![]() |
| Lima karya terbaik hasil pelatihan dipilih oleh narasumber |
Tatarjabar.com – Bandung (13/10/2026) – Keterampilan kreatif dapat menjadi salah satu modal penting bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi keluarga. Berangkat dari kebutuhan tersebut, kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat kembali diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan teknik warna dan motif shibori bagi para ibu di Bandung.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 13 Oktober 2026 di Jalan Japati No. 1, Bandung, ini merupakan kolaborasi antara Program Studi Seni Rupa Murni, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), Universitas Kristen Maranatha, dengan Program Magister Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha. Sebanyak 53 peserta mengikuti kegiatan yang berasal dari mitra pengabdian, Persekutuan Oikumene Ibu-Ibu (POII) Anggana Kasih Bandung. Pelatihan ini dilaksanakan sebagai respons terhadap kebutuhan para ibu untuk memperoleh keterampilan baru yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif dan berpotensi mendukung peningkatan ekonomi keluarga.
Mengenal Shibori, Teknik Pewarnaan Kreatif
Shibori merupakan teknik pewarnaan tekstil yang berasal dari Jepang dengan cara melipat, melilit, menjepit, mengikat, atau membentuk kain sebelum proses pewarnaan dilakukan. Perlakuan tersebut menghasilkan pola dan motif yang khas pada permukaan kain. Keunikan shibori terletak pada hasil akhirnya yang dapat berbeda-beda sehingga setiap karya memiliki karakter visual tersendiri. Teknik ini relatif mudah dikembangkan menjadi produk kreatif karena dapat diterapkan pada berbagai jenis tekstil, mulai dari kain hingga aksesori fesyen. Potensi tersebut menjadi salah satu alasan shibori dipilih sebagai materi pelatihan yang dapat memberikan keterampilan praktis kepada peserta.
Ketua pelaksana pengabdian, Ariesa Pandanwangi, menjelaskan bahwa keterampilan shibori yang diberikan kepada masyarakat berawal dari proses pembelajaran di kampus. “Keterampilan membuat shibori ini berawal dari mata kuliah Batik Kreatif yang salah satu bahan ajarnya adalah shibori dan kerap diimplementasikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini merupakan dampak nyata dari mata kuliah yang terintegrasi dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Ariesa.
Tahapan Pelatihan: Dari Kain Putih Menjadi Syal Bermotif
Pelatihan dilaksanakan secara praktik agar peserta dapat langsung mengalami setiap proses pembuatan shibori. Tahap awal dimulai dengan pengenalan teknik dan motif shibori, termasuk penjelasan mengenai bagaimana perlakuan terhadap kain dapat menghasilkan pola yang berbeda. Selanjutnya, peserta menyiapkan kain yang akan digunakan sebagai bahan dasar syal. Kain kemudian dilipat, dililit, diikat, atau dibentuk sesuai pola yang diinginkan. Pada tahap ini, peserta didampingi untuk memahami bahwa bentuk ikatan dan lipatan akan menentukan karakter motif yang muncul setelah proses pewarnaan.
![]() |
| Para peserta berfoto bersama dengan para narasumber sambil menunjukkan hasil karya mereka |
Setelah kain dibentuk, tahap berikutnya adalah proses pewarnaan. Peserta mengaplikasikan warna pada bagian-bagian kain sesuai teknik yang telah diperkenalkan. Pengaturan warna dilakukan dengan mempertimbangkan komposisi dan kemungkinan munculnya perpaduan warna ketika ikatan atau lipatan kain dibuka. Tahap berikutnya adalah penguncian warna dan proses pengeringan. Setelah pewarnaan selesai, kain diproses hingga warna dapat bertahan pada serat kain. Peserta kemudian membuka ikatan dan lipatan secara perlahan untuk melihat motif yang terbentuk. Momen membuka kain menjadi salah satu bagian menarik dalam pelatihan karena pola yang muncul merupakan hasil perpaduan antara teknik, komposisi warna, serta kreativitas masing-masing peserta. Kain yang telah selesai kemudian ditata dan dikeringkan hingga siap digunakan sebagai syal.
Melalui tahapan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teoretis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah bahan tekstil menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Dari Kelas ke Masyarakat
Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengetahuan perguruan tinggi agar dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik, tetapi memperoleh pengalaman praktik dalam menciptakan motif dan warna pada kain.
