Wednesday, August 12, 2026
![]() |
| Dari kiri: Kurator Rahmat Jabbaril, Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan, Gina Puspitasari, dan Tata Sutaryat dalam pembukaan Pameran Seni Rupa SORARUPA di Plataran Bandung (9/8/2026). |
Sorarupa: Menafsir Bunyi Menjadi Rupa, menghadirkan karya-karya yang lahir dari perjumpaan antara bunyi, pengalaman, dan ekspresi visual. Sebuah ruang untuk menikmati seni, berdialog, dan merayakan kreativitas bersama.
Pameran Seni Rupa Kontemporer yang diinisiasi Rumah Seni Ropih bersama Plataran Bandung ini, berlangsung mulai dari tanggal 9 Agustus 2026 hingga 30 Agustus 2026 di Plataran Bandung, Jl. Diponegoro No. 27, Kota Bandung.
![]() |
| Pengguntingan Pita |
Menampilkan 9 Seniman: Dede Ginanjar, Tata Sutaryat, Dede Mahyudin, Rizkan Gumilang, Lian Kyla Kizhaya Sulwen, Zalu Adhiyat, Azizah Permata Qalbu, Defany Sri Nurbudi, dan Agus.nsb.
Pada sesi Pembukaan, Minggu (9/8/2026), hadir Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., yang sekaligus membuka acara, kurator Rahmat Jabbaril, Tata Sutaryat, Gina Puspitasari (Ketua Rumah Seni Ropih), para seniman dan budayawan, serta para pelajar dan mahasiswa Bandung, bahkan ada dua orang mahasiswa dari Cirebon yang sengaja datang menghadiri pembukaan pameran, Muhammad Afana Fitro (LPK Minori) dan Fikhar Moh. Akram, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon, Angkatan 2024.
Pada sesi Pembukaan, Minggu (9/8/2026), hadir Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., yang sekaligus membuka acara, kurator Rahmat Jabbaril, Tata Sutaryat, Gina Puspitasari (Ketua Rumah Seni Ropih), para seniman dan budayawan, serta para pelajar dan mahasiswa Bandung, bahkan ada dua orang mahasiswa dari Cirebon yang sengaja datang menghadiri pembukaan pameran, Muhammad Afana Fitro (LPK Minori) dan Fikhar Moh. Akram, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon, Angkatan 2024.
![]() |
| Tata Sutaryat dengan lukisannya “Nojer ka Bagal Buana” yang sarat dengan falsafah Sunda. |
Dalam sambutannya Kadisbudpar Kota Bandung mengatakan, Pemerintah Kota Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap Rumah Seni Ropih terus konsisten memberikan ruang kreativitas melalui kegiatan seni rupa, pelestarian budaya, edukasi seni juga kolaborasi bersama masyarakat.
“Kami dari Disbudpar Kota Bandung, alhamdulillah dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Seni Ropih, tentu menjadi ruang ekspresi bagi senimannya, kemudian edukasi budaya tentang memperkuat kolaborasi karya ekosistem seni di Kota Bandung terus makin sibuk, “ kata Adi.
“Kami dari Disbudpar Kota Bandung, alhamdulillah dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Seni Ropih, tentu menjadi ruang ekspresi bagi senimannya, kemudian edukasi budaya tentang memperkuat kolaborasi karya ekosistem seni di Kota Bandung terus makin sibuk, “ kata Adi.
![]() |
| Rizkan Gumilang bersama Kadisbudpar Kota Bandung dengan latar karya patung Kacapi Parahu dan Piul/Biolanya. |
“Kami yakin bahwa sebuah kota itu maju bukan hanya dibangun oleh infrastruktur, materi, tetapi yang lebih penting adalah masyarakat yang terus menjaga kreativitasnya, berbudaya. Dan sebenarnya hati kita menjadi kering kalau tidak disentuh seni dan budaya. Hanya menghadapi polutan-polutan materi yang terkadang menghilangkan suara hati nurani (Adi mencontohkan penebangan pohon di pinggir jalan di Kota Bandung untuk kepentingan toko atau tempat usaha adalah perbuatan tidak berbudaya). Jadi kegiatan ini sangat baik dan terus menjangkau identitas kita, dan ini sebetulnya yang akan menjadi ruh dari pembangunan di kota kita, “ pungkasnya.
Demikian juga dari pihak Plataran Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada Rumah Seni Ropih yang menggelar pameran di salah satu venue yang ada di Plataran Bandung, Gallery of Old Bandung Paris Van Java, sebuah lorong yang dipersiapkan khusus untuk menampung karya para seniman yang ada di Kota Bandung.
Demikian juga dari pihak Plataran Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada Rumah Seni Ropih yang menggelar pameran di salah satu venue yang ada di Plataran Bandung, Gallery of Old Bandung Paris Van Java, sebuah lorong yang dipersiapkan khusus untuk menampung karya para seniman yang ada di Kota Bandung.
![]() |
| Mahasiswa dari Cirebon, Fikhar (kiri) dan Muhammad Afana (kanan) bersama perupa Lian Kyla Kizhaya Sulwen dan karyanya. |
“Plataran Bandung sangat berterima kasih dan mengapresiasi besar kepada Rumah Seni Ropih dan juga para seniman yang ikut memeriahkan acara pameran yang dibuka Kadisbudpar Kota Bandung, yang berlangsung mulai dari 9-30 Agustus 2026 ini, “ demikian dikatakan Auryn, Marcom (Marketing Communication/Humas) Plataran Bandung, kepada wartawan.
