Info Terkini
• Memuat berita terbaru...

Trisakti dan Maranatha Bawa Diplomasi Budaya Indonesia ke Canberra Lewat Batik Ramah Lingkungan

Wednesday, October 7, 2026 Tatarjabar.com
Narasumber dari Universitas Trisakti dan Universitas Kristen Maranatha memperlihatkan proses pembuatan perintang dengan bahan dasar yang ramah lingkungan.

Tatarjabar.com – Canberra –  Universitas Trisakti dan Universitas Kristen Maranatha memperluas peran perguruan tinggi Indonesia di ranah internasional melalui diplomasi budaya. Keduanya memperkenalkan batik kepada masyarakat Australia lewat pelatihan batik tamarind yang digelar di University of Canberra, Australia, Kamis, 2 Oktober 2026.

Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Batik Nasional tersebut tidak sekadar menjadi agenda memperkenalkan warisan budaya Indonesia. Pelatihan juga menjadi ruang pembelajaran lintas budaya sekaligus mengenalkan praktik membatik dengan penggunaan bahan perintang yang lebih ramah lingkungan.

Program pengabdian kepada masyarakat internasional ini digagas Universitas Trisakti melalui Dr. Cama Juli Rianingrum bersama Universitas Kristen Maranatha yang diwakili Prof. Ariesa Pandanwangi. Pelaksanaannya merupakan bagian dari implementasi kerja sama kedua perguruan tinggi melalui Memorandum of Understanding (MoU).

Kegiatan tersebut turut menggandeng Pendidikan Sosial Budaya (Pensosbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra serta mendapat dukungan dari Indonesian Embassy Canberra, Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) ACT, UC Indonesian Student Association (UCISA), dan Australia Indonesia Youth Association (AIYA).

Pelatihan berlangsung selama sekitar tiga setengah jam, mulai pukul 09.30 hingga 13.00 waktu Canberra. Sebanyak 35 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas mahasiswa, diaspora di Canberra, dan warga lokal Australia.

Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang interaksi langsung antara budaya Indonesia dan masyarakat Australia. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai batik, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembuatannya melalui metode praktik dan pendampingan oleh para pelatih dari Trisakti dan Maranatha.

Kegiatan dibuka Deputy Chief of Mission KBRI Canberra, Lintang Paramitasari P. Wibawa, PhD. Kehadiran perwakilan diplomatik Indonesia memperkuat posisi kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Australia melalui pendekatan kebudayaan.

Menurut Lintang, pengenalan batik akan memiliki pengalaman yang berbeda ketika masyarakat internasional dapat terlibat langsung dalam proses pembuatannya.

Batik, selanjutnya menurut Lintang, dapat menjadi media untuk mempertemukan masyarakat dari latar budaya berbeda. Pengalaman membuat batik secara praktik langsung memungkinkan peserta mengenal budaya Indonesia secara lebih dekat, personal, dan interaktif.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi budaya tidak selalu berlangsung melalui forum resmi antarpemerintah. Perguruan tinggi juga dapat mengambil peran dengan menghadirkan kebudayaan Indonesia dalam bentuk kegiatan edukatif yang dapat diikuti masyarakat internasional.

Ariesa Pandanwangi sedang memberikan pendampingan dalam workshop internasional batik tamarind yang berlokasi di University of Canberra pada 2 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Batik Nasional.

Perguruan Tinggi Jadi Penggerak Diplomasi Budaya

Dr. Cama Juli Rianingrum dari Universitas Trisakti mengatakan, kegiatan di Canberra dirancang sebagai pengabdian masyarakat internasional yang menggabungkan unsur pendidikan, kebudayaan, kreativitas, dan keberlanjutan.

Menurut Cama, tujuan kegiatan bukan semata memperlihatkan produk batik kepada masyarakat Australia, melainkan memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami proses kreatif dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Melalui pendekatan tersebut, batik diperkenalkan sebagai pengetahuan dan pengalaman budaya, bukan sekadar benda atau produk kerajinan.

Aspek lingkungan juga menjadi bagian penting dari pelatihan. Peserta diperkenalkan pada penggunaan perintang dalam proses membatik yang memiliki fungsi menghambat warna agar tidak masuk ke bagian tertentu pada kain.

