Info Terkini
• Memuat berita terbaru...

FHIK UK Maranatha Gelar HYPERTEXTUALITY 2026: 155 Peserta dari 15 Negara Ramaikan Pameran Seni Rupa Internasional

Friday, September 18, 2026 Tatarjabar.com

Jajaran Dosen Seni Rupa Murni bersama jajaran Dekanat dan Sekretaris UK Maranatha di Pembukaan Pameran Seni Rupa Internasional "Hypertextuality 2026" (16/9/2026). Foto:Istimewa


Tatarjabar.com - Bandung – Program Sarjana Seni Rupa Murni, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), Universitas Kristen Maranatha, Bandung, kembali memperkuat jejaring seni rupa internasional melalui penyelenggaraan pameran bertajuk “Hypertextuality” 2026.

Pameran internasional tersebut berlangsung pada 16–19 September 2026 di Exhibition Hall Universitas Kristen Maranatha, Jalan Surya Sumantri No. 65, Bandung 40164. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Rektor Universitas Kristen Maranatha Bandung yang diwakili oleh Prof. Prof. Dr. Pan Lindawaty Suherman Sewu, S.H., M.Hum., M.Kn. selaku Sekretaris Universitas Kristen Maranatha.

Prof. Prof. Dr. Pan Lindawaty Suherman Sewu, mewakili Rektor UK Maranatha, membuka acara Hypertextuality 2026. (Foto: Istimewa)

Pameran “Hypertextuality” menjadi ruang pertemuan gagasan, karya, dan perspektif seni rupa dari berbagai latar belakang. Sebanyak 155 peserta yang berhasil lolos kurasi berpartisipasi dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari 42 institusi dan 15 negara, menunjukkan luasnya jejaring akademik dan artistik yang terbangun dalam penyelenggaraan pameran tersebut.

Ketua Program Sarjana Seni Rupa Murni FHIK Universitas Kristen Maranatha, Erika Ernawan, M.Sn., mengatakan penyelenggaraan kegiatan berskala internasional merupakan bagian dari strategi program studi untuk menempatkan institusi dalam ekosistem seni rupa global.

“Program Sarjana Seni Rupa di Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Maranatha, secara rutin menyelenggarakan acara berskala internasional sebagai bagian dari strategi agar menjadi bagian ekosistem seni rupa global sekaligus memberikan dampak bagi komunitas internasional,” ujar Erika dalam sambutannya. Menurutnya, pameran “Hypertextuality” 2026 merupakan salah satu bentuk konkret dari strategi tersebut. Seni rupa murni tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menciptakan karya visual, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, kritik, refleksi, dan respons terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Ketua Pelaksana, Prof. Ariesa Pandanwangi, membuka jaringan seni melalui kerja sama lintas institusi dan lintas negara. (Foto: Istimewa)

Pameran ini dikurasi oleh tiga kurator dari tiga negara. Indonesia diwakili Dr. Ismet Zainal Effendi, M.Sn., Portugal oleh Prof. Angela Saldanha, dan Malaysia oleh Assoc. Prof. Tarmizi.

Mewakili para kurator, Dr. Ismet mengatakan “Hypertextuality” tidak sekadar menjadi ajang memamerkan karya seni kontemporer dari berbagai negara dan institusi. Menurut Ismet, kegiatan tersebut juga mencerminkan tanggung jawab akademik para peserta dalam merespons perkembangan seni rupa global. “Pameran Internasional bertajuk ‘Hypertextuality’ yang diselenggarakan oleh Program Sarjana Seni Rupa Murni UK Maranatha ini bukan hanya menggelar karya seni rupa kontemporer dari berbagai negara dan institusi, tapi sebagai bentuk responsibility akademik yang ditunjukkan oleh para peserta dalam menyikapi perkembangan seni rupa di tingkat global,”. Ismet menambahkan, respons tersebut terlihat melalui kesadaran dan kepiawaian peserta dalam mengolah unsur-unsur seni rupa dengan keterampilan yang mereka kuasai, sesuai dengan tema yang diusung masing-masing.

Sementara itu, Ketua Pelaksana “Hypertextuality” 2026, Ariesa Pandanwangi, menjelaskan bahwa pameran internasional ini merupakan bagian dari program kerja Program Sarjana Seni Rupa Murni yang telah meraih akreditasi unggul. “Program kerja tersebut salah satunya adalah membuka banyak jaringan seni melalui kerja sama lintas institusi dan lintas negara. Kegiatan ini adalah realisasinya,” ujar Ariesa.