Auryn juga mempersilakan publik seni Bandung yang akan mengapresiasi, melihat karya seni dari Rumah Seni Ropih ini tanpa dipungut bayaran alias gratis.
Auryn juga mempersilakan publik seni Bandung yang akan mengapresiasi, melihat karya seni dari Rumah Seni Ropih ini tanpa dipungut bayaran alias gratis.
Bahkan kata Auryn Plataran Bandung sangat terbuka bagi para seniman Bandung yang akan menggelar karya di galerinya. Tinggal menghubungi marcom-nya saja.
“Terus berkembang karya seni, terus maju seniman-seniman Indonesia, khususnya para seniman Bandung. Jangan takut berkarya karena semua karya itu bagus tidak ada yang jelek. Semua karya punya nilai seninya masing-masing dan layak untuk ditampilkan di khalayak umum, “ tandasnya.
Nilai-nilai filosofi Tembang Cianjuran dan Manuskrip Sunda Dalam Kanvas Tata Sutaryat
Menarik disimak karya Tata Sutaryat yang menampilkan bentuk geometri segitiga tidak seperti umumnya karya yang persegi panjang. Tata menggunakan bidang 3 (Tiga) dalam struktur kanvasnya, karena segitiga dalam struktur geometri adalah gabungan dari beberapa garis yang paling sederhana dan paling kuat dibanding segi 4 yang bisa goyah. Segi 3 membentuk suatu kekuatan geometri, kekuatan saling menopang yang lebih kuat - kokoh. Dan ini juga sering diaplikasikan ke struktur jembatan, besi betonnya memakai pola 3 agar kuat dan kokoh.
“Terus berkembang karya seni, terus maju seniman-seniman Indonesia, khususnya para seniman Bandung. Jangan takut berkarya karena semua karya itu bagus tidak ada yang jelek. Semua karya punya nilai seninya masing-masing dan layak untuk ditampilkan di khalayak umum, “ tandasnya.
Nilai-nilai filosofi Tembang Cianjuran dan Manuskrip Sunda Dalam Kanvas Tata Sutaryat
Menarik disimak karya Tata Sutaryat yang menampilkan bentuk geometri segitiga tidak seperti umumnya karya yang persegi panjang. Tata menggunakan bidang 3 (Tiga) dalam struktur kanvasnya, karena segitiga dalam struktur geometri adalah gabungan dari beberapa garis yang paling sederhana dan paling kuat dibanding segi 4 yang bisa goyah. Segi 3 membentuk suatu kekuatan geometri, kekuatan saling menopang yang lebih kuat - kokoh. Dan ini juga sering diaplikasikan ke struktur jembatan, besi betonnya memakai pola 3 agar kuat dan kokoh.
Kata Tata bidang tiga juga ada dalam Filosofi Tilu Sunda, pola tiga Sunda, Kosmologi Sunda Tri Tangtu di Bhuana, “Kalau di Sunda ada Rama-Resi-Ratu. Konsep yang yang diwariskan turun-temurun dari karuhun Sunda yang bisa diterapkan dalam ketatanegaraan dan diri pribadi juga pada konstruksi bangunan atau jembatan agar kuat dan kokoh. Karena memang struktur Geometri yang paling kokoh adalah segitiga, “ terangnya.
Filosofi, gambaran yang diambil, adalah bagaimana nilai-nilai filosofi dalam Tembang Sunda Cianjuran digambarkan dalam kanvas. Salah satunya lagu Pangapungan yang diaplikasikan ke dalam lukisannya yang berjudul “Nojer ka Bagal Buana”. Kata Tata Lagu Pangapungan yang termasuk ke dalam kelompok wanda Papantunan (bersumber dari lagu-lagu pantun), yang selalu didahului oleh Papatet Ratu menggambarkan proses naik ke jabaning langit seperti dalam cerita pantun Mundinglaya Dikusumah, di mana Munding Laya naik ke langit untuk mengambil Layang Salaka Domas yang dijaga Guriang 7 (gambaran perjuangan keras meraih cita-cita yang banyak rintangannya, dan harus dihadapi dengan kesabaran dan kebersihan hati dengan menaklukkan Guriang 7, simbol jurig, Duruwiksa atau simbol 7 lubang yang ada dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan ditata peruntukannya).
Filosofi, gambaran yang diambil, adalah bagaimana nilai-nilai filosofi dalam Tembang Sunda Cianjuran digambarkan dalam kanvas. Salah satunya lagu Pangapungan yang diaplikasikan ke dalam lukisannya yang berjudul “Nojer ka Bagal Buana”. Kata Tata Lagu Pangapungan yang termasuk ke dalam kelompok wanda Papantunan (bersumber dari lagu-lagu pantun), yang selalu didahului oleh Papatet Ratu menggambarkan proses naik ke jabaning langit seperti dalam cerita pantun Mundinglaya Dikusumah, di mana Munding Laya naik ke langit untuk mengambil Layang Salaka Domas yang dijaga Guriang 7 (gambaran perjuangan keras meraih cita-cita yang banyak rintangannya, dan harus dihadapi dengan kesabaran dan kebersihan hati dengan menaklukkan Guriang 7, simbol jurig, Duruwiksa atau simbol 7 lubang yang ada dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan ditata peruntukannya).
