Friday, August 14, 2026
![]() |
| Mantan Gubernur Jabar Ridwan Kamil tengah menunjukkan karya lukisnya pada Pameran Seni Rupa Komunitas Lingkaran Seni di GPK, Jalan Naripan, Bandung (10/8/2026). |
Hasil Penjualan Lukisan Disumbangkan untuk Korban Bencana Banjir di Tamiang Aceh
Ya, Mantan orang nomor satu Jawa Barat itu hadir di Pameran Lukisan Komunitas Lingkaran Seni, pada Senin (10/9/2026) di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK), Jl. Naripan Kota Bandung. Kang Emil bahkan berkesempatan membuka acara dan ikut memamerkan lukisannya dan sebagian hasil penjualannya akan disumbangkan untuk korban bencana Aceh Tamiang, seperti pelukis lainnya. Ia juga akan membantu dengan merekonstruksi, membangun 50 rumah yang ia buat khusus dari bahan kayu gelondongan yang terbawa banjir, yang telah meluluhlantakkan perkampungan penduduk Kabupaten Aceh Tamiang, akibat pembalakan hutan. Semoga setelah musibah menjadi berkah, katanya.
![]() |
| Kang Emil tengah membuka pameran bertajuk “Embracing The Journey” Komunitas Lingkaran Seni. |
Kehadiran Ridwan Kamil di pameran yang berlangsung dari 10–24 Agustus 2026 tersebut membuat suasana menjadi lebih cerah dan bergairah, dipenuhi canda, tawa, bahagia. Kedua belah pihak, masyarakat, seniman dan mantan pemimpin Jawa Barat ini pada-pada nyacapkeun kasono, saling menumpahkan kerinduan yang lama dipisahkan tempat (kini tinggal di Bali) dan keadaan. Akrab sekali, bahkan Kang Emil usai membuka acara dan foto bersama berkeliling, mengapresiasi puluhan karya seniman, satu per satu tanpa kecuali.
![]() |
| Mengapresiasi karya para seniman. |
Walau latar belakang pendidikannya Arsitek (ITB), tapi Kang Emil memang senang lukisan dan suka melukis. Berawal ketika menjadi gubernur Jabar (2019) ia mulai melukis, dan hingga kini sudah merampungkan 141 karya lukis.
![]() |
| Dr. Supriatna tengah menerangkan karyanya, “Sebelum Menari”, kepada Kang RK, didampingi Moya Kamaruddin (Ketua Komunitas Lingkaran Seni) dan Dede Priana (Kabiro Akademik dan Umum ISBI Bandung). |
Walau melukis hanya untuk mengekspresikan suasana hati, tidak dikomersialkan, tapi banyak temannya yang ke rumah meminta dan membeli lukisannya hingga ada yang laku 400 juta. Foto lukisannya pun banyak diburu pengusaha untuk dijadikan penghias produk merchandise, mulai dari jaket, dompet, suvenir, dsb., hingga ia mendapat banyak royalti.
Perkawinan lukisan dengan ekonomi produktif di Indonesia, kata Emil belum banyak terjadi oleh karenanya ia berharap para seniman Bandung bisa mencobanya untuk meningkatkan nilai ekonomi tanpa menjual lukisannya, hanya fotonya saja dan hak patennya tetap menjadi milik pelukisnya, hingga mendapat royalti.
![]() |
| Kaligrafi karya seorang wartawan (Foto: Hakim). |
Selain itu Emil juga akan meng-online-kan pameran ini agar teman-temannya dari mancanegara yang ada di Bali tahu karya-karya seniman Pasundan, hingga bisa membelinya dengan harga yang tinggi.
Ditemui wartawan di Jabarano Coffee Braga usai pameran, Emil mengaku sangat senang bisa berada di lingkungan para seniman Bandung, Jawa Barat, Indonesia, yang bisa menggunakan karyanya untuk kemanusiaan. Karena menurutnya seni itu multifungsi, bisa buat seni sendiri, bisa untuk menggerakkan pemikiran, bisa juga untuk membuat hasilnya jadi bermanfaat.
Menurut Emil karya-karya yang dipamerkan bagus-bagus dan sangat personal. Ada yang representasional atau sesuatu yang terlihat diulang dan ada yang sifatnya nonrepresentasional, abstrak, “Semoga kekompakan ini terjalin terus dan saya berterima kasih jadi bagian komunitas yang luar biasa ini,” pungkasnya.