Para pengunjung pameran di antara 155 karya. (Foto: Asep GP)

Penyelenggaraan “Hypertextuality” memperlihatkan posisi seni rupa murni sebagai bidang yang memiliki kekuatan pada eksplorasi gagasan, kreativitas, eksperimentasi medium, dan kemampuan membaca perubahan zaman. Melalui karya, seniman dapat membangun dialog lintas budaya sekaligus menghadirkan perspektif yang tidak selalu dapat disampaikan melalui bahasa verbal. Dengan keterlibatan 155 peserta dari 42 institusi di 15 negara, “Hypertextuality” 2026 menjadi salah satu ruang pertukaran pengetahuan dan praktik seni yang mempertemukan dunia akademik dengan perkembangan seni rupa kontemporer dalam konteks global.

Selain pameran, rangkaian kegiatan juga diisi dengan diskusi seni bertema “Zeitgeist and Hypertextuality”. Diskusi menghadirkan tiga narasumber dari institusi pendidikan seni, yakni Dr. Supriatna, M.Sn. dari ISBI Bandung, Firman Lie, M.Sn. dari IKJ, serta Dr. Ismet Zainal Effendi, M.Sn. dari Universitas Kristen Maranatha.

Dalam guaran materi diskusinya, Supriatna menyampaikan gagasan lukisannya, yang menurutnya bukan soal lukisannya tetapi lebih jauh lagi tentang latar belakangnya, yaitu menuju teciptanya Seni Rupa Nusantara atau Seni Lukis Nusantara.

Foto: Asep GP

Yang dimaksud dengan Seni Rupa Nusantara / Seni Lukis Nusantara menurut Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama ISBI Bandung yang akan merampungkan jabatannya tahun ini, kita tetap menggunakan teknik dan gaya dari Barat (asalnya dari Barat), tetapi gagasan, inspirasi dsb., diambil dari Timur. Baik yang sifatnya artepak, pertunjukan, maupun yang intangible (yang tidak terlihat) misalnya filosofinya, atau sesuatu kearifan lokal yang memang tidak tertulis.

“Nah itu menjadi inspirasi untuk dipindahkan atau ditrannsformasi ke dalam sebuah lukisan. Jadi bukan berarti balik lagi ke zaman dulu membuat wayang, wayang beber, maupun hal-hal yang sifatnya tradisi murni, karena itu sudah ada bagiannya. Tapi dalam hal ini, dalam pengkaryaan baru ini, kita mengambil gagasannya saja. Gagasan maupun inspirasi yang mencerminkan identitas Nusantara,” demikian kata Kang Prie.

Pembicara lainnya, Firman Lie, dari Program Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (IKJ), menyampaikan materi diskusinya “Dari Intertekstualitas menuju Hipertekstualitas” (Membaca kembali Hubungan Antarteks Dalam Seni Rupa Kontemporer).

Supriatna dengan Kuda Renggong-nya. (Foto: Asep GP)

Pada awal paparannya Firman mengatakan, seni rupa kontemporer tumbuh di tengah dunia yang sudah penuh dengan gambar, tanda, sejarah, media, dan informasi. Hampir tidak ada karya yang benar-benar hadir dari ruang kosong. Ketika kita melihat sebuah karya, sering kali di dalamnya terdapat jejak sesuatu yang pernah kita lihat sebalumnya: sebuah gambar, gaya, simbol, peristiwa, budaya popular, karya seni lain, atau bahkan pengalaman sosial yanh hidup dalam ingatan bersama. Sebuah karya dengan demikian tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri, ia berbicara melalui berbagai hal yang telah lebih dahulu hadir.

Di sinilah persoalan intertekstualitas menjadi menarik. Sebuah karya tidak berdiri sendiri. Karena maknanya selalu berhubungan dengan sesuatu di luar dirinya. Ketika seorang seniman menggunakan kembali sebuah citra, simbol, motif, atau bahasa visual tertentu, yang hadir bukan hanya bentuknya, tetapi juga sejarah dan makna yang melekat pada bentuk tersebut. Ketika kemudian ditempatkan dalam karya baru, makna lama dapat berubah, bergeser, bahkan bertentangan dengan konteks sebelumnya. Karya menjadi semacam ruang pertemuan berbagai jejak yang saling bernegosiasi.