Tata juga memvisualkan warna-warna dalam lagu pangapungan rumpaka ka-4 ke dalam lukisan Nojer ka Bagal Buana, “NepI kana mega bodas, mega kayas, mega jingga, mega paul., mega hideung,” hingga ujung dari lukisan segitiganya yang berwarna Emas, Layang Salaka Domas (gambaran penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa atas segala usaha).
Lukisan keduanya berjudul, “Itu Gunung Naon”, yang inspirasinya dari lagu Nataan Gunung yang tiap baitnya selalu diakhiri dengan “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa). Gambaran dari akal, pikiran, otak atau kepala manusia (gambaran gunung yang ada pada diri manusia). Jadi menurut Tata “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa), sama dengan bertanya, “Itu manusia yang bagaimana/seperti apa.”
Lukisan keduanya berjudul, “Itu Gunung Naon”, yang inspirasinya dari lagu Nataan Gunung yang tiap baitnya selalu diakhiri dengan “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa). Gambaran dari akal, pikiran, otak atau kepala manusia (gambaran gunung yang ada pada diri manusia). Jadi menurut Tata “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa), sama dengan bertanya, “Itu manusia yang bagaimana/seperti apa.”
Dan ini kata Tata masih ada korelasinya dengan lukisan Nojer ka Bagal Buana, “Jadi Guriang 7 itu ada di gunung manusia, ada di 7 lubang yang ada di Kepala kita, “ katanya pasti.
Tata juga membandingkan Nataan Gunung ini dengan naskah Sunda Kuna Bujangga Manik (yang sekarang lagi booming diteliti Prof. Bagus Mulyadi), “Saya setahun lalu mencoba membandingkan sebuah manuskrip lalampahan Bujangga Manik yang menelusuri gunung dan sungai yang detail dan nyata itu dengan lagu Nataan Gunung Cianjuran dan ternyata ada 80% kesamaan. Berarti lagu Nataan Gunung bukan hanya menceritakan perasaan lewat lagu saja, tapi itu memang menceritakan letak gunung-gunung di Tatar Sunda,” paparnya.
Tata juga membandingkan Nataan Gunung ini dengan naskah Sunda Kuna Bujangga Manik (yang sekarang lagi booming diteliti Prof. Bagus Mulyadi), “Saya setahun lalu mencoba membandingkan sebuah manuskrip lalampahan Bujangga Manik yang menelusuri gunung dan sungai yang detail dan nyata itu dengan lagu Nataan Gunung Cianjuran dan ternyata ada 80% kesamaan. Berarti lagu Nataan Gunung bukan hanya menceritakan perasaan lewat lagu saja, tapi itu memang menceritakan letak gunung-gunung di Tatar Sunda,” paparnya.
Lukisan ketiga “Cancandran”, inspirasinya dari lagu Sunda Mekar. Ada visi-misi, keduanya lebih menggambarkan alamnya dan yang ketiga seuweu–siwi Siliwangi. Jadi lebih ke gambaran dalam memelihara alam warisan karuhun yang harus bisa diwariskan ka generasi saterusnya dengan utuh, tidak dirusak, tidak dikurangi apalagi untuk dieksploitasi demi keuntungan pribadi, karena kita bukan pemilik tapi meneruskan, “Harus seperti meneruskan tongkat estafet lah, utuh, tidak dikurangi, kalau sekilo ya sekilo, sebongkah, segram, ya segitu tidak dikurangi, “ tuturnya.
Dan Tata membuktikan itu semua, putranya, Rizkan Gumilang siap meneruskan tongkat estafet dari bapaknya. Dalam pameran ini Rizkan ikut menampilkan karya patungnya yang berbentuk Kacapi Parahu dan Piul/Biola dari bahan kawat.
Dan Tata membuktikan itu semua, putranya, Rizkan Gumilang siap meneruskan tongkat estafet dari bapaknya. Dalam pameran ini Rizkan ikut menampilkan karya patungnya yang berbentuk Kacapi Parahu dan Piul/Biola dari bahan kawat.
Menurut Tata, Rizkan memang dari kecil sudah akrab dengan kacapi dikenalkan bapak, demikian juga kakaknya Eviani Amalia menyukai biola hingga sekarang pun menjadi guru biola. Ternyata setelah ditelusuri kakeknya pun pemaen piul/biola Sunda. Demikian dikatakan Tata kepada wartawan usai pembukaan pameran dan diskusi.
Menurut Kurator Rahmat Jabbaril, ini adalah kali kedua dia mengkuratori pameran keluragan almarhum Abah Ropih. Kali ini temanya tentang Sora Rupa yang berhubungan dengan musik. Karena kebetulan hampir dari seluruh peserta punya pengalaman atau ada hubungannya dengan dunia musik, baik tradisi maupun modern.
Menurut Rahmat ini sesuatu yang cukup menarik. Karena selama ini seni rupa hanya dilihat dari perspektif seni rupanya saja tidak dilihat dari perspektif musik.
