Home
» Serba-Serbi
» Ika Sadaya Unpad Gaet Disbudpar, Gelar Pameran Jejak Mesin Tik Jakob Sumardjo "Jangan Pernah Kapok Menulis!"
Saturday, August 30, 2025
![]() |
Sang Maestro Jakob Sumardjo (Foto AGP) |
Ikatan Alumni Sastra dan Budaya (Ika Sadaya) Universitas Padjadjaran Bandung berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kota Bandung, gelar pameran tunggal 26 sd 28 Agustus 2025.
Selama tiga hari, Museum Kota Bandung menjadi saksi penghormatan bagi Jakob Sumardjo, intelektual dan maestro literasi yang sepanjang hidupnya tekun menulis dengan mesin tik.
Dalam acara bertajuk Ngobrol di Museum: Jejak Mesin Tik Maestro Jakob Sumardjo, panitia menampilkan perjalanan panjang Jakob melalui karya, arsip, dan benda-benda pribadinya yang sarat makna.
![]() |
Penampilan Musikalisasi Puisi (Foto AGP) |
Hikmat Gumelar, "sutradara" acara ini menjelaskan Jakob Sumardjo telah menulis 67 buku dan ratusan artikel, makalah, cerpen, serta puisi, semuanya menggunakan mesin tik.
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 26 Agustus 1939, Jakob Sumardjo punya ikatan kuat dengan sunda karena Mahaguru ini hijrah ke Bandung dan menetap di beberapa tempat di Bandung sejak pertengahan Agustus 1962.
"JS (Jakob Sumardjo) adalah orang Jawa yang "nyunda" lanjut Hikmat.
![]() |
Gunem Catur (Foto AGP) |
Dilansir dari Otobiografi Jakob Sumardjo, orang Sunda selain Saini KM, yang diakui JS sebagai guru adalah Ajip Rosidi. Banyak hal yang dipelajari JS dari Ajip. Salah satunya bertaut dengan pantun Sunda. Berkat kerja besar Ajip memimpin pendokumentasian dan penerjemahan pantun Sunda, JS menjadi dapat mengaksesnya. Bahkan dari pantun Sunda, JS kemudian menemukan pola dasar dan filsafat budaya dan masyarakat Sunda.
Maka, sejak tahun 2004 itu, JS pun bergeser. Ia menjadi lebih banyak berkonsentrasi mengeksplorasi budaya dan masyarakat Sunda. Lahir pula sejak itu buku demi buku JS tentang kesundaan.
Maka, sejak tahun 2004 itu, JS pun bergeser. Ia menjadi lebih banyak berkonsentrasi mengeksplorasi budaya dan masyarakat Sunda. Lahir pula sejak itu buku demi buku JS tentang kesundaan.
![]() |
Hikmat Gumelar, Sutradara Acara (Dok. Ika Sadaya) |
Semua buku-bukunya tentang kesundaan itu, seperti juga buku-bukunya yang lain, yang seluruhnya berjumlah 67 buah, ditulis dengan mesin tik yang dibelinya tahun 1970 dengan uang hasil jerih payahnya menulis.
Meski dari seluruh bukunya JS tak beroleh pemasukan finansial seperti diharapkan, meskipun tak sedikit bukunya yang dicetak ulang berkali-kali, JS tak pula kapok menulis. “Kalau saya hanya terus mengeluh, saya tidak akan bisa menulis. Saya tidak bisa menyebarkan gagasan-gagasan saya”.
![]() |
Salah seorang pangunjung mencoba mesin tik antik, Jakob Sumardjo (Dok. Ika Sadaya) |
Sementara itu "penata artistik" pameran Herry Dim sukses membuat konsep instalasi seni bertema Air, Batu, & Tanah serta penyerahan Anugerah Jatiningsih Apu bagi Jakob Sumardjo.
"Saya hanya berusaha membuat yang terbaik buat kawan kawan panitia," ungkap Herry Dim merendah.
Menurut pelukis pertama Indonesia yang pernah ikut pameran di Jenewa ini, selain bincang-bincang, pengunjung juga disuguhi sajian monolog, musik, puisi, tari, dll.
Ketua Panitia Pameran dari Ikatan Alumni Sastra dan Budaya (Ika Sadaya) Unpad Desmanjon mengatakan: "acara ini telah sukses menghadirkan pameran buku, jejak kerja, serta perayaan pemikiran Jakob Sumardjo, sastrawan, budayawan, dan intelektual terkemuka Indonesia".
