Info Terkini
• Memuat berita terbaru...

Masyarakat, Seniman dan Budayawan Rayakan Hari Kemerdekaan RI di Cingised Bandung

Wednesday, August 19, 2026 Tatarjabar.com
Dari kanan: Memet Hakim, Aendra Medita, Hermana HMT, dan Nizar Iskandar (Ketua JBK) dalam sesi diskusi Festival Cingised (18/8/2026).

Acara yang digelar di pelataran Meditarium @rt Space Bandung, Jalan Cingised, Cisaranten Endah, Arcamanik, Kota Bandung, pada Selasa (18/8/2026) ini, dimulai dengan upacara peringatan kemerdekaan. Pengibaran Sang Saka Merah Putih serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini jadi momentum untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah.

Acara dilanjutkan dengan berbagai perlombaan anak-anak, remaja, hingga dewasa. Lomba makan kerupuk, balap karung, balap kelereng, memasukkan pensil ke dalam botol dan tarik tambang, juga tari-tarian. Baca puisi dan pantomim berlangsung meriah dan mengundang antusiasme masyarakat.


Tidak itu saja, para seniman Bandung dan seniman Sunda kelas dunia seperti Yoyon Darsono, juga Hermana HMT turut memeriahkan acara. Selain menjadi hiburan bagi warga, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan rasa persatuan di tengah masyarakat. Semangat gotong royong pun terlihat dari keterlibatan warga dalam mempersiapkan pelaksanaan kegiatan ini.

Tidak ketinggalan digelar juga acara diskusi bertajuk “Gagasan Pengembangan Seni dan Budaya Cingised” dengan pembicara Tokoh Kemasyarakatan di Bandung, Dr. Memet Hakim.

Monolog/orasi budaya dari Hermana HMT, soroti bahaya gawai dan jajanan berbahan kimia yang dikonsumsi anak bangsa (Foto: Asep GP).

Hadir terlihat dalam acara tersebut, aktivis Paskah Irianto, Andri Perkasa Kantaprawira, Rita Roesman, Nizar Iskandar (Ketua Jala Bhumi Kultura), Aendra Medita (Meditarium @rt Space), Andi Sopandi, dan malamnya makin banyak lagi yang berdatangan, bercampur dengan masyarakat setempat.

Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Pengibaran bendera dan balap kerupuk saja dan perlombaan khas Agustusan lainnya. Tapi kemerdekaan harus dimaknai sebagai kesempatan untuk memperkuat jati diri masyarakat melalui budaya dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.


Oleh karena itu, kegiatan yang digelar JBK kali ketiganya ini diperuntukkan sebagai ruang silaturahmi antara masyarakat, seniman, budayawan, dan sejumlah pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial, “Jala Bhumi Kultura (JBK) ingin memulai gerakan tersebut dari lingkungan terdekat sebelum berkembang luas,” demikian dikatakan Nizar Iskandar (Ketua JBK) kepada awak media.

Semangat perjuangan para pahlawan juga kata Nizar, perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian, persatuan, gotong royong, serta kontribusi positif bagi lingkungan dan bangsa.

Seniman Sunda kaliber Dunia, Yoyon Darsono pun ikut meramaikan suasana (Foto:istimewa)

Lebih jauh Nizar menegaskan, JBK ingin memberi perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat dalam kondisi rentan, tidak memiliki kesempatan dalam pendidikan, orang-orang yang hidup di jalanan. Demikian juga terhadap seni-budaya tradisi yang terpinggirkan JBK akan melakukan pendampingan dan pelestarian, dan kebetulan di Cingised ada Kesenian Sisingaan (Gotong Singa) dan Jaipongan. Seni tradisi ini jelas harus dilestarikan, dan para pelaku budayanya diberi ruang dan bekal kehidupan, karena seni tradisi tersebut merupakan bagian penting dari identitas urang Sunda dan budaya bangsa.

Oleh karena itu kata Nizar, JBK berencana memberikan ruang lebih besar bagi anak-anak sebagai generasi penerusnya, untuk mengenal seni dan kegiatan kreatif. Kegiatan ini juga sangat penting untuk mencegah anak agar tidak menghabiskan waktunya berlama-lama dengan hape, bersama gawai.

Para panitia dan pendukung acara Festival Cingised 2026 (Foto: Asep GP).

Hal senada dibahas Hermana HMT dalam monolognya, orasi budayanya. Mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi dan Ketua Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi (YKBM), yang juga pendiri Kampung Longser di Kampung Ciawitali RT 02 RW 09 Kelurahan Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat ini, merasa miris dengan maraknya penggunaan hape/telepon seluler di kalangan anak-anak dan kaum muda.

Menurut dia, teknologi memang punya manfaat besar bagi kehidupan manusia, tapi kalau digunakan berlebihan dan serampangan justru akan merugikan dan menghancurkan kehidupan manusia.

“Hape bisa menjadi alat komunikasi yang canggih, belum lagi ada program AI pengganti kecerdasan manusia, tapi kalau penggunaannya serampangan, bisa jadi dampak negatif kepada generasi muda yang nantinya akan memimpin bangsa ini,” kata Hermana.


Oleh karenanya Hermana mengimbau pengawasan lebih serius lagi dari para orang tua. Termasuk ke hal makanan atau jajanan anak yang mengandung zat kimia berbahaya seperti gula dan pewarna sintetis yang membahayakan kesehatan anak, sehingga tak heran kalau ada anak 4 tahun yang terserang stroke dan penyakit aneh lainnya di usia anak.

Kegiatan Festival Cingised 2026 ini mendapat apresiasi tinggi dari inohong masyarakat Jawa Barat, Dr. Memet Hakim. Ia menilai kepedulian terhadap bangsa tidak selalu harus ditunjukkan dengan kegiatan besar, tapi bisa dimulai dari lingkungan sekitar.

“Nah ini teman-teman di sini walaupun tidak gebyar seperti di sana, tapi memberi contoh pada mereka yang ada di sana bahwa ketulusan ini sangat penting. Kita lihat mereka pada ketawa-ketawa tapi sebenarnya sedih hatinya, banyak yang pura-pura atensi pada rakyat tapi enggak. Tapi di sini para seniman justru memberi contoh pada rakyat, kita tulus membantu,”

Memet Hakim juga sebagai tokoh masyarakat mengajak agar para pemimpin bangsa tulus memberi contoh kepada rakyat meluruskan, memberi saran lewat tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma Pancasila, jangan memberi contoh dengan korupsi. Pungkasnya.*** Asep GP.

🔥 Racun Shopee Pilihan TatarJabar