Menurut Kurator Rahmat Jabbaril, ini adalah kali kedua dia mengkuratori pameran keluragan almarhum Abah Ropih. Kali ini temanya tentang Sora Rupa yang berhubungan dengan musik. Karena kebetulan hampir dari seluruh peserta punya pengalaman atau ada hubungannya dengan dunia musik, baik tradisi maupun modern.
Menurut Rahmat ini sesuatu yang cukup menarik. Karena selama ini seni rupa hanya dilihat dari perspektif seni rupanya saja tidak dilihat dari perspektif musik.
Dia mencoba mengelaborasi kesadaran apa itu musik dan apa itu seni rupa, “Nah saya berpikiran musik dan seni rupa itu kesatuan utuh yang tidak bisa dilepaskan. Seolah-olah musik berdiri sendiri padahal dia berhubungan dengan bentuk rupa, begitu juga sebaliknya. Jadi musik dan rupa selalu akan saling berkaitan satu sama lain, “ tegas Rahmat.
Rahmat juga mengatakan, dilihat dari perspektif kodratnya musik dan rupa itu semacam hukum alam yang tidak bisa dipungkiri bahwa ujungnya ke bunyi. Bunyi sama rupa, wujud, itu adalah kesemestaan, realitas semesta yang kemudian irama bunyi yang membentuk irama itu menjadi nada kehidupan, bisa menjadi musik yang sesungguhnya, bisa juga dalam perjalanan laku hidup. Itu juga sebagai nada hidup.
“Nah bagaimana ujungnya dari semua nada ini, sebetulnya tidak berujung. Si Nada ini akan terus berkembang, bagai spiral, antara rupa dan bunyi itu selalu begitu. Makanya tidak ada istilah endisme, dia akan tumbuh terus menjadi apa dan apa, dan seterusnya. Misalnya dalam kehidupan manusia setelah kematian ada kehidupan lagi. Itu tidak bisa dipungkiri. Seperti juga tergambarkan pada kenyataan hidup kita, kita tidur pun ada kehidupan – dalam ketidaksadaran itu ada kehidupan, dalam bentuk mimpi,” demikian pungkas Rahmat Jabbaril.
***
Event selanjutnya dari pameran ini, Workshop Melukis Bunyi – KSS Experience yang akan berlangsung Minggu 30 Agustus 2026 mulai Pk. 14.00-17.00 di Plataran Bandung.
Bagaimana jika bunyi yang kita dengarkan dapat diterjemahkan menjadi warna, garis, bentuk, dan lukisan?
Dalam workshop ini peserta diajak untuk: Mendengar – Merasakan – Menafsirkan – Melukiskan bunyi menjadi karya visual.
Acara akan diawali Special Performance String Ensemble YMS Bandung, dilanjutkan dengan pengalaman kreatif KSS Experience.
Para peserta workshop akan mendapat alat dan bahan lukis, coffee break, hasil lukisan, dan sertifikat digital dengan membayar Rp150.000 untuk Pelajar/Mahasiswa dan Rp300.000 untuk peserta Umum/Profesional. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
August 12, 2026
CB Blogger
IndonesiaRahmat juga mengatakan, dilihat dari perspektif kodratnya musik dan rupa itu semacam hukum alam yang tidak bisa dipungkiri bahwa ujungnya ke bunyi. Bunyi sama rupa, wujud, itu adalah kesemestaan, realitas semesta yang kemudian irama bunyi yang membentuk irama itu menjadi nada kehidupan, bisa menjadi musik yang sesungguhnya, bisa juga dalam perjalanan laku hidup. Itu juga sebagai nada hidup.
“Nah bagaimana ujungnya dari semua nada ini, sebetulnya tidak berujung. Si Nada ini akan terus berkembang, bagai spiral, antara rupa dan bunyi itu selalu begitu. Makanya tidak ada istilah endisme, dia akan tumbuh terus menjadi apa dan apa, dan seterusnya. Misalnya dalam kehidupan manusia setelah kematian ada kehidupan lagi. Itu tidak bisa dipungkiri. Seperti juga tergambarkan pada kenyataan hidup kita, kita tidur pun ada kehidupan – dalam ketidaksadaran itu ada kehidupan, dalam bentuk mimpi,” demikian pungkas Rahmat Jabbaril.
***
Event selanjutnya dari pameran ini, Workshop Melukis Bunyi – KSS Experience yang akan berlangsung Minggu 30 Agustus 2026 mulai Pk. 14.00-17.00 di Plataran Bandung.
Bagaimana jika bunyi yang kita dengarkan dapat diterjemahkan menjadi warna, garis, bentuk, dan lukisan?
Dalam workshop ini peserta diajak untuk: Mendengar – Merasakan – Menafsirkan – Melukiskan bunyi menjadi karya visual.
Acara akan diawali Special Performance String Ensemble YMS Bandung, dilanjutkan dengan pengalaman kreatif KSS Experience.
