![]() |
| Narasumber Sedang Mempresentasikan Batik Tamarind (Foto Istimewa) |
Tatarjabar.com — Canberra — Batik Indonesia tak hanya dikenalkan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai ruang kreativitas dan inovasi yang dapat menjawab isu lingkungan. Hal itu ditunjukkan melalui keterlibatan akademisi Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Trisakti dalam Workshop Batik Tamarind di Canberra, Australia.
Kegiatan yang digelar di Wisma Duta Besar Republik Indonesia di Canberra tersebut berlangsung bertepatan dengan Hari Batik Nasional, 2 Oktober. Workshop mempertemukan akademisi, komunitas pecinta batik, serta kalangan diplomatik dalam kegiatan yang menggabungkan edukasi budaya dengan praktik kreatif.
Sekitar 35 peserta mengikuti workshop tersebut. Mereka berasal dari komunitas diplomatik dan pecinta seni batik Indonesia, termasuk para istri duta besar negara-negara sahabat yang sedang bertugas di Canberra.
Kegiatan dibuka oleh Yang Mulia Bapak H.E. Dr. Siswono, Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia.
Dalam sambutannya, Yang Mulia Bapak Siswono menyampaikan bahwa Hari Batik Nasional menjadi momentum untuk memperkenalkan batik sekaligus berbagai inovasi dalam pengembangannya, termasuk penggunaan material yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Yang Mulia Bapak Siswono, batik memiliki posisi penting bukan hanya sebagai warisan budaya Indonesia, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkenalkan kreativitas dan inovasi Indonesia kepada masyarakat internasional.
Dua Universitas Perkenalkan Batik dari Perspektif Akademik
Keterlibatan Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Trisakti menjadi bagian penting dalam memberikan perspektif akademik pada kegiatan tersebut.Prof. Ariesa Pandanwangi dari Universitas Kristen Maranatha dan Dr. Cama Juli Rianingrum dari Universitas Trisakti hadir sebagai pelatih sekaligus narasumber workshop.
Keduanya membawa pendekatan yang berbeda, namun saling melengkapi. Prof. Ariesa Pandanwangi memberikan perhatian pada pengembangan batik yang selaras dengan tantangan zaman, termasuk pemanfaatan material yang lebih ramah lingkungan.
Sementara Dr. Cama Juli Rianingrum memperkenalkan kekayaan motif batik Nusantara sekaligus menjelaskan nilai visual dan budaya yang melekat di dalamnya.
Pendekatan tersebut membuat peserta tidak hanya mengenal batik dari sisi produk, tetapi juga memahami batik sebagai bagian dari identitas, sejarah, kreativitas, dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Peserta Tak Sekadar Belajar, tetapi Ikut Berkarya
Salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam workshop adalah praktik membuat motif batik pada tote bag.Peserta diajak berinteraksi langsung dengan proses membatik kreatif. Proses tersebut menjadikan pengenalan batik menjadi lebih partisipatif karena peserta dapat mengalami sendiri proses menghasilkan karya bernuansa batik.
Tote bag juga dipilih sebagai media yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Motif Nusantara yang diterapkan pada benda fungsional memperlihatkan bahwa batik dapat terus berkembang dan hadir dalam konteks masyarakat modern.
Dari sisi edukasi, model workshop seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pengenalan budaya yang hanya dilakukan melalui ceramah atau pemaparan sejarah.
Peserta dapat melihat, mencoba, dan menghasilkan karya sendiri. Pengalaman tersebut berpotensi memperkuat pemahaman sekaligus apresiasi terhadap batik Indonesia.
Kampus dan Masyarakat Berkolaborasi Lewat Budaya
Kegiatan di Canberra juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan dari perguruan tinggi dapat dibawa keluar dari lingkungan kampus dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.Kehadiran dosen Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Trisakti menjadi contoh bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam pengenalan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Melalui workshop tersebut, pengetahuan mengenai batik menjadi lebih mudah diakses oleh peserta dari berbagai latar belakang.
Pada saat yang sama, kegiatan ini membuka ruang bagi masyarakat internasional untuk mengenal Indonesia melalui pengalaman kreatif yang bersifat langsung.
Dukungan tim perlengkapan dan media sosial, yakni Kartika dan Tasya Andari Putri, turut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Batik Ramah Lingkungan, Pesan Baru dari Indonesia
Penggunaan pendekatan yang lebih ramah lingkungan memberikan pesan tambahan dalam pengenalan batik di Canberra.Pelestarian budaya tidak harus berhenti pada mempertahankan bentuk tradisi, tetapi dapat berjalan bersama inovasi. Batik dapat dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat dan tantangan lingkungan yang berkembang.
Pesan tersebut menjadi relevan ketika batik diperkenalkan kepada masyarakat internasional. Indonesia tidak hanya menunjukkan kekayaan warisan budaya, tetapi juga memperlihatkan adanya upaya untuk membawa budaya tersebut ke dalam konteks kehidupan masa kini.
Dalam konteks itu, Workshop Batik Tamarind menjadi ruang bertemunya pendidikan, budaya, kreativitas, lingkungan, dan diplomasi.
Batik Jadi Jembatan Indonesia dan Australia
Kegiatan tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai teknik membuat batik. Interaksi antara peserta dan para narasumber menciptakan ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman budaya.Batik menjadi medium komunikasi yang memungkinkan masyarakat dari berbagai negara mengenal Indonesia melalui karya dan aktivitas bersama.
Keterlibatan Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Trisakti memperkuat dimensi edukasi dalam kegiatan tersebut. Pengetahuan mengenai motif, kreativitas, serta pengembangan batik ramah lingkungan dipertemukan dengan pengalaman masyarakat internasional.
Sementara itu, dukungan Yang Mulia Bapak Siswono terhadap kegiatan tersebut menempatkan workshop sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia dalam ruang diplomasi di Australia.
Dari Canberra, batik kembali menunjukkan kemampuannya untuk menjembatani tradisi dengan inovasi. Warisan budaya Indonesia tersebut hadir bukan hanya sebagai simbol identitas, tetapi juga sebagai media pembelajaran, kreativitas, interaksi masyarakat, dan percakapan mengenai keberlanjutan.
Dengan keterlibatan perguruan tinggi, komunitas, dan lingkungan diplomatik, batik memiliki ruang yang semakin luas untuk dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat internasional.
