![]() |
| Hermana HMT, Ketua YKBM, saat peluncuran Panggung Teater Terbuka dan Rintisan Kampung Longser (26/9/2026). Foto: Istimewa |
Tatarjabar.com - Pada usia ke-30 tahun ini Bandoengmooi terus mengukuhkan keberadaannya dengan membuat tempat pertunjukan dan kegiatan budaya lainnya berupa Teater Terbuka dan melakukan Rintisan Kampung Longser di Kampung Ciawitali Kota Cimahi sekaligus sebagai sekretariat dan tempat pendidikan seni.
Hal itu terwujud usai Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi (YKBM) malang melintang, berjuang selama 30 tahun dalam dunia seni dan teater (utamanya teater tradisional). Peluncurannya dilaksanakan pada Milangkala YKBM ke-30 yang berlangsung Sabtu (26/9/2026), di Teater Terbuka Rintisan Kampung Longser, Ciawitali RT 02 RW 09, Citeureup, Kota Cimahi, dan diramaikan dengan pertunjukan seni longser (teater tradisional Jawa Barat) berjudul Munding Dongkol.
Ketua YBKM, Hermana HMT menyatakan peringatan 30 tahun Bandoengmooi merupakan ungkapan rasa syukur para pendiri, anggota dan generasi penerusnya yang sampai saat ini masih bisa menjaga asa, memelihara, mengembangkan, berinovasi bersama dan memberi warna di bidang kebudayaan.
“Alhamdulillah dalam kurun waktu 30 tahun, Komunitas Bandoeng Mooi bersama Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi dapat mengambil bagian sebagai penggerak pemajuan kebudayaan khususnya seni teater, musik, tari, pencak silat, ritus, kirab budaya dan permainan/olahraga tradisional,” ujar Hermana.
Selama berdiri menurut Hermana, Bandoengmooi senantiasa merekrut generasi muda untuk terlibat aktif berlatih akting, tari tradisional, musik tradisional, dan pencak silat, juga melakukan pertunjukan teater modern/tradisional, musik, tari, Kirab Budaya Ngarak Cai dan Bangbarongan Munding Dongkol, baik secara mandiri maupun memenuhi undangan dari instansi pemerintah, swasta dan komunitas.
“Bandoengmooi tidak mengikat atau mengekang anggotanya. Siapapun boleh masuk dan keluar, terpenting dedikasinya terus terjaga dalam menghidupkan seni yang digelutinya, baik menjadi pelaku langsung maupun sebatas pemerhati,” ungkapnya.
Berlatih di Bandoengmooi sepanjang tahun tidak dipungut biaya. Mereka dilatih tidak semata menguasai skill seni tertentu, tapi melalui seni yang digelutinya dirangsang mengasah, tubuh, jiwa dan pikirannya (meningkatkan kecerdasan) yang bermanfaat untuk menguatkan performa sebagai individu dalam menggeluti profesinya di luar seni.
“Teman-teman yang pernah terlibat di Bandoengmooi sekarang sudah ada yang menjadi dosen, pendidik di sekolah, bergulat di dunia usaha, menjadi seniman profesional, dan menjalani profesi lainnya. Menjadi kebanggaan saya adalah, mereka tidak melupakan seni yang telah menempa perjalanan hidupnya,” tandas Hermana.
“Bandoengmooi tidak mengikat atau mengekang anggotanya. Siapapun boleh masuk dan keluar, terpenting dedikasinya terus terjaga dalam menghidupkan seni yang digelutinya, baik menjadi pelaku langsung maupun sebatas pemerhati,” ungkapnya.
Berlatih di Bandoengmooi sepanjang tahun tidak dipungut biaya. Mereka dilatih tidak semata menguasai skill seni tertentu, tapi melalui seni yang digelutinya dirangsang mengasah, tubuh, jiwa dan pikirannya (meningkatkan kecerdasan) yang bermanfaat untuk menguatkan performa sebagai individu dalam menggeluti profesinya di luar seni.
“Teman-teman yang pernah terlibat di Bandoengmooi sekarang sudah ada yang menjadi dosen, pendidik di sekolah, bergulat di dunia usaha, menjadi seniman profesional, dan menjalani profesi lainnya. Menjadi kebanggaan saya adalah, mereka tidak melupakan seni yang telah menempa perjalanan hidupnya,” tandas Hermana.
Pada usia ke-30 tahun ini Bandoengmooi terus mengukuhkan keberadaannya dengan membuat tempat pertunjukan dan kegiatan budaya lainnya berupa Teater Terbuka dan melakukan Rintisan Kampung Longser di Kampung Ciawitali Kota Cimahi sekaligus sebagai sekretariat dan tempat pendidikan seni.
“Tempat itu pun terbuka untuk umum, seniman, budayawan, instansi pemerintah/swasta dan masyarakat bisa memanfaatkan untuk kegiatannya. Saya berharap tempat tersebut menjadi destinasi wisata baru di Kota Cimahi yang berbasis kebudayaan dan mampu mendongkrak perekonomian pelaku budaya yang terlibat dan masyarakat sekitarnya,” jelasnya.