Para peserta workshop akan mendapat alat dan bahan lukis, coffee break, hasil lukisan, dan sertifikat digital dengan membayar Rp150.000 untuk Pelajar/Mahasiswa dan Rp300.000 untuk peserta Umum/Profesional. (Asep GP)***
Pameran Seni Rupa SORARUPA: Menafsir Bunyi Menjadi Rupa
Posted by
Tatarjabar.com on Wednesday, August 12, 2026
![]() |
| Dari kiri: Kurator Rahmat Jabbaril, Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan, Gina Puspitasari, dan Tata Sutaryat dalam pembukaan Pameran Seni Rupa SORARUPA di Plataran Bandung (9/8/2026). |
Sorarupa: Menafsir Bunyi Menjadi Rupa, menghadirkan karya-karya yang lahir dari perjumpaan antara bunyi, pengalaman, dan ekspresi visual. Sebuah ruang untuk menikmati seni, berdialog, dan merayakan kreativitas bersama.
Pameran Seni Rupa Kontemporer yang diinisiasi Rumah Seni Ropih bersama Plataran Bandung ini, berlangsung mulai dari tanggal 9 Agustus 2026 hingga 30 Agustus 2026 di Plataran Bandung, Jl. Diponegoro No. 27, Kota Bandung.
![]() |
| Pengguntingan Pita |
Menampilkan 9 Seniman: Dede Ginanjar, Tata Sutaryat, Dede Mahyudin, Rizkan Gumilang, Lian Kyla Kizhaya Sulwen, Zalu Adhiyat, Azizah Permata Qalbu, Defany Sri Nurbudi, dan Agus.nsb.
Pada sesi Pembukaan, Minggu (9/8/2026), hadir Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., yang sekaligus membuka acara, kurator Rahmat Jabbaril, Tata Sutaryat, Gina Puspitasari (Ketua Rumah Seni Ropih), para seniman dan budayawan, serta para pelajar dan mahasiswa Bandung, bahkan ada dua orang mahasiswa dari Cirebon yang sengaja datang menghadiri pembukaan pameran, Muhammad Afana Fitro (LPK Minori) dan Fikhar Moh. Akram, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon, Angkatan 2024.
Pada sesi Pembukaan, Minggu (9/8/2026), hadir Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., yang sekaligus membuka acara, kurator Rahmat Jabbaril, Tata Sutaryat, Gina Puspitasari (Ketua Rumah Seni Ropih), para seniman dan budayawan, serta para pelajar dan mahasiswa Bandung, bahkan ada dua orang mahasiswa dari Cirebon yang sengaja datang menghadiri pembukaan pameran, Muhammad Afana Fitro (LPK Minori) dan Fikhar Moh. Akram, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon, Angkatan 2024.
![]() |
| Tata Sutaryat dengan lukisannya “Nojer ka Bagal Buana” yang sarat dengan falsafah Sunda. |
Dalam sambutannya Kadisbudpar Kota Bandung mengatakan, Pemerintah Kota Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap Rumah Seni Ropih terus konsisten memberikan ruang kreativitas melalui kegiatan seni rupa, pelestarian budaya, edukasi seni juga kolaborasi bersama masyarakat.
“Kami dari Disbudpar Kota Bandung, alhamdulillah dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Seni Ropih, tentu menjadi ruang ekspresi bagi senimannya, kemudian edukasi budaya tentang memperkuat kolaborasi karya ekosistem seni di Kota Bandung terus makin sibuk, “ kata Adi.
“Kami dari Disbudpar Kota Bandung, alhamdulillah dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Seni Ropih, tentu menjadi ruang ekspresi bagi senimannya, kemudian edukasi budaya tentang memperkuat kolaborasi karya ekosistem seni di Kota Bandung terus makin sibuk, “ kata Adi.
![]() |
| Rizkan Gumilang bersama Kadisbudpar Kota Bandung dengan latar karya patung Kacapi Parahu dan Piul/Biolanya. |
“Kami yakin bahwa sebuah kota itu maju bukan hanya dibangun oleh infrastruktur, materi, tetapi yang lebih penting adalah masyarakat yang terus menjaga kreativitasnya, berbudaya. Dan sebenarnya hati kita menjadi kering kalau tidak disentuh seni dan budaya. Hanya menghadapi polutan-polutan materi yang terkadang menghilangkan suara hati nurani (Adi mencontohkan penebangan pohon di pinggir jalan di Kota Bandung untuk kepentingan toko atau tempat usaha adalah perbuatan tidak berbudaya). Jadi kegiatan ini sangat baik dan terus menjangkau identitas kita, dan ini sebetulnya yang akan menjadi ruh dari pembangunan di kota kita, “ pungkasnya.
Demikian juga dari pihak Plataran Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada Rumah Seni Ropih yang menggelar pameran di salah satu venue yang ada di Plataran Bandung, Gallery of Old Bandung Paris Van Java, sebuah lorong yang dipersiapkan khusus untuk menampung karya para seniman yang ada di Kota Bandung.
Demikian juga dari pihak Plataran Bandung sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada Rumah Seni Ropih yang menggelar pameran di salah satu venue yang ada di Plataran Bandung, Gallery of Old Bandung Paris Van Java, sebuah lorong yang dipersiapkan khusus untuk menampung karya para seniman yang ada di Kota Bandung.
![]() |
| Mahasiswa dari Cirebon, Fikhar (kiri) dan Muhammad Afana (kanan) bersama perupa Lian Kyla Kizhaya Sulwen dan karyanya. |
“Plataran Bandung sangat berterima kasih dan mengapresiasi besar kepada Rumah Seni Ropih dan juga para seniman yang ikut memeriahkan acara pameran yang dibuka Kadisbudpar Kota Bandung, yang berlangsung mulai dari 9-30 Agustus 2026 ini, “ demikian dikatakan Auryn, Marcom (Marketing Communication/Humas) Plataran Bandung, kepada wartawan.