Menurut Ketua Komunitas Lingkaran Seni sekaligus Ketua Penyelenggara, Moya Kamarudin, “Embracing The Journey” (Merangkul Perjalanan) -# Bandung Art Project 2 – 2026 ini merupakan kelanjutan dari Unity -# Bandung Art Project 1 – 2024, yaitu salah satu proyek seni berupa pameran lukisan yang diprakarsai oleh Komunitas Lingkaran Seni.
Komunitas Lingkaran Seni lahir dari kegelisahan beberapa orang pelukis Bandung yang ingin membentuk wadah bersama dalam menjalankan visi–misi bersama dalam berkarya. Pameran Lukisan ini dimaksudkan sebagai keberlanjutan keberadaan komunitas Lingkaran Seni yang mengutamakan kebersamaan, kesatuan, solidaritas, persatuan, kepedulian, dan kasih sayang yang berkelanjutan dalam banyak aspek kehidupan.
Senada dengan hal itu, Kurator Agus Cahyana mengatakan, “Embracing The Journey”: Merangkul Seni, Menginspirasi Kehidupan. Setiap perjalanan meninggalkan jejak di ingatan, pengalaman batin, dan berbagai bentuk ekspresi. Pameran Embracing The Journey menampilkan seni lukis sebagai cara untuk merangkul jejak-jejak itu. Perjalanan bukan cuma soal perpindahan, tetapi juga tentang mengalami, mengingat, menerima dan menafsirkan kembali kehidupan.
Kata Embracing mengandung sikap menerima beragam pengalaman yang membentuk manusia, kegembiraan, harapan, kegagalan, keraguan, kehilangan, serta kemungkinan untuk bangkit kembali. Sementara Journey menegaskan bahwa kehidupan bukanlah keadaan yang selesai, melainkan proses yang terus berlangsung. Pameran ini tidak hanya merayakan pencapaian, tapi juga menghargai jalan yang ditempuh untuk mencapainya.
“Realisme, figurasi, abstraksi, dekorasi, dan kaligrafi dalam pameran ini hadir sebagai bahasa visual untuk merekam perjalanan personal, sosial, historis kultural, dan spiritual. Sejumlah karya menghidupkan kembali ingatan mengenai sejarah bangsa Kota Bandung, sementara karya lainnya menghadirkan tradisi sebagai pengetahuan yang terus bergerak dan memperoleh makna baru. Figur manusia, alam, warna, tekstur, ritme dan aksara menjadi sarana untuk mengungkapkan identitas, kegundahan, harapan, pencarian batin, serta kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan,” papar Agus.
Makanya Komunitas Lingkaran Seni berkomitmen, sebagian hasil penjualan karya akan disalurkan kepada korban terdampak bencana banjir di Aceh Tamiang.
Sang Kurator juga menyoroti karya Supriatna, yang menurutnya pada zaman sekarang jarang dibuat perupa lainnya. Karya Supriatna menyatakan tentang identitas lokal yang berhubungan dengan penari (tradisi Sunda). Walaupun banyak yang kemudian melakukan abstraksi, tapi Supriatna bisa konsisten menampilkan penari sebagai objek dan semakin ke sini semakin beragam karyanya, awalnya ada yang sifatnya tunggal, kemudian berkelompok penarinya.
Istimewanya karya Supriatna, “Sebelum Menari” (diameter 100 cm) berbentuk lingkaran, memperlihatkan objek penari kadang bukan di atas panggung, tapi backstage, di belakang panggung, apa yang lepas dari pengamatan orang, ia hadirkan di atas kanvas.
