Home
» Seni Budaya
» ASPEN Gelar Pameran Lukisan “Pohon untuk Kehidupan” di Thee Huis Gallery Taman Budaya Jawa Barat
Tuesday, January 13, 2026
Pameran yang berlangsung di galeri kawasan Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Selatan No. 53A, Kel. Dago, Kec. Coblong, Kota Bandung ini berlangsung dari tanggal 10–31 Januari 2026 serta dibuka oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Sabtu sore (10/1/2026). Acara ini dimeriahkan oleh Tim Kesenian ISBI Bandung.
Pameran ini menarik, teman-teman ini rata-rata sebagian besar memilih medium seni lukis sebagai keutamaan ungkapannya. Tapi yang menarik lagi justru keseragamannya, mereka seperti “sepakat” menggunakan medium seni lukis ini untuk membicarakan satu hal tertentu. Kemudian yang terjadi adalah mereka memberikan perspektif yang berbeda-beda. Ada yang memulainya dengan keintimannya dengan pohon itu sendiri, entah dimulai dengan pengalamannya, mungkin pernah menanam pohon, pernah dekat dengan pohon, atau pernah kehilangan pohon, dan sebagainya.
![]() |
| Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut Kota Bandung sebagai kota terpadat oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. (Foto: Asep GP) |
“Saya kira ini yang menarik dari keseragaman mediumnya. Ya kita tahu mediumnya adalah seni lukis, tapi tawaran perspektifnya yang berbeda, dan ini yang saya kira menarik. Jadi kontribusi terbesar pelukis adalah menyumbangkan cara melihat. Karena apa yang diperjuangkannya, apa yang mereka pertarungkan di dalam bidang dua dimensi sebenarnya hampir sama, yang membedakannya adalah cara mereka memasuki bidang datarnya,” demikian dikatakan Kurator Pameran, Diyanto, kepada wartawan.
Sementara Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam sambutannya mengatakan, Bandung adalah kota yang terbangun oleh lanskap, dan lanskap itulah yang membuat orang jadi swarming ke Kota Bandung. Swarming untuk berkarya.
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
Swarming itu berhimpun, berkumpul, atau sebuah perilaku komunal dari masyarakat yang berkumpul dan bergerak bersama-sama atas sebuah daya tarik tertentu. Daya tarik itu bisa ekonomi, bisa budaya, dan budayanya itu bisa berupa pendidikan, bisa juga sebuah kegiatan berkarya.
Itu sebabnya, kata Wali Kota, perguruan tinggi pertama di Indonesia adanya di Kota Bandung (ITB/Technische Hoogeschool te Bandoeng 1920). Perguruan tinggi teknologi, tapi pada saat bersamaan didirikan juga Fakultas Seni Rupa terbaik di Indonesia (Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB).
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
“Ya di Kota Bandunglah disadarkan adanya gabungan teknologi dengan kesenian. Karena kalau berteknologi tanpa berkesenian, kita kan menjadi mesin-mesin tanpa perasaan. Begitu juga sebaliknya, ketika berkesenian tanpa dilengkapi dengan teknologi, maka kita akan menjadi manusia-manusia purba yang akan tertinggal di dalam gua,” tegasnya.
Farhan juga menyoroti tema pameran “Pohon untuk Kehidupan” yang dipaparkan Kurator Pameran, Diyanto. Menurutnya memang benar pohon adalah salah satu sumber kehidupan kita, termasuk di Kota Bandung, dan Farhan merasa bangga karena bisa disaksikan oleh semua orang bahwa Kota Bandung adalah salah satu kota yang densitas pohon perdananya terbanyak di Indonesia.
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
Tapi salah satu tantangan terbesar secara teknokratis Kota Bandung ini, 10 tahun yang lalu hanya punya 12,8% RTH (Ruang Terbuka Hijau). “Nah, sekarang kami mengejar supaya bisa mencapai 20%. Saya sedang mengajukan ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Pak boleh enggak RTH-nya itu bukan dihitung dari koefisien luas tanah, tetapi dihitung dari koefisien banyaknya pepohonan di Kota Bandung. Karena dengan begitu kita bisa berharap RTH Kota Bandung ini bukan sekadar sebuah hamparan, tetapi pohon-pohon yang hadir di antara ruang-ruang kehidupan kita, baik secara fisik maupun secara harapan,” kata Farhan.