Auryn juga mempersilakan publik seni Bandung yang akan mengapresiasi, melihat karya seni dari Rumah Seni Ropih ini tanpa dipungut bayaran alias gratis.
Auryn juga mempersilakan publik seni Bandung yang akan mengapresiasi, melihat karya seni dari Rumah Seni Ropih ini tanpa dipungut bayaran alias gratis.
Bahkan kata Auryn Plataran Bandung sangat terbuka bagi para seniman Bandung yang akan menggelar karya di galerinya. Tinggal menghubungi marcom-nya saja.
“Terus berkembang karya seni, terus maju seniman-seniman Indonesia, khususnya para seniman Bandung. Jangan takut berkarya karena semua karya itu bagus tidak ada yang jelek. Semua karya punya nilai seninya masing-masing dan layak untuk ditampilkan di khalayak umum, “ tandasnya.
Nilai-nilai filosofi Tembang Cianjuran dan Manuskrip Sunda Dalam Kanvas Tata Sutaryat
Menarik disimak karya Tata Sutaryat yang menampilkan bentuk geometri segitiga tidak seperti umumnya karya yang persegi panjang. Tata menggunakan bidang 3 (Tiga) dalam struktur kanvasnya, karena segitiga dalam struktur geometri adalah gabungan dari beberapa garis yang paling sederhana dan paling kuat dibanding segi 4 yang bisa goyah. Segi 3 membentuk suatu kekuatan geometri, kekuatan saling menopang yang lebih kuat - kokoh. Dan ini juga sering diaplikasikan ke struktur jembatan, besi betonnya memakai pola 3 agar kuat dan kokoh.
“Terus berkembang karya seni, terus maju seniman-seniman Indonesia, khususnya para seniman Bandung. Jangan takut berkarya karena semua karya itu bagus tidak ada yang jelek. Semua karya punya nilai seninya masing-masing dan layak untuk ditampilkan di khalayak umum, “ tandasnya.
Nilai-nilai filosofi Tembang Cianjuran dan Manuskrip Sunda Dalam Kanvas Tata Sutaryat
Menarik disimak karya Tata Sutaryat yang menampilkan bentuk geometri segitiga tidak seperti umumnya karya yang persegi panjang. Tata menggunakan bidang 3 (Tiga) dalam struktur kanvasnya, karena segitiga dalam struktur geometri adalah gabungan dari beberapa garis yang paling sederhana dan paling kuat dibanding segi 4 yang bisa goyah. Segi 3 membentuk suatu kekuatan geometri, kekuatan saling menopang yang lebih kuat - kokoh. Dan ini juga sering diaplikasikan ke struktur jembatan, besi betonnya memakai pola 3 agar kuat dan kokoh.
Kata Tata bidang tiga juga ada dalam Filosofi Tilu Sunda, pola tiga Sunda, Kosmologi Sunda Tri Tangtu di Bhuana, “Kalau di Sunda ada Rama-Resi-Ratu. Konsep yang yang diwariskan turun-temurun dari karuhun Sunda yang bisa diterapkan dalam ketatanegaraan dan diri pribadi juga pada konstruksi bangunan atau jembatan agar kuat dan kokoh. Karena memang struktur Geometri yang paling kokoh adalah segitiga, “ terangnya.
Filosofi, gambaran yang diambil, adalah bagaimana nilai-nilai filosofi dalam Tembang Sunda Cianjuran digambarkan dalam kanvas. Salah satunya lagu Pangapungan yang diaplikasikan ke dalam lukisannya yang berjudul “Nojer ka Bagal Buana”. Kata Tata Lagu Pangapungan yang termasuk ke dalam kelompok wanda Papantunan (bersumber dari lagu-lagu pantun), yang selalu didahului oleh Papatet Ratu menggambarkan proses naik ke jabaning langit seperti dalam cerita pantun Mundinglaya Dikusumah, di mana Munding Laya naik ke langit untuk mengambil Layang Salaka Domas yang dijaga Guriang 7 (gambaran perjuangan keras meraih cita-cita yang banyak rintangannya, dan harus dihadapi dengan kesabaran dan kebersihan hati dengan menaklukkan Guriang 7, simbol jurig, Duruwiksa atau simbol 7 lubang yang ada dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan ditata peruntukannya).
Filosofi, gambaran yang diambil, adalah bagaimana nilai-nilai filosofi dalam Tembang Sunda Cianjuran digambarkan dalam kanvas. Salah satunya lagu Pangapungan yang diaplikasikan ke dalam lukisannya yang berjudul “Nojer ka Bagal Buana”. Kata Tata Lagu Pangapungan yang termasuk ke dalam kelompok wanda Papantunan (bersumber dari lagu-lagu pantun), yang selalu didahului oleh Papatet Ratu menggambarkan proses naik ke jabaning langit seperti dalam cerita pantun Mundinglaya Dikusumah, di mana Munding Laya naik ke langit untuk mengambil Layang Salaka Domas yang dijaga Guriang 7 (gambaran perjuangan keras meraih cita-cita yang banyak rintangannya, dan harus dihadapi dengan kesabaran dan kebersihan hati dengan menaklukkan Guriang 7, simbol jurig, Duruwiksa atau simbol 7 lubang yang ada dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan ditata peruntukannya).
