Info Terkini
• Memuat berita terbaru...

Darmaraja Festival XVI Sukses Digelar dengan Meriah

Sunday, August 30, 2026 Tatarjabar.com


Mengenalkan Seni Tradisi kepada Generasi Nanti

Tatarjabar.com - Kegiatan seni tahunan yang digelar di Lapangan Alun-alun Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang ini berlangsung pada Senin malam, (24/8/2026), dengan menampilkan berbagai kesenian khas Darmaraja dan Sumedang, seperti pencak silat, tari klasik, jaipongan, musik tradisional, seni perkusi, dan hiburan rakyat.

Salah satu pertunjukan yang paling dinantikan para penonton dalam gelaran festival tahun ini adalah penampilan komedian Sunda yang lucu, pikaseurieun, Ki Daus dan Anton Abox, serta “Kacapi Iblis-Biola Maut” yang dibawakan seniman Sunda kawakan Kang Yoyon (piul/biola), Kang Yayan (kacapi), dan Ceu Eha (kawih/vokal Sunda). Pertunjukan yang spektakuler tersebut turut memeriahkan suasana.

Menurut penggagas Darmaraja Festival (Dafest), Yoyon Darsono, S.Kar., M.Sn., festival ini dimulai pada tahun 2006. Gagasan membuat festival berawal dari keprihatinannya melihat kurangnya perhatian generasi muda dan masyarakat Darmaraja terhadap kesenian tradisional yang ada di daerahnya.

Kacapi Iblis Yayan Lesmana, Biola Maut Yoyon Darsono dan Ceu Eha

“Gagasan awalnya sederhana. Saya hanya ingin generasi muda Darmaraja mengenal alat musik Sunda, lagu, dan cerita rakyat (folklore) dari tanahnya sendiri. Kalau bukan kita yang nemulai, ya siapa lagi,” tutur Yoyon.

Mengenalkan budaya kepada generasi muda, menurut Yoyon, tidak cukup melalui buku atau medsos. Mereka perlu melihat pertunjukan secara langsung, mendengar langsung bagaimana indah dan uniknya suara alat musik tradisional hingga masyarakat menjadi terhibur dan gembira, serta bertemu dan bersilaturahmi dengan para seniman yang ngamumule kesenian tersebut. Dari sana, mereka bisa belajar kesenian kepada para seniman sehingga seni-budaya Sunda tetap kamumule (terlestarikan), teu tumpur kari catur (tidak punah, tinggal ceritanya saja).

Di sisi lain, Yoyon juga mengakui globalisasi menjadi ancaman terhadap kelestarian seni-budaya lokal-nasional. Arus globalisasi tidak bisa dibendung dan kita lawan. Kita tidak bisa melarang, tetapi kita bisa menunjukkan bahwa budaya kita sendiri itu sangat indah dan luhung, sarat makna, dan relevan di segala zaman.

Gamelan Koromong Eyang Jangel

Perkembangan teknologi, menurut Yoyon, sebenarnya bukan musuh budaya. Teknologi justru dapat digunakan untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan kesenian lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

“Yang terpenting adalah bagaimana generasi muda tetap memiliki hubungan dengan akar budayanya,” tegasnya.

Makanya, kata Yoyon, Darmaraja Festival terus dipertahankan sebagai ruang belajar, pelestarian, sekaligus ruang berkumpul bagi masyarakat. Dan Alhamdulillah, Dafest terus berlangsung hingga sekarang dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Tapi, kata Yoyon, Darmaraja Festival tahun ini tidak mendapatkan support dari Pemerintah Kabupaten Sumedang, pemerintah provinsi maupun pusat, hanya bantuan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan teman-temannya yang sangat peduli terhadap keberlangsungan Dafest untuk tetap eksis.

Foto Istimewa

Dafest juga mendapat dukungan dari para seniman Darmaraja yang ingin berpartisipasi untuk ikut tampil. “Tetapi sayangnya, kami sebagai panitia tidak bisa menampilkan seluruh kesenian dari grup atau sanggar yang berada di Kec. Darmaraja dikarenakan masalah waktu dan biaya yang belum cukup memadai,” katanya sambil memohon maaf.

Tampilan Pencak Silat, Kacapi Iblis, Biola Maut Hingga Gamelan Buhun Koromong Eyang Jangel

Darmaraja Festival XVI menghadirkan berbagai kesenian khas Darmaraja dan Sumedang.

Pencak Silat selain menunjukkan kemampuan fisik dan ketangkasan, juga mengandung nilai kedisiplinan, keberanian, keseimbangan, dan sikap ksatria.

Seni Kohkol. Bagi masyarakat desa pada masa lalu, kohkol atau kentongan digunakan sebagai alat pemberitahuan (tangara), atau tanda akan adanya kejadian di masyarakat.

Seperti tanda bahaya, kebakaran, pencurian, kematian, atau kegiatan masyarakat lainnya. Pada bulan Puasa/Ramadhan, kohkol juga dapat digunakan untuk membangunkan masyarakat untuk melaksanakan sahur.