Sementara itu, Walikota Cimahi, Letkol (Purn.) Ngatitana, S.A.P. dalam sambutannya yang dibacakan langsung Kepala Disbudparpora Kota Cimahi Drs. Dani Bastian mengatakan, budaya merupakan identitas yang menjadi warisan berharga dan telah mengakar kuat secara turun-temurun, menjadi sebuah sistem norma sosial yang mengikat dan menjadi pedoman hidup bermasyarakat.
“Untuk itu, apresiasi yang setinggi-tingginya saya haturkan kepada komunitas Bandoengmooi dan Yayasan Kebudayaaan Bandoeng Mooi, dengan semangat dan dedikasi tertingginya senantiasa memelihara, menggagas, dan menginisiasi kegiatan kebudayaan di Kota Cimahi. Mulai dari Kirab Budaya Ngarak Cai, Ngalokat Cai, hingga menciptakan Bangbarongan Munding Dongkol yang kini secara resmi telah menjadi budaya khas Kota Cimahi,” paparnya.
Jelas Ngatiyana, ini merupakan kebanggaan bagi kita semua, bahwa dari kota yang multikultur dan multietnis ini lahir kebudayaan asli yang menjadi ciri khas sekaligus identitas kearifan budaya lokal masyarakat Kota Cimahi.
“Di usia yang telah menginjak 30 tahun ini, Komunitas Bandoengmooi dan Yayasan Kebudayaan Bandoengmooi tidak hanya berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan seni tradisi Sunda, juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam rangka pemajuan kebudayaan, sekaligus merangsang tumbuh kembangnya potensi wisata berbasis budaya di Kota Cimahi,” katanya.
Hadirnya panggung/Teater Terbuka menjadi langkah awal yang diharapkan mampu mendorong kolaborasi masyarakat dalam memelihara budaya dan lingkungan hidup di Kota Cimahi secara berkelanjutan.
“Selain itu, pengembangan Rintisan Kampung Longser merupakan sebuah gagasan cerdas, agar semarak nilai-nilai budaya Sunda tidak pernah padam di tengah arus digital. Di tengah segala keterbatasan yang kita hadapi, mari sama-sama kita pupuk dan tumbuh kembangkan setiap potensi yang ada. Sebab langkah kecil yang kita injak ini adalah sebuah pondasi yang melandasi berdirinya masyarakat Kota Cimahi yang besar di masa depan,” pungkasnya.***Rls/Asep GP.
“Tempat itu pun terbuka untuk umum, seniman, budayawan, instansi pemerintah/swasta dan masyarakat bisa memanfaatkan untuk kegiatannya. Saya berharap tempat tersebut menjadi destinasi wisata baru di Kota Cimahi yang berbasis kebudayaan dan mampu mendongkrak perekonomian pelaku budaya yang terlibat dan masyarakat sekitarnya,” jelasnya.
Sementara itu, Walikota Cimahi, Letkol (Purn.) Ngatitana, S.A.P. dalam sambutannya yang dibacakan langsung Kepala Disbudparpora Kota Cimahi Drs. Dani Bastian mengatakan, budaya merupakan identitas yang menjadi warisan berharga dan telah mengakar kuat secara turun-temurun, menjadi sebuah sistem norma sosial yang mengikat dan menjadi pedoman hidup bermasyarakat.
“Untuk itu, apresiasi yang setinggi-tingginya saya haturkan kepada komunitas Bandoengmooi dan Yayasan Kebudayaaan Bandoeng Mooi, dengan semangat dan dedikasi tertingginya senantiasa memelihara, menggagas, dan menginisiasi kegiatan kebudayaan di Kota Cimahi. Mulai dari Kirab Budaya Ngarak Cai, Ngalokat Cai, hingga menciptakan Bangbarongan Munding Dongkol yang kini secara resmi telah menjadi budaya khas Kota Cimahi,” paparnya.
Jelas Ngatiyana, ini merupakan kebanggaan bagi kita semua, bahwa dari kota yang multikultur dan multietnis ini lahir kebudayaan asli yang menjadi ciri khas sekaligus identitas kearifan budaya lokal masyarakat Kota Cimahi.
“Di usia yang telah menginjak 30 tahun ini, Komunitas Bandoengmooi dan Yayasan Kebudayaan Bandoengmooi tidak hanya berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan seni tradisi Sunda, juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam rangka pemajuan kebudayaan, sekaligus merangsang tumbuh kembangnya potensi wisata berbasis budaya di Kota Cimahi,” katanya.
Hadirnya panggung/Teater Terbuka menjadi langkah awal yang diharapkan mampu mendorong kolaborasi masyarakat dalam memelihara budaya dan lingkungan hidup di Kota Cimahi secara berkelanjutan.
“Selain itu, pengembangan Rintisan Kampung Longser merupakan sebuah gagasan cerdas, agar semarak nilai-nilai budaya Sunda tidak pernah padam di tengah arus digital. Di tengah segala keterbatasan yang kita hadapi, mari sama-sama kita pupuk dan tumbuh kembangkan setiap potensi yang ada. Sebab langkah kecil yang kita injak ini adalah sebuah pondasi yang melandasi berdirinya masyarakat Kota Cimahi yang besar di masa depan,” pungkasnya.***Rls/Asep GP.