Penggunaan alternatif perintang yang lebih ramah lingkungan menjadi salah satu bentuk inovasi yang diperkenalkan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan bersamaan dengan upaya menjawab tantangan keberlanjutan.

Sementara itu, Prof. Ariesa Pandanwangi menyatakan bahwa metode praktik memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi peserta.

Peserta tidak hanya menghasilkan tote bag batik unik dengan motif Nusantara, tetapi juga mempelajari tahapan pembuatan, teknik, pemilihan warna, motif, serta ketelitian yang diperlukan dalam proses membatik.

Dengan demikian, peserta mendapatkan pemahaman bahwa batik merupakan sebuah proses kreatif yang memiliki nilai budaya, bukan hanya hasil akhir berupa kain atau produk fesyen.

Dr. Cama Juli Rianingrum sedang memberikan pendampingan dalam workshop internasional pembuatan batik tamarind di atas tote bag.

Batik Menjadi Jembatan Antarbudaya

Pelaksanaan kegiatan di Canberra menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia dapat dikemas dalam bentuk yang relevan dengan masyarakat internasional.

Pertemuan antara peserta Indonesia dan masyarakat Australia menciptakan ruang pertukaran pengalaman. Di satu sisi, peserta mengenal teknik dan nilai batik Indonesia. Di sisi lain, penyelenggara memperoleh kesempatan memahami respons serta perspektif masyarakat internasional terhadap budaya Indonesia.

Kondisi tersebut menjadikan batik sebagai medium diplomasi budaya yang bersifat partisipatif.

Alih-alih hanya memperkenalkan batik melalui presentasi atau pameran, peserta diajak menyentuh bahan, mengenal teknik, menentukan warna, dan menghasilkan karya sendiri.

Model seperti ini memungkinkan pesan kebudayaan diterima melalui pengalaman langsung.

Kerja sama Universitas Trisakti dan Universitas Kristen Maranatha juga memperlihatkan bahwa diplomasi budaya dapat diperkuat melalui kolaborasi perguruan tinggi dengan lembaga diplomatik, organisasi mahasiswa, dan komunitas lintas negara.

Dampaknya tidak berhenti pada pengenalan batik. Interaksi yang terbangun selama kegiatan membuka peluang munculnya pemahaman yang lebih luas mengenai Indonesia di tengah masyarakat internasional.

Narasumber bersama sebagian peserta dan karya yang telah dibuat.

Menghubungkan Budaya dengan Agenda Keberlanjutan

Pelatihan batik tamarind di Canberra juga memiliki keterkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Dari sisi pendidikan, kegiatan tersebut sejalan dengan SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas, termasuk pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, kewargaan global, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya.

Penggunaan pendekatan yang memperhatikan aspek lingkungan juga relevan dengan SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Sementara kolaborasi antara dua perguruan tinggi, KBRI Canberra, organisasi mahasiswa, dan komunitas Indonesia-Australia memperlihatkan semangat SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.

Dengan pendekatan tersebut, pelestarian budaya tidak ditempatkan sebagai aktivitas yang terpisah dari isu global. Batik justru menjadi pintu masuk untuk membicarakan pendidikan, keberagaman, kreativitas, lingkungan, dan kemitraan internasional.

Bagi Universitas Trisakti dan Universitas Kristen Maranatha, kegiatan di Canberra sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat memperluas kontribusinya melewati batas geografis Indonesia.

Melalui pengabdian masyarakat internasional, kedua universitas tidak hanya membawa nama institusi ke luar negeri, tetapi juga membawa nilai dan identitas budaya Indonesia untuk dipelajari secara langsung oleh masyarakat global.

Momentum Hari Batik Nasional pun memperoleh makna yang lebih luas. Batik tidak hanya dirayakan sebagai warisan budaya di dalam negeri, tetapi dihadirkan sebagai sarana membangun dialog dan persahabatan antarbangsa.

Pelatihan di Canberra menjadi gambaran bahwa diplomasi budaya dapat dilakukan melalui cara yang sederhana, namun berdampak: mempertemukan manusia, berbagi pengetahuan, dan memberikan pengalaman langsung tentang budaya Indonesia.

Dari ruang kelas dan lokakarya di Australia, batik kembali memainkan perannya sebagai jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan masyarakat internasional melalui pendidikan, kreativitas, dan kepedulian terhadap keberlanjutan. (Asep GP)***

Rekomendasi Produk