Akhirnya Wali Kota berterima kasih kepada Ketua Umum ASPEN, Abang Kembang Sepatu, Kurator Diyanto, dan seluruh peserta pameran.
![]() |
| Lukisan "Generasi Yang Hilang" karya Abang Kembang Sepatu, kenang-kenangan buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
“Saya sangat beruntung menjadi anak Bandung yang tumbuh di Bandung, berkarya di luar, lalu balik lagi memimpin Bandung dan mendapati kota saya menjadi salah satu kota terpadat bukan oleh manusia, tapi oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. Bapak/Ibu sekalian, terima kasih telah menjadi pemantik kehidupan dan pemantik jiwa-jiwa yang selalu gelisah di Kota Bandung. Dan katanya Bandung kalah oleh Artjog–Yogyakarta, karena kegiatan seninya lebih hebat di sana, tapi saya yakin siapa pun yang ingin belajar dan mengerti apa itu seni, harus menginjakkan kakinya dulu di Kota Bandung,” pungkas Pak Wali, disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Sementara itu Ketua ASPEN Bandung Raya, Ir. Muhammad Bakrie Baharuddin, berharap pameran ini dapat menghadirkan pengalaman visual yang inspiratif serta mempererat silaturahmi di antara pecinta seni.
Setelah itu, pengguntingan pita dilakukan oleh Wali Kota Bandung dan para peserta pameran, beserta para tamu undangan memasuki ruangan Thee Huis Gallery, lalu semuanya asyik mengapresiasi berbagai karya lukisan bertajuk “Pohon untuk Kehidupan”. Tampak juga Abang Kembang Sepatu (Jakarta) memberikan hadiah lukisan karyanya “Generasi yang Hilang” kepada Wali Kota Bandung dan langsung diterima dengan gembira, akan dipajang di tempat kerja, katanya.
Di antara sekian lukisan terlihat ada sebuah karya yang menggambarkan kebakaran hutan yang sedang berusaha dipadamkan oleh beberapa petugas pemadam kebakaran. Warna merah, jingga (oranye), dan kuning terlihat mendominasi, kilatan bara api itu terlihat sungguh ngeri.
![]() |
| Kurator Diyanto di depan "Ruhay" karya Supriatna (Foto: Asep GP) |
Ya, inilah lukisan “Ruhay” (bara api dalam bahasa Sunda) karya Dr. Supriatna. Menurut Diyanto, karya Supriatna ini menawarkan pada kita satu sudut pandang yang lain. Sementara para pelukis yang lain melihat pohon hubungannya langsung dengan konteks lingkungan, terkait apa yang kita duga sebagai ancaman yang bersifat hidrometeorologi, sementara karya Supriatna memberikan sudut yang lain, misalnya lebih melihatnya dari perspektif antropogenik. Jadi berbagai hal terkait lingkungan sebenarnya diakibatkan oleh aktivitas manusia, entah penebangan pohon atau musibah kebakaran hutan.
Karya ini, kata Diyanto, menjadi menarik di antara yang lain karena tawaran perspektifnya yang berbeda, yaitu konteksnya dekat dengan kejadian.
“Ini lukisan kembali mengingatkan bahwa kita harus menyadari, selain bencana yang sifatnya hidrometeorologi, tentu kita harus ingat ada ancaman lain yang sifatnya antropogenik seperti ini, berbagai hal yang sebenarnya nanti memperlihatkan kerakusan manusia terhadap alam, dan sebagainya. Ini yang jadi menarik,” tandasnya.
Supriatna sendiri ketika ditanya wartawan mengatakan, ia sengaja mengambil judul lukisannya dari bahasa Sunda, “Ruhay”, titik kulminasi api yang sudah menjadi bara. Jadi kengerian dari bahaya api itu sendiri yang ia ekspose.
Kengerian yang diwakili warna api yang dominan merah–kuning–jingga. Sementara pohonnya sudah mulai berubah jadi arang kehitaman. Dalam lukisan ini ada juga manusia (petugas pemadam) yang berusaha memadamkan kebakaran hutan tersebut dengan segala risiko yang mengancam jiwanya. Kata Kang Supri, itu hanya simbol, gambaran di permukaannya saja, sementara di dalam hutan tersebut banyak penghuni lain yang terancam nyawanya.
