Info Terkini
• Memuat berita terbaru...

METAMORFOSIS: Pameran Tunggal Ika Ismurdiyahwati

Wednesday, October 28, 2026 Tatarjabar.com
Ika Ismurdiyahwati, Metamorfosis: Dari yang Terbuang Menjadi Benda Estetis. (Foto: Istimewa)

Tatarjabar.com – Bandung  – Pameran ini berlangsung dari tanggal 25–31 Oktober 2026 di De Paviljoen Hotel, Jl. L.R.E. Martadinata No. 68, Kota Bandung.

Dalam pameran kali ini, Ika Ismurdiyahwati, yang juga dosen Seni Rupa di Universitas Adibuana Surabaya, mengajak publik untuk merenung ulang tentang makna limbah dalam konteks imajinasi yang diimbuhi kesadaran kreativitas.

Tidak heran jika kata “metamorfosis” menjadi acuan dari makna penciptaan artistik yang diproses berdasarkan media temuan, yang dianggap dalam lingkungan sosial sebagai “limbah atau sampah”.

Pameran ini merupakan kelanjutan dari proses kreativitas pada pameran tunggal sebelumnya di Galeri Ruang A, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi Bandung, pada 1–7 Juni 2026.

Saat itu, Ika mengajak publik merenung ulang tentang makna produk yang menjadi limbah atau menyampah di ruang publik dengan eksekusi artistiknya.

Ika mengeksplorasi temuan keseharian masyarakat urban. Dia menjadikan sampah-sampah produk pabrik besar, seperti karung bekas pupuk, kaleng minuman, dan sebagainya, bahan konsumsi masyarakat, menjadi karya seni yang kreatif dan edukatif.

Limbah-limbah yang juga sebetulnya hasil karya seni (desain produk) dan dibuang oleh masyarakat serta jadi masalah lingkungan itu, dengan rasa tanggung jawab sebagai seniman dan ilmuwan, ia jadikan sesuatu lagi, jadi pencerahan baru.

Jika publik menyaksikan pameran pertamanya tentang olahan sampah, kali ini Ika betul-betul seperti menyembunyikan bentuk sampahnya dengan bentuk bebungaan yang cukup estetik.

“Selamat mengapresiasi dan menikmati sajian karya-karya Ika Ismurdiyahwati. Dari yang terbuang menjadi benda estetis.”

Seni Ika Ismurdiyahwati, dari yang Terbuang Menjadi Benda Estetis

Dalam beberapa dekade terakhir, wacana tentang lingkungan hidup bergerak dari sekadar isu ekologis menuju persoalan etika, ekonomi, bahkan ontologi. Kita hidup di tengah peradaban kemasan—peradaban yang ditandai oleh ledakan produksi barang konsumsi, distribusi massal, dan residu material yang tertinggal setelah utilitas suatu produk berakhir. Di tengah situasi tersebut, praktik artistik Ika Ismurdiyahwati berdiri sebagai gestur tegas: ia tidak mengangkat “limbah” dalam pengertian umum yang abstrak dan luas, melainkan secara spesifik memilih sampah kertas, akrilik, dan sobekan bekas pembungkus produk—fragmen-fragmen kemasan yang telah kehilangan nilai guna, tetapi belum kehilangan makna.

Pilihan medium ini bukan kebetulan. Sampah kertas dan plastik bekas kemasan adalah saksi paling jujur dari pola konsumsi harian kita. Ia hadir di dapur, di toko kelontong, di pusat perbelanjaan, di gudang logistik, dan akhirnya di tempat pembuangan. Material ini merekam ekonomi mikro dan makro sekaligus: dari jajanan ringan hingga produk industri. Dengan menempelkan sisa-sisa pembungkus itu pada kanvas dan karton dupleks, Ika memindahkan mereka dari ruang sirkulasi barang ke ruang kontemplasi estetis. Ia tidak sekadar mendaur ulang; ia mentransposisi.

Karya-karya Ika tidak menawarkan solusi teknis terhadap krisis sampah. Ia tidak mengklaim bahwa seni dapat mengurangi volume residu secara signifikan. Namun, seni memiliki kekuatan lain: mengubah cara pandang. Dengan mengubah sampah kemasan menjadi lanskap, Ika memaksa kita menyadari bahwa cakrawala masa depan kita mungkin benar-benar tersusun dari sisa-sisa konsumsi hari ini. Horizon biru dalam lukisannya bukan lagi janji romantik tentang alam yang murni, melainkan latar yang berdiri di atas tumpukan kemasan.

Pameran ini adalah undangan untuk melihat ulang yang tersisa. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari siklus beli-buka-buang dan menatap residu yang kita hasilkan. Dalam tatapan itu, mungkin muncul kesadaran baru: bahwa setiap pembungkus yang kita sobek dan buang suatu hari bisa menjadi bagian dari lanskap suatu karya seni.

“Selamat mengapresiasi dan menikmati sajian karya-karya Ika Ismurdiyahwati. Dari yang terbuang menjadi benda estetis,” demikian dikatakan Kurator Pameran Dr. Anna Sungkar.

Berikut karya-karya yang dipamerkan: Bulan Emas Pada Bunga Nusantara (Mix Media + Kanvas 70 × 70 cm – 2026), Anggrek Besi Papua (Mix Media + Kanvas 87 × 63 cm – 2026), Bunga-Bunga Diantara Bulan (Mix Media + Kanvas 75 × 55 cm – 2026), Anggrek Putih (Mix Media + Kanvas 70 × 70 cm – 2026), Bunga dan Bulan Diantara Awan (Mix Media + Kanvas 60 × 88 cm – 2026), Bunga Sepatu dan Awan Pink (Mix Media + Kanvas 87 × 63 cm – 2026), Dualisme Bunga (Mix Media + Kanvas 65 × 50 cm – 2026), Bayang dan Bunga (Mix Media + Kanvas 50 × 50 cm – 2025), Bayang dan Bunga Merah (Mix Media + Kanvas 50 × 50 cm – 2026), Siklus dan Eksistensi (Mix Media + Kanvas 50 × 50 cm – 2026), Anggrek Putih dan Teman-Temannya (Mix Media + Kanvas 90 × 65 cm – 2026), Berbayang Reranting (Mix Media + Kanvas 90 × 65 cm – 2026), Bulan Emas dan Bunga Anggrek (Mix Media + Kanvas 90 × 65 cm – 2026), Bunga-Bunga Pink (Mix Media + Kanvas 87 × 63 cm – 2026).(Rls/Red/AGP)***

Rekomendasi Produk