Cara pandang seperti ini membuat kita melihat kreativitas secara berbeda. Menciptakan sesuatu tidak selalu berarti menemukan sesuatu yang belum pernah ada. Kreativitas juga dapat muncul dari kemampuan melihat kembali sesautu yang sudah ada, kemudian memindahkannya, menggabungkannya, mengubahnya, atau membacanya dari sudut yang berbeda. Yang baru bukan selalu bendanya, tetapi hubungan baru yang dibangun terhadap sesuatu yang lama.

Ismet dengan Gunungan-nya. (Foto: Asep GP)

Perubahan cara pandang terhadap penciptaan ini kata Firman, semakin terasa ketiuka seni memasuki wilayah postmodern. Seni komtemporer semakin terbuka terhadap penggunaan kembali materi yang sudah ada. Mengutip, mengambil, menggabungkan, mengubah, atau memindahkan konteks menjadi bagian dari proses kreatif. Yang penting bukan hanya “apa yang diambil”, tetapi “ bagaimana “sesautu yang sudah ada diberi hubungan dan makna baru”. Orsinalitas juga bergeser, bukan selalu menciptakan sesuatu dari nol, tetapi menciptakan cara baru dalam menghubungkan sesautu yang sudah ada.

Namun, situasinya berubah ketika kita memasuki kebudayaan digital – dari hubungan menjadi jaringan. Internet mengubah hubungan antarteks secara drastis. Teks, gambar, video, suara, arsip, dan informasi dapat saling terhubung melalui jaringaan. Hubungan tidak lagi harus mengikuti urutan linear. Hyperlink menjadi contoh sederhana, satu teks dapat membawa kita menuju teks lain, lalu ke teks berikutnya. Budaya digital juga membuat hubungan antarteks menjadi lebih cepat, terbuka, bercabang, dan terus berkembang.

Tentang Hypertekstualitas, menurut Firman, karya yang banyak memiliki gambar. Simbol, teks, ataun lapisan visual belum tentu dapat disebut hypertextual. Jadi hypertextuality bukan sekedar banyak teks dalam satu karya. Yang lebih penting adalah struktur hubungan dan bagaimana hubungan tersebut dapat dijelajahi. Pembaca tidak hanya menerima makna secara linear, tetapi dapat memilih jalur, berpindah, kembali, dan membangun hubungan sendiri. Pembaca berubah dari penerima menjadi pengguna/ penjelajah jaringan makna. Dalam seni kontemporer, pengalaman terhadap karya dapat menjadi tidak tunggal dan tidak linear.

Warli Haryana dengan karya khas Wayang-nya. (Foto: Asep GP)

Firman juga melihat ada persamaan antara Hypertextuality dan Intertextuality, keduanya sama-sama berbicara tentang hubungan antarteks. Intertextuality menekankan bahwa karya tidak pernah sepenuhnya terisolasi dari teks lain, sedangkan Hypertextuality membantu menjelaskan kondisi ketika hubungan tersebut bekerja dalam jaringan yang bercabang dan dapat dinavigasi. Digitalisasi juga tidak otomatis membuat sebuah karyA menjadi hypertextual. Jadi persoalan utamanya bukan jumlah teks, tetapi struktur hubungan dan pengalaman membaca.

Sebagai penutup paparannya, Firman menegaskan, “Persoalannya bukan lagi bagaimana menciptakan karya yang sepenuhnya baru, tetapi bagaimana membangun hubungan baru terhadap sesuatu yang telah ada.”

Juga pertanyaan kritisnya, “Apakah hypertextuality benar-benar merupakan konsep baru, atau hanya bentuk baru dari intertextuality yang muncul karena perubahan teknologi dan cara kita membaca?”

Banyak dihadiri mahasiswa ISBI Bandung. (Foto: Asep GP)

Sementara Ismet Zainal Effendi, yang juga jadi pembicara dalam diskusi, mengambil jalan tengah antara guaran materi dari Supriatna dan Firman. Tapi yang penting disimak pesannya kepada para mahasiswa dari perguruan tinggi seni yang hadir saat itu. Agar Para mahasiswa di tengah kamajuan modernisasi ini bijaksana dalam menggunakan teknologi seperti AI (Artificial Intelligence, Kecerdasan Buatan), “Silakan gunakan AI tapi jangan dijadikan AI sebagai alat utama untuk menciptakan karya, jangan mengandalkan AI sebagai alat atau menciptakan semua solusi dari situ,” tandasnya.