“Sebetulnya ini meneruskan tradisi modern, kalau di Barat lebih ke objek Balet dan banyak yang kemudian mengambil tema bukan pertunjukan baletnya tetapi di belakang panggung. Nah Pak Pri seperti meneruskan itu, tapi dengan unsur identitas Sundanya. Ya sesuai dengan latar belakang pendidikannya dari alumni Seni Rupa ITB (S1-S2 FSRD-ITB-S3 Unpad) yang kental dengan teori Barat, dan sekarang jadi bagian dari ISBI Bandung (Wakil Rektor), yang kental dengan tradisi,” demikian kata Kurator Agus Cahyana. (Asep GP)***
Ridwan Kamil Hadir di Pameran Lukisan Komunitas Lingkaran Seni
Posted by
Tatarjabar.com on Friday, August 14, 2026
![]() |
| Mantan Gubernur Jabar Ridwan Kamil tengah menunjukkan karya lukisnya pada Pameran Seni Rupa Komunitas Lingkaran Seni di GPK, Jalan Naripan, Bandung (10/8/2026). |
Hasil Penjualan Lukisan Disumbangkan untuk Korban Bencana Banjir di Tamiang Aceh
Ya, Mantan orang nomor satu Jawa Barat itu hadir di Pameran Lukisan Komunitas Lingkaran Seni, pada Senin (10/9/2026) di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK), Jl. Naripan Kota Bandung. Kang Emil bahkan berkesempatan membuka acara dan ikut memamerkan lukisannya dan sebagian hasil penjualannya akan disumbangkan untuk korban bencana Aceh Tamiang, seperti pelukis lainnya. Ia juga akan membantu dengan merekonstruksi, membangun 50 rumah yang ia buat khusus dari bahan kayu gelondongan yang terbawa banjir, yang telah meluluhlantakkan perkampungan penduduk Kabupaten Aceh Tamiang, akibat pembalakan hutan. Semoga setelah musibah menjadi berkah, katanya.
![]() |
| Kang Emil tengah membuka pameran bertajuk “Embracing The Journey” Komunitas Lingkaran Seni. |
Kehadiran Ridwan Kamil di pameran yang berlangsung dari 10–24 Agustus 2026 tersebut membuat suasana menjadi lebih cerah dan bergairah, dipenuhi canda, tawa, bahagia. Kedua belah pihak, masyarakat, seniman dan mantan pemimpin Jawa Barat ini pada-pada nyacapkeun kasono, saling menumpahkan kerinduan yang lama dipisahkan tempat (kini tinggal di Bali) dan keadaan. Akrab sekali, bahkan Kang Emil usai membuka acara dan foto bersama berkeliling, mengapresiasi puluhan karya seniman, satu per satu tanpa kecuali.
![]() |
| Mengapresiasi karya para seniman. |
Walau latar belakang pendidikannya Arsitek (ITB), tapi Kang Emil memang senang lukisan dan suka melukis. Berawal ketika menjadi gubernur Jabar (2019) ia mulai melukis, dan hingga kini sudah merampungkan 141 karya lukis.
![]() |
| Dr. Supriatna tengah menerangkan karyanya, “Sebelum Menari”, kepada Kang RK, didampingi Moya Kamaruddin (Ketua Komunitas Lingkaran Seni) dan Dede Priana (Kabiro Akademik dan Umum ISBI Bandung). |
Walau melukis hanya untuk mengekspresikan suasana hati, tidak dikomersialkan, tapi banyak temannya yang ke rumah meminta dan membeli lukisannya hingga ada yang laku 400 juta. Foto lukisannya pun banyak diburu pengusaha untuk dijadikan penghias produk merchandise, mulai dari jaket, dompet, suvenir, dsb., hingga ia mendapat banyak royalti.
Perkawinan lukisan dengan ekonomi produktif di Indonesia, kata Emil belum banyak terjadi oleh karenanya ia berharap para seniman Bandung bisa mencobanya untuk meningkatkan nilai ekonomi tanpa menjual lukisannya, hanya fotonya saja dan hak patennya tetap menjadi milik pelukisnya, hingga mendapat royalti.
![]() |
| Kaligrafi karya seorang wartawan (Foto: Hakim). |
Selain itu Emil juga akan meng-online-kan pameran ini agar teman-temannya dari mancanegara yang ada di Bali tahu karya-karya seniman Pasundan, hingga bisa membelinya dengan harga yang tinggi.
Ditemui wartawan di Jabarano Coffee Braga usai pameran, Emil mengaku sangat senang bisa berada di lingkungan para seniman Bandung, Jawa Barat, Indonesia, yang bisa menggunakan karyanya untuk kemanusiaan. Karena menurutnya seni itu multifungsi, bisa buat seni sendiri, bisa untuk menggerakkan pemikiran, bisa juga untuk membuat hasilnya jadi bermanfaat.
Menurut Emil karya-karya yang dipamerkan bagus-bagus dan sangat personal. Ada yang representasional atau sesuatu yang terlihat diulang dan ada yang sifatnya nonrepresentasional, abstrak, “Semoga kekompakan ini terjalin terus dan saya berterima kasih jadi bagian komunitas yang luar biasa ini,” pungkasnya.