![]() |
| Supriatna: kalau alam rusak, akan menjadi bencana mengerikan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya (Foto: Asep GP) |
“Jadi saya gambarkan secara dinamis, seolah-olah sedang terjadi, ada goresan-goresan liar jilatan api yang tidak bisa diprediksi ke mana arahnya. Kengerian itu mengingatkan bagaimana manusia harus menjaga alam. Ini saya sampaikan dengan goresan-goresan dinamis dengan warna mewakili api dan pohon serta ada lelehan, ini menggambarkan kengerian,” jelas Supriatna.
Ketika ditanya apakah lukisan ini kritik terhadap bencana alam yang terjadi di Sumatra baru-baru ini, kata Kang Supri, lukisannya dibuat pada tahun 2025, jauh sebelum kejadian bencana alam Sumatra. Tapi katanya esensinya sama, ada pesan yang ingin disampaikan, kalau alam rusak, akibat buruknya tidak hanya akan dirasakan manusia saja, tapi hewan, tumbuhan, dan alam pun akan rusak. Itu edukatifnya.
Sebagaimana diketahui, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., ini adalah seorang seniman sekaligus akademisi. Alumni Seni Murni FSRD ITB (S1–S2) ini meneruskan menimba ilmu Komunikasi Seni di S3 Pascasarjana Unpad dan kini menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama di ISBI Bandung.
Tapi kegemarannya melukis tak pernah padam, tak heran karyanya hingga kini sudah mencapai seribuan. Ada yang dikoleksi dan ada juga beberapa lukisannya yang tidak tahu rimbanya, tidak didokumentasikan. Tapi karyanya sudah dikoleksi oleh kolektor di beberapa negara seperti China, Thailand, Jepang, dan sisanya, walau orientasinya bukan untuk komersial, lukisannya dibeli teman-temannya dan perusahaan di dalam negeri. “Saya melukis hanya untuk mengekspresikan kegelisahan jiwa saja,” pungkasnya. (Asep GP)***
ASPEN Gelar Pameran Lukisan “Pohon untuk Kehidupan” di Thee Huis Gallery Taman Budaya Jawa Barat
Posted by
Tatarjabar.com on Tuesday, January 13, 2026
Pameran yang berlangsung di galeri kawasan Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Selatan No. 53A, Kel. Dago, Kec. Coblong, Kota Bandung ini berlangsung dari tanggal 10–31 Januari 2026 serta dibuka oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Sabtu sore (10/1/2026). Acara ini dimeriahkan oleh Tim Kesenian ISBI Bandung.
Pameran ini menarik, teman-teman ini rata-rata sebagian besar memilih medium seni lukis sebagai keutamaan ungkapannya. Tapi yang menarik lagi justru keseragamannya, mereka seperti “sepakat” menggunakan medium seni lukis ini untuk membicarakan satu hal tertentu. Kemudian yang terjadi adalah mereka memberikan perspektif yang berbeda-beda. Ada yang memulainya dengan keintimannya dengan pohon itu sendiri, entah dimulai dengan pengalamannya, mungkin pernah menanam pohon, pernah dekat dengan pohon, atau pernah kehilangan pohon, dan sebagainya.
![]() |
| Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut Kota Bandung sebagai kota terpadat oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. (Foto: Asep GP) |
“Saya kira ini yang menarik dari keseragaman mediumnya. Ya kita tahu mediumnya adalah seni lukis, tapi tawaran perspektifnya yang berbeda, dan ini yang saya kira menarik. Jadi kontribusi terbesar pelukis adalah menyumbangkan cara melihat. Karena apa yang diperjuangkannya, apa yang mereka pertarungkan di dalam bidang dua dimensi sebenarnya hampir sama, yang membedakannya adalah cara mereka memasuki bidang datarnya,” demikian dikatakan Kurator Pameran, Diyanto, kepada wartawan.
Sementara Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam sambutannya mengatakan, Bandung adalah kota yang terbangun oleh lanskap, dan lanskap itulah yang membuat orang jadi swarming ke Kota Bandung. Swarming untuk berkarya.