Tata juga memvisualkan warna-warna dalam lagu pangapungan rumpaka ka-4 ke dalam lukisan Nojer ka Bagal Buana, “NepI kana mega bodas, mega kayas, mega jingga, mega paul., mega hideung,” hingga ujung dari lukisan segitiganya yang berwarna Emas, Layang Salaka Domas (gambaran penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa atas segala usaha).
Lukisan keduanya berjudul, “Itu Gunung Naon”, yang inspirasinya dari lagu Nataan Gunung yang tiap baitnya selalu diakhiri dengan “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa). Gambaran dari akal, pikiran, otak atau kepala manusia (gambaran gunung yang ada pada diri manusia). Jadi menurut Tata “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa), sama dengan bertanya, “Itu manusia yang bagaimana/seperti apa.”
Lukisan keduanya berjudul, “Itu Gunung Naon”, yang inspirasinya dari lagu Nataan Gunung yang tiap baitnya selalu diakhiri dengan “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa). Gambaran dari akal, pikiran, otak atau kepala manusia (gambaran gunung yang ada pada diri manusia). Jadi menurut Tata “Itu Gunung Naon” (itu gunung apa), sama dengan bertanya, “Itu manusia yang bagaimana/seperti apa.”
Dan ini kata Tata masih ada korelasinya dengan lukisan Nojer ka Bagal Buana, “Jadi Guriang 7 itu ada di gunung manusia, ada di 7 lubang yang ada di Kepala kita, “ katanya pasti.
Tata juga membandingkan Nataan Gunung ini dengan naskah Sunda Kuna Bujangga Manik (yang sekarang lagi booming diteliti Prof. Bagus Mulyadi), “Saya setahun lalu mencoba membandingkan sebuah manuskrip lalampahan Bujangga Manik yang menelusuri gunung dan sungai yang detail dan nyata itu dengan lagu Nataan Gunung Cianjuran dan ternyata ada 80% kesamaan. Berarti lagu Nataan Gunung bukan hanya menceritakan perasaan lewat lagu saja, tapi itu memang menceritakan letak gunung-gunung di Tatar Sunda,” paparnya.
Tata juga membandingkan Nataan Gunung ini dengan naskah Sunda Kuna Bujangga Manik (yang sekarang lagi booming diteliti Prof. Bagus Mulyadi), “Saya setahun lalu mencoba membandingkan sebuah manuskrip lalampahan Bujangga Manik yang menelusuri gunung dan sungai yang detail dan nyata itu dengan lagu Nataan Gunung Cianjuran dan ternyata ada 80% kesamaan. Berarti lagu Nataan Gunung bukan hanya menceritakan perasaan lewat lagu saja, tapi itu memang menceritakan letak gunung-gunung di Tatar Sunda,” paparnya.
Lukisan ketiga “Cancandran”, inspirasinya dari lagu Sunda Mekar. Ada visi-misi, keduanya lebih menggambarkan alamnya dan yang ketiga seuweu–siwi Siliwangi. Jadi lebih ke gambaran dalam memelihara alam warisan karuhun yang harus bisa diwariskan ka generasi saterusnya dengan utuh, tidak dirusak, tidak dikurangi apalagi untuk dieksploitasi demi keuntungan pribadi, karena kita bukan pemilik tapi meneruskan, “Harus seperti meneruskan tongkat estafet lah, utuh, tidak dikurangi, kalau sekilo ya sekilo, sebongkah, segram, ya segitu tidak dikurangi, “ tuturnya.
Dan Tata membuktikan itu semua, putranya, Rizkan Gumilang siap meneruskan tongkat estafet dari bapaknya. Dalam pameran ini Rizkan ikut menampilkan karya patungnya yang berbentuk Kacapi Parahu dan Piul/Biola dari bahan kawat.
Dan Tata membuktikan itu semua, putranya, Rizkan Gumilang siap meneruskan tongkat estafet dari bapaknya. Dalam pameran ini Rizkan ikut menampilkan karya patungnya yang berbentuk Kacapi Parahu dan Piul/Biola dari bahan kawat.
Menurut Tata, Rizkan memang dari kecil sudah akrab dengan kacapi dikenalkan bapak, demikian juga kakaknya Eviani Amalia menyukai biola hingga sekarang pun menjadi guru biola. Ternyata setelah ditelusuri kakeknya pun pemaen piul/biola Sunda. Demikian dikatakan Tata kepada wartawan usai pembukaan pameran dan diskusi.
Menurut Kurator Rahmat Jabbaril, ini adalah kali kedua dia mengkuratori pameran keluragan almarhum Abah Ropih. Kali ini temanya tentang Sora Rupa yang berhubungan dengan musik. Karena kebetulan hampir dari seluruh peserta punya pengalaman atau ada hubungannya dengan dunia musik, baik tradisi maupun modern.
Menurut Rahmat ini sesuatu yang cukup menarik. Karena selama ini seni rupa hanya dilihat dari perspektif seni rupanya saja tidak dilihat dari perspektif musik.
