Info Terkini
• Memuat berita terbaru...

Warli Haryana Suarakan Seni, Budaya, dan Kemanusiaan di Era AI pada Simposium Antara Bangsa – AI dalam Pendidikan (SAFF 2026)

Sunday, August 23, 2026 Tatarjabar.com

Dr. Warli Haryana, M.Pd., menyampaikan materi secara daring dalam International Symposium on AI in Education (SAFF 2026) di Kelantan, Malaysia, (19/8/2026). Foto: Istimewa.
KOTA BHARU, MALAYSIA — Praktisi seni dan akademisi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Warli Haryana, M.Pd., membawa perspektif seni, desain, budaya, dan kemanusiaan dalam merespons perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) pada International Symposium on AI in Education – SAFF 2026, dalam rangkaian Festival Filem Kelantan (FFK 2026) di Kota Bharu, Kelantan, Malaysia, Rabu, (19/8/2026).

Forum internasional yang melibatkan Universiti Malaysia Kelantan (UMK) tersebut mengangkat tema “Exploring the Impact of Artificial Intelligence in Education, Film and Creative Production.” Simposium mempertemukan akademisi, praktisi, dan profesional dari Indonesia dan Malaysia untuk mendiskusikan perkembangan AI serta pengaruhnya terhadap pendidikan, seni, desain, film, teknologi, dan industri kreatif.

Pada Session 1, rangkaian SAFF 2026 menghadirkan Dato’ Haji Jurey Latiff bin Mohd Rosli, President Persatuan Penerbit Televisyen Malaysia (PTVM), sebagai keynote speaker. Forum juga menghadirkan Assoc. Prof. Ahamad Tarmizi Azizan, Ps.D., Director Creative Accelerator Centre (CAC), Universiti Malaysia Kelantan; Assoc. Prof. Ts. Dr. Khairul Azhar Mat Daud, Deputy Director 1 CAC; serta Mohd Kamal bin Ariffin, Senior Lecturer pada Department of Design and Creative Technology, Universiti Malaysia Kelantan.

Dari Indonesia, selain Warli Haryana, hadir Prof. Dr. Wegig Murwonugroho dari Faculty of Art and Design, Trisakti University. Pertemuan lintas disiplin tersebut memperluas dialog tentang bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara produktif sekaligus kritis dalam pendidikan, seni, desain, film, dan produksi kreatif.

AI sebagai Asisten Kreatif, Manusia sebagai Pengarah

Dalam presentasinya bertajuk “Creative Arts, Cultural Diversity & AI for Global Diplomacy,” Warli menempatkan perkembangan AI dalam perjalanan panjang praktik kreatif manusia.

Ia mengusung prinsip “AI Supports, Humans Lead” — AI mendukung, manusia memimpin. Menurut Warli, dalam konteks seni dan desain, AI dapat ditempatkan sebagai creative assistant, sementara manusia tetap menjadi pengarah kreatif yang menentukan gagasan, rasa, nilai, makna, etika, dan keputusan akhir.

AI seperti alat baru di studio kita. Dulu kita menggunakan pensil, kuas, kamera, kemudian komputer dan aplikasi digital. Sekarang kita memiliki AI. Alatnya berubah, tetapi yang menentukan gagasan, rasa, makna, dan keputusan akhir tetap manusia,” ujar Warli.

Menurutnya, AI dapat membantu seniman dan desainer dalam ideasi, eksplorasi visual, pengembangan alternatif komposisi, storyboard, hingga kemungkinan media baru. Namun, AI tidak memiliki pengalaman manusia yang menjadi sumber utama sebuah karya.

Pandangan tersebut dirangkum dalam pesan: “AI can generate images, but humans must generate meaning” — AI dapat menghasilkan gambar, tetapi manusialah yang harus memberi makna.