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
Swarming itu berhimpun, berkumpul, atau sebuah perilaku komunal dari masyarakat yang berkumpul dan bergerak bersama-sama atas sebuah daya tarik tertentu. Daya tarik itu bisa ekonomi, bisa budaya, dan budayanya itu bisa berupa pendidikan, bisa juga sebuah kegiatan berkarya.
Itu sebabnya, kata Wali Kota, perguruan tinggi pertama di Indonesia adanya di Kota Bandung (ITB/Technische Hoogeschool te Bandoeng 1920). Perguruan tinggi teknologi, tapi pada saat bersamaan didirikan juga Fakultas Seni Rupa terbaik di Indonesia (Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB).
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
“Ya di Kota Bandunglah disadarkan adanya gabungan teknologi dengan kesenian. Karena kalau berteknologi tanpa berkesenian, kita kan menjadi mesin-mesin tanpa perasaan. Begitu juga sebaliknya, ketika berkesenian tanpa dilengkapi dengan teknologi, maka kita akan menjadi manusia-manusia purba yang akan tertinggal di dalam gua,” tegasnya.
Farhan juga menyoroti tema pameran “Pohon untuk Kehidupan” yang dipaparkan Kurator Pameran, Diyanto. Menurutnya memang benar pohon adalah salah satu sumber kehidupan kita, termasuk di Kota Bandung, dan Farhan merasa bangga karena bisa disaksikan oleh semua orang bahwa Kota Bandung adalah salah satu kota yang densitas pohon perdananya terbanyak di Indonesia.
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
Tapi salah satu tantangan terbesar secara teknokratis Kota Bandung ini, 10 tahun yang lalu hanya punya 12,8% RTH (Ruang Terbuka Hijau). “Nah, sekarang kami mengejar supaya bisa mencapai 20%. Saya sedang mengajukan ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Pak boleh enggak RTH-nya itu bukan dihitung dari koefisien luas tanah, tetapi dihitung dari koefisien banyaknya pepohonan di Kota Bandung. Karena dengan begitu kita bisa berharap RTH Kota Bandung ini bukan sekadar sebuah hamparan, tetapi pohon-pohon yang hadir di antara ruang-ruang kehidupan kita, baik secara fisik maupun secara harapan,” kata Farhan.
Akhirnya Wali Kota berterima kasih kepada Ketua Umum ASPEN, Abang Kembang Sepatu, Kurator Diyanto, dan seluruh peserta pameran.
![]() |
| Lukisan "Generasi Yang Hilang" karya Abang Kembang Sepatu, kenang-kenangan buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
“Saya sangat beruntung menjadi anak Bandung yang tumbuh di Bandung, berkarya di luar, lalu balik lagi memimpin Bandung dan mendapati kota saya menjadi salah satu kota terpadat bukan oleh manusia, tapi oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. Bapak/Ibu sekalian, terima kasih telah menjadi pemantik kehidupan dan pemantik jiwa-jiwa yang selalu gelisah di Kota Bandung. Dan katanya Bandung kalah oleh Artjog–Yogyakarta, karena kegiatan seninya lebih hebat di sana, tapi saya yakin siapa pun yang ingin belajar dan mengerti apa itu seni, harus menginjakkan kakinya dulu di Kota Bandung,” pungkas Pak Wali, disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Sementara itu Ketua ASPEN Bandung Raya, Ir. Muhammad Bakrie Baharuddin, berharap pameran ini dapat menghadirkan pengalaman visual yang inspiratif serta mempererat silaturahmi di antara pecinta seni.
Setelah itu, pengguntingan pita dilakukan oleh Wali Kota Bandung dan para peserta pameran, beserta para tamu undangan memasuki ruangan Thee Huis Gallery, lalu semuanya asyik mengapresiasi berbagai karya lukisan bertajuk “Pohon untuk Kehidupan”. Tampak juga Abang Kembang Sepatu (Jakarta) memberikan hadiah lukisan karyanya “Generasi yang Hilang” kepada Wali Kota Bandung dan langsung diterima dengan gembira, akan dipajang di tempat kerja, katanya.
Di antara sekian lukisan terlihat ada sebuah karya yang menggambarkan kebakaran hutan yang sedang berusaha dipadamkan oleh beberapa petugas pemadam kebakaran. Warna merah, jingga (oranye), dan kuning terlihat mendominasi, kilatan bara api itu terlihat sungguh ngeri.