Menurut Kurator Rahmat Jabbaril, ini adalah kali kedua dia mengkuratori pameran keluragan almarhum Abah Ropih. Kali ini temanya tentang Sora Rupa yang berhubungan dengan musik. Karena kebetulan hampir dari seluruh peserta punya pengalaman atau ada hubungannya dengan dunia musik, baik tradisi maupun modern.
Menurut Rahmat ini sesuatu yang cukup menarik. Karena selama ini seni rupa hanya dilihat dari perspektif seni rupanya saja tidak dilihat dari perspektif musik.
Dia mencoba mengelaborasi kesadaran apa itu musik dan apa itu seni rupa, “Nah saya berpikiran musik dan seni rupa itu kesatuan utuh yang tidak bisa dilepaskan. Seolah-olah musik berdiri sendiri padahal dia berhubungan dengan bentuk rupa, begitu juga sebaliknya. Jadi musik dan rupa selalu akan saling berkaitan satu sama lain, “ tegas Rahmat.
Rahmat juga mengatakan, dilihat dari perspektif kodratnya musik dan rupa itu semacam hukum alam yang tidak bisa dipungkiri bahwa ujungnya ke bunyi. Bunyi sama rupa, wujud, itu adalah kesemestaan, realitas semesta yang kemudian irama bunyi yang membentuk irama itu menjadi nada kehidupan, bisa menjadi musik yang sesungguhnya, bisa juga dalam perjalanan laku hidup. Itu juga sebagai nada hidup.
“Nah bagaimana ujungnya dari semua nada ini, sebetulnya tidak berujung. Si Nada ini akan terus berkembang, bagai spiral, antara rupa dan bunyi itu selalu begitu. Makanya tidak ada istilah endisme, dia akan tumbuh terus menjadi apa dan apa, dan seterusnya. Misalnya dalam kehidupan manusia setelah kematian ada kehidupan lagi. Itu tidak bisa dipungkiri. Seperti juga tergambarkan pada kenyataan hidup kita, kita tidur pun ada kehidupan – dalam ketidaksadaran itu ada kehidupan, dalam bentuk mimpi,” demikian pungkas Rahmat Jabbaril.
***
Event selanjutnya dari pameran ini, Workshop Melukis Bunyi – KSS Experience yang akan berlangsung Minggu 30 Agustus 2026 mulai Pk. 14.00-17.00 di Plataran Bandung.
Bagaimana jika bunyi yang kita dengarkan dapat diterjemahkan menjadi warna, garis, bentuk, dan lukisan?
Dalam workshop ini peserta diajak untuk: Mendengar – Merasakan – Menafsirkan – Melukiskan bunyi menjadi karya visual.
Acara akan diawali Special Performance String Ensemble YMS Bandung, dilanjutkan dengan pengalaman kreatif KSS Experience.
Para peserta workshop akan mendapat alat dan bahan lukis, coffee break, hasil lukisan, dan sertifikat digital dengan membayar Rp150.000 untuk Pelajar/Mahasiswa dan Rp300.000 untuk peserta Umum/Profesional. (Asep GP)***
Rahmat juga mengatakan, dilihat dari perspektif kodratnya musik dan rupa itu semacam hukum alam yang tidak bisa dipungkiri bahwa ujungnya ke bunyi. Bunyi sama rupa, wujud, itu adalah kesemestaan, realitas semesta yang kemudian irama bunyi yang membentuk irama itu menjadi nada kehidupan, bisa menjadi musik yang sesungguhnya, bisa juga dalam perjalanan laku hidup. Itu juga sebagai nada hidup.
“Nah bagaimana ujungnya dari semua nada ini, sebetulnya tidak berujung. Si Nada ini akan terus berkembang, bagai spiral, antara rupa dan bunyi itu selalu begitu. Makanya tidak ada istilah endisme, dia akan tumbuh terus menjadi apa dan apa, dan seterusnya. Misalnya dalam kehidupan manusia setelah kematian ada kehidupan lagi. Itu tidak bisa dipungkiri. Seperti juga tergambarkan pada kenyataan hidup kita, kita tidur pun ada kehidupan – dalam ketidaksadaran itu ada kehidupan, dalam bentuk mimpi,” demikian pungkas Rahmat Jabbaril.
***
Event selanjutnya dari pameran ini, Workshop Melukis Bunyi – KSS Experience yang akan berlangsung Minggu 30 Agustus 2026 mulai Pk. 14.00-17.00 di Plataran Bandung.
Bagaimana jika bunyi yang kita dengarkan dapat diterjemahkan menjadi warna, garis, bentuk, dan lukisan?
Dalam workshop ini peserta diajak untuk: Mendengar – Merasakan – Menafsirkan – Melukiskan bunyi menjadi karya visual.
Acara akan diawali Special Performance String Ensemble YMS Bandung, dilanjutkan dengan pengalaman kreatif KSS Experience.
Para peserta workshop akan mendapat alat dan bahan lukis, coffee break, hasil lukisan, dan sertifikat digital dengan membayar Rp150.000 untuk Pelajar/Mahasiswa dan Rp300.000 untuk peserta Umum/Profesional. (Asep GP)***

