Melalui karya-karyanya yang dimulai dari desain poster sosial dan budaya, Warli menjelaskan perkembangan proses kreatifnya, mulai dari teknik manual dengan sapuan kuas hingga penggunaan airbrush (teknik semprot), kemudian teknik digital melalui aplikasi desain grafis menggunakan komputer, laptop, dan Android. Ia juga menunjukkan beberapa karya manual dengan media akrilik di atas kanvas, seperti lukisan Wahyu Tohjali dan Jagad Lelana, serta karya seni digital dan eksplorasi karya seni melalui asisten AI.

Warli menjelaskan bagaimana proses kreatif dapat bergerak dari budaya dan refleksi, penciptaan manual, pengembangan digital, hingga eksplorasi berbantuan AI. Teknologi dapat berubah dan berkembang, tetapi gagasan asli serta makna budaya tetap berada dalam arah kreatif manusia.

Membawa Budaya ke Masa Depan Digital

Warli juga menawarkan lima pendekatan dalam menghadapi perkembangan AI, yakni Learn AI, Use AI, Question AI, Humanize AI, dan Culturalize AI. Gagasan tersebut bermuara pada prinsip “Culturalize AI, Not AI-ze Culture.”

Menurutnya, AI perlu digunakan untuk membawa kearifan lokal dan identitas budaya memasuki masa depan digital, bukan mereduksi kekayaan budaya menjadi sekadar gaya visual yang dihasilkan mesin. Autentisitas, konteks, etika, hak cipta, dan sensitivitas budaya harus tetap menjadi perhatian seniman, desainer, pendidik, maupun pengguna teknologi.

Simposium ini sekaligus membuka ruang penguatan kolaborasi Indonesia–Malaysia. Kedekatan warisan budaya kedua negara—seperti wayang, batik, songket, musik, dan cerita lokal—memiliki potensi dikembangkan melalui riset bersama, proyek mahasiswa, workshop literasi AI dan budaya, seni rupa, desain, film dan animasi berbasis warisan budaya, arsip digital, hingga pameran bersama.

Karya Warli Haryana: Menggunakan Teknik Digital

Budaya Memberi Akar, Kemanusiaan Memberi Makna

Pada bagian akhir presentasinya, Warli menyampaikan pesan: “Culture gives us roots, creativity gives us voice, technology gives us reach, and AI gives us possibilities. But humanity gives all of them meaning.”

Dalam perspektif seni dan desain, budaya memberi akar karena menjadi sumber identitas, nilai, simbol, cerita, dan inspirasi. Kreativitas memberi suara, yakni kemampuan seniman dan desainer mengolah pengalaman menjadi bahasa visual dan ekspresi personal. Teknologi memberi jangkauan, sehingga karya dan gagasan dapat berkomunikasi melampaui ruang geografis dan menjangkau masyarakat global.

Sementara itu, AI membuka kemungkinan, bukan memberikan jawaban akhir. Berbagai kemungkinan yang dihasilkan teknologi tetap membutuhkan manusia untuk memilih, mengkritisi, mengembangkan, dan menentukan relevansinya.

Karya Manual (kiri) dan Karya Digital berbantuan AI (kanan)
Pada akhirnya, menurut Warli, kemanusiaanlah yang memberi makna bagi semuanya. Seni tidak semata berbicara tentang visual yang menarik atau kecanggihan teknologi, tetapi juga pengalaman, rasa, empati, ingatan, nilai, harapan, dan kehidupan manusia.

Kehadiran akademisi dan praktisi Indonesia bersama para pakar Malaysia dalam forum internasional ini memperlihatkan bahwa perkembangan AI bukan hanya persoalan teknologi. AI juga menjadi ruang baru untuk membicarakan kreativitas, pendidikan, etika, seni, desain, budaya, film, serta masa depan kolaborasi lintas negara, dengan manusia dan nilai kemanusiaan tetap berada di pusatnya.*** Rls/Red/AGP/.

🔥 Racun Shopee Pilihan TatarJabar