Menurut Ketua Komunitas Lingkaran Seni sekaligus Ketua Penyelenggara, Moya Kamarudin, “Embracing The Journey” (Merangkul Perjalanan) -# Bandung Art Project 2 – 2026 ini merupakan kelanjutan dari Unity -# Bandung Art Project 1 – 2024, yaitu salah satu proyek seni berupa pameran lukisan yang diprakarsai oleh Komunitas Lingkaran Seni.
Komunitas Lingkaran Seni lahir dari kegelisahan beberapa orang pelukis Bandung yang ingin membentuk wadah bersama dalam menjalankan visi–misi bersama dalam berkarya. Pameran Lukisan ini dimaksudkan sebagai keberlanjutan keberadaan komunitas Lingkaran Seni yang mengutamakan kebersamaan, kesatuan, solidaritas, persatuan, kepedulian, dan kasih sayang yang berkelanjutan dalam banyak aspek kehidupan.
Senada dengan hal itu, Kurator Agus Cahyana mengatakan, “Embracing The Journey”: Merangkul Seni, Menginspirasi Kehidupan. Setiap perjalanan meninggalkan jejak di ingatan, pengalaman batin, dan berbagai bentuk ekspresi. Pameran Embracing The Journey menampilkan seni lukis sebagai cara untuk merangkul jejak-jejak itu. Perjalanan bukan cuma soal perpindahan, tetapi juga tentang mengalami, mengingat, menerima dan menafsirkan kembali kehidupan.
Kata Embracing mengandung sikap menerima beragam pengalaman yang membentuk manusia, kegembiraan, harapan, kegagalan, keraguan, kehilangan, serta kemungkinan untuk bangkit kembali. Sementara Journey menegaskan bahwa kehidupan bukanlah keadaan yang selesai, melainkan proses yang terus berlangsung. Pameran ini tidak hanya merayakan pencapaian, tapi juga menghargai jalan yang ditempuh untuk mencapainya.
“Realisme, figurasi, abstraksi, dekorasi, dan kaligrafi dalam pameran ini hadir sebagai bahasa visual untuk merekam perjalanan personal, sosial, historis kultural, dan spiritual. Sejumlah karya menghidupkan kembali ingatan mengenai sejarah bangsa Kota Bandung, sementara karya lainnya menghadirkan tradisi sebagai pengetahuan yang terus bergerak dan memperoleh makna baru. Figur manusia, alam, warna, tekstur, ritme dan aksara menjadi sarana untuk mengungkapkan identitas, kegundahan, harapan, pencarian batin, serta kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan,” papar Agus.
Makanya Komunitas Lingkaran Seni berkomitmen, sebagian hasil penjualan karya akan disalurkan kepada korban terdampak bencana banjir di Aceh Tamiang.
Sang Kurator juga menyoroti karya Supriatna, yang menurutnya pada zaman sekarang jarang dibuat perupa lainnya. Karya Supriatna menyatakan tentang identitas lokal yang berhubungan dengan penari (tradisi Sunda). Walaupun banyak yang kemudian melakukan abstraksi, tapi Supriatna bisa konsisten menampilkan penari sebagai objek dan semakin ke sini semakin beragam karyanya, awalnya ada yang sifatnya tunggal, kemudian berkelompok penarinya.
Istimewanya karya Supriatna, “Sebelum Menari” (diameter 100 cm) berbentuk lingkaran, memperlihatkan objek penari kadang bukan di atas panggung, tapi backstage, di belakang panggung, apa yang lepas dari pengamatan orang, ia hadirkan di atas kanvas.
“Sebetulnya ini meneruskan tradisi modern, kalau di Barat lebih ke objek Balet dan banyak yang kemudian mengambil tema bukan pertunjukan baletnya tetapi di belakang panggung. Nah Pak Pri seperti meneruskan itu, tapi dengan unsur identitas Sundanya. Ya sesuai dengan latar belakang pendidikannya dari alumni Seni Rupa ITB (S1-S2 FSRD-ITB-S3 Unpad) yang kental dengan teori Barat, dan sekarang jadi bagian dari ISBI Bandung (Wakil Rektor), yang kental dengan tradisi,” demikian kata Kurator Agus Cahyana. (Asep GP)***





