Rosida Tiurma Manurung, dosen Program Magister Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, yang menjembatani kerja sama dengan mitra, mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah dirancang sejak akhir tahun sebelumnya. “Perencanaan pengabdian ini sudah dirancang sejak akhir tahun lalu karena adanya kebutuhan dari para ibu untuk meningkatkan keterampilannya,” ungkap Rosida.
Sementara itu, Erika Ernawan, Ketua Program Sarjana Seni Rupa Murni, menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif karena mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, pelatihan keterampilan seperti shibori dapat membuka peluang usaha baru di bidang industri kreatif. Keterlibatan dosen dan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena pengetahuan yang diperoleh di lingkungan kampus dapat diimplementasikan secara langsung di tengah masyarakat.
Menghasilkan 53 Karya Shibori
Dari kegiatan pelatihan tersebut, para peserta berhasil menghasilkan 53 buah syal berukuran 150 × 50 sentimeter dengan beragam corak dan kombinasi warna yang menarik. Hasil karya tersebut menjadi bukti bahwa pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi menghasilkan keterampilan yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Bagi para peserta, proses tersebut menjadi pengalaman untuk mengenal bahwa kain yang sederhana dapat diolah menjadi produk kreatif melalui teknik yang tepat. Keterampilan ini juga dapat dikembangkan lebih jauh melalui eksplorasi motif, warna, jenis produk, hingga pengembangan pemasaran. Keterampilan membuat shibori diharapkan dapat terus diasah dan dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Dengan kreativitas, pendampingan, serta pengembangan pemasaran, keterampilan tersebut berpotensi menjadi salah satu pintu masuk bagi para ibu untuk beraktivitas dalam industri kreatif sekaligus mendukung ekonomi keluarga. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di perguruan tinggi, pengembangan keterampilan, dan kebutuhan masyarakat. Dari ruang kelas, pengetahuan bergerak menjadi keterampilan; dari keterampilan, lahir karya; dan dari karya tersebut terbuka peluang untuk menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi keluarga dan masyarakat. (Rls/Red/AGP)***
Melalui tahapan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teoretis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah bahan tekstil menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Dari Kelas ke Masyarakat
Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengetahuan perguruan tinggi agar dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik, tetapi memperoleh pengalaman praktik dalam menciptakan motif dan warna pada kain.
Rosida Tiurma Manurung, dosen Program Magister Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, yang menjembatani kerja sama dengan mitra, mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah dirancang sejak akhir tahun sebelumnya. “Perencanaan pengabdian ini sudah dirancang sejak akhir tahun lalu karena adanya kebutuhan dari para ibu untuk meningkatkan keterampilannya,” ungkap Rosida.
Sementara itu, Erika Ernawan, Ketua Program Sarjana Seni Rupa Murni, menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif karena mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, pelatihan keterampilan seperti shibori dapat membuka peluang usaha baru di bidang industri kreatif. Keterlibatan dosen dan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena pengetahuan yang diperoleh di lingkungan kampus dapat diimplementasikan secara langsung di tengah masyarakat.
Menghasilkan 53 Karya Shibori
Dari kegiatan pelatihan tersebut, para peserta berhasil menghasilkan 53 buah syal berukuran 150 × 50 sentimeter dengan beragam corak dan kombinasi warna yang menarik. Hasil karya tersebut menjadi bukti bahwa pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi menghasilkan keterampilan yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Bagi para peserta, proses tersebut menjadi pengalaman untuk mengenal bahwa kain yang sederhana dapat diolah menjadi produk kreatif melalui teknik yang tepat. Keterampilan ini juga dapat dikembangkan lebih jauh melalui eksplorasi motif, warna, jenis produk, hingga pengembangan pemasaran. Keterampilan membuat shibori diharapkan dapat terus diasah dan dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Dengan kreativitas, pendampingan, serta pengembangan pemasaran, keterampilan tersebut berpotensi menjadi salah satu pintu masuk bagi para ibu untuk beraktivitas dalam industri kreatif sekaligus mendukung ekonomi keluarga. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di perguruan tinggi, pengembangan keterampilan, dan kebutuhan masyarakat. Dari ruang kelas, pengetahuan bergerak menjadi keterampilan; dari keterampilan, lahir karya; dan dari karya tersebut terbuka peluang untuk menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi keluarga dan masyarakat. (Rls/Red/AGP)***