"Saya hanya berusaha membuat yang terbaik buat kawan kawan panitia," ungkap Herry Dim merendah.
Menurut pelukis pertama Indonesia yang pernah ikut pameran di Jenewa ini, selain bincang-bincang, pengunjung juga disuguhi sajian monolog, musik, puisi, tari, dll.
Ketua Panitia Pameran dari Ikatan Alumni Sastra dan Budaya (Ika Sadaya) Unpad Desmanjon mengatakan: "acara ini telah sukses menghadirkan pameran buku, jejak kerja, serta perayaan pemikiran Jakob Sumardjo, sastrawan, budayawan, dan intelektual terkemuka Indonesia".
![]() |
Jakob Sumardjo bersama para panitia, Ika Sadaya Unpad (Dok. Ika Sadaya) |
Menurut Desmanjon pengujung yang hadir di Museun Kota Bandung ini cukup membludak.
"Hari pertama, dibuku tamu terdatar hampir 300an lebih," ungkap Desmanjon.
"Sangat berdesakan, mungkin karena hari itu tepat Pak Jakob genap berulang tahun yang ke 86, jadi teman-teman beliau banyak yang datang," pungkasnya.
"Hari pertama, dibuku tamu terdatar hampir 300an lebih," ungkap Desmanjon.
"Sangat berdesakan, mungkin karena hari itu tepat Pak Jakob genap berulang tahun yang ke 86, jadi teman-teman beliau banyak yang datang," pungkasnya.
![]() |
Jakob Sumardjo, Siapa penerusnya (Foto AGP) |
Sementara itu di acara penutupan, hadir mewakili Kepala Disbudpar Kota Bandung Aceng Ismatuloh memberi terima kasih dan apresiasi terhadap kegiatan pameran ini. Disbudpar selalu terbuka dengan kegiatan sastra dan budaya ini.
"Terima kasih ke semua pihak yang telah mendukung acara ini," pungkas Aceng. (Rls/Anto Ramadhan/AGP)***
Ika Sadaya Unpad Gaet Disbudpar, Gelar Pameran Jejak Mesin Tik Jakob Sumardjo "Jangan Pernah Kapok Menulis!"
Posted by
Tatarjabar.com on Saturday, August 30, 2025
![]() |
Sang Maestro Jakob Sumardjo (Foto AGP) |
Ikatan Alumni Sastra dan Budaya (Ika Sadaya) Universitas Padjadjaran Bandung berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kota Bandung, gelar pameran tunggal 26 sd 28 Agustus 2025.
Selama tiga hari, Museum Kota Bandung menjadi saksi penghormatan bagi Jakob Sumardjo, intelektual dan maestro literasi yang sepanjang hidupnya tekun menulis dengan mesin tik.
Dalam acara bertajuk Ngobrol di Museum: Jejak Mesin Tik Maestro Jakob Sumardjo, panitia menampilkan perjalanan panjang Jakob melalui karya, arsip, dan benda-benda pribadinya yang sarat makna.
![]() |
Penampilan Musikalisasi Puisi (Foto AGP) |
Hikmat Gumelar, "sutradara" acara ini menjelaskan Jakob Sumardjo telah menulis 67 buku dan ratusan artikel, makalah, cerpen, serta puisi, semuanya menggunakan mesin tik.
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 26 Agustus 1939, Jakob Sumardjo punya ikatan kuat dengan sunda karena Mahaguru ini hijrah ke Bandung dan menetap di beberapa tempat di Bandung sejak pertengahan Agustus 1962.
"JS (Jakob Sumardjo) adalah orang Jawa yang "nyunda" lanjut Hikmat.
![]() |
Gunem Catur (Foto AGP) |
Dilansir dari Otobiografi Jakob Sumardjo, orang Sunda selain Saini KM, yang diakui JS sebagai guru adalah Ajip Rosidi. Banyak hal yang dipelajari JS dari Ajip. Salah satunya bertaut dengan pantun Sunda. Berkat kerja besar Ajip memimpin pendokumentasian dan penerjemahan pantun Sunda, JS menjadi dapat mengaksesnya. Bahkan dari pantun Sunda, JS kemudian menemukan pola dasar dan filsafat budaya dan masyarakat Sunda.