Kuda Renggong dan Gunungan Pelestari Budaya Bangsa

Kang Ismet juga sebagai Kurator Pameran, usai diskusi berkenan membedah karya Supriatna “Memories of Dancing with Horses (Kuda Renggong)”. Menurutnya, karya Supriatna ini tergolong karya-karya yang meng-abstraksikan bentuk dengan menggunakan warna-warna kontras orange dan hijau.

Mengambil konteks Kuda Renggong, salah satu kebudayaan tradisional di Jawa Barat (Kesenian asal Desa Cikurubuk, Buahdua- Sumedang). Kang Supri di sini merespon Kuda Renggong sebagai sebuah konsep filosofis di Jawa Barat dan dia mengekspresikannya dengan menggunakan sapuan-sapuan kuasnya di atas kanvas, seolah menari-menari persis seperti konsep Kudang Renggong yang sedang menari-nari berikut penunggangnya.

Firman Lie (IKJ), Dari Intertekstualitas menuju Hipertekstualitas. (Foto: Asep GP)

“Saya juga melihat kang Supri seolah menari dengan sapuan kuasnya. Dengan warna hijau yang bergradasi dari pekat ke warna orange yang lebih cerah. Gestur-gentur di sini jelas kuat ya, diantara Kuda Renggongnya sendiri, lalu anak yang menungganginya dan orang-orang di sekitarnya yang melihat atau merasakan keceriaan itu. Nah mungkin ini ingin menunjukan Kuda Renggong dengan konteks keceriaan, perayaan atau selebrasi dari sebuah konteks tradisi di warga-warga tradisional.

Jadi kata Kang Ismet di sini terihat, walau menggunakan dua nuansa warna yang komplementer yang bertolak belakang antara hijau dan orange dua warna turunan kedua ini, menunjukan bahwa Supriatna mengajak audiens untuk merasakan keceriaan dari suasana yang dibentuk oleh pertunjukan Kuda Renggong itu.

Dan mungkin tujuan utamanya Kang Supriatna punya ketertarikan dan punya rasa tanggung jawab yang tinggi untuk melestarikan budaya tradisi.

Sesi Diskusi (Foto: Asep GP)

Dan memang local wisdom atau kearifan lokal seperti ini kata Ismet, harus diperhatikan dan didukung kelestariannya jangan sampai punah tergerus oleh kemajuan zaman sehingga dilupakan.

“Nah pelestarian-pelestarian seperti ini, lewat karya seni ini, penting dilakukan oleh para seniman, termasuk mahasiswa, akademisi. Semua ini penting untuk tujuan keberlanjutan kelestarian dari budaya tersebut,” tutur Kang Ismet.

Kang Ismet sendiri dalam pasamoan seni rupa kelas dunia ini menyertakan karyanya “The Gunungan In Two Styles”, yang menceritakan tentang gunungan di konteks tradisi. Gunungan adalah simbol dari keselarasan hidup, keseimbangan hidup antara dunia bawah, dunia tengah, sama dunia atas.

Usai Diskusi (Foto: Asep GP)

Kang Ismet merespon bahwa demikian pentingnya para karuhun/ leluhur pada masyarakat tradisi dulu memperingatkan kita dengan Gunungan pada pertunjukan wayang, agar kita hidup dalam keseimbangan, dalam harmonisasi antara Dunia Bawah (urusan dosa dsb), Dunia Tengah (dunia materi,) dan Dunia Atas (alam spiritual),

Ismet menampilkan karyanya dalam 2 gaya, Surealisme dan Kubisme yang disatukan dalam satu frame, “Tujuannya untuk mensejajarkan konteks tradisi dengan konteks modern. Tujuannya juga sama dengan karya kang Supriatna, untuk melestarikan budaya bangsa. Bagaimana Si Gunungan ini harus sampai mancanagara dijadikan sebagai simbol keharmonisan dalam kehidupan,” demikian kata Kang Ismet.*** Asep GP.

Rekomendasi Produk