Melalui kreativitas para seniman Darmaraja, fungsi kohkol kemudian dikembangkan menjadi seni musik perkusi atau tetabuhan. Bunyi-bunyian yang sebelumnya digunakan sebagai tanda komunikasi disusun menjadi irama dan komposisi yang lebih teratur sehingga menjadi sebuah seni pertunjukan.

Gagasan tersebut muncul setelah Yoyon Darsono melihat perkembangan seni musik perkusi. Ia melihat bahwa kohkol mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai instrumen musik yang menarik.

Gamelan Buhun Koromong Eyang Jangel dikenal sebagai salah satu peninggalan budaya tua di Darmaraja. Menurut tradisi lisan masyarakat, gamelan ini memiliki hubungan dengan kisah Prabu Guru Aji Putih dan Nawang Wulan, leluhur Sumedang.

Cador - Ki Daus Anton Abox

Keberadaan gamelan tersebut menjadi penting karena tidak hanya berkaitan dengan musik, tetapi juga menyimpan sejarah dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bunyi gamelan koromong yang khas dipadukan dengan kendang dan gong menciptakan suasana yang berbeda dari pertunjukan musik modern.

Kesenian buhun ini sengaja ditampilkan untuk diperkenalkan kepada generasi muda dan masyarakat umum Darmaraja.

Kacapi Iblis dan Biola Maut dibawakan oleh tiga seniman Sunda legendaris, Yoyon, Yayan, dan Ceu Eha. Perpaduan kecapi, biola, dan vokal Sunda ini sangat dinantikan penonton dan membuat suasana alun-alun semakin meriah.

Seniman pengisi acara Darmaraja Festival XVI Tahun 2026

Gesekan biola yang cepat dan apik yang dimainkan Yoyon, petikan (jambretan) kacapi khas Yayan, serta suara kawih dari sinden Ceu Eha menarik perhatian para penonton Dafest malam itu. Perpaduan kecapi, sinden (vokal), dan alat musik Barat, biola, menghasilkan karakter suara yang unik.

Istilah “Biola Maut” dalam pertunjukan tersebut berkaitan dengan istilah Sunda maut yang dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menarik atau menyihir perhatian. Sementara “Kecapi Iblis” menggambarkan teknik permainan kecapi yang cepat dan berbeda dari permainan kecapi Sunda lainnya.

Darmaraja Festival juga menghadirkan hiburan rakyat. Tahun ini, Ki Daus dan Anton Abok tampil melalui pertunjukan Cador (Penca Bodor).

Pertunjukan tersebut menggabungkan pencak silat dengan humor. Gerakan silat yang dikemas secara lucu membuat penonton tertawa sekaligus menikmati pesan yang disampaikan.

Melalui Cador, pelestarian budaya disampaikan dengan cara yang lebih ringan. Pesan tentang pentingnya menjaga kesenian lokal tidak harus selalu disampaikan melalui acara formal.

Cara seperti ini juga dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan budaya tradisional kepada generasi muda.

Tantangan di Tengah Era Digital

Meskipun telah berlangsung selama puluhan tahun, Darmaraja Festival masih menghadapi berbagai tantangan. Regenerasi seniman menjadi salah satu persoalan penting.

Banyak kesenian tradisional memiliki pemain yang sudah berusia lanjut. Jika tidak ada generasi penerus, kesenian tersebut berpotensi semakin sulit ditemukan.

Selain itu, keterbatasan dana dan persaingan dengan hiburan digital juga menjadi tantangan. Anak-anak muda kini dapat dengan mudah mengakses berbagai jenis hiburan melalui telepon pintar dan media sosial.

Karena itu, Yoyon berharap “Darmaraja Festival” dapat dikembangkan dengan dokumentasi yang lebih baik. Arsip digital dinilai penting agar berbagai pertunjukan dan pengetahuan tentang budaya Darmaraja dapat disimpan untuk generasi berikutnya. Yoyon berharap ke depan ada kesenian khas Darmaraja yang dapat tampil lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurut Yoyon, seseorang tidak harus meninggalkan budaya daerah untuk mengikuti perkembangan zaman. Seorang musisi dapat mempelajari jazz, fusion, atau musik modern lainnya, tetapi tetap mengenal akar budayanya.

“Identitas itu penting. Kita boleh main musik jazz, fusion, atau apa pun. Tapi kalau kita lupa dari mana kita berasal, musik kita akan kehilangan jiwanya,” pungkas seniman musik tradisional Sunda trah Darmaraja yang sudah melanglang buana sampai ke 5 benua.

Yoyon juga berprofesi sebagai dosen di Jurusan Karawitan dan Prodi Angklung & Musik Bambu Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, serta jadi anggota grup band kenamaan Krakatau Etno. Rls/Red/AGP. ***

Rekomendasi Produk