumartana, Penata Artistik & Pimpinan Pentas oleh Ade Ii Syarifuddin, Penata Busana & Perancang Grafis oleh Dita Rosmaritasari, Penata Rias Mardaleni Muchtar, Penata Musik & Suara Isep Sepiralisman, Penata Lampu Zamzam Mubarok, Penata Pentas Ali Nurdin, Oki Suhendra, dan Mang Iwey. Dokumentasi Foto & Video oleh Herfan Rusando, Ade Daryana, dan Nietzani Adama Mahatma., Publikasi: GB. Susanto & LSP Creation.
Usai pagelaran dilanjutkan diskusi, dengan narasumber: Dr. Ipit Saefidier Dimyati, S.Sn., M.Si (Budayawan & Kritikus Teater, serta Dosen Jurusan Teater FSP ISBI Bandung), Irwan Jamaludin, S.Sn., M.Sn (Sutradara Kelompok Aktor Piktoral, Dosen Jurusan Teater FSP ISBI Bandung), dan Sutradara Fathul A. Husein.
**
Fathul A. Husein sebagai Penulis Teks Pertunjukan dan Sutradara juga pimpinan NEO Theatre Indonesia mengatakan, pertunjukan bertajuk 'Dekonstruksi Minimalis KAPAI-KAPAI' ini merupakan sebuah pertunjukan teater kontemporer menggunakan tafsir dekonstruksi dan transformasi teks; dari teks dramatik (dramatic text), ke teks pertunjukan (performance text) dan ke mise en scene.
![]() |
| Foto Asep GP |
Tentu saja, kata Fathul, pertunjukan ini berdasarkan lakon asli, ‘Kapai-kapai’, sebagai teks dramatik, karya dramawan Indonesia, Arifin C. Noer (1941–1995).
Inti lakon ‘Kapai-kapai’ (ditulis pada tahun 1970) mengisahkan perjuangan hidup tokoh utamanya, Abu, seorang tokoh yang terpinggirkan dan hidup dalam kemiskinan material dan moral. Kisah ini berpusat pada pencarian Abu untuk menemukan ‘Cermin Tipu Daya’, sebuah cermin ajaib yang selalu diceritakan ibunya, Emak, dalam dongeng. Dalam dongeng Emak, seorang pangeran dan putri hidup bahagia dan terhindar dari bahaya dan malapetaka berkat ‘Cermin Tipu Daya’. Abu sangat terpengaruh oleh kisah tersebut dan percaya bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan jika ia menemukan ‘Cermin Tipu Daya’, yang menurut Emak berada di ‘Ujung Dunia’.
Perjalanan dan penderitaan Abu dalam melakoni hidup yang penuh dengan kesulitan dan kerja keras sebagai buruh, namun ia terus memendam mimpi-mimpi fantastis tentang ‘Cermin Tipu Daya’. Ia bahkan mengajak istrinya, Iyem, dalam perjalanan panjang dan sangat berat (sesungguhnya ‘perjalanan spiritual’) mencari 'Ujung Dunia' (kematian). Pada akhirnya, setelah melewati berbagai lika-liku kehidupan dan penderitaan, Abu konon menemukan ‘Cermin Tipu Daya’, justru manakala ajalnya tiba.
“Moral cerita yang hendak disampaikan melalui lakon ini: kisah surealis yang menggambarkan harapan, ilusi, dan perjuangan umat manusia dan kemanusiaan dalam mencari kebahagiaan sejati, jati diri, yang sering kali hanyalah fantasi yang tak mungkin tercapai dalam kenyataan,” jelas Fathul.
![]() |
| Foto Asep GP |
Pertunjukan teater kontemporer ini, kata Fathul, menekankan pendekatan tafsir dekonstruksi dan transformasi teks berdasarkan lakon 'Kapai-kapai' karya dramawan Indonesia, Arifin C. Noer (1941–1995). Lakon dengan beberapa bagian penting dan verbalitas tekstual (dialog dan arahan pengarang) di dalamnya semata-mata dipinjam untuk menjadi lebih sebagai 'peristiwa' pertunjukan daripada sekadar dominasi narasi verbal (kata-kata).
“Tema asli lakon tentang nasib kaum marginal yang miskin dan sengsara, sebagai korban yang tak terelakkan (baca: harus diciptakan) dari kekuasaan era industrialisasi dan kemajuan, modernitas dalam cengkeraman gurita raksasa kapitalisme, melalui konsep pertunjukan ini ditransformasikan menjadi kekuatan dramatis, simbolisme gestur/gerak, surealisme imajinatif, yang dijalin dengan musikalitas minimalis dan tembang-tembang tradisional (yang aslinya lebih berfungsi sebagai mantra) untuk menandai kelam dan getirnya kehidupan, tentang peniadaan jati diri manusia dan kemanusiaan, yang menjadi pesan inti lakon,” paparnya.
Selain itu, kata Sutradara Fathul, intertekstualitas dengan kearifan filsafat Timur, seperti Lao Tzu, juga merasuk ke dalam jiwa pertunjukan kontemporer ini. Idiom bentuk seni teater tradisional yang ‘dipinjam’ melalui pertunjukan ini setidaknya adalah teater tradisional ‘Tarling’ (mengandung unsur drama, musik, dan lagu), ‘Sintren’ (mengandung unsur tari, musik, dan mitos bidadari), dan ‘Wayang Kulit’ (teater boneka bayang-bayang yang lumrahnya berlandaskan pada kearifan kisah Ramayana atau Mahabharata), di mana ketiga jenis teater tradisional tersebut terutama diambil dari sumber yang berasal dari wilayah pesisir utara Jawa Barat.
Bertolak dari lakon ‘Kapai-kapai’: bagaimana sebuah lakon (dramatic text) dipahami, ditafsirkan, dan ditransformasikan ke atas panggung menjadi performance text dengan menerapkan sebuah pendekatan ‘strategi & siasat pemanggungan’ yang terkonsep secara kokoh dan mumpuni (mise en scène).
![]() |
| Foto Asep GP |
“Keseluruhan teks lakon asli hanya diambil untuk digunakan sekitar sepertiganya saja dari keseluruhan teks lakon, sebelum kemudian mendapat persentuhan ‘intertekstualitas’ dari beberapa entitas teks dan konteks dari luar yang merasuk ke dalam teks asli tersebut,” pungkas Fathul.
Proses eksplorasi dan latihan pertunjukan teater kontemporer telah diundang pula dalam rangka ‘workshop pertunjukan’ (performance workshop) oleh LASALLE College of the Arts, Singapura, 13–14 Oktober (bertempat di Kampus LASALLE), dan oleh Fakulti Seni Kreatif Universiti Malaya (UM), Kuala Lumpur, pada 16–18 Oktober (bertempat di Kampus UM). Hasilnya telah menciptakan suatu kolaborasi kecil dan ditampilkan di sana dengan melibatkan beberapa mahasiswa di sana yang terpilih dari proses singkat workshop.
Tapi intinya, seperti pernah dikatakan Fathul, “Ini bukan terlalu teaternya, bukan terlalu ngobrol-ngobrolnya (diskusi), tapi yang penting silaturahimnya, nilai silaturahimnya, pertemuan langsung kita sesama manusia. Semoga teater tetap punya kehidupan yang lebih baik ke depannya,” harapnya. (Asep GP) ***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)






No comments :
Post a Comment