![]() |
| Kurator Diyanto di depan "Ruhay" karya Supriatna (Foto: Asep GP) |
Ya, inilah lukisan “Ruhay” (bara api dalam bahasa Sunda) karya Dr. Supriatna. Menurut Diyanto, karya Supriatna ini menawarkan pada kita satu sudut pandang yang lain. Sementara para pelukis yang lain melihat pohon hubungannya langsung dengan konteks lingkungan, terkait apa yang kita duga sebagai ancaman yang bersifat hidrometeorologi, sementara karya Supriatna memberikan sudut yang lain, misalnya lebih melihatnya dari perspektif antropogenik. Jadi berbagai hal terkait lingkungan sebenarnya diakibatkan oleh aktivitas manusia, entah penebangan pohon atau musibah kebakaran hutan.
Karya ini, kata Diyanto, menjadi menarik di antara yang lain karena tawaran perspektifnya yang berbeda, yaitu konteksnya dekat dengan kejadian.
“Ini lukisan kembali mengingatkan bahwa kita harus menyadari, selain bencana yang sifatnya hidrometeorologi, tentu kita harus ingat ada ancaman lain yang sifatnya antropogenik seperti ini, berbagai hal yang sebenarnya nanti memperlihatkan kerakusan manusia terhadap alam, dan sebagainya. Ini yang jadi menarik,” tandasnya.
Supriatna sendiri ketika ditanya wartawan mengatakan, ia sengaja mengambil judul lukisannya dari bahasa Sunda, “Ruhay”, titik kulminasi api yang sudah menjadi bara. Jadi kengerian dari bahaya api itu sendiri yang ia ekspose.
Kengerian yang diwakili warna api yang dominan merah–kuning–jingga. Sementara pohonnya sudah mulai berubah jadi arang kehitaman. Dalam lukisan ini ada juga manusia (petugas pemadam) yang berusaha memadamkan kebakaran hutan tersebut dengan segala risiko yang mengancam jiwanya. Kata Kang Supri, itu hanya simbol, gambaran di permukaannya saja, sementara di dalam hutan tersebut banyak penghuni lain yang terancam nyawanya.
![]() |
| Supriatna: kalau alam rusak, akan menjadi bencana mengerikan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya (Foto: Asep GP) |
“Jadi saya gambarkan secara dinamis, seolah-olah sedang terjadi, ada goresan-goresan liar jilatan api yang tidak bisa diprediksi ke mana arahnya. Kengerian itu mengingatkan bagaimana manusia harus menjaga alam. Ini saya sampaikan dengan goresan-goresan dinamis dengan warna mewakili api dan pohon serta ada lelehan, ini menggambarkan kengerian,” jelas Supriatna.
Ketika ditanya apakah lukisan ini kritik terhadap bencana alam yang terjadi di Sumatra baru-baru ini, kata Kang Supri, lukisannya dibuat pada tahun 2025, jauh sebelum kejadian bencana alam Sumatra. Tapi katanya esensinya sama, ada pesan yang ingin disampaikan, kalau alam rusak, akibat buruknya tidak hanya akan dirasakan manusia saja, tapi hewan, tumbuhan, dan alam pun akan rusak. Itu edukatifnya.
Sebagaimana diketahui, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., ini adalah seorang seniman sekaligus akademisi. Alumni Seni Murni FSRD ITB (S1–S2) ini meneruskan menimba ilmu Komunikasi Seni di S3 Pascasarjana Unpad dan kini menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama di ISBI Bandung.
Tapi kegemarannya melukis tak pernah padam, tak heran karyanya hingga kini sudah mencapai seribuan. Ada yang dikoleksi dan ada juga beberapa lukisannya yang tidak tahu rimbanya, tidak didokumentasikan. Tapi karyanya sudah dikoleksi oleh kolektor di beberapa negara seperti China, Thailand, Jepang, dan sisanya, walau orientasinya bukan untuk komersial, lukisannya dibeli teman-temannya dan perusahaan di dalam negeri. “Saya melukis hanya untuk mengekspresikan kegelisahan jiwa saja,” pungkasnya. (Asep GP)***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)















No comments :
Post a Comment