Maka, sejak tahun 2004 itu, JS pun bergeser. Ia menjadi lebih banyak berkonsentrasi mengeksplorasi budaya dan masyarakat Sunda. Lahir pula sejak itu buku demi buku JS tentang kesundaan.
Maka, sejak tahun 2004 itu, JS pun bergeser. Ia menjadi lebih banyak berkonsentrasi mengeksplorasi budaya dan masyarakat Sunda. Lahir pula sejak itu buku demi buku JS tentang kesundaan.
![]() |
Hikmat Gumelar, Sutradara Acara (Dok. Ika Sadaya) |
Semua buku-bukunya tentang kesundaan itu, seperti juga buku-bukunya yang lain, yang seluruhnya berjumlah 67 buah, ditulis dengan mesin tik yang dibelinya tahun 1970 dengan uang hasil jerih payahnya menulis.
Meski dari seluruh bukunya JS tak beroleh pemasukan finansial seperti diharapkan, meskipun tak sedikit bukunya yang dicetak ulang berkali-kali, JS tak pula kapok menulis. “Kalau saya hanya terus mengeluh, saya tidak akan bisa menulis. Saya tidak bisa menyebarkan gagasan-gagasan saya”.
![]() |
Salah seorang pangunjung mencoba mesin tik antik, Jakob Sumardjo (Dok. Ika Sadaya) |
Sementara itu "penata artistik" pameran Herry Dim sukses membuat konsep instalasi seni bertema Air, Batu, & Tanah serta penyerahan Anugerah Jatiningsih Apu bagi Jakob Sumardjo.
"Saya hanya berusaha membuat yang terbaik buat kawan kawan panitia," ungkap Herry Dim merendah.
Menurut pelukis pertama Indonesia yang pernah ikut pameran di Jenewa ini, selain bincang-bincang, pengunjung juga disuguhi sajian monolog, musik, puisi, tari, dll.
Ketua Panitia Pameran dari Ikatan Alumni Sastra dan Budaya (Ika Sadaya) Unpad Desmanjon mengatakan: "acara ini telah sukses menghadirkan pameran buku, jejak kerja, serta perayaan pemikiran Jakob Sumardjo, sastrawan, budayawan, dan intelektual terkemuka Indonesia".
"Saya hanya berusaha membuat yang terbaik buat kawan kawan panitia," ungkap Herry Dim merendah.
Menurut pelukis pertama Indonesia yang pernah ikut pameran di Jenewa ini, selain bincang-bincang, pengunjung juga disuguhi sajian monolog, musik, puisi, tari, dll.
Ketua Panitia Pameran dari Ikatan Alumni Sastra dan Budaya (Ika Sadaya) Unpad Desmanjon mengatakan: "acara ini telah sukses menghadirkan pameran buku, jejak kerja, serta perayaan pemikiran Jakob Sumardjo, sastrawan, budayawan, dan intelektual terkemuka Indonesia".
![]() |
Jakob Sumardjo bersama para panitia, Ika Sadaya Unpad (Dok. Ika Sadaya) |
Menurut Desmanjon pengujung yang hadir di Museun Kota Bandung ini cukup membludak.
"Hari pertama, dibuku tamu terdatar hampir 300an lebih," ungkap Desmanjon.
"Sangat berdesakan, mungkin karena hari itu tepat Pak Jakob genap berulang tahun yang ke 86, jadi teman-teman beliau banyak yang datang," pungkasnya.
"Hari pertama, dibuku tamu terdatar hampir 300an lebih," ungkap Desmanjon.
"Sangat berdesakan, mungkin karena hari itu tepat Pak Jakob genap berulang tahun yang ke 86, jadi teman-teman beliau banyak yang datang," pungkasnya.
![]() |
Jakob Sumardjo, Siapa penerusnya (Foto AGP) |
Sementara itu di acara penutupan, hadir mewakili Kepala Disbudpar Kota Bandung Aceng Ismatuloh memberi terima kasih dan apresiasi terhadap kegiatan pameran ini. Disbudpar selalu terbuka dengan kegiatan sastra dan budaya ini.
"Terima kasih ke semua pihak yang telah mendukung acara ini," pungkas Aceng. (Rls/Anto Ramadhan/AGP)***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
No comments :